Senja Pengganti

Senja Pengganti
Berdua di Mobil


__ADS_3

"Tuan, sarapan sudah siap!"


"Dimana zain? Bawa dia kemari!" ujar Radit dingin, Ifa mengangguk tanpa mengatakan sesuatu. Sanjaya dan Saskia berjalan ke arah meja makan. Radit mengambil makanan, sembari menunggu Zain datang.


Saskia duduk berhadapan dengan Radit, sedangkan Sanjaya duduk di ujung meja makan. Zain duduk tepat di sebelah Radit. Keakraban keluarga besar Radit pada saat sarapan pagi. Kebersamaan yang tak pernah bisa tergantikan oleh apapun. Sikap hangat dan waktu yang selalu Radit khususkan buat keluarganya.


"Radit, dimana Nissa?"


"Papa, jangan menyebut namanya. Dia bukan bagian keluarga kita. Jadi tidak perlu dia sarapan bersama kita!" sahut Saskia sinis, Radit menoleh tanpa bicara. Tatapan yang cukup menjawab sikap kasar Saskia. Tatapan tidak suka yang mampu membuat mulut Saskia tertutup rapat.


"Ifa, dimana ibu?" ujar Sanjaya, Saskia mendengus kesal mendengar Sanjaya terus menanyakan keberadaan Nissa.


"Tuan Sanjaya, ibu ada di kamar. Mungkin sebentar lagi ibu turun!" sahut Ifa sopan, Sanjaya mengangguk mengerti.


"Mama!" teriak Zain, nampak Nissa turun dari lantai dua. Penampilan Nissa terlihat rapi, make up tipis mempercantik wajahnya. Meski wajah pucat dan lesu masih terlihat. Namun kondisi Nissa mulai membaik dan dia ingin pergi bekerja.


"Zain, lanjutkan sarapanmu!" pinta Nissa, saat Zain menghampirinya dan langsung memeluk Nissa. Ifa menggendong Zain, saat Nissa mengedipkan kedua matanya.


"Nissa, kita sarapan bersama!"


"Terima kasih, silahkan anda lanjutkan!" sahut Nissa ramah. Sanjaya menoleh ke arah Radit, seolah ingin jawaban. Namun diam Radit menjadi jawaban yang membuat Sanjaya semakin bingung.


"Dia tidak pantas sarapan bersama kita!" ujar Saskia ketus, Sanjaya menepuk pelan tangan Saskia. Isyarat agar Saskia diam dan tidak banyak bicara.


"Sejak tadi kakak diam, bukan kakak setuju dengan perkataanmu. Saskia, kakak bisa melakukan apa saja? Termasuk keluar dari rumah ini dan hidup bersama Zain!"


"Kakak, kenapa bicara seperti itu?" ujar Saskia lirih, Radit menunduk. Makanan yang diambilnya tak lantas membuatnya lapar. Tak sedikitpun Radit menyentuh makanannya. Tak ada rasa lapar, hanya ada rasa kecewa dalam hatinya.


"Nissa duduklah!" ujar Sanjaya, Nissa menggeleng. Nissa berjalan menghampiri Radit, Nissa memberikan sebuah amplop pada Radit.

__ADS_1


"Kamu serius!" ujar Radit dingin, Nissa mengangguk pelan. Sanjaya dan Saskia tidak bingung melihat sikap Radit dan Nissa. Namun keduanya memilih diam, salah bicara akan fatal akibatnya.


Radit berdiri, makanan di depannya tak lagi di sentuh. Napsu makanannya hilang, Radit memilih pergi. Nissa menahan tangan Radit, seketika Radit menghentikan langkahnya. Nissa mencium punggung tangan Radit, lalu menghampiri Zain dan mencium hangat puncak kepala putra sambungnya. Nissa pergi mengajar tanpa menyentuh sarapan. Meski sejak subuh, Nissa yang menyiapkan semua makanan ini.


"Mbak Ifa, titip Zain. Kalau ada sesuatu, tolong hubungi saya!" ujar Nissa, sesaat setelah dia mencium puncak kepala Zain.


"Dia tidak membutuhkanmu, ada aku yang akan menjaganya!" sahut Tasya lantang, Radit dan Nissa menoleh. Zain langsung berlari menghampiri Nissa. Dengan kedipan mata, Nissa meminta Ifa membawa Zain masuk ke dalam.


"Terima kasih, kelak akan kuserahkan kebahagian keluarga ini pada anda!" ujar Nissa, lalu berjalan menjauh dari Tasya dan Radit. Pelukan hangat Tasya selalu menjadi salam pertemuannya dengan Radit.


"Berbaliklah Nissa, agar aku yakin ada cinta dan rasa cemburumu untukku!" batin Radit, tapi semua sia-sia. Nissa terus melangkah tanpa menoleh ke arah Radit.


"Kak Tasya, aku bahagia kakak akhirnya kembali. Hanya kakak yang pantas menjadi istri kak Radit!" ujar Saskia senang dan lantang, Nissa mendengar kebahagian Saskia. Sebuat tawa yang membuat hatinya terasa ngilu dan sesak.


