
"Kak Zahra!" teriak Amira, sembari melambaikan tangan ke arah pintu masuk restoran.
"Dokter Zahra!" ujar Nissa lirih, Amira berlari menghampiri Zahra. Daniel menoleh, ke arah pintu.
"Dia, ada di depan mataku sekarang. Zahra Afiqa Putri, wanita berhati cermelang dan cerdas!" batin Daniel tak percaya.
"Nisss, om Daniel harus pergi sekarang. Om lupa ada janji bertemu seseorang!"
"Kenapa terburu-buru? Kita pulang bersama, aku akan memanggil Amira!" sahut Nissa, Daniel terlihat gugup. Nissa tak melihat gelagat aneh Daniel. Dengan santainya, Nissa memanggil Amira dan Zahra. Dokter spesialis kandungan yang tengah merawatnya. Sahabat yang dia temukan dari alam.
"Dokter Zahra, apa kabar?" sapa Nissa, Zahra tersenyum sembari mengedipkan kedua matanya. Daniel mengalihkan pandangannya, berpura-pura sibuk dengan ponsel pintarnya.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Jangan sampai kamu lemah, kamu harus semangat!" ujar Zahra, Nissa mengangguk.
"Kak Zahra, duduk bersama kami!" pinta Amira, Zahra menggelengkan kepalanya. Daniel menghela napas lega. Penolakan Zahra menjadi kabar membahagiakan baginya saat ini.
"Aku ada janji dengan seseorang!" tolak Zahra sopan, Amira terlihat kecewa. Nissa mengangguk, tidak keberatan dengan penolakan Zahra.
"Padahal aku merindukanmu!" ujar Amira, sembari memeluk Zahra. Kakak yang pernah menjaganya selama mereka mendaki dulu. Sejak saat itu, mereka merasa nyaman satu dengan lainnya.
"Kita bisa bertemu lain hari!"
"Tidak mungkin!" sahut Amira tidak percaya.
"Sudahlah dokter Zahra, jangan pedulikan perkataan Amira!" ujar Nissa, Zahra tersenyum. Lalu, memeluk Amira dan Nissa bergantian. Daniel memilih diam, dia terus mengalihkan pandangannya. Daniel berpura-pura tidak peduli. Meski jauh dalam hatinya dia sangat mencintai Zahra. Dokter muda yang suka menolong. Dokter cantik berhati lembut yang pernah mengusik hatinya.
"Baiklah, aku akan duduk menunggu temanku disini. Setelah dia datang, aku akan menemuinya!" ujar Zahra, Amira tersenyum bahagia. Amira memeluk erat Zahra, Nissa sudah bisa menduga. Zahra tidak akan bisa mengalahkan teguh pendirian Amira. Lebih tepatnya Amira yang suka memaksa.
"Kenapa malah duduk?" batin Daniel gelisah.
__ADS_1
"Om Daniel, kenapa menunduk terus? Kenalkan sahabat, sekaligus kakak kami. Dia yang selalu menolong kami, saat kami kesulitan!" ujar Amira, Daniel mendongak. Tidak ada alasan baginya tetap menunduk. Meski hatinya belum siap menatap wajah Zahra.
"Kamu!" ujar Zahra terkejut, Daniel mengangguk dengan perasaan canggung. Daniel tak menyangka, Zahra masih mengenalinya. Meski sudah lama mereka tidak bertemu.
"Apa kabar? Dimana suamimu?" ujar Daniel santai, mencoba tenang dan menganggap semua baik-baik saja. Nissa mengangguk pelan, seolah Nissa mengerti arti tatapan Daniel.
Zahra terdiam mendengar pertanyaan Daniel. Entah kenapa bibirnya tertutup rapat? Tak ada jawaban dari pertanyaan yang selalu mengusik hatinya. Zahra tak pernah menyangka, dia akan bertemu kembali dengan Daniel. Perpisahan saat itu bandara internasioanl. Membuat Zahra hampir lupa dengan sosok yang bernama Daniel. Tak ada lagi harapan, untuk pertemuan lagi. Sebab Daniel dan Zahra tinggal di negara yang berbeda. Persahabatan yang terjalin, terpaksa terputus begitu saja.
"Permisi, temanku sudah datang!" ujar Zahra ramah, lalu pergi menemui seseorang. Nampak laki-laki tengah menunggunya di sisi meja yang lain. Daniel menatap nanar Zahra, cinta yang tak pernah bisa dimilikinya.
"Dia memang wanita baik, hatinya tulus tanpa pamrih. Alasan dia ingin menjadi seorang dokter spesialis kandungan. Dia ingin membantu seorang bayi kecil terlahir, tanpa cacat apapun. Mungkin impian yang terlalu tinggi, bagi putri seorang tukang kebun. Namun percaya atau tidak, dokter Zahra mampu sukses dengan caranya sendiri. Keringat dan usahanya yang mampu membawanya sampai di titik tertinggi. Wanita yang pantas dicintai setulus hati!" tutur Nissa tenang, Daniel langsung menoleh ke arah Nissa. Tatapan yang terlihat tak percaya dan malu, ketika Daniel menyadari Nissa mengerti hubungan diantara dirinya dengan Zahra.
"Nissa!"
