Senja Pengganti

Senja Pengganti
Rencana menginap


__ADS_3

"Assalammualaikum!" Batin Aira, sembari menatap lurus ke arah rumah Radit.


Aira berdiri tepat di depan rumah Radit. Menatap penuh keraguan, akan melangkah atau tetap berdiri di depan pintu. Suara bising di jalanan, tak lantas mengusik hati dan kegundahan Aira. Ada rasa ragu yang tak bisa dijelaskan. Kegundahan yang membuat Aira tak sanggup melangkah. Aira benar-benar dalam dilema. Pilihan yang tak pernah ada dalam bayangannya. Aira menghela napas, seakan beban berat tengah ada di pundaknya. Langkahnya terasa berat, tatapannya kabur. Seakan tak ada sesuatu yang terlihat. Aira merasakan sepi dalam hembusan angin sore. Senja yang menenangkan, terasa tak bertuan dan gamang terlihat.


"Aku pulang!" Ujar Hana, suara merdu yang membuyarkan lamunan Aira. Hana sang adik yang selalu menemani hari-hari sepinya. Suara yang telah didengarnya selama hidupnya.


"Tunggu, masuklah!" Ujar Aira, sembari menahan tangan Hana. Terlihat gelengan kepala Hana, jawaban final yang takkan pernah bisa diubah. Aira menatap lekat Hana, anggukan kepala Aira. Isyarat permintaan pada Hana, agar dia mengikuti perkataan Aira.


"Sejak awal, aku hanya mengantar kakak!"


"Demi mama!" Sahut Aira lirih, Hana menghela napas. Aira mengangguk kedua kalinya, kedipan mata Aira. Terasa hangat dan menedukan, Hana diam tak bersuara. Hana menatap rumah megah Radit. Ayah yang pernah membuatnya menangis.


Aira menarik tangan Hana, melangkah bersama menginjak teras marmer rumah megah Radit. Suara mobil Hana, terdengar hati Radit yang tengah menahan kerinduan. Sebab itu, Radit sudah berdiri tepat di belakang pintu. Menanti ketukan hangat dua bidadarinya. Namun hatinya terasa ngilu, melihat gelengan kepala Hana. Penolakan yang jelas menyakiti hatinya. Menampakkan betapa luka di hati Hana dalam tak bertepi. Radit bersembunyi di balik tirai jendela. Menatap haru dua putri yang kini menjelma menjadi bidadari tak bersayap. Lama Radit menahan kerinduannya, menanti hangat uluran tangan Aira dan Hana. Kesabaran yang terus diuji, bukti tulus cinta seorang ayah.


Tok Tok Tok


Ketukan yang dinanti terdengar, Radit merasa tak percaya. Setelah dua puluh tahun, akhirnya mereka datang ke rumahnya. Tangan Radit gemetar, bingung akan bersikap seperti apa? Perlahan Radit membukakan pintu. Radit menatap nanar Aira dan Hana. Gugup harus bersikap pada mereka.


"Assalammualaikum!" Sapa Aira ramah, lalu menarik tangan Radit. Aira mencium punggung tangan Radit. Hari Radit bergemuruh, tak percaya Aira akan melakukan semua ini. Aira menoleh pada Hana. Isyarat mata Aira, seakan meminta Aira mencium punggung tangan Radit. Hana terlihat ragu, Radit merasakan jelas penolakan Hana.


"Hana!"


"Assalammualaikum!" Sapa Hana, sesaat setelah Aira meminta Hana menyapa Radit. Hana menghampiri Radit, mencium punggung tangan Radit. Keharuan yang seketika menggetarkan hati Radit. Menghapus kerinduan akan dua putri cantiknya.


"Masuklah!" Sahut Radit, Aira mengangguk seraya menarik koper kecilnya. Hana hendak memutar tubuhnya, melangkah menjauh dari rumah yang telah meninggalkan trauma begitu beratnya.


"Hana, tunggulah sampai makan malam!"

__ADS_1


"Tapi kak!"


"Kakak mohon, setidaknya temani kakak sampai nanti malam!" Ujar Aira, Hana menghela napas. Anggukan kecilnya, membuat Aira tersenyum bahagia.


"Kenapa masih di luar? Ayo masuk!" Ujar Zain, Aira dan Hana diam membisu.


Aira dan Hana melangkah ragu, Zain dan Radit menyadari kecanggungan yang terjadi. Mereka bisa memahami kesulitan Aira dan Hana. Dengan hati besar, Radit dan Zain memahami kegalauan hati Aira dan Hana. Perlahan Aira dan Hana masuk ke dalam rumah besar Radit. Langkah yang benar-benar pelan, berpikir akan kembali melangkah keluar. Hana menggenggam erat ujung hijab panjang Aira. Kala Hana melihat Alvira berdiri menyambut mereka. Ketakutan Hana nampak jelas, trauma yang pernah dialaminya. Pertemuan tak terduga yang pernah ada di masa lalu mereka. Ketakutan Hana, berbanding terbalik dengan keramahan Aira. Dengan sopan, Aira menyapa Alvira. Istri ayah kandungnya saat ini.


