
"Apa kabar Radit? Lama tidak bertemu!" Sapa Nissa ramah, Radit diam tak menyahuti.
Nissa berjalan anggun ke arah Radit. Keduanya berjanji bertemu, untuk mendiskusikan sesuatu yang tak pernah ditanyakan selama dua puluh tahun terakhir. Semula Nissa menolak bertemu berdua dengan Radit. Namun desakan Radit dan sedikit ancaman, membuat Nissa lemah dan Kalah. Nissa memilih bertemu dengan Radit di sebuah restoran tak jauh dari kantor Hanna. Nissa mengendarai mobilnya sendiri, kemandirian yang sejenak mengusik Radit. Rasa tidak percaya, Nissa telah berubah dan bisa melakukan segalanya sendiri. Bahkan penampilan Nissa tak lagi sama. Dia terlihat layaknya wanita karier yang sukses. Nissa menjelma menjadi wanita tangguh yang tak tersentuh oleh Radit selama dua puluh tahun.
"Kabarku tidaklah penting bagimu. Kekhawatiranmu hanya basa-basi semata. Dua puluh tahun kamu pergi tanpa kabar berita. Kini kamu kembali, seolah kita tidak bertemu hanya beberapa bulan. Sungguh Nissa, kamu dingin tak tersentuh. Sekeras aku mencoba menyentuhmu, tanganku membeku dan kaku!" Ujar Radit lirih, tanpa menoleh ke arah Nissa. Radit menunduk, mencari sesuatu yang tak mungkin ditemukannya.
"Maaf!" Ujar Nissa, Radit tersenyum sinis. Seolah permintaan maaf Nissa hanya kata tanpa makna.
"Dua puluh tahun Nissa, hanya kata itu yang kamu katakan setelah bertemu denganku. Janji yang kamu ucapkan dulu, tak lantas membuatmu hangat padaku hari ini. Katakan padaku, apa salahku? Sampai kamu setega ini padaku. Dua puluh tahun kamu pergi, menjauhkanku dari dua buah hatiku. Bidadari kecilku yang cantik dan berpipi merah. Kini telah dewasa dan hanya kebencian yang mereka tunjukkan padaku!" Tutur Radit lirih, Nissa menggeleng lemah. Tatapannya tertunduk, suara helaan napasnya. Isyarat Nissa tidak baik-baik saja.
Nissa menyadari sepenuhnya kesalahannya. Namun menyalahkan bukan sesuatu yang benar hari ini. Namun fokus mencari cara menemukan jalan menghapus duka dihati kedua bidadari kecilnya. Nissa memang bersalah, tapi sakit hatinya tidaklah salah. Sikap tak pantas saudara perempuan Radit kala itu. Alasan Nissa memilih mundur dan menjauh dari luka yang dalam. Meski akhirnya, Nissa menorehkan luka di hati kedua putri cantiknya.
"Kamu tidak salah, tapi hatiku yang salah mengartikan. Jika saat itu, aku tetap menjadi Nissa yang dingin dan membiarkan jarak ada diantara kita. Takkan pernah ada dua putri cantik diantara kita. Alasan yang membuat kita tetap bertemu. Meski aku tak lagi berharap bertemu denganmu!"
"Apa yang ingin kamu katakan?" Ujar Radit tegas, Nissa tersenyum simpul. Nissa mengingat hari dimana Radit diam membiarkan semuanya terjadi? Tanpa mencegahnya atau meminta Nissa tinggal. Namun saat Nissa kembali, Radit hanya menyalahkannya. Menganggap kepergian Nissa alasan kedua putrinya tidak pernah ingin mengenal Radit.
FLASH BACK
"Akhirnya tuan putri pulang, setelah menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatannya. Dasar manja, sakit seperti itu saja harus dirawat di rumah sakit!" Ujar Saskia sinis dan dingin, Sanjaya langsung menarik tangan Saskia. Tatapan tidak suka Sanjaya, jelas menampakkan amarah Sanjaya. Peringatan yang dikatakan Radit, seakan tak berguna dan tak perlu dipikirkan.
"Saskia, tutup mulutmu. Ingat peringatan kakak semalam. Jangan pernah menguji kesabaran kakak!" Ujar Radit lantang, Saskia menatap.tajam Nissa. Seolah menyalahkan Nissa atas amarah Radit padanya. Saskia berjalan menghampiri Nissa. Amira sudah bersiap, tangannya mengepal sempurna. Amira menahan amarahnya, menanti waktu yang tepat untuk meluapkannya pada Saskia.
"Berapa banyak lagi uang yang akan kamu habiskan? Kakakku bekerja siang malam, bukan hanya untuk mengobati sakitmu. Terutama mencukupi kebutuhan keluargamu. Kamu hanya wanita pelunas hutang. Jadi jangan bersikap polos dan tak bersalah!" Ujar Saskia lagi, Radit dan Sanjaya menatap Saskia dengan amarah. Perkataan Saskia melewati batas dan akan menjadi bom bagi hubungan Radit dan Nissa.
Saskia berdiri tepat di depan Nissa. Kedua tangannya menopang tepat di sandaran kursi roda Nissa. Amira menatap lekat Saskia, bersiap menangkis serangan pada Nissa. Wajah Saskia terlihat menang, dia merasa puas setelah menghina Nissa. Tanpa sadar akibat yang akan dilakukan Nisa.
"Saskia, kembali ke kamarmu. Jika tidak kakak akan mencabut semua fasilitas yang ada. Sontak Saskia terdiam, mencabut semua fasilitas mewah sama halnya membunuhnya pelan-pelan!" Teriak Radit dengan amarah yang membuncah. Saskia hendak berjalan menuju kamarnya. Namun terhenti, ketika dia merasakan ada tangan yang menahannya.
"Lepaskan!" Teriak Saskia, Amira menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sinis ke arah Saskia.
Plaaakkk Plaaakkk
__ADS_1
Dua tamparan mendarat sempurna di wajah Saskia. Kanan dan kiri dengan kerasa tamparan yang sama. Suara Tamparan Amira menggema di seluruh rumah Radit. Semua orang terdiam tak percaya, Radit bahkan langsung mengusap wajahnya kasar. Sanjaya menarik tangan Saskia, meminta Saskia menjauh dari Radit.
"Amira, cukup!" Ujar Sanjaya membela putriya, Amira diam tak bersuara.
"Saskia, sebelum kamu menghina Nissa. Ingatlah dua tamparan yang mendarat sempurna di wajahmu!"
"Kak Radit!" Ujar Saskia manja.
"Mintalah bantuannya, agar kamu bisa menghindariku,. Namun aku yakin, dia tidak akan sanggup menolongmu!" Ujar Amira sinis, Saskia meradang, Radit menarik tangan Saskia. Namun dengan sekuat tenaga, Saskia menepis tangan Radit. Saskia mendekat ke arah Amira, mengangkat tangan. Hendak menampar Amira sebagai balasan atas tamparan Amira.
"Jangan pernah kamu mengangkat tanganmu pada Amira. Dia adikku, saudara perempuanku. Jika Radit melindungi dan membelamu. Aku akan melakukan hal yang sama demi Amira!" Ujar Nissa lantang, sembari menahan tangan Saskia di udara. Nissa melepar tangan Saskia kasar, tenaganya telah pulih. Amarah Nissa membara, tatkala tangan Saskia terangkat pada Amira.
"Saskia, masuk ke dalam kamarmu!"
"Aku akan tetap disini, dia telah menamparku dan aku belum membalasnya!" Teriak Saskia dengan amarah, Alvira berjalan menghampiri Saskia. Dia mencoba menenangkan Saskia. Berharap kata terima kasih dari Radit.
"Saskia, kakak mohon!" Pinta Radit, Saskia diam tak bergeming.
"Kakak, kamu memarahiku demi wanita murahan ini. Dia yang telah memisahkan kita. Aku adik kandungmu, dia hanya wanita murah tak berharga!"
"Amira, tidak perlu mengotori tanganmu dengan menamparnya. Aku tidak apa-apa? Semua perlakuan yang aku terima, tak lebih bayaran untuk setiap kemewahan yang pernah aku terima dari keluarga ini. Aku diam bukan karena aku takut atau mengalah. Aku ingin urusan dengan keluarga ini segera berakhir!" tutur Nissa, lalu menurunkan tangan Amira.
"Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu bicara seperti itu?" Ujar Radit bingung, Nissa tersenyum simpul. Nissa berjalan menghampiri Radit dan Sanjaya. Berdiri tepat di depan Radit, dengan mata sendu menahan tangis.
"Saskia, jika masih ada hinaan untukku katakan sekarang. Aku sedikitpun tidak keberatan, aku sudah lelah dengan semua kepalsuan ini. Aku tak sanggup lagi berada dalam keluarga yang menganggapku hina!"
"Nissa cukup, katakan apa yang kamu inginkan" Ujar Radit dengan nada tinggi dan emosi. Nissa menarik tangan Radit, mencium dengan lembut punggung tangan Radit. Setetes air mata Nissa jatuh membasahi tangan Radit. Dinginnya menusuk ke jantung Radit.
"Akhiri semua, kita jalan masing- masing. Melupakan semua cinta dan bahagia yang pernah ada dalam hidup kita. Terima kasih telah menjagaku selama ini. Maaf, aku menyerah kalah. Selamanya adikmu tidak akan menghargaiku dan aku tidak berharap. Kelak putraku terhina di rumah ayah kandungnya. Sepertiku yang tak pernah dimanusiakan di rumah ayahku sendiri. Sekali lagi maaf, aku harus pergi!" Tutur Nissa, lalu berjalan keluar dari rumah Radit. Amira membawa semua barang milik Nissa.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
"Kamu terus menyalahkanku, tanpa kamu mencoba mengenal mereka. Kamu menganggap, aku alasan kedua putrimu menjauh. Aku tidak mengharapkan kesetianmu, sebab aku yang membuatmu berkhianat. Namun harus kamu sadari, Aira dan Hanna bukan lagi bayi mungil berpipi merah. Mereka dua bidadari yang mulai memahami hidup. Sejak dulu, bahkan setelah usia mereka lima tahun. Aku sudah mengenalkan mereka padamu. Setiap kegiatanmu, dimana kamu berada? Apapun yang kamu lakukan? Dengan siapa kamu bahagia? Mereka mengetahuinya, tapi mereka tak pernah mendekat ke arahmu. Bukan karena aku yang menjauhkannya, tapi kebodohanmu dan diammu alasan mereka menjauh. Sadarkah kamu Radit, Aira tumbuh besar dengan sikap dinginku tapi ambisiusmu. Asalkan kamu ketahui, Aira tak sesehat Hanna, dia memiliki riwayat tubuh yang lemah. Namun demi bisa menemui hari itu, dia belajar tanpa henti. Agar bisa mendapatkan beasiswa yang disponsori olehmu. Menjadi pekerja magang di perusahaan ayah kandungnya. Berharap bisa mengenal ayah yang selama ini dikenalnya dalam foto. Sedangkan Hanna, putri keduaku yang periang dan energik. Dia pelita bagi Aira, penopang lemah Aira selama ini. Hanna menjadi mahasiswa terbaik di kampusnya. Namun dia memilih sekolah online, agar Hanna bisa belajar bisnis dari kakeknya. Iya Radit, Hanna sudah bekerja sejak lulus SMU. Dia ingin sukses dan bisa bertemu denganmu. Om Daniel yang membantu Hanna, dia mendidik putriku dengan sangat keras. Sampai tak pernah ada istirahat bagi Hanna. Namun percayakah kamu, semua itu demi bertemu dan mengenalmu. Kedua bidadariku berusaha, agar bisa mengenalmu. Sekarang katakan padaku, apa usahamu agar bisa menemukan mereka?"
"Kenapa setelah dua puluh tahun?" Sahut Radit, seolah tak pernah salah.
"Karena mereka ingin mengambil keputusan sendiri. Mereka berhak memilih setelah dua puluh tahun!" Sahut Nissa dingin.
"Memilih!"
"Iya memilih, bersamaku atau tinggal denganmu. Bahkan mungkin mereka akan tinggal sendiri!"
"Kamu tidak keberatan!"
"Untuk!" Sahut Nissa heran, Radit menatap lekat nissa.
"Keputusan mereka!"
"Radit, mereka bukan gadis kecil lagi. Mereka sudah bisa memilih yang benar dan salah. Aku percaya dengan keputusan mereka. Sejak kecil, aku mendidik mereka dengan tanggungjawab penuh. Tidak mudah menjadi seorang ibu bagi dua putri sekaligus. Aku memilih menjadi teman, daripada orang tua yang mengatur!"
"Lalu, apa posisiku?" Sahut Radit dingin.
"Selamanya kamu ayah mereka, tidak akan ada yang menggantimu atau merebut posisimu. Layaknya kesuksesan yang kini kamu dapatkan. Kamu berusaha dengan sekuat tenaga, untuk menggapai semua itu. Sekarang, berusahalah menggapai hati putrimu. Agar posisimu sebagai seorang ayah tetap ada selamanya!" Ujar Nissa tenang, Radit menunduk.
"Mungkinkah!" Sahut Radit ragu, Nissa tersenyum simpul.
"Semua mungkin, dengan syarat kamu ingin mencobanya!" Ujar Nissa, Radit menunduk. Mengingat sikap Aira dan Hana yang dingin padanya. Membuat Radit merasa gamang, untuk berjuang mendapatkan hati Aira dan Hana. Seakan perjuangannya sia-sia, tanpa hasil yang pasti.
"Kenapa diam? Kamu takut berjuang atau malu, jika gagal berjuang!"
"Nissa, cukup kamu merendahkanku. Aku memang ayah yang gagal. Aku tak ingin menghancurkan kebahagian mereka dengan egoku. Aku hanya ingin dikenal, bukan dibenci!" Sahut Radit lirih, dengan kepala tertunduk.
"Kalau begitu berjuanglah sekarang. Lihat ke belakang, mereka ada disini. Ingat Radit, kesempatan tidak datang dua kali!" Ujar Nissa, sembari menatap ke arah pintu masuk. Nampak Aira dan Hana datang bersama. Tanpa sepengetahuan Radit, Nissa meminta Aira dan Hana datang ke restoran.
__ADS_1
"Nissa!"
"Mereka putrimu, sentuh hati mereka. Dua bidadari diantara kita!" Sahut Nissa datar.