Senja Pengganti

Senja Pengganti
Kebersamaan


__ADS_3

"Sayang, kamu marah!" bisik Radit, sembari memeluk Nissa dari belakang.


Nissa diam membisu, tubuhnya membeku. Hangat yang ditawarkan Radit, tak serta merta menghangatkan tubuhnya. Nissa merasa dingin yang tak mampu dijabarkan. Air mata Zain menjadi alasan dirinya membeku. Bayangan tangis Zain, terasa begitu menyakitkan. Nissa seolah tak mampu menatap wajah sedih Zain. Air mata Zain akan perpisahan dengan salah satu orang tuanya.


"Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku!" bisik Radit, Nissa hanya diam tak bergeming. Radit semakin bingung melihat sikap Nissa yang berbeda.


Semenjak Nissa mengetahui rencana gugatan Radit pada Alvira. Nissa merasa bersalah, dia berpikir semua yang terjadi karenanya. Nissa menyalahkan dirinya sendiri, atas apa yang terjadi? Seandainya waktu bisa kembali, Nissa berharap tak pernah menjadi bagian dari hidup Radit. Namun semua telah berubah, Nissa kini telah terikat dengan Radit. Hatinya menyatu dengan Radit, jantungnya berdetak karena Radit, jiwanya bergejolak saat bersama Radit. Hidupnya terhubung hanya dengan satu nama. Ahmad Dzaky Raditya, ayah dari putra yang ada di dalam kandungannya.


"Sayang, bicaralah. Diammu membuatku sulit bernapa!"


"Sama halnya keputusan besarmu yang membuatku tak berdaya. Aku begitu mencintaimu, aku juga sangat menyayangi Zain. Namun aku bukan wanita berhati dingin, bahagia melihat seorang ibu tersisih. Alvira bukan sahabat atau temanku, tapi dia ibu yang melahirkan Zain. Mungkin dia salah telah meninggalkan Zain, tapi dia tetap berhak menyayangi Zain!"


"Sayang, maafkan aku. Semua terjadi karenaku, aku terlalu takut kehilanganmu. Aku juga takkan sanggup kehilangan Zain. Percayalah sayang, semua ini yang terbaik!"


"Itu yang aku harapkan!" sahut Nissa lirih, lalu memutar tubuhnya. Nissa menatap lekat dua bola mata Radit. Mencari jawaban rasa gundahnya, lalu dengan penuh cinta. Nissa memeluk erat tubuh Radit.


Nissa melingkarkan tangannya ditubuh Radit. Nissa menempelkan kepalanya di dada bidang Radit. Merasakan hangat dekapan Radit, mendengarkan detak jantung Radit. Detak jantung yang mulai dirindukan oleh Nissa. Detak jantung yang seakan memanggil namanya. Nissa begitu jelas menunjukkan rasa sayangnya. Cinta yang sangat ingin dilihat Radit selama ini.


"Nissa, aku boleh bertanya!"


"Silahkan!" ujar Nissa lirih, sembari tidur dalam pelukan Radit. Nissa memejamkan kedua matanya. Seolah Nissa tengah merasakan kedamaian yang hilang dalam dirinya.


"Jika memang kamu mencintaiku, kenapa kamu masih membayar hutang papa padaku? Jika memang rindu ada untukku, kenapa kamu menolak semua pemberianku? Jika ketenanganmu ada bersamaku, kenapa kamu teguh menyimpan dukamu? Jujur Nissa, kehangatan malam ini terasa menakutkan bagiku. Kebahagian yang sangat kudambakan, tapi juga kutakutkan. Aku takut semua ini isyarat kepergianmu!" tutur Radit, Nissa diam memeluk erat tubuh Radit. Menempelkan tangannya tepat di dada bidang Radit. Nissa membuat pola hati tepat di jantung Radit. Lalu, dengan penuh cinta Nissa mencium jantung bergambar hati.

__ADS_1


Radit mendekap erat tubuh Nissa, saat ciuman hangat Nissa terasa membakar dadanya. Nissa bak aliran listrik yang tengah mengejutkan detak jantung Radit. Kegalauan Radit, kegelisahan Radit, bahkan ketakutan Radit semua sirna tak berbekas. Satu sentuhan hangat penuh cinta dari ujung jari Nissa. Meruntuhkan benteng tinggi di hati Radit. Dalam satu sentuhan, Nissa membuat Radit tak berdaya. Nissa menghipnotis Radit dengan satu hembusan napas.


"Karena cintaku murni tak berharga, sebab itu hartamu takkan mampu membelinya. RInduku terlalu tulus, sampai tak mengharapkan balasan. Tenangku memang ada bersamamu, tapi dukaku tak sepantasnya mengotorinya. Aku sangat mencintaimu, bahkan aku takut kehilangan dirimu. Namun, dalam takutku ada ketulusan dan kepercayaan. Keyakinan, jika aku mampu bertahan dengan dirimu atau hanya dengan cintamu. Jangan pernah takut kehilangan diriku, aku akan ada disisimu. Setidaknya, sampai aku melihatmi bahagia!"


