
"Dimana dia? Masih pagi sudah menghilang!" Batin Radit kesal, Radit mencari Nissa sejak kedua matanya terjaga. Namun sejauh matanya mencari, Radit tidak menemukan Nissa di dalam kamarnya.
Radit keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju tidurnya. Waktu masih pagi, jam baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Sang fajar baru saja terbit, sinar hangatnya menghapus kabut dan menjadikan embun yang dingin menyejukkan. Kebetulan hari ini minggu, Radit tak perlu pergi ke kantor. Meski terkadang dia ada acara di luar. Namun hari ini, Radit sengaja menggosongkan jadwalnya. Radit memlilih tinggal di rumah, menemani Zain bermain. Namun ada satu hal yang mengusiknya, Radit gusar kala tak melihat Nissa berada di dalam kamar. Kecemasan tanpa alasan yang mulai membuat Radit kehilangan akal.
"Ifa, dimana ibu?" ujar Radit dengan nada cemas dan bingung.
"Ibu pergi ke pasar bersama tuan Zain!"
"Dengan siapa?"
"Ibu membawa sepeda motor. Tuan besar sudah meminta ibu menggunakan mobil!" ujar Ifa, Radit mengusap wajahhya kasar.
"Dia pasti menolak, dasar keras kepala!" gerutu Radit, Ifa mengangguk seraya menunduk. Kecemasan Radit terlihat seperti amarah bagi Ifa. Sebab itu Ifa memilih diam, agar tak dipersalahkan.
"Wanita kampungan tetap kampungan. Dia tidak terbiasa menggunakan mobil!" ujar Saskia, Radit langsung menoleh dengan tatapan tajamnya. Saskia melihat amarah Radit, dua bola mata yang langsung membuat Saskia menunduk terdiam.
"Kasih sayangku benar-benar membuatmu bodoh dan lemah. Sekarang, kamu akan merasakan ketegasan kakak. Kamu akan belajar menghargai orang lain. Terutama Nissa, dia istri kakak bukan wanita kampungan!" ujar Radit tegas dan lantang, Saskia menunduk. Tak sedikitpun Saskia berani mengangkat wajahnya. Dia terlalu takut akan amarah Radit.
"Ifa, siapkan mobilku. Aku akan menyusul Nissa dan Zain!" ujar Radit, Ifa mengangguk mengerti. Radit berlari menuju kamarnya. Radit ingin membersihkan diri dan langsung pergi menemui Nissa.
Radit bersiap secepat mungkin, dia ingin segera bisa bertemu dengan Nissa dan Zain. Hampir lima belas menit Radit bersiap. Ponsel pintar yang dipegangnya, seolah tak berguna. Radit tidak bisa menghubungi Nissa. Hampir satu bulan pernikahan mereka. Namun Radit tak memiliki nomer ponsel Nissa. Radit merasa bodoh, dia menyesal dengan sikap angkuh dan acuhnya pada Nissa.
"Tuan, mobilnya sudah siap!" ujar Ifa, ketika melihat Radit turun dari kamarnya. Saskia melirik ke arah Radit. Dia memilih diam, duduk tenang di depan meja makan. Saskia tidak ingin merasakan amarah Radit. Apalagi dalam kecemasan Radit, bisa dipastikan bukan hanya amarah yang akan diterima Saskia.
"Aku pergi, hubungi aku seandainya ibu sudah pulang!" ujar Radit, Ifa mengangguk. Radit berjalan dengan gagahnya keluar rumahnya. Radit menggunakan kacamata hitam, penampilan yang mampu membuat kaum hawa terpana.
"Sayang!"
"Kamu!" ujar Radit terkejut, langkahnya terhenti bersamaan dengan sebuah pelukan hangat. Nampak dua buah tangan mengalung mesra di leher Radit.
"Lepaskan!" pinta Radit kasar, sembari melepaskan pelukan sang gadis. Namun usahanya sia-sia. Bukannya melepaskan, malah semakin erat memeluk Radit. Tubuh rampingnya bersandar hangat di tubuh gagah Radit. Rok mini yang dikenakannya, menampakkan jelas kaki jenjangnya yang putih.
"Sayang, aku merindukanmu!" bisik Tasya, Radit tak menggubris bisikan mesra Tasya. Radit terus memaksa Tasya melepaskan pelukannya. Namun usaha Radit sia-sia, Tasya semakin agrsif dan erat memeluk Radit.
