
Matahari sudah semakin tinggi. Sinarnya terasa panas membakar tubuh. Sepanas hati Alvira yang iri melihat kebahagian Radit bersama Nissa. Rindang pepohonan di halaman pengadilan, tak lantas membuat Alvira merasa teduh. Tatapan Alvira tajam dan menusuk ke arah Radit dan Nissa. Kebetulan keduanya baru saja datang di pengadilan. Satu jam lagi sidang mediasi antara Radit dan Alvira. Perebutan hak asuh yang akhirnya sampai di meja hijau pengadilan.
Alvira sangat yakin bisa mendapatkan hak asuh Zain. Mengingat peraturan pemerintah, jika pengasuhan anak ada ditangan ibunya sampai anak berusia 21 tahun. Namun semua akan berbeda, mengingat Alvira meninggalkan Zain saat masih bayi. Semua kemungkinan masih bisa terjadi, tergantung pembelaan para pengacara. Radit datang dengan kesiapan, begitu juga Alvira yakin bisa mendapatkan hak asuh Zain.
Alvira datang bersama Aryan, sedangkan Irfan memilih di rumah. Tubuhnya kurang sehat, sebab itu Irfan memilih tidak ikut pergi ke pengadilan. Aryan meminta bantuan pengacara keluarga, untuk membela Alvira dan melawan Radit. Aryan mendapat perintah langsung dari Irfan. Tanpa peduli pada Nissa atau Amira. Aryan bukan takut pada Irfan. Sebaliknya, kasih sayangnya pada Irfan yang membuat Aryan bertahan. Sebagai anak bungsu, Aryan tidak ingin melihat Aryan kesepian.
"Assalammualaikum!" sapa Nissa pada Aryan, lalu mencium punggung tangan Aryan. Sekali lagi hati Aryan terenyuh. Dua putri keluarga Kusuma, memiliki kebaikan hati yang nyaris sempurna. Sikap sopan Nissa, terasa ngilu dihati Aryan. Ketika dia menyadari, dirinya tak pernah bisa melindungi Nissa. Amanah yang ditinggalkan sang kakak.
"Nissa, maafkan om!" ujar Aryan lirih, Nissa mengangguk pelan. Bukan sahutan salam yang terdengar, tapi kata maaf yang terucap tulus dari hati terdalam Aryan.
"Aku tidak pernah menyalahkan om atau kakek. Amarah kalian, bukti kasih sayang kalian. Cukup aku melihat kalian sehat dan bahagia. Tak ada lagi yang aku inginkan!" ujar Nissa, Aryan diam membisu. Tatapannya penuh rasa bersalah, akan lemahnya Aryan di depan sang ayah.
"Alvira, semoga kamu bahagia dengan keputusan ini!" ujar Nissa lirih, Alvira menoleh ke arah Nissa. Tatapannya angkuh, penuh rasa benci. Namun hal berbeda terlihat di wajah Nissa. Tak ada rasa marah, sebaliknya Nissa tersenyum dengan cantiknya. Aura keibuan yang terpancar dari wajah cantik Nissa.
"Jelas aku bahagia, aku akan mendapatkan hak asuh putraku. Dengan cara apapun? Aku akan mendapatkan putraku kembali. Kamu dan Radit tidak akan bisa menghalangiku. Kakek akan membantuku, dia sudah berjanji!" ujar Alvira sombong, Aryan diam tak bersuara. Sikap sombong Alvira membuat Aryan kesal.
"Aku tidak akan pernah menghalangi seorang ibu bertemu atau mengasuh putranya. Aku calon ibu, jelas aku bisa merasakan kesedihanmu saat ini. Satu hal yang harus kamu ketahui, aku seorang anak yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Seorang anak yang tak pernah mendapatkan pengkuan dari keluarga ibunya. Seorang anak yang tersisih dari keluarga besarnya. Aku seorang anak yang paham arti kesepian yang sesungguhnya. Sebab itu, aku sudah bisa merasakan rasa sakit Zain. Sejak aku mengenal rasa sakit ini. Aku berjanji pada diriku, takkan aku biarkan orang yang aku sayangi merasakan sepi dan pedih sama sepertiku. Cukup aku yang merasakan semua itu!"
"Munafik, kamu wanita bermulut manis!"
"Alvira, aku tidak mengharapkan pengakuanmu. Aku mungkin munafik, tapi aku tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan milikku. Sama halnya dirimu yang hidup dengan nyaman sebagai penggantiku. Pernahkah aku meminta posisiku kembali? Tidak pernah sama sekali, sebab aku lebih bahagia melihat kakek bahagia bersamamu. Itulah arti menyayangi yang sesungguhnya. Aku tidak akan memintamu berubah pikiran. Sejatinya kalian berdua telah kalah, sebab Zain tetap akan terluka apapun hasilnya!"
