
Dua hari sudah Nissa menginap di rumah Amira. Radit mengizinkan, setidaknya sampai Nissa merasa tenang. Kabar gembira yang terdengar, tak lantas membuat hubungan Radit dan Nissa membaik. Namun kehamilan Nissa, nyata membuat Radit memiliki alasan yang membuat keduanya bersatu. Selama ada buah hati diantara mereka, Nissa akan berpikir dua kalia atau tiga kali sebelum pergi dari hidup Radit. Entah kenapa sekalinya jatuh cinta? Terasa begitu rumit dan sulit bagi Nissa.
Sejak menginap di rumah Amira, tidak sekalipun Nissa bertemu dengan Zain. Ada rasa rindu dalam hatinya. Zain bocah laki-laki yang mencuri hatinya. Kasih sayangnya tulus pada Zain, setulus dirinya menerima lemah dan kurangnya. Beberapa kali, Nissa menghubungi Zain melalui ponsel pintarnya. Dia tidak ingin Zain mencarinya dan menangis karenanya. Dalam keegoisannya, Nissa masih memikirkan Zain putranya.
"Nissa, kita keluar jalan-jalan!" ajak Amira, Nissa mengangguk perlahan.
Rumah Amira jauh dari bayangan Radit dan Rayhan. Sosok yang begitu santai dan sederhana dihadapan mereka. Menyematkan pemikiran, jika Amira lahir dari keluarga sederhana dan biasa. Namun pemikiran mereka salah, Amira bukan wanita yang lahir dalam keluarga biasa-biasa saja. Semua itu bisa dilihat dari rumah tempat Amira tinggal. Sebuah kompleks perumahan elit di tengah kota. Rumah megah yang memiliki gaya klasik. Amira putri salah satu pengusaha. Pertama kalinya Rayhan melihat kenyataan itu. Dirinya merasa syok dan tak percaya, wanita yang menyebalkan begitu penuh kejutan.
"Amira, kalau hari ini dia menjemputku. Aku akan pulang!" ujar Nissa lirih, Amira mengangguk dengan senyum.
"Permintaan dikabulkan!" ujar Amira lantang, sembari mengulurkan tangannya ke udara. Lalu, Amira menunjuk ke arah depan. Terlihat mobil Radit sudah terparkir manis di depan rumah Amira. Rayhan berdiri bersandar pada bagian depan mobil.
Nissa tertegun, dia melihat Radit sudah ada di depan rumah Amira. Ada rasa bahagia, saat dia merasakan perhatian Radit. Namun hatinya terlalu angkuh, dia terlalu takut mengakui cintanya. Menyimpan rindu untuk Radit dalam diam dan sakitnya. Nissa berjalan perlahan menghampiri Radit. Mencium hangat punggung tangan Radit. Sejenak Radit merasakan arti sebuah pernikahan. Seorang istri yang tak pernah percaya padanya, tapi menghormatinya.
"Kita jalan-jalan!" ujar Radit, Nissa diam tak menyahuti. Amira merangkul tubuh Nissa, lalu menuntun Nissa masuk ke dalam mobil Radit. Tanpa banyak bicara, Amira meminta Nissa pergi jalan-jalan dengan Radit. Nissa menoleh ke arah Amira, sesaat setelah dia duduk di jok depan. Amira mengedipkan kedua matanya.
"Aku juga ikut, tapi aku naik mobilku sendiri. Laki-laki menyebalkan itu akan pergi bersamaku. Jujur Nissa, aku tidak suka pergi dengannya. Namun aku tidak akan rela, jika dia duduk diantara kalian berdua!" bisik Amira, Nissa mengangguk. Amira keluar dari mobil Radit, lalu berjalan ke arah Rayhan.
"Tunggu, aku pergi ambil mobil!" ujar Amira dingin dan singkat. Rayhan termenung, sikap dingin Amira seolah jarak yang nyata diantara mereka.
__ADS_1
Rayhan menatap punggung Amira yang berjalan menjauh darinya. Tatapan yang penuh arti dan hanya Rayhan yang memahami artinya. Wanita berhijab dengan penampilan yang sangat biasa. Jauh dari kesan mewah, bahkan tak menampakkan status Amira sebagai seorang putri pengusaha. Amira benar-benar menutupi jati dirinya. Sejenak Rayhan terkesima, baik Nissa atau Amira menyimpan lebih yang tak pernah ingin diketahui orang lain.
Tiiiiiinnnnn
Suara klakson dari mobil Amira, membuyarkan lamunan Rayhan. Lamunan akan sosok Amira yang berbeda dari bayangannya. Terdengar suara pintu mobil tertutup. Amira berdiri di depan Rayhan, memberikan kunci mobilnya pada Amira. Rayhan yang belum sepenuhnya tersadar, semakin terdiam. Tatkala dia melihat mobil milik Amira, berbanding terbalik dari sepeda motor matic yang selama ini digunakan Amira.
"Kamu serius!"
"Untuk!" sahut Amira santai, Rayhan melirik ke arah mobil Amira. Nampak anggukan kepala Amira, Rayhan menggelengkan kepalanya lemah. Tak percaya dengan kenyataan yang ada dihadapannya.
"Mobil yang biasa aku pakai sedang berada di bengkel. Hanya mobil ini yang ada di garasi. Lagipula, jalan-jalan bersama kalian berdua. Tentu aku harus bisa mengikuti gaya kalian. Maaf, bukan ingin menyamakan diri. Hanya saja, aku tidak ingin membuat kalian berdua malu!"
"Sejak kapan kalian bersahabat!"
Amira melihat rasa heran di wajah Rayhan. Sikap yang biasa dia lihat, ketika dia melihat hubungan dirinya dengan Nissa. Seolah Nissa tak pantas berteman dengannya. Hanya karena status sosial yang berbeda. Rayhan terdiam membisu, pemikirannya tentang Amira salah dan kini ada sesuatu yang lain.
"Kenapa diam? Kamu heran mendengar persahabatan kami!" ujar Amira, Rayhan mengangguk pelan.
"Nissa bukan orang lain, dia sepupuku. Dia putri dari kakak perempuan papaku. Aku dan Nissa memiliki darah yang sama. Perbedaannya, aku diakui dalam oleh keluarga besar papa. Sedangkan Nissa, dia tak pernah menjadi bagian keluarga papa. Sejak ibu kandung Nissa, menikah dengan papanya. Pernikahan yang ditentang oleh keluarga besar, bukan hanya karena status sosial yang berbeda. Namun menjadi istri kedua, membuat kakek mengusir tante dari rumah utama!"
__ADS_1
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin? Kamu terkejut, melihat aku putri orang kaya. Sekarang kamu tak percaya, jika Nissa masih keturunan orang berharta. Kenyataan yang memang benar adanya, tapi tidak sesuai dengan faktanya!" sahut Amira dingin, lalu menoleh ke arah luar jendela mobilnya.
"Kenapa dia begitu emosional? Kemana Amira yang ceria dan santai? Apa yang membuatnya begitu dingin? Siapa sebenarnya Amira dan Nissa? Semakin aku mengenalnya, semakin hatiku penasaran akan pribadi mereka!" batin Rayhan, sembari menoleh ke arah Amira.
Rayhan mengemudikan mobil Amira dengan begitu tenang. Sampai akhirnya mobil Amira keluar dari kompleks perumahan elit. Tepat di ujung perumahan, nampak sebuah rumah yang lebih besar dari lainnya. Arsiktekturnya indah dan elegant, rumah yang menampakkan jelas pemiliknya bukan orang biasa.
"Rumah utama yang dingin tak berhati!" gumam Amira, Rayhan langsung menoleh.
"Maksudmu!"
"Rumah megah yang dikagumi banyak orang, tapi menyimpan dingin untuk keturunannya!"
"Rumah di ujung tadi!" sahut Rayhan, Amira mengangguk.
"Rumah utama yang pernah mengusir tante dan membuang Nissa saudaraku!"
"Sumpah, kalian benar-benar penuh misteri. Cara bergaul kalian sederhana, hidup kalian santai. Penampilan kalian biasa, bahkan pekerjaan kalian tak seberapa. Namun sebenarnya kalian begitu hebat, sampai aku tak percaya. Dalam diri kalian mengalir darah yang tak sama. Aku takut, masih ada lagi yang kalian sembunyikan!" tutur Rayhan, Amira menggelengkan kepalanya lemah.
__ADS_1
"Pribadi seseorang dicerminkan dari hati, bukan harta!" sahut Amira dingin.
"Kamu benar Amira, dengan hati bukan harta. Seperti hatiku yang mulai terpaut dengan hatimu!" batin Rayhan.