
"Papa, kita bisa bertemu dengan Aira di rumah tante Amira!" Ujar Zain, Radit menunduk lemas. Sikap tegas Aira, menampakkan kebencian yang nyata untuk Radit. Satu perkenalan yang membuat jarak antara ayah dan anak.
Satu putrinya kini semakin jauh, hati Radit semakin sakit. Tatapan dingin Aira, sikap acuh Aira. Nyata terpampang di depan mata Radit. Jarak yang benar-bebar jauh, kabur dan tak lagi bisa disatukan. Radit merasa dirinya tak pantas menjadi seorang ayah. Kala dia membuat putrinya terhina. Keangkuhan Radit telah melukai hati putri yang merindukannya. Kini harapan Radit hanya pada putri lainnya. Nissa telah menutup hatinya, mengingat tak sekalipun Nissa mencoba bertemu dengannya. Zain mencoba menjadi penengah, tapi Radit menolak. Radit tidak ingin Zain menerima dingin dan benci Nissa. Apalagi semua karena salahnya.
"Jika Air ada di negara ini, tentu adikmu yang lain juga ada di negara ini. Papa harus bisa mengenalinya. Papa tidak ingin melakukan kesalahan kedua kalinya. Jika Aira mencoba menemui papa. Mungkin dia juga akan berusaha menemui papa!"
"Papa, aku akan bertanya pada mama Nissa. Apakah dia sudah kembali ke negara ini? Sebab saat mama datang, mereka tidak ada bersama mama. Aira datang di negara ini, satu jam sebelum bertemu papa. Bahkan mama Nissa tidak mengetahui kedatangan Aira!"
"Pantas dia marah, sengaja dia datang menemuiku. Bahkan mungkin dia tidak istirahat. Namun dengan angkuhnya papa menganggap sikapnya itu lemah dan menyerah akan tantangan papa!" Ujar Radit lirih, Zain menggelengkan kepalanya lemah. Zain berlalu dari hadapan Radit. Zain mengambil ponsel pintarnya, menghubungi seseorang yang mungkin mengetahui keberadaan adiknya yang lain.
Setelah kepergian Aira dan Zain, Radit termenung di dalam ruangannya. Penyesalan yang membuat Radit hancur dan tak berdaya. Radit melakukan kebodohan yang tak bisa dimaafkan. Dia telah meragukan putri yang dinantinya selama puluhan tahun. Kehilangan kesempatan yang tak mungkin kembali. Radit benar-benar menyesal, Aira putri kecilnya yang cantik. Kini telah pergi, tanpa berpikir memegang tangannya. Sekadar mencium punggung tangannya. Setidaknya sebagai bakti seorang anak pada orang tuanya.
Tok Tok Tok
"Permisi tuan, sudah saatnya rapat!" Ujar Via mengingatkan. Keras suara ketukan pintu, membuat Radit terkejut. Seketika lamunannya berakhir, Radit kembali pada kenyataan. Sebuah fakta, jika Radit hanya sendiri di dalam ruangan yang besar ini.
"Baiklah, aku akan turun!" Sahut Radit lantang, Via mengangguk pelan. Via menutup pintu, membiarkan Radit larut dalam lamunannya.
"Dia tidak akan menemuiku!" Batin Radit pilu.
Radit keluar dari ruangannya dan langsung turun ke lantai dasar. Radit mulai tenang, dia tak lagi memikirkan pertemuannya dengan putri lainnya. Radit kembali fokus pada pekerjaannya. Dunia yang membuat Radit lupa akan dukanya. Via mengikuti langkah Radit. Keduanya hendak rapat dengan salah satu investor dari luar negeri. Seorang investor muda yang ingin mengepakkan sayapnya di negara ini. Rapat yang diadakan di sebuah restoran mewah.
__ADS_1
Radit tiba lebih awal, sepuluh menit dari yang dijadwalkan. Reservasi meja sudah dilakukan, Radit dan Via menunggu di meja yang sudah dipesan. Zain datang beberapa menit setelahnya. Kini tinggallah mereka berdua, menunggu sang investor yang tak pernah dikenalnya. Sebuah rapat besar yang menentukan keberhasilan mega proyek yang tengah dikerjakan Radit dan Zain.