__ADS_1
"Diam kamu!" teriak Alvira marah.
"Amarahmu akan berubah menjadi air mata, ketika kamu menyadari bukan ini yang diharapkan Zain!" sahut Nissa santai, lalu berlalu meninggalkan Alvira. Namun langkahnya terhenti, saat Alvira menahan tangan Nissa.
Plaakkk
"Jangan pernah mengajariku, kamu bukan siapa-siapa? Kamu anak yang tak diharapkan, bahkan oleh keluargamu sendiri. Kamu wanita rendah tanpa status. Anak yang lahir dari rahim wanita penggoda. Akan sama seperti ibunya, menggoda kebahagian orang lain!" ujar Alvira dengan penuh amarah, sesaat setelah dia menampar Nissa.
Nissa memegang pipinya yang terasa panas. Tamparan Alvira terasa sakit, tapi tak sesakit perkataan Alvira. Rasa cemburu Alvira telah membutakan mata hatinya. Radit yang berdiri sedikit jauh, hanya bisa terdiam. Tubuhnya kaku, bersamaan dengan suara tamparan Alvira. Langkah kakinya terasa pelan, sampai Radit tak mampu menjaga Nissa. Aryan meradang mendengar Alvira menghina kakak kandungnya. Aryan langsung menarik tubuh Alvira, menjauh dari Nissa.
"Jaga bicaramu Alvira, ada batasan untuk semua hal. Mungkin papa menyayangimu, tapi bukan berarti kamu berhak menghina kakakku. Meski papa tidak pernah menginginkan Nissa. Namun dia keturunan sah keluarga Kusuma. Kamu cucu keluarga Kusuma hanya sebatas nama, tapi dalam darah Nissa mengalir darah keluarga Kusuma. Jangan pernah melewati batasmu, jika tidak ingin melihat amarahku!" tutur Aryan dengan emosi, Alvira terhuyung ke belakang. Hampir saja tubuhnya terjatuh, seandainya Alvira tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Kenapa kamu menampar Nissa? Dia tidak bersalah, kamu yang bersalah dengan kembali ke dalam hidupku dan Zain!"
"Dia wanita rendah, kenapa kamu terus membelanya?" ujar Alvira lantang, Radit meradang dan hendak menghampiri Alvira. Namun langkahnya terhenti, saat Nissa menarik tangannya.
"Alvira Putri Oktaviani Kusuma, nama indah dan terhormat. Namun tak seindah tindakannya dan terlihat rendah!"
"Siapa anda? Kenapa menilai saya seperti itu?"
"Nyatanya kamu memang rendah, pendidikan tinggi yang diberikan oleh keluarga Kusuma. Tak lantas merubah status dan kepribadianmu. Kamu tetap rendah dan kampungan!"
__ADS_1
"Anda!" ujar Alvira, sembari mengangkat tangan. Namun tangan Alvira tertahan, lalu terhuyung ke belakang.
"Jangan berani mengangkat tanganmu padaku. Aku bukan Nisss yang akan diam menerima sikap kasarmu. Aku bukan Aryan yang terus membelamu, hanya karena perintah papa!" ujar Daniel lantang dan tegas, Alvira mundur beberapa langkah. Dia terkejut mendengar fakta yang dikatakan Daniel.
"Kenapa kamu menunduk? Angkat kepalamu, tatap mataku dan katakan alasan diammu!"
"Maafkan aku kak!"
"Kamu bodoh Aryan, kamu membela orang yang bukan siapa-siapamu? Kamu mengacuhkan rasa sakit keponakanmu, putri kandung kak Elmaira!" ujar Daniel kasar, Aryan menunduk dengan rasa bersalah.
"Maafkan aku om Daniel, aku tidak mengenalimu!" ujar Alvira, Daniel menggelengkan kepalanya.
"Kamu bukan keponakanku, jangan pernah memanggilku om!" ujar Daniel dingin, Alvira langsung menunduk malu.
"Apa kabar sayang? Aku Daniel Dwi kusuma, adik kandung mamamu!" ujar Daniel, Nissa langsung mencium punggung tangan Daniel.
"Aryan, kamu bisa membela keponakanmu dan aku membela keponakanku. Kita akan berperang dengan segala kemampuan. Katakan pada papa, putranya kembali demi putri kakaknya!"
"Kak Daniel, maafkan aku!" ujar Aryan, Daniel mengalihkan pandangannya.
"Tidak perlu berterima kasih, aku membela Nissa bukan karenamu. Kelak akan ada waktunya aku berurusan denganmu!" ujar Daniel dingin, sembari menatap Radit.
__ADS_1