"Kak Tasya, kapan kembali? Sudah lama kakak tidak datang kemari!" sapa Saskia hangat dan sopan, Radit mulai malas. Dia membiarkan Tasya bergelayut manja padanya. Saskia mengenal siapa Tasya? Wanita yang dikenal bahkan sangat dekat dengan Radit.
"Apa kabar Saskia? Maaf, aku tidak memberi kabar. Aku ingin membuat kejutan!" ujar Tasya riang, Radit tak peduli akan keberadaan Tasya. Radit melirik ke arah jam dinding. Ada sesuatu yang membuatnya cemas.
"Aku baik, kakak!" ujar Saskia, Tasya mengedipkan kedua matanya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, dia alasanku tetap baik-baik saja!" ujar Tasya, sembari menoleh ke arah Radit.
Tasya memutar tubuhnya, berdiri tepat di depan Radit. Tasya menangkup wajah Radit, lalu mendekatkan wajahnya. Radit terpaku melihat sikap Tasya, belum sempat Radit mengelak. Tasya sudah mencium mesra bibirnya. Saskia langsung menutup kedua matanya. Radit mendorong tubuh Tasya sampai terhuyung ke belakang. Radit terkejut menerima ciuman mesra dari Nissa. Saskia tersenyum bahagia, dalam hati dia merasa menang dengan kehadiran Tasya. Wanita yang akan membuat Nissa terusir dan teracuhkan.
"Kalian serasi!" ujar Saskia gembira, Radit menoleh. Lagi dan lagi tatapan Radit membuat Saskia terdiam.
"Sayang, kenapa kamu marah? Dia memang benar, kita pasangan yang serasi!" ujar Tasya, seraya merangkul lengan Radit. Tasya menyandarkan kepalanya di bahu Radit.
"Mbak Ifa, tolong mandikan Zain!" ujar Nissa, Radit menoleh ke arah jam sembilan.
Nissa berdiri tepat di sisi kanan Radit. Nissa masuk melalui pintu samping dan langsung masuk ke dalam dapur. Langkah Nissa terhenti, ketika dia melihat dua sejoli yang tengah menghapus rindu. Sejenak tubuh Nissa terpaku, dia melihat kehangatan yang mampu membuatnya terbakar. Namun tak sedikitpun Nissa terluka, entah cinta itu belum ada atau hati Nissa terlalu membenci Radit?
"Mama!" rengek Zain, Nissa berjongkok tepat di depan Zain. Menangkup lengan Zain dengan hangat dan penuh kasih sayang.
"Sayang, mbak Ifa akan memandikan Zain. Setelah itu sarapan dengan mbak Ifa. Sebentar lagi mama pergi, nanti setelah mama pulang. Mama akan menemani Zain bermain!" tutur Nissa lembut, Zain menunduk. Nampak jelas kekecewaannya, Nissa terenyuh melihat luka Zain. Dengan sigap, Nissa menarik tubuh Zain. Mendekap erat tubuh mungil putra sambungnya.
"Zain anak pintar, tidak boleh menangis!" ujar Nissa, sembari menepuk pelan punggung Zain. Ketulusan yang membuat Zain nyaman dan tidak ingin jauh dari Nissa. Hangat yang terlihat jelas di kedua mata Radit.
"Mama, Zain pintar!" ujar Zain, Nissa mengedipkan kedua matanya. Nissa meminta Ifa membawa Zain masuk. Sedangkan Nissa berjalan menuju kamarnya. Nissa melangkah tanpa peduli pada Radit.
"Tunggu!" ujar Radit, sembari menahan tangan Nissa. Saskia dan Tasya terdiam, melihat sikap Radit. Nissa menoleh, dia menatap tajam Radit. Nissa menarik tangannya, meminta Radit melepaskan tangannya.
"Nissa, aku harus bicara denganmu!"
"Tentang!" sahut Nissa dingin, Radit meronta melepaskan tangan Tasya.
"Bicaralah, tidak perlu melepaskan tangan yang sudah nyaman menggenggammu. Sebaliknya, lepaskan tanganku. Tangan yang tak pernah ingin digenggam olehmu!" ujar Nissa dingin dan sinis, Radit menarik tangan Nissa. Seketika tubuh Nissa terhuyung ke depan. Radit merangkul tubuh Nissa dengan sangat erat. Tasya meradang, melihat Radit memeluk Nissa dengan sangat erat.