Tap Tap Tap
Suara langkah anggun terdengar, heels tinggi yang menggema di lorong restoran. Pintu terbuka, terlihat langkah anggun wanita muda memasuki ruangan yang dipesan khusus untuk rapat hari ini. Seorang wanita yang mengenakan tunik marron dipadukan dengan celana wide leg pantas hitam dan hijab instan panjang warna senada. Penampilan yang anggun dan formal, menampakkan wibawa pembisnis handal. Radit dan Zain terkesima, bukan hanya karena penampilannya. Namun usia yang masih muda, tersirat dari wajahnya yang cantik dan mempesona. Radit tidak menyangka akan bekerjasama denngan seorang anak kecil.
"Assalammualaikum!" Sapa Hana ramah, lalu duduk di ujung kursi. Radit diam menatap tak percaya. Zain mengangguk pelan, mengiyakan sapaan Hana.
"Silahkan dimulai, waktu saya tidak banyak. Ada beberapa perusahaan yang akan saya temui!"
"Baiklah, saya akan memulainya!" Sahut Zain, lalu memberikan sebuah berkas kepada Hana.
"Baiklah tuan Zain, aku sudah mendengar penjelasan anda. Namun ada satu yang mengganjal dalam pikiran saya. Satu point yang terasa aneh ditelinga saya!"
"Semua sudah benar, kami perusahaan besar. Tidak mungkin kami melakukan kesalahan!" Sahut Radit dingin, Hana tersenyum sinis. Hana meletakkan proposal Zain, mengisyaratkan Zain membaca point yang sudah dilingkari Hana. Zain membaca point-point yang dilingkari Hana. Sontak kedua mata Zain membulat sempurna. Kesalahan kecil yang diketahui oleh Hana. Radit mengambil berkas dari tangan Zain. Radit membaca point-point yang menurut Hana salah.
"Ini hanya kesalahan kecil, kami akan segera memperbaikinya!" Ujar Radit, lalu meletakkan kembali berkas di depan Hana. Dengan seutas senyum, Hana menyahuti sikap arogant Radit. Hana menyalahkan laptop miliknya, memberikan pada Radit dan Zain.
"Dengan kasalahan yang sama, bisa saja saya menerima kerugian yang besar pula. Ini hanya satu contoh dari saya. Bisa saja semua baik-baik saja atau malah hancur tak tersisa!" Ujar Hana lugas, Radit dan Zain langsung menunduk.
"Katakan apa yang kamu inginkan? Berapa bagian yang anda minta dari kerjasama ini!" Ujar Radit tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Berapa yang anda tawarkan?" Sahut Radit, Zain menggelengkan kepalanya pelan. Isyarat Zain tidak setuju dengan keputusan Radit.
"50%-50%, adil bukan!" Ujar Radit, Hana terpaku.
"Papa cukup, kita tidak menjual keselamatan orang lain. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi!" Ujar Zain, Hana tersenyum mendengar perkataan Zain.
"Baiklah Tuan Radit, kita akhiri rapat hari ini. Saya merasa, anda sudah mengetahui jawaban saya. Jadi saya menolak kerja sama dengan anda!" Ujar Hana final.
"Sebenarnya kamu tidak mengerti apapun? Gadis kemarin sore, mengajariku berbisnis. Puluhan tahun Aku ada jadi pembisnis. Asam garam dunia ini sudah aku telan. Kamu hanya anak bau kencur yang tak mengerti apapun. Hebatnya kedua orang tuamu, memberimu kesempatan yang begitu besar dan percaya kamu mampu melakukannya!" Ujar Radit sinis, Zain diam tak bersuara.
"Tuan Radit, mungkin saya anak kemarin sore. Namun keselamatan pekerja, tetap yang utama. Tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa? Tanpa mereka, uang kita tidak ada gunanya? Tanpa mereka, perusahaan kita tidak akan berkembang. Jadi tidak ada alasanku, berinvestasi di perusahaan anda. Satu lagi, apa yang aku dapatkan sekarang? Bukan karena kebaikan kedua orang tuaku. Sebab hanya doa ibu yang membuatku sukses. Sedangkan ayahku, alasanku tak pernah ada dalam lelah perjuanganku!"
"Saya permisi!" Pamit Hana, Radit dan Zain langsung tersentak. Melihat Hana pergi tanpa menandatangani kesepakatan.
"Tunggu, kita bisa membicarakannya lagi!" Teriak Radit, Hana menggeleng lemah.
"Anda tak pernah berubah, selalu terlambat menyadari kesalahan. Sikap plin-plan yang membuat anda kehilangan keluarga!"
"Hana Zahra Awani!" Ujar Radit dengan bibir bergetar.
"Maaf, anda sudah terlambat!" Ujar Hana, sembari berlalu dan pergi meninggalkam
__ADS_1