Radit mengambil kunci dan tasya, dia bergegas berjalan keluar dari rumahnya. Rayhan sang asisten sudah datang dan menunggu di ruang tamu. Sebenarnya Rayhan bukan hanya asisten, dia sepupu dan juga sahabat Radit. Tasya kesal melihat sikap Radit yang mengacuhkannya. Radit pergi tanpa peduli lagi pada Tasya.


"Sayang, ini ketinggalan!" ujar Tasya genit, Radit tak bersuara. Nissa menoleh ke arah Radit dan Taysa. Entah kenapa hatinya terasa ngilu? Nissa merasakan sesak yang teramat.


"Nissa, cukup!" ujar Radit, lalu mematikan sepeda motor matic Nissa. Radit merebut kunci sepeda motor Nissa. Lalu melemparkan kunci ke arah Rayhan. Radit menarik tangan Nissa, meminta Nissa masuk ke dalam mobil. Lagi dan lagi Tasya diacuhkan, Radit sedikitpun tidak peduli pada Tasya.


"Ada apa lagi? Tasya sudah datang, kasihan kalau dia ditinggal pergi!"


"Nissa aku mohon, jangan mengalihkan pembicaraan!"


"Maksud anda!" sahut Nissa, Radit menghela napas.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan? Agar kamu memaafkanku dan melupakan semua kesalahanku!" ujar Radit, Nissa diam menatap keluar jendela mobilnya. Jalan raya yang padat, menjadi cara Nissa mengacuhkan pertanyaan Radit.


"Nissa, apa yang harus aku lakukan?" ujar Radit, sembari memegang tangan Nissa. Radit mencium hangat tangan Nissa. Menempelkan tepat di dadanya. Radit tak lagi malu mengatakan cintanya pada dunia.

__ADS_1


"Nissa!" panggil Radit hangat, Nissa hanya diam membisu.


"Aku akan membayar hutang papa dengan gajiku. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Namun percayalah, aku akan membayar setiap sen yang digunakan ayah!"


"Nissa, aku memang salah. Katakan caranya, agar kamu memaafkanku. Aku mohon jangan lakukan ini, alasanku memang salah. Namun cinta dan rasa nyamanku benar adanya!" ujar Radit dengan tulus, Nissa menatap ke luar jendela mobilnya. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari Radit.


Radit menghela napas, Nissa begitu keras dan teguh. Radit tak mengerti cara agar Nissa bersedia melupakan janjinya. Melunasi hutang ayahnya yang tentu akan berat dan lama. Radit mencoba menghapus ingatan Nissa akan alasan pernikahan diantara mereka. Namun semua sudah terlanjut terekam. Tak ada cara menghapus ingatan yang sudah membekas.


"Aku turun disini!"


"Kenapa? Sekolah tempatmu mengajar masih jauh dari sini!"


"Aku ada rapat, Amira akan menjemputku. Kantor anda belok ke arah kiri dan aku ke kanan. Kita tidak searah!" tutur Nissa, Radit langsung membelokkan mobilnya ke arah kanan. Nissa tak membantah, ketika melihat Radit mengantarnya.


"Aku tidak keberatan mengantarmu, Rayhan sudah mengurus semuanya. Jika perlu, aku akan menunggumu sampai selesai!" ujar Radit, Nissa langsung menoleh. Gelengan kepala Nissa, menjadi jawaban pahit yang diterima oleh Radit.


"Aku pasti lama, aku tidak ingin merepotkanmu!"


"Kamu tidak ingin mengenalkanku pada mereka. Aku bukan orang lain, aku suamimu!"


"Sebab itu aku takut menerima kebaikanmu. Aku takut mencintaimu, aku takut bergantung padamu. Jangan bersikap baik padaku, hatiku mulai lemah di depanmu. Aku mulai rapuh tanpa sandaranmu. Kamu memang suamiku, tapi malu menjadi istrimu. Pernikahan karena balas budi ini, telah membuatku gundah. Seandainya ini cinta, murnikah atau sekadar ingin kekuasaanmu. Maafkan aku, jika hatiku terlalu keras. Aku terlalu takut terluka, hatiku tak lagi utuh. Jiwaku tak lagi hidup, setelah semua yang terjadi padaku. Maaf, kamu hadir dalam hidupku. Setelah semua luka dan rasa tak percaya ini ada dalam benakku. Maaf, kamu menjadi korban keras dan gelap hatiku yang terluka oleh makhluk bernama laki-laki. Maaf, maaf dan maaf!" batin Nissa pilu, sembari menatap wajah Radit.


"Nissa, kamu baik-baik saja!" ujar Radit membuyarkan lamunan Nissa. Radit khawatir ketika melihat air mata Nissa jatuh tepat di ujung matanya. Radit menyeka air mata Nissa, lalu mengelus pipi Nissa dengan lembut.


"Aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu hatimu terbuka!" ujar Radit lirih, Nissa menunduk.


"Maafkan aku kak, maaf!" ujar Nissa lirih, Radit menoleh terkejut.


"Kak, dia memanggilku kak!" batin Radit tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2