"Artinya kamu akan pergi!"


"Kelak mungkin aku akan pergi!" sahut Nissa, Radit langsung menarik tubuh Nissa. Radit menangkup wajah Nissa. Gelengan kepala Radit, isyarat Radit tidak ingin mendengar semua itu. Radit mengecup kening Nissa penuh cinta. Menyalurkan hasrat yang membakar jiwanya. Radit merasakan bahagia dan duka bersamaan.


"Aku mencintaimu Radit, tapi aku juga membencimu!" ujar Nissa, lalu melepaskan diri dari pelukan Radit.


Radit tertegun mendengar perkataan Nissa. Ada sesuatu yang membuatnya tak percaya. Nissa mengatakan sesuatu yang tak pernah ingin di dengarnya. Kebencian yang tak pernah Radit bayangkan, meski kebencian itu pantas ada. Sebab awal hubungan Radit dan Nissa yang salah. Namun setelah semua yang terjadi, Radit berharap tak ada lagi rasa benci. Radit berharap hanya ada cinta dan ketulusan. Kebahagian menjadi satu keluarga yang utuh. Namun perkataan Nissa, dengan jelas menggambarkan rasa sakit yang masih tersimpan rapat di hati Nissa.


"Maafkan aku, lupakan semua yang terjadi!" bisik Radit, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Nissa. Radit merangkul perut Nissa yang masih rata.


"Seandainya!" ujar Radit, tapi tertahan oleh tangan Nissa.


Nissa langsung menutup mulut Radit, ketika Radit mengatakan kata seandainya. Sebuah kata yang tak layak terucap. Sebuah kata sederhana, tapi menyimpan keraguan pada ketetapan-NYA. Gelengan kepala Nissa, isyarat Nissa tak mengharapkan kata itu terucap dari bibir Radit.


"Radit, kita bertemu dan bersama itu ketetapan-NYA. Jadi jangan pernah meragukannya, sebab semua akan indah pada waktunya!" ujar Nissa, lalu masuk ke dalam kamar.


"Ketenanganmu, alasan kecemasanku!" batin Radit abu-abu, sembari menatap punggung Nissa yang berlalu pergi.


Tok Tok Tok

__ADS_1


Terdengar suara pintu kamar Radit diketuk, Radit melangkah menuju pintu. Sekilas Radit melirik ke arah jam di dinding. Tepat pukul 21.00 WIB, hari sudah malam dan tidak mungkin ART di rumahnya berani mengetuk pintu kamarnya tanpa alasan mendesak. Nissa berjalan menuju kamar mandi, dia membersihkan diri sebelum tidur. Nissa memilih mengakhiri pembicaraan yang sudah tak sepadan.


"Siapa?" ujar Radit, sembari membuka pintu.


"Mama!" teriak Zain, seraya berlari masuk ke dalam kamar Radit. Zain langsung masuk ke dalam kamar, setelah Radit membuka pintu. Kecepatan lari Zain tidak seperti biasa, nampak jelas Zain sedang ketakutan.


"Maaf tuan, Zain terbangun dan menangis mencari ibu!" ujar Ifa, Radit mengangguk pelan. Lalu meminta Ifa kembali ke kamarnya. Membiarkan Zain berada di kamarnya.


"Mama!" teriak Zain, sembari memeluk Nissa dengan sangat erat. Nissa terkejut sampai terhuyung ke belakang. Lama kelamaan pelukan Zain terasa semakin erat. Tubuh Zain gemetar, nampak jelas ada rasa takut di wajahnya. Nissa menggendong Zain menuju tempat tidur. Menidurkan Zain dalam pangkuannya, Radit terenyuh melihat kedekatan Nissa dan Zain. Hubungan tulus yang menyatu dengan hati.


"Ada apa sayang?"


"Jangan pergi, jangan tinggalkan Zain!" ujar Zain dengan suara polosnya.


"Mama tidak pergi!"


"Bohong, Zain melihat mama pergi membawa adik!"


"Kapan sayang? Lihatlah mama masih ada disini!"


"Tadi, saat Zain tidur!" sahut Zain polos, Nissa tersenyum simpul. Nissa memeluk erat tubuh Zain, putra yang begitu menyayanginya. Nissa bahagia, mendengar ketakutan Zain akan kepergiannya.


"Lihatlah Nissa, bahkan Zain takut kehilanganmu. Dia memang lahir dari rahim Alvira, tapi dia terikat dengan hatimu. Demi kebahagian dan kebersamaan ini. Aku akan melawan dunia!" batin Radit teguh.

__ADS_1


__ADS_2