"Satu tanganku sudah cukup menggenggam dirimu dan kebebasanmu!" bisik Radit, Nissa tersenyum sinis. Radit meradang, tatkala menyadari Nissa tengan mengejeknya.
"Sayang lepaskan dia!" ujar Tasya, Radit menoleh dengan kesal ke arah Tasya. Sontak Tasya melepaskan tangannya. Amarah Radit pernah dilihatnya dan tak ingin dia lihat kembali.
"Katakan tuan besar, apa yang harus dilakukan olehku?"
"Nissa cukup kamu menghinaku, kamu istriku bukan tahananku!"
"Seandainya itu benar, tidak akan aku melihat kemesraan kalian. Sekarang katakan, apa yang anda inginkan? Jangan buang waktu berharga anda!" ujar Nissa, Radit semakin kesal. Sikap dingin Nissa membuat Radit marah. Kecemasannya tak lantas membuat Nissa percaya. Jika rasa itu ada dan nyata hanya untuknya.
"Kamu akan mengerti, apa yang sebenarnya aku inginkan darimu?" ujar Radit dingin, lalu mendorong tubuh Nissa ke arah sofa.
__ADS_1
Radit kalap, dia mendorong tubuh Nissa sampai jatuh di atas sofa. Dengan kedua tangannya, Radit menahan tubuh Nissa yang memberontak. Radit mendekatkan wajahnya, Nissa memalingkan wajah dan menutup matanya. Nissa takut melihat amarah Radit, sedangkan Tasya dan Saskia terpaku. Ada rasa tak percaya, jika Radit akan melakukannya di depan mereka.
"Kenapa kamu menutup mata? Kamu takut menerima hangat sentuhanku!" ujar Radit, Nissa diam membisu.
"Lakukanlah, sejak awal aku hanya budakmu. Jangan pernah ragu, seutuhnya aku milikmu!" ujar Nissa dingin, Radit melepaskan tangannya. Radit berdiri, mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa berhenti? Haruskah aku yang membukanya untukmu?" ujar Nissa, seraya melepas tali yang melingkar di tubuhnya. Radit menoleh, ketika melihat Nissa mulai membuka lengan bajunya. Radit langsung menghentikan Nissa.
"Cukup Nissa!"
"Kenapa berhenti? Sejak awal aku hanyalah wanita yang kamu beli. Harga diriku tak lebih dari debu di bawah kakimu dan saudaramu!" ujar Nissa lantang, sikap Radit nyata membuat Nissa hancur.
"Nissa, diamlah!"
"Saskia, kenapa kamu diam? Bukankah kamu orang yang paling bahagia melihatku terhina. Sekarang, hina aku sampai hatimu puas!" ujar Nissa pada Saskia, Radit memalingkan wajahnya. Tasya menghampiri Radit, berpikir bisa menenangkan Radit.
"Sayang!"
"Tutup mulutmu!" ujar Radit pada Tasya, sontak tasya berjalan mundur. Amarah Radit benar-benar membuat Tasya ketakutan.
"Nissa, maafkan aku!" teriak Radit, tatkala melihat Nissa berlari menuju kamarnya. Radit tak menyangka semua menjadi tak terkendali.
Praaaayyyyrrr
"Sayang, tenangkan dirimu!" ujar Tasya, sesaat setelah melihat Radit membanting ponsel pintarnya. Radit menunduk, dia marah pada dirinya sendiri. Radit merasa bodoh, telah membuat Nissa marah dan sedih.
Tap Tap Tap
"Nissa!" ujar Radit, menahan tangan Nissa. Nampak sebuah tas punggung sedang tengah dibawa Nissa. Radit semakin kacau, melihat Nissa turun membawa tas.
"Aku ada janji dengan seseorang. Aku akan pulang larut malam!"
"Nissa!" ujar Radit lirih, sembari menahan langkah Nissa.
"Jika anda tidak mengizinkan, aku tidak akan pergi!" ujar Nissa, lalu memutar tubuhnya. Nissa hendak kembali ke dalam kamarnya. Radit membisu, tangannya mulai terasa lemah.
"Pergilah!" ujar Radit, seraya melepaskan tangan Nissa.
"Terima kasih!" sahut Nissa dingin, Radit menatap punggung Nissa yang menjauh.
__ADS_1
"Menoleh dan kembalilah, aku mohon!" batin Radit pilu, tatapannya lurus ke arah Nissa yang terus melangkah keluar dari penjara emasnya.