Senja Pengganti

Senja Pengganti
Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Malam bersambut, tepat pukul 19.30 WIB. Nampak beberapa tamu undangan sudah datang. Terlihat tamu yang datang bukan orang sembarangan. Mereka rekan bisnis Radit dan keluarga terdekat Radit. Acara malam ini sangat spesial bagi Radit. Nissa tak mengetahui alasan pesta malam ini. Semalam Radit mengajak Nissa, tapi sebagai tamu undangan bukan tuan rumah. Radit ingin memberikan kejutan pada Nissa. Dia tidak ingin Nissa marah dan melarang Radit mengadakan pesta. Pribadi sederhana yang dimiliki Nissa. Takkan pernah setuju, jika ada pesta untuk sesuatu yang biasa.


Radit meminta Nissa datang pukul 20.00 WIB. Sedangkan Radit datang lebih awal, Rayhan menjadi panitia acara malam ini. Pesta meriah yang dipersiapkan Radit, sebagai hadiah spesial Nissa. Hotel berbintang menjadi tempat pilihan Radit. Malam spesial yang ingin diabadikan oleh Radit bersama Nissa. Malam pengenalan sang bintang pesta.


"Radit, istrimu datang!" bisik Rayhan, Radit langsung menoleh. Nissa datang bersama dengan Amira. Nampak beberapa tamu menatap heran ke arah Nissa dan Amira.


Radit berjalan perlahan ke arah Nissa. Rayhan tertegun menatap Amira. Penampilan Amira terlihat berbeda, jauh lebih cantik dari hari biasanya. Gaun panjang yang dipadukan dengan pasmina warna senada. Membuat Nissa dan Amira terlihat anggun dan mempesona. Radit dan Rayhan terdiam, pesona Nissa dan Amira menghipnotis para tamu. Meski ada beberapa pasang mata yang memandang sinis. Merasa iri melihat penyambutan Radit pada Nissa. Sikap hangat yang tak pernah diperlihatkan Radit pada wanita lain.


"Sayang!" ujar Radit, lalu merangkul lengan Nissa. Radit tersenyum manis, melihat sang bintang pesta. Radit mengajak Nissa berjalan bersama, Radit hendak memperkenalkan Nissa pada para tamu.


"Tunggu, kita harus bicara!" ujar Nissa menahan langkah Radit. Nissa merasa aneh dengan keramaian yang ada. Pesta tanpa tuan rumah, sangat aneh menurut Nissa. Terbersit rasa penasaran dihati Nissa, melihat tamu yang datang menatapnya heran.


"Ada apa sayang? Aku ingin mengenalkanmu pada mereka!"


"Siapa tuan rumah pesta malam ini?"


"Hmmm!" ujar Radit, sembari menoleh ke kanan dan kiri. Radit mencoba menghindar dari tatapan Nissa. Radit bingung harus memberikan jawaban apa? Nissa tidak akan menerima jawaban Radit begitu saja. Akan ada drama panjang, seandainya Nissa tidak setuju dengan pesta malam ini.

__ADS_1


"Jawablah, siapa tuan rumah pesta ini? Orang lain atau kamu?" ujar Nissa, Radit langsung menoleh. Nissa menebak rahasia Radit dengan begitu mudahnya.


"Mama, selamat ulang tahun!" teriak Zain, sembari berlari ke arah Nissa. Ifa berlari di belakang Zain, menjaga kalau Zain terjatuh. Sontak Nissa menoleh ke arah Radit, pertanyaannya dijawab Zain dengan mudahnya.


"Ulang tahun, aku!" ujar Nissa tak percaya, Radit mengangguk tanpa bicara. Zain berhambur memeluk Nissa, Radit menghela napas lega. Berpikir kehadiran Zain akan menghilangkan amarah Nissa.


Nissa berdiri mematung, sejenak Nissa lupa akan keramaian di sekitarnya. Nissa larut dalam bayangan kelam masa lalunya. Kata ulang tahun, hampir terlupa dari ingatannya. Sejak kecil, tak pernah Nissa mendengar kata ulang tahun. Tak ada satupun yang mengucapkan kata selamat padanya. Semua lupa akan hari besar dalam hidupnya. Tidak terkecuali Nissa, dia melupakan tanggal bersejarah dalam hidupnya. Nissa menghapus semua itu, tepat setelah sang ibu meninggalkannya sendirian.


Tiba-tiba terdengar lagu selamat ulang tahun diputar. Semua orang melihat ke arah Nissa. Sang bintang pesta malam ini. Tepuk tangan mengiring setiap nada yang berputar. Lalu, sebuah layar LED terbuka. Terlihat beberapa foto berputar, dari Nissa kecil sampai Nissa dewasa. Sebuah foto yang memperlihatkan kepolosan Nissa kecil. Foto yang menampakkan keluguan Nissa remaja. Foto yang menunjukkan kedewasaan Nissa dewasa. Setiap foto yang penuh ketulusan dan senyum yang manis. Nissa tertegun, melihat perubahan dalam dirinya.


