
"Aryan, dimana Daniel? Kenapa dia tidak datang menemuiku?" ujar Irfan, sembari tidur di kamarnya. Aryan menunduk dengan bibir membisu.
Tubuh Irfan semakin lemah, usia senjanya telah merenggut kuatnya. Namun angkuh dan egois masih tetap tersimpan dalam hatinya. Irfan Kusuma, bukan orang sembarang. Tanpa bergerak dari tempat tidurnya. Dia bisa mengetahui semua yang terjadi. Termasuk pertemuan Aryan dengan Daniel. Putra keduanya yang pergi sejak puluhan tahun yang lalu. Putra yang hilang bak ditelan bumi. Tak ada jejak atau bayangan Daniel. Irfan tak mampu menemukan putra tersayangnya.
Kini tubuh lemahnya kembali bersemangat, ketika dia mendengar kabar tentang kembali sang putra. Namun kebahagian itu hanya sesaat, kemudian menghilang dan pupus. Setelah tiga hari, Daniel tak kunjung menemuinya. Harapan Irfan lenyap, tergantikan hampa dan kosong. Putranya kembali, tapi tak pernah ingin menemuinya. Rasa rindu yang harus terbayar dan menyisakan sakit.
"Aryan, dimana kakakmu?"
"Maafkan aku pa, aku tidak bisa menemukan kak Daniel. Aku sudah melacak keberadaannya. Namun tak satupun petunjuk yang membuatku bisa menemukannya. Bahkan aku meminta bantuan Nissa, tapi hasilnya tetap sama. Kak Daniel menghilang, seolah tak pernah ingin ditemukan!" ujar Aryan, Irfan menunduk lesu.
Tubuhnya semakin lemah, tak lagi sanggup menanggung kebencian sang putra. Kesalahan yang pernah dia lakukan pada Daniel. Membuat Irfan menyesal seumur hidup. Keangkuhan yang akhirnya membuat Irfan kehilangan Daniel. Sang putra pergi meninggalkannya. Bukan satu atau dua tahun, puluhan tahun Daniel pergi membawa amarah dan rasa kecewanya pada Irfan. Kebencian yang tetap ada, meski Daniel telah kembali. Amarah yang jelas diperlihatkan oleh Daniel pada Irfan.
"Dia masih marah padaku. Aku memang bersalah padanya!" ujar Irfan lirih penuh penyesalan.
Aryan menghampiri Irfan, memberikan segelas air putih. Sekadar menenangkan hati Irfan yang gundah mencari keberadaan sang putra. Aryan merasa kasihan pada Irfan. Di usia senjanya, Irfan harus kesepian tanpa putra--putrinya. Semua karena keangkuhan dan keegoisannya sebagai seorang ayah. Aryan tak mampu merubah yang sudah terjadi. Bertahan di sisi Irfan, menjadi cara Aryan menyayangi ayahnya.
"Kak Daniel butuh waktu. Aku percaya, bila sudah waktunya. Kak Daniel akan datang menemui papa. Dia putra papa, dia tidak akan tega melihat papa tersiksa akan kerinduan padanya!"
"Seandainya perkataanmu benar, bukan hanya angan. Aku akan bahagia, tapi nyatanya Daniel tidak ingin menemuiku. Dia membenciku, sangat membenciku!" ujar Irfan, sembari menatap bingkai kecil yang ada di samping tempat tidurnya.
Irfan mengambil bingkai foto yang ada di sampingnya. Tangan lemahnya mengusap foto berkali-kali. Bayangan sang putra yang sangat dirindukannya. Aryan diam membisu, ada rasa kecewa akan sikap Irfan. Tatapan Irfan penuh rasa rindu pada foto Daniel. Tanpa peduli lagi pada Aryan putra bungsunya. Kasih sayang yang terasa tidak adil bagi Aryan.
"Maafkan papa Daniel, papa mohon pulanglah. Papa akan melakukan segala hal, demi menebus dukamu!" gumam Irfan lirih penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Setetes bening air mata Irfan jatuh membasahi foto. Aryan diam menahan rasa tak menentu. Melihat rasa sayang Irfan yang begitu besar pada Daniel. Air mata yang tak pernah menetes, kini menetes merindukan putra kedua keluarga Kusuma.
"Aku akan mencari kak Daniel, papa tenanglah. Aku akan berusaha sekuat tenagaku!" ujar Aryan lantang, Irfan mengangguk mengiyakan.
"Demi kebahagianmu, aku akan mencari kak Daniel. Walau artinya, aku harus melihat ketidakadilanmu. Rasa sayangmu pada kak Daniel, tanpa sadar telah menyisihkanku. Namun percayalah pa, bahagiamu tujuan hidupku. Aku akan membawa kak Daniel pulang. Aku merindukan senyum di wajahmu. Senyum yang ada, ketika papa bertemu dengan kak Daniel!" batin Aryan pilu, menangis melihat Irfan terpuruk dalam kerinduan.
Tok Tok Tok
"Masuk!" sahut Aryan, bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
"Kak Daniel!" ujar Aryan lirih, Daniel melangkah perlahan ke dalam kamar Irfan. Kamar yang tak pernah lagi dia masuki. Sejak dua puluh tahun yang lalu.
Hari terakhir dia masuk ke kamar Irfan. Hari yang sama, dia memutuskan hubungan dengan keluarga Kusuma. Menghapus nama besar Kusuma dan memilih berjuang sendiri melawan kerasnya hidup. Perjuangan yang akhirnya menempa hidup Daniel. Tubuh Daniel tangguh tak lagi lemah. Kakinya tegap melangkah, menampaki jalan terjal hidup. Membuktikan pada dunia, dia mampu tanpa nama besar Kusuma.
"Aryan, tak perlu menghibur papa. Kakakmu tidak akan kembali, dia membenci papa!" sahut Irfan dengan mata terpejam. Irfan menutup mata, membayangkan foto yang tengah dipeluknya itu Daniel. Kerinduan yang begitu besar dan tak terbayar. Kini menyiksa tubuh renta Irfan Kusuma.
Tangis yang tertahan pecah, Irfan menangis mendengar suara Daniel. Suara yang hampir terlupa olehnya. Namun kini memanggilnya, meski dingin itu nyata. Irfan tetap bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan Daniel. Dua mata sayunya, menatap putra yang dirindukannya. Irfan langsung bangun dari tempat tidurnya. Aryan berlari, menopang tubuh lemah sang ayah. Dengan sisa tenaganya, Irfan mencoba duduk.
"Tidak perlu bangun, duduklah. Aku tidak akan pergi!" ujar Daniel dingin, saat melihat Irfan mencoba berdiri. Aryan membantu Irfan berdiri, tapi Daniel tak bergeming. Tak sedikitpun Daniel berpikir menghampiri Irfan.
"Papa ingin memelukmu, izinkan papa memelukmu!" ujar Irfan lirih, Daniel tak menyahuti. Daniel berjalan ke arah jendela besar kamar Irfan. Mengacuhkan permintaan sederhana sang ayah.
Daniel menatap keluar jendela, terlihat langit yang sama seperti terakhir kali dia pergi. Langit yang masih sama, seperti sifat angkuh Irfan Kusuma. Lama Daniel menatap ke arah luar jendela. Mengacuhkan kerinduan ayah yang sangat menyayanginya. Terdengar helaan napas dari bibir Daniel. Sebuah beban yang seolah terasa berat di pundaknya. Aryan terpaku, menatap tubuh sang kakak yang dingin.
__ADS_1
"Dua puluh tahun lalu, aku pergi dari rumah ini. Dua puluh tahun yang lalu, kak Elmaira meninggalkanku selama-lamanya. Dua puluh tahun yang lalu, aku berjuang melawan kerasnya dunia. Merubah jalan hidupku, keluar dari penjara berlapis emasmu. Sekarang setelah dua puluh tahun, aku kembali ke rumah ini. Namun rumah ini tetap sama, dingin tak berhati. Papa tetap angkuh dan egois. Papa tak pernah memahami keinginan putranya. Bahkan setelah aku dan kak Elmaira pergi. Papa tetap egois dan kejam!"
"Daniel, papa bersalah padamu. Sebab itu maafkan papa!"
"Permintaan maaf yang ingin aku dengar dulu. Kini tak lagi aku inginkan. Aku kembali bukan karena ingin menjadi bagian keluarga Kusuma. Aku kembali demi Nissa, putri kecil kakakku. Putri amanah terakhirnya, amanah yang tak pernah sanggup dijaga oleh Aryan!"
"Daniel, papa akan melakukan apapun? Asalkan kamu kembali!"
"Tidak perlu!" sahut Daniel dingin, sembari menggelengkan kepalanya.
"Maafkan papa!" ujar Irfan lirih.
"Aku bukan lagi putramu, Aryan satu-satunya putramu. Sayangi dia, jangan acuhkan kasih sayangnya. Aku dan kak Elmaira hanya masa lalu bagimu. Aryan dan Alvira penerusmu kini!"
Buuugghhhh
"Maafkan papa, maaf!" ujar Irfan penuh penyesalan, tubuh lemahnya jatuh terduduk. Lututnya membentur lantai dengan sangat kerasnya. Aryan terperangah, ketika menyadari Irfan yang tengah bersimpuh di depan Daniel.
"Kak Daniel, papa sangat merindukanmu!"
"Lalu!" sahut Daniel santai, Irfan menggeleng tak percaya.
"Maafkan papa, maaf!"
__ADS_1
"Aku akan memaafkan papa, jika papa mengusir Alvira dari rumah dan keluarga Kusuma!" ujar Daniel dingin, lalu pergi meninggalkan Irfan sendiri. Larut dalam kecewa dan penyesalan panjangnya.
"Kak Daniel, kenapa hatimu sedingin ini?" batin Aryan tak percaya.