"Tidak perlu heran, kenapa aku menyadari cinta itu? Tatapan itu menjelaskan semuanya. Diamnya seolah menyadari rasa yang pernah ada diantara kalian. Cinta tulus yang tak pernah ingin terucap, meski cinta itu nyata tersimpan!"
"Aku akan diam, sampai kalian menyadari cinta itu!" sahut Nissa, Daniel mengangguk pelan. Amira terlihat memajukan bibirnya. Dia mulai kesal, melihat Nissa dan Daniel bicara dengan isyarat. Amira terlihat bodoh, saat dia berada diantara Daniel dan Nissa.
"Kita pulang!" ujar Amira kesal, Daniel dan Nisss terkekeh. Mereka menyadari alasan kekesalan Amira. Namun memilih diam, sebab tidak ada alasan bagi mereka menjelaskan.
"Kita pulang atau belanja!" ujar Daniel, Nissa dan Amira saling melihat. Kedua tersenyum hampir bersamaan. Daniel sudah mengerti arti senyum kedua keponakannya.
"Baiklah, kita belanja sekarang!"
"Horee!" teriak Amira lantang, Zahra menoleh ke arah Amira. Tepat bersamaan Daniel yang tengah melihat ke arahnya.
Deg
"Dia masih ada di hatiku, sampai-sampai jantungku berhenti saat melihat mata indahnya. Namun, cinta ini tak pantas ada. Takkan pernah aku hancurkan hidupnya. Dia berhak menemukan yang terbaik. Jika cintaku tak mampu bersamamu. Setidaknya, doa dan harapanku yang akan menemani langkahmu. Selama ini aku mampu menyimpan rasa ini. Jadi tidak ada alasanku mengatakannya. Semoga bahagia bidadari tak bersayapku. Kekagumanku nyata, cinta ini tulus dan bersamamu takkan pernah aku harap. Sebab cintaku tak ingin melindungimu, bukan menghancurkanmu!" batin Daniel, sesaat setelah dia memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ayolah, kita pergi sekarang!" ujar Daniel, menghindar dari pertemuan dengan Zahra. Daniel sudah tak sanggup lagi berada di bawah satu atap yang sama dengan Zahra. Jantungnya terus berdetak hebat, sampai Daniel tak sanggup menahannya lagi. Seakan jantungnya hendak melompat dari dadanya.
"Nissa, kamu ada disini!" sapa Radit, Nissa menoleh.
"Kenapa? Kamu marah, dia pergi bersamaku!" sahut Daniel, Radit menghela napas.
"Om Daniel!" ujar Nissa, Daniel tersenyum.
"Maaf!" ujar Daniel, Radit mengangguk. Rayhan datang bersama Alvira. Amira terlihat menghindar dari Rayhan. Amira menarik tangan Daniel, bergegas ingin keluar dari restoran.
"Aku pulang bersama om Daniel!" pamit Nissa, sesaat sebelum mencium punggung tangan Radit. Anggukan kepala Radit dan ciuman hangat di kening Nissa. Isyarat Radit mengiyakan Nissa. Alvira membuang muka, saat melihat Radit mencium Nissa mesra.
"Cepat Nissa, om Daniel sibuk!" teriak Amira lantang, berharap Nissa segera pergi dari restoran. Amira jelas menghindar bertemu Rayhan. Entah kenapa Amira enggan bertemu Rayhan?
"Permisi!" pamit Nissa pada Rayhan dan Alvira. Lalu mengejar Daniel dan Amira yang pergi lebih dulu.
"Kamu menyukainya!" bisik Nissa pada Amira.
"Aku tidak menyukai Rayhan, siapa yang mengatakan hal itu?" sahut Amira lantang, Nissa terkekeh melihat Amira. Sedangkan Radit bingung, kenapa Amira berteriak.
"Aku mengatakan dia, bukan Rayhan. Kecuali, memang Rayhan yang ada di hati dan benakmu saat ini!"
"Tidak, tidak akan pernah!" sahut Amira mengelak.
"Tak perlu mendengar, hanya untuk menyadari cinta. Sebab dari tatapan mata, kita sudah bisa melihat tulusnya cinta. Tatapan kalian berdua tidak bisa berbohong. Meski bibir dan hati kalian menolak jujur. Cinta tidak pernah salah, suara hati yang tulus dan suci. Jangan acuhkan cinta di hatimu, kamu berhak merasakan bahagia dicintai dan sakitnya mencintai. Sebab cinta gambaran hidup yang penuh warna!" tutur Nissa, sembari merangkul tangan Amira.
"Diamlah Nissa!" ujar Amira, mencoba menutupi kebenaran yang ada. Daniel, Nissa dan Amira keluar tanpa menoleh lagi. Meninggalkan hati yang gundah. Menyiksa diri dengan keputusan sepihak yang belum tentu benar.
"Lagi dan lagi, kamu pergi tanpa bertanya atau bicara padaku. Kamu pernah mengusik hariku, lalu pergi tanpa bicara. Hari ini, setelah sekian tahun kita menjauh. Kamu hadir kembali, mengusik hari yang mulai tertata sejak kepergianmu. Kemana lagi aku harus mencari tenang? Jika di tanah yang luas ini, kita kembali bertemu dan bahkan mungkin akan sangat dekat serta saling mengenal. Kenapa rasa ini ada? Jika nyatanya sulit terucap!" batin Zahra, seraya menatap punggung Daniel yang pergi menjauh.
__ADS_1