Nissa menatap tak percaya, wajah ibu terlihat jelas. Sang ibu yang selalu dirindukannya. Sosok yang tak lagi menemani harinya. Jalan surga yang dulu ada, kini telah pergi jauh takkan kembali. Tubuh Nissa bergetar, kala suara ibunya memanggil namanya. Kebahagian yang hanya ada dalam bingkai foto dan kini menjadi kenangan. Seiring jasad sang ibu yang tidur terlelap jauh di bawah pusaran. Dua bola mata Nissa terasa panas, tangannya menggenggam erat ujung hijabnya. Nissa merasa lemah dan tak mampu berdiri. Bayangan sang ibu terlintas dalam ingatan lemahnya. Pelukan terakhir yang diberikan sang ibu, tepat di ulang tahunnya yang ke 5 tahun.


"Mama!" ujar Nissa dengan suara bergetar, Radit memeluk tubuh Nissa dari belakang. Radit menopang tubuh lemah Nissa. Dengan penuh cinta, Radit mendekap tubuh penuh luka Nissa.


"Sayang, selamat ulang tahun. Maaf, jika hari ini lukamu terbuka kembali. Namun percayalah, bukan tangis ini yang mama harapkan darimu. Hampir dua puluh tahun, kamu larut dalam kesedihan tanpanya. Kamu membenci hari paling bersejarah dalam dirimu dan mengubur kebahagian yang seharusnya kamu miliki. Sudah saatnya kamu melawan, biarkan bahagia ada dalam hidupmu. Jangan terlalu tegas, biarkanlah cintaku masuk mengisi hatimu!" bisik Radit, Nissa terpaku dalam pelukan Radit.


Para undangan menatap haru hangat yang ditunjukkan Radit. Para wanita kagum melihat sikap hangat Radit, berharap dirinya yang berada di posisi Nissa. Sedangkan para laki-laki tak percaya, CEO bertangan dingin mampu bersikap sehangat dan semanis Radit. Bukan hanya dalam sendirinya, tapi di depan semua orang. Mereka melihat sosok Radit yang berbeda, penuh cinta pada Nissa. Kehangatan yang membuat setiap orang merasa iri.

__ADS_1


"Sayang, mama tidak pernah ingin melihat lukamu. Dia merindukan senyummu, putri kecilnya yang lahir dengan cinta. Kamu sempurna, tidak ada cacat dalam dirimu. Kamu pantas bahagia, sudah cukup kamu terluka. Tatap mereka, orang-orang yang pernah menatap rendah dirimu. Bangkit sayang, angkat kepalamu di depan mereka. Jadikan aku alatmu, sombongkan dirimu jika diperlukan. Namun jangan pernah tundukkan kepalamu di depan mereka. Dua puluh empat tahun yang lalu kamu lahir, sembilan belas tahun yang lalu kamu berduka dan sekarang kamu lahir kembali dengan kebahagian. Aku akan menemani sisa waktumu, aku akan membuatmu bahagia dengan segala cara!" tutur Radit lembut, Nissa tertegun mendengar perkataan Radit.


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan semua itu? Kenangan yang sengaja aku hapus dalam ingatanku. Harapan yang sengaja aku kubur bersama jasad ibuku. Aku menggali lubang yang begitu dalam, sampai tak ada yang bisa melihat dalam lukaku. Kenapa kamu malah membuka lubang itu?"


"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melihat Nissa yang dulu penuh cinta. Satu hal yang aku ketahui, aku ada hanya untuk menemanimu dan memberimu kebahagian. Kamu segalanya dalam hidupku, takkan aku biarkan kamu menangis. Aku siap melawan dunia, asalkan Nissaku bahagia. Tetaplah disisiku, kita ukir kenangan penuh bahagia. Kemegahan pesta ini tak seberapa, dibandingkan satu senyummu!" ujar Radit, Nissa memutar tubuhnya. Dia langsung memeluk Radit, Nissa sembunyi dalam dekapan Radit. Nissa menangis dalam hangat pelukan Radit.


"Maaf, maafkan aku!"


"Selamat ulang tahun!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah.


"Aku ingin pulang, aku tidak mengenal mereka!" ujar Nissa lirih dalam dekapan Radit.


"Kamu tidak perlu mengenal mereka, tapi mereka yang akan mengenalmu. Nurul Choirunnissa Ghinayah, istri Ahmad Dzaky Raditya sang CEO hebat!" ujar Radit bangga, Nissa langsung memukul pelan dada bidang Radit.


CUP


"Aku mencintaimu!" ujar Radit, sesaat setelah mencium puncak kepala Nissa.

__ADS_1


__ADS_2