
"Pantai lagi, kenapa bukan mall?" gerutu Rayhan, Amira mengacuhkan kekesalan Rayhan. Dengan santainya, Amira berjalan melewati Rayhan. Dia berjalan di atas pasir tanpa alas kaki. Nissa dan Amira lebih suka berjalan di atas pasir tanpa menggunakan sandal.
"Karena sebagian besar tubuh kita berisi air. Jadi aku suka dengan air!" teriak Amira menyahuti gerutuan Rayhan. Amira berlari di atas air laut, pasir putih menyentuh kakinya dengan lembut.
"Aneh!" sahut Rayhan dingin, Amira tak menggubris kekesalan Rayhan. Amira berlari tanpa arah di atas pasir. Rayhan melihat sosok Amira yang berbeda. Amira layaknya anak kecil yang bermain dengan pasir. Begitu lucu dan menggemaskan.
"Kenapa alam yang selalu kalian pilih? Apa yang membuat semua ini nyaman bagi kalian?" ujar Radit lirih, saat melihat Nissa berdiri menatap jauh ke depan.
Suara ombak laut, terdengar bak melodi lagu yang indah di telinga Nissa. Riak-riak kecil menyapu kedua kaki mereka. Seakan sentuhan alam yang lembut nan hangat. Mungkin Nissa dan Amira terlalu berlebihan dalam mengagungkan alam. Namun semua itu benar adanya, hanya dengan menatap alam. Nissa atau Amira menghargai sebuah nikmat. Rasa syukur yang terkadang terlupa dari bibir mereka.
"Alam yang mengajarkan kita segalanya. Tanpa alam, kita akan menjadi manusia yang tamak dan angkuh. Takkan pernah kita menyadari kebesaran-NYA. Kita akan berpikir hebat dan kuat, merasa tinggi dan besar dalam segala hal. Padahal, lihatlah sekarang tempat kita berdiri. Beberapa meter kubik pasir, sudah bisa mengubur kita hidup-hidup. Ombak yang terlihat kecil, mampu menyeret kita jauh ke tengah. Tenggelam ke dalam laut yang tak bertepi. Sekuat apapun kita? Akan lemah saat ajal mulai menyapa. Sebesar apapun tubuh kita? Takkan pernah sampai tangan kita keluar dari dasar laut. Sekaya apapun kita? Bukan harta yang akan menolong kita saat alam marah. Satu yang membuat kita selamat, terus bersyukur pada-NYA. Menganggap kita hanya butiran pasir di luasnya pantai. Setetes air di luasnya laut. Semilir angin di derasnya badai. Kita tidak perlu menjadi orang lain atau mengikuti gaya hidup orang lain. Sebab alam yang mengajarkan kita, tak pernah meniru agar terlihat indah. Sebab apa yang diciptakan oleh-NYA. Sudah sangat indah dan sempurna!"
"Jika memang rasa percaya diri itu ada. Kenapa kamu tak pernah percaya akan rasaku?"
"Aku tak pernah meragukan ketulusanmu, tapi apa yang aku lihat? Membuatku ragu akan cintaku padamu. Aku takut, kelak saat dia kembali. Hatiku yang paling hancur, karena cinta ini sudah terlalu dalam dan janin ini semakin mengingatkanku akan dirimu!"
"Kita mulai dari awal!" ujar Radit, Nissa menghela napas. Tak ada jawaban dari permintaan Radit. Namun jauh di dalam hati Nissa, dia sangat mencintai Radit dan ingin hidup bersama Radit.
Nissa menatap lurus, tampak ombak besar saling menggulung di tengah laut. Radit terpaku, dia melihat tubuh Nissa yang begitu rapuh. Namun tetap tegas dan dingin dengan sikapnya. Amira berjalan menghampiri Nissa, setelah meminta izin pada Radit. Amira menarik tangan Nissa, mengajak Nissa berlari bersama di tepi pantai. Rayhan menghampiri Radit, menepuk pelan pundak Radit. Menyadarkan Radit dari kegamangan hatinya.
"Mereka wanita sederhana dengan kesempurnaan yang hampir sempurna!"
"Maksudmu!" sahut Radit dingin, tak mengerti arah pembicaraan Rayhan.
"Amira dan Nissa, mereka ternyata sepupu. Nissa putri kandung kakak perempuan papa Amira. Hubungan darah yang begitu kental, menjadikan mereka dua sahabat yang sangat erat!" ujar Rayhan, Radit menatap heran ke arah Rayhan.
__ADS_1
"Darimana kamu mengetahuinya?"
"Tentang mereka bersaudara atau Nissa yang putri orang kaya!" ujar Rayhan santai, Radit memutar tubuhnya. Menatap lekat Rayhan dengan penuh tanda tanya.
"Kedua-duanya!"
"Amira, dia yang menceritakan semuanya padaku!" ujar Rayhan datar, Radit menggeleng lemah. Tatapannya nanar, ada rasa tak percaya. Ketika dia mengetahui fakta terbesar dalam hidup Nissa.
"Kenapa Amira bisa bercerita padamu? Sedangkan padaku tidak, padahal aku kakak iparnya!" sahut Radit dingin dengan tatapan aneh.
"Entahlah, tanyakan sendiri padanya!" ujar Rayhan, sembari mengangkat kedua bahunya. Radit menghela napas, seakan kenyataan tentang Nissa kelak menjadi jarak yang tak terlihat.
"Radit!" panggil Rayhan lirih, Radit menoleh dengan tatapan heran.
"Ternyata Nissa benar, Alvira masih ada dan mungkin namanya yang tertulis di hatimu bukan Nissa!"
Huuffff
"Aku bingung!" ujar Radit, setelah menghela napas panjang.
"Rayhan!"
"Hmmm!" sahut Rayhan, terlihat Radit menatap lurus ke arah Nissa.
"Aku mencintainya, tapi akulah alasan kebenciannya. Bersamanya aku ingin melewati masa depan, tapi masa laluku menghancurkan jalannya. Dialah alasan aku ingin menggapai mimpi, tapi traumanya membuat mimpi itu pupus. Kini bukan dia yang takut kehilangan diriku, tapi aku yang takut kehilangan dia. Dengarkan tawanya, terdengar nyaring dan tulus. Sungguh Rayhan, aku orang yang telah menghancurkan tawa dan senyumnya!"
__ADS_1
"Alvira wanita yang membuatmu berubah, dari Radit yang pemalas menjadi ambisius. Sebaliknya, Nissa wanita yang kini merubahmu menjadi pribadi yang tulus. Cintamu pada Alvira, membuatmu lupa akan rasa takut. Sekarang, cintamu pada Nissa menyisipkan rasa takut akan kehilangan. Kenangan indah bersama Alvira, menjadi kenangan luka dihati Nissa. Sedangkan kenangan pahitmu bersama Nissa. Malah membuatmu begitu bahagia. Sungguh Radit, kamu berbeda seratus delapan puluh derajat. Sungguh cinta dan hidupmu rumit!" tutur Rayhan dengan tenang, Radit diam menatap Nissa.
Akhirnya Nissa berdiri tepat di atas riak-riak kecil ombak laut. Amira bersandar pada bahu Nissa, tangannya memeluk erat tubuh Nissa. Keduanya menatap cahaya senja yang terbenam di ufuk barat. Radit dan Rayhan berjalan mendekat ke arah Nissa dan Amira. Radit berdiri di samping Nissa, sedangkan Rayhan berdiri tepat di samping Amira. Cahaya jingga senja menerpa wajah mereka.
"Radit, seandainya kita bertemu beberapa detik lebih cepat. Sebelum kamu bertemu dengan Alvira. Mungkin senja ini akan menjadi saksi besar cintaku, bukan ketakutanku akan kehilanganmu!"
"Nissa percayalah, Alvira hanya masa lalu. Dia tidak akan pernah bisa menjadi bagian hidupku!" sahut Radit, Nissa menoleh seraya mengedipkan mata. Nissa menggenggam erat tangan Radit, lalu menuntun tangan Radit menyentuh lembut perutnya yang masih ramping.
"Zain pengikatmu dengan Alvira dan janin ini yang akan mengikat kita. Selamanya, baik aku atau Alvira akan menjadi bagian hidupmu. Selama ada buah hati diantara kita!" ujar Nissa lalu menyandarkan tubuhnya di tubuh tegap Radit.
"Maafkan aku!" ujar Radit lirih, Nissa menggelengkan kepalanya yang bersandar di tubuh Radit. Hangat pelukan Radit, seolah ingin menghadang dingin angin.
"Aku akan belajar menerima statusku, senja pengganti dalam hidupmu. Namun seandainya aku tak mampu bertahan. Maafkan aku, jika aku mundur sebelum kamu memilih!" ujar Nissa, sembari menutup mata. Nissa merasakan hangat senja yang menerpa wajahnya.
"Amira!" panggil Rayhan, Amira langsung menoleh. Amira merasa aneh dengan panggilan yang terdengar sopan dan hangat.
"Pacarmu pasti cemburu melihat kita bersama!" ujar Rayhan, Amira terkekeh mendengar perkataan Rayhan.
"Aku belum punya pacar dan tidak ingin memiliki pacar!"
"Kenapa?"
"Karena aku ingin memiliki suami, bukan pacar!" sahut Amira santai, sembari berjalan meninggalkan Rayhan yang terdiam.
"Mungkinkah aku bisa menjadi calon suamimu? Menghabiskan waktu beberapa jam bersamamu, membuat diriku tak mampu berpaling darimu!" batin Rayhan.
__ADS_1