
Nissa tidak kembali turun, setelah membersihkan diri. Nissa memilih tinggal di dalam kamar. Menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Setelah sholat magrib, Nissa memilih mengaji sembari menunggu waktu sholat isya. Nissa larut dalam sujud dan doanya. Sejenak menjauh dari bising dunia. Menghindar dari kenyataan yang ada. Mengalihkan diri dari rasa cemburu tak bertepi. Nissa merasa tak berdaya, saat menyadari Alvira ada di bawah satu atap bersamanya.
Radit memilih bekerja di ruang kerjanya. Ada proyek besar yang tengah dikerjakannya bersama Rayhan. Ruang kerja Radit ada di lantai dua. Setidaknya Radit tidak pergi jauh dari Nissa. Radit juga tidak bersama Alvira. Perlahan Radit mulai memahami arti diam Nissa. Kata yang terucap, terkadang tak sesuai dengan suara hatinya. Sikap wanita yang sulit dimengerti oleh laki-laki sedingin Radit. Namun demi ketenangan dan kebahagian keluarga kecilnya. Radit belajar memahami sikap Nissa. Tak ingin melihat Nissa salah dengan semua yang dilihatnya.
Tok Tok Tok
"Masuk!" teriak Radit, Alvira masuk ke dalam ruang kerja Radit. Rayhan langsung mendongak, melihat Alvira berada di dalam ruangan kerjanya. Gelengan kepala Rayhan, sebuah isyarat rasa tak percaya akan keagresifan Alvira.
"Maaf mengganggu, makan malam sudah siap. Kami semua menunggu kalian!" ujar Alvira, Radit mengedipkan kedua matanya. Rayhan langsung mematikan laptopnya. Makan malam, waktu yang paling tepat untuk bersama.
"Kami akan turun, pergilah sekarang!" ujar Radit, Alvira mengangguk. Alvira melangkah keluar dengan hati gundah. Sikap dingin Radit, nyata menolak kehadirannya. Alvira merasakan dingin yang teramat dingin. Laki-laki yang pernah mencintainya, bahkan memuja dirinya. Kini mengacuhkan dirinya tanpa peduli lagi akan sakit hatinya.
"Rayhan, pergilah makan malam dengan mereka. Aku akan pergi ke kamar. Sejak pulang, Nissa memilih diam di dalam kamarnya!"
"Kamu mencemaskannya!" sahut Rayhan dengan nada menggoda. Radit terdiam membisu, lalu berdiri tanpa menjawab pertanyaan Rayhan.
"Radit, kenapa diam? