
"Dimana dia tinggal?" ujar Daniel dingin, amarah nyata tersimpan dalam hatinya.
"Dia tinggal di alamat ini, kami sudah memantaunya selama beberapa hari. Satu jam lagi, dia akan berangkat kerja. Biasanya dia akan bertemu nona Nissa di jalan. Itupun hanya sebatas melihat, tanpa dia berani bertemu!" sahut Vian tegas, Daniel mengangguk dengan senyum sinisnya.
Daniel langsung berdiri, Vian mengekor di belakang Daniel. Beberapa orang bertubuh tegap, mengikuti mereka berdua. Beberapa mobil sudah siap, Daniel masuk ke dalam mobil pertama bersama Vian. Sedangkan beberapa orang yang lain, masuk ke dalam mobil kedua dan ketiga. Daniel sengaja mengemudikan mobilnya sendiri. Dia ingin bertemu dengan seseorang secara pribadi. Pengawal yang mengikuti hanya berjaga, takut terjadi sesuatu pada Daniel. Selebihnya mereka dilarang ikut campur.
Daniel diam termenung, pertemuan yang dia inginkan sejak puluhan tahun yang lalu. Kini nyata akan terjadi. Rasa sakit puluhan tahun yang lalu, akan terbayar lunas hari ini. Penantian panjangnya akan berakhir, pertemuan yang dinanti nyata di depan mata. Apapun yang akan terjadi? Daniel siap menanggung semuanya. Setidaknya, Daniel bisa melampiaskan amarah yang terpendam selama ini.
Setelah tiga puluh menit mengemudi, Daniel menghentikan mobilnya tepat di persimpangan jalan. Sebuah jalan yang mengarah ke jalan desa tempat Nissa mengajar. Daniel menanti sosok yang ditunggunya selama bertahun-tahun. Daniel turun dari mobil, bersandar pada mobil dengan tangan menggenggam erat. Daniel menahan emosi puluhan tahun dalam hatinya. Beberapa pengawal turun, tapi dengan cepat Daniel menghentikan langkah mereka. Daniel meminta semua orang menunggu di dalam mobil.
"Tuan, itu mobilnya!" ujar Vian lantang, Daniel mendongak. Tepat arah jam tiga, terlihat mobil berwarna silver berhenti di pinggir jalan. Daniel tersenyum sinis, melihat mobil yang ditunggunya datang.
"Tunggu disini, aku akan menemuinya sendiri!" ujar Daniel tegas, Vian mengangguk pelan. Daniel melangkah lebar, seolah waktu tengah mengejarnya. Daniel tak ingin menunda lagi, dia harus menemuinya sekarang juga.
Tok Tok Tok
Daniel mengetuk kaca mobil, tampak seseorang di belakang kemudi. Ketukan Daniel sontak menganggetkan pemilik mobil. Seketika kaca terbuka, Daniel menatap tajam ke dalam mobil.
"Naufal Ardiansyah Putra!" ujar Daniel, Ardi langsung menoleh. Dua bola mata Ardi membulat sempurna. Dia melihat wajah yang hampir terlupa oleh dua matanya.
__ADS_1
"Iya aku, keluarlah!" ujar Daniel dingin, Ardi membukakan pintu mobil. Ardi turun dari mobilnya, menemui adik kandung wanita yang sangat dicintainya.
Buuugghh Buuugghh
Dua bogem mentah mendarat sempurna di wajah Ardi. Daniel memukul Ardi dengan sekuat tenaga. Amarah yang tersimpan puluhan tahun, kini terlampiaskan dengan sangat sempurna. Kesempatan yang ditunggu selama puluhan tahun kini terlaksana. Daniel meluapkan segala amarahnya, Ardi menjadi sasaran paling tepat.
"Kenapa kamu memukulku? Apa salahku?" ujar Ardi, sembari mengusap setetes darah di ujung bibirnya. Pukulan Daniel terlalu kuat, sampai darah segar menetes di ujung bibir Ardi.
"Satu pukulan, untuk air mata kakakku. Satu pukulan lagi, untuk putriku yang kamu jual pada Radit!" ujar Daniel lantang penuh amarah.
Ardi menggelengkan kepalanya, dia merasa tuduhan Daniel tak berdasar. Tidak ada alasan Daniel menyalahkannya, meski perkataan Daniel benar adanya. Ardi merasa bersalah telah menikahkan Nissa dan Radit dengan awal yang salah. Namun tak pernah ada niat Ardi menjual Nissa pada Radit. Sebagai seorang ayah, dia tak pernah bisa membahagiakan Nissa. Sebab itu Ardi tidak akan pernah menyakiti Nissa.
"Bohong, kamu menjualnya pada Radit. Sekarang lihat hasil keputusan bodohmu. Nissa harus berurusan dengan keluarga Kusuma!" ujar Daniel dengan penuh amarah. Ardi diam membisu, tak ada kata yang terucap dari bibirnya.
"Keluarga Kusuma!" ujar Ardi dengan bibir bergetar. Rasa tak percaya memenuhi benaknya. Ardi tak pernah menyangka, jika Nissa menjadi sasaran keluarga Kusuma yang angkuh. Keluarga yang seharusnya menjaga, tapi kini membencinya dan mengacuhkannya.
"Iya, keluarga dingin yang membuangnya. Mereka mengejar Nissa bak binatang buas. Semua karena kebodohanmu, kamu membuat putriku membayar hutang pada Radit. Kamu tak lebih dari ayah yang gagal. Dulu, kamu gagal membahagiakan kakakku. Sekarang, kamu gagal membahagiakan putriku. Bahkan kamu membuatnya tersakiti dan terus tersakiti!" teriak Daniel, suara Daniel menggema di keramaian jalan raya.
Daniel marah dan terluka, menyadari Nissa tersakiti. Apalagi kini Nissa harus berurusan dengan Irfan Kusuma. Orang yang sangat membencinya. Ardi terduduk, ada penyesalan yang teramat besar dalam hatinya. Seandainya bisa, Ardi ingin memutar waktu. Mengembalikan semua seperti semula, takkan dia membiarkan Nissa menikah dengan Radit. Ardi lebih baik kehilangan perusahaannya. Daripada dia kehilangan kebahagian dan senyum Nissa. Dari semua kebodohannya, pernikahan Nissa menjadi titik awal luka dan penyesalannya sebagai seorang ayah.
__ADS_1
Rasa bersalah Ardi terlalu besar, sampai Ardi tak sanggup menatap wajah Nissa. Ardi menahan rindu di dalam hatinya. Setiap pagi, Ardi memilih menunggu Nisss di seberang jalan. Sekadar menatap wajah teduh putrinya. Ardi tak sanggup bertemu Nissa, dia malu menatap wajah putri yang terluka karena keputusannya.
"Daniel, percayalah padaku. Aku tak pernah ingin menyakiti Nissa. Dia putriku, tidak mungkin aku menyakitinya!"
"Bohong!" teriak Daniel dengan amarah yang memuncak. Dua bola mata Daniel memerah, menahan amarah dan sakit melihat luka Nissa.
Daniel menarik kra kemeja Ardi, mendorong tubuh Ardi sampai ke mobil. Daniel mencengkram erat leher Ardi. Meluapkan amarah yang tersimpan di hatinya. Daniel menatap tajam Ardi, seolah tatapannya mampu membunuh Ardi. Kemarahan seorang adik yang kehilangan kakaknya. Rasa marah seorang paman, ketika melihat keponakannya terluka dan menangis.
"Om Daniel, jangan salahkan papa. Dia sudah cukup menderita dengan penyesalannya. Jangan sakiti papa lagi!" ujar Nissa lirih, sembari menahan tangan Daniel. Nissa memegang tangan Daniel yang sedang mencengkram kra kemeja Ardi.
Nissa menggelengkan kepalanya perlahan, berharap Daniel memaafkan Ardi. Jika bukan demi Ardi, setidaknya demi dirinya. Putri yang ingin dilindunginya. Tangan Nissa memegang erat tangan Daniel. Berharap Daniel menurunkan tangannya dan memaafkan Daniel. Di waktu bersamaan, Vian dan beberapa pengawal Daniel datang. Mereka hendak menarik tubuh Nissa menjauh dari Daniel. Namun langkah mereka terhenti, ketika Daniel menatap tajam ke arah mereka.
"Sayang, dia ayah yang tak pantas kamu bela. Dia yang menghancurkan hidupmu, menjerumuskanmu dalam kepedihan. Dia yang membuatmu terus berkorban. Dia tak pernah memahami rasa sakitmu. Kehidupan bahagia yang ditawarkan Radit padamu. Tak lebih dari penjara emas. Kamu pantas bahagia!" ujar Daniel, sembari mengusap kepala Nissa. Sedangkan tangan satunya tetap mencengkram leher Ardi.
"Aku bahagia, Radit sangat mencintaiku!"
"Jika dia mencintaimu, kenapa dia melibatkanmu dalam pelik masa lalunya? Kakekmu tidak mudah dihadapi, dia laki-laki berhati dingin. Aku takut kamu terluka, cukup aku kehilangan kakakku. Aku takkan sanggup kehilanganmu, putri kecilku!" tutur Daniel lirih, Nissa mengedipkan kedua matanya. Daniel luluh dan akhirnya melepaskan cengkramannya.
"Aku akan baik-baik saja, selama ada om Daniel yang menjagaku!" ujar Nissa, lalu mencium punggung tangan Daniel dengan hangat.
__ADS_1
"Kakak, aku bertemu putrimu. Dia cantik dan baik sepertimu. Aku merasa menjadi ayah yang sempurna. Terima kasih kak, meninggalkan putri cantikmu untukku!" batin Daniel, sembari mengusap kepala Nissa.