"Kalian bisa tinggal di kamar Nissa. Kamar itu tak pernah terbuka, tapi aku selalu membersihkannya!" Ujar Alvira, Aira mengangguk pelan.


"Terima kasih!" Ujar Aira, Alvira mengangguk pelan.


"Sama-sama, bersihkan diri kalian. Kalau sudah waktunya makan malam, aku akan memanggil kalian berdua!" Ujar Alvira hangat, Radit diam menatap hangat Alvira. Sikap hangat yang tulus diberikan pada Aira dan Hana.


"Aku akan mengantar kalian berdua!" Ujar Zain, lalu berjalan tepat di depan Aira dan Hana. Meninggalkan Radit dan Alvira.


"Terima kasih!"


Tap Tap Tap


"Aira, kenapa kamu turun? Istirahatlah, kamu pasti lelah!" Ujar Radit, sesaat setelah melihat Aira turun.


"Aku ingin membantu di dapur!" Ujar Aira datar, Radit mengangguk pelan. Tak berapa lama, Radit tertunduk membisu. Sikap dingin Aira telah membuatnya tersadar. Jika nyata Aira tak pernah menganggapnya ada.


"Papa!" Sapa Aira tiba-tiba, Radit langsung mendongak. Panggilan yang begitu ingin di dengarnya. Kini nyata terdengar, terucap dari bibir mungil putri kecilnya.


"Iya Aira!" Sahut Radit tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa harus melakukan semua ini? Jika nyatanya semua ini salah!"


"Maksudmu!" Ujar Radit tak mengerti.


"Kenapa menikah dengan tante Alvira, jika papa tak pernah menginginkannya. Sadarkah papa, jika keputusan besar papa telah melukai banyak hati. Menghancurkan dua hati yang sangat mencintaimu. Melakukan kesalahan yang sama dan berulang!"


"Aira!" Ujar Radit lirih, tak mengerti arah perkataan Aira.


"Tante Alvira!"


"Kenapa dengan dia? Apa kamu keberatan dia ada di rumah ini? Kalau memang iya, aku akan meminta Alvira tinggal di paviliun!" Ujar Radit, Aira menggeleng dengan tatapan tidak suka. Radit semakin bingung dengan sikap Aira. Tatapan tidak suka Aira, membuat Radit galau.


"Lalu!"


"Mama benar, papa tidak akan pernah mengkhianati mama. Namun papa juga tidak akan bisa membahagiakan mama. Hari ini, aku mengerti arti tersirat dari perkataan mama. Kepergian mama, alasan hati papa terluka. Namun pernikahan papa dengan tante Alvira. Alasan tiga hati hancur sekaligus, hati mama, papa dan tante Alvira. Seandainya papa tidak pernah menikah dengan tante Alvira. Tidak akan pernah aku melihat kepedihan teracuhkan di wajah tante Alvira. Tidak akan pernah mama menghilang selama dua puluh tahun. Tidak akan aku dan Hana jauh dari papa selama!"


"Aira, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kenapa papa menikah dengan tante Alvira? Jika nyatanya papa menyakitinya. Mengabaikan cinta, mengacuhkan perhatiannya, menyiksa batinnya dan satu hal yang lebih penting. Papa telah menghancurkan hati seorang wanita yang begitu menyayangi papa. Seorang wanita yang sama, pernah melahirkan papa. Wanita yang sama telah menjadi saudara perempuan papa. Wanita yang sama kini berdiri di depan papa. Dua putri yang baru mengenal papa, tapi kini kecewa dengan sikap papa. Sebelum papa menyakiti hati seorang wanita. Ingatlah, wanita-wanita yang pernah ada dalam hidup papa. Terutama kami, putri papa yang kelak akan hidup bersama dengan seorang imam. Bayangkan pa, jika imam kami seperti papa. Sikap yang sama seperti sikap papa pada tante Alvira!" Tutur Hana lantang, Radit diam membisu.


"Papa, maafkan sikap kami!" Ujar Aira.


"Salahkah papa, menjaga setia untuk mama kalian!"


"Salah, saat papa sudah mengikat janji dengan tante Alvira!" Ujar Hana lantang dan tegas.


"Lalu, apa yang harus papa lakukan? Agar kalian menyayangi papa!"

__ADS_1


"Tidak ada, papa hanya perlu mencoba mencintai tante Alvira dan kami menyayangi mama!" Ujar Aira lirih.


__ADS_2