
Setelah bertahun-tahun pergi, hari ini Nissa kembali dengan hubungan dan kenangan baru. Langit yang dulu pernah menaungi hari-hari Nissa. Kini kembali menauingnya, setelah dua puluh tahun yang lalu Nissa pergi. Langkahnya kembali menampaki tanah yang lama ditinggalkannya. Dengan langkah yang tegas, Nissa melangkah kembali di negara yang membuatnya terluka.
"Nissa, apa kabar saudaraku?" Sapa Amira, dengan tangan yang terbuka lebar. Nissa mengangguk, seutas senyum terpancar di wajahnya. Nissa menatap hangat sahabat yang tak lain saudaranya sendiri. Wajah bahagia yang dulu pernah terlihat. Kini tepat di depan kedua mata Amira.
"Dimana keponakanku? Maaf, aku tidak datang saat kamu menikah!" Sahut Nissa, Amira menggeleng. Tanda dia tidak mempermasalahkannya lagi.
"Hari ini aku kembali, bukan karena ingin kembali padanya. Aku datang demi kedua buah hatiku. Putri yang pergi dan kini kembali, hanya untuk mengenal ayah kandungnya!" Batin Nissa, Amira diam menatap Nissa. Anggukan kepal Amira, isyarat Amira mengerti arti diam Nissa saat ini.
"Kamu yakin ingin bertemu dengannya!" Bisik Amira, Nissa diam dengan tatapan nanarnya. Nissa masih bimbang, seolah ada sesuatu yang membuatnya bimbang.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia baik-baik saja, dia pembisnis handal. Kesuksesan yang tak pernah bisa terkalahkan!" Ujar Amira, Nissa termenung. Amira memeluk sang sahabat, menenangkan kegalauan hati sahabatnya.
Amira menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan mencari sesuatu yang hilang. Amira mencari keponakan cantiknya, dua putri kembar Nissa yang begitu dirindukan. Amira sangat ingin bertemu mereka. Wajah cantik yang menurun dari sang ibu. Kecantikan alami yang tak pernah hilang. Senyum teduh yang pernah redup dan kini kembali. Nissa wanita tangguh yang mulai belajar arti hidup sesungguhnya.
"Mereka tidak ikut denganku, Humaira besok baru menyusul. Sedangkan Hana akan datang, beberapa hari lagi. Dia masih bimbang, untuk bertemu denganny!"
"Hmm, padahal aku merindukan mereka!" Ujar Amira kecewa, Nissa tersenyum melihat penyesalan Amira. Kedua putri Nissa pribadi yang tegas, tidak mudah membuat mereka mengubah pendiriannya. Sejak kecil, Nissa tak pernah memaksa mereka melakukan sesuatu. Namun dengan batasan yang pasti dan tidak melanggar iman yang mereka pegang teguh.
"Baiklah Nissa, kita pulang sekarang!"
__ADS_1
"Amira, antar aku ke makam papa. Aku ingin berziarah!" Ujar Nissa lirih, sesaat setelah dia menahan langkah Amira. Dengan anggukan kepala, Amira mengiyakan permintaan Nissa.
Amira, satu-satunya orang yang dipercaya Nissa menjaga keluarganya. Mungkin tubuh Nissa jauh disana, tapi hati dan jiwanya tetap bersama orang-orang yang sangat disayanginya. Kepergian ayah kandungnya lima tahun yang lalu, menggoreskan penyesalan yang begitu besar di hati Nissa. Namun kembali bukan pilihan yang tepat, di saat hatinya belum mantap melupakan Radit. Kini setelah lima tahun berlalu, Nissa kembali dengan hati yang mantap. Nissa telah menghapus nama Radit dalam hati dan ingatannya. Radit hanyalah ayah kandung kedua putrinya, tidak ada lagi hubungan diantara mereka. Nissa mengubur jauh nama Radit dalam dasar hatinya.
Amira mengemudikan mobilnya dari bandara langsung menuju pemakaman. Sebuah pemakaman umum yang terletak di tengah kota. Pemakaman yang berjarak puluhan kilometer dari bandara. Namun hanya beberapa meter dari rumah keluarganya. Dua puluh menit, Amira mengemudikan mobilnya. Sampailah Nissa dan Amira di pemakaman umum. Nissa turun dengan langkah gamang. Tatapan Nissa nanar, menatap jauh ke tengah pemakaman umum. Pemakaman yang sama dengan almarhumah mamanya.
Nissa melangkah dengan kaki bergetar, hatinya terasa ngilu dan sesak. Kedua matanya terasa panas, bulir air mata memaksa menetes. Nissa memegang dadanya pelan, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. Nissa melangkah melewati makam-makam di sisi kanan dan kirinya. Amira menatap pilu ke arah Nissa. Kepedihan dan penyesalan Nissa nyata. Ayah yang selama ini dihormati dan dibanggakannya. Alasan Nissa menerima perjodohan bodoh dengan Radit. Baktinya pada sang ayah yang akhirnya membuatnya terluka. Namun semua luka itu tak sebanding dengan penyesalannya saat ini. Mengantar sang ayah menuju pemakaman. Kepedihan seorang anak yang tak mampu menatap wajah sang ayah terakhir kalinya.
"Nissa!" Ujar Amira, membuyarkan lamunan Nissa. Amira berhenti di pemakaman ayah Nissa.
Tubuh Nissa terhuyung, hatinya terasa ngilu dan air matanya menetes. Nissa langsung duduk tepat di samping nisan sang ayah. Pengorbanan yang pernah diberikannya. Kini tak lagi berarti, sang ayah pergi selamanya. Nissa mengusap nisan sang ayah, bersamaan dengan bulir-bulir air matanya yang jatuh. Nissa mencium pelan nisan sang ayah. Tangan dan kaki Nissa terasa lemah, sang ayah yang begitu tangguh pergi. Sejenak Nissa larut dalam kepedihannya. Nissa tak duduk memeluk nisan sang ayah. Amira tertegun, menatap Nissa yang begitu lemah.
"Amira!" Ujar Nissa, lalu memeluk Amira. Nissa menangis dalam dekapan saudaranya.
Dua puluh tahun berlalu, tak ada yang sama. Semua telah berubah, berjalan pada jalan yang semestinya. Lama Nissa menangis dalam pelukan Amira, sampai akhirnya dia tenang. Bersamaan dengan suara azan dari masjid sekitar. Nissa menghapus air matanya, lalu berdoa untuk ayahnya. Bakti terakhir seorang anak, kala kedua orang tuanya telah tiada. Nissa larut dalam doa khusyuknya. Amira menemani Nissa, saudara yang takkan pernah pergi saat Nissa membutuhkan sandaran.
"Kita pulang!" Ujar Amira, Nissa mengangguk pelan. Nissa dan Amira berjalan keluar dari pemakaman. Nissa diam tanpa kata, seakan hatinya tertinggal di area pemakaman.
"Mama!"
"Nissa!" Ujar Amira, sembari menyikut lengan Nissa. Seketika Nissa mendongak, menatap lurus ke depan. Tepat ke arah pemuda yang berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
"Mama!" Sapa Zain lagi, Nissa diam membisu. Tubuhnya kaku, panggilan mama yang didengarnya begitu menusuk hatinya.
"Mama!" Sapa Zain ketiga kalinya, Nissa mundur menjauh. Kala Zain berjalan menghampirinya. Zain terpaku, melihat Nissa menjauh darinya. Hati Zain teriris, menyadari Nissa tak lagi mengenalnya. Bahkan Nissa terkesan tak ingin menemuinya.
"Mama, ini Zain!" Ujar Zain lantang, sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri. Zain melangkah maju, sebaliknya Nissa melangkah mundur.
"Mama, ini Zain putramu!" Ujar Zain dengan suara parau. Kerinduan Zain tak berbalas, Nissa bahkan tak mengenalinya dan menghindarinya. Pelukan yang diharapkan, kini hanya angan. Bukan pelukan hangat, sebaliknya tatapan dingin yang dirasakan Zain.
"Nissa, dia Zain putra yang merindukanmu!" Ujar Amira, Nissa menunduk. Tak ada kata, Nissa diam tak bersuara. Tak ada yang mengetahui arti diam Nissa. Satu hal yang pasti, kerinduan Zain terabaikan.
"Mama!"
"Permisi!" Ujar Nissa dingin, lalu berlalu melewati Zain begitu saja. Mengacuhkan kerinduan putra kecilnya.
"Mama!" Teriak Zain pedih, sembari terduduk di area parkir pemakaman. Nissa terus melangkah, tak lagi peduli dengan teriakkan Zain.
"Maafkan mama, maafkan mama. Kamu harus kuat tanpa mama. Bukan mama ingin melupakanmu, tapi memelukmu tidaklah mungkin. Kini ada batasan antara mama denganmu. Pelukan hangat yang tulus, hanya akan menyisakan dosa. Maafkan mama Zain, maafkan mama. Jauh dilubuk hati mama, ada rindu untukmu. Lebih baik mama meninggalkan sakit dihatimu. Daripada merindukanmu, tapi tidak bisa memelukmu!" Batin Nissa pilu.
"Mama Nissa, ini Zain Al Ghifari putramu!" teriak Zain dengan lantang. Suara yang begitu lantang, sampai terdengar di seluruh sudut pemakaman.
"Maafkan mama, maafkan mama sayang!" Batin Nissa pilu. Teriakkan Zain menyayat hati Nissa.
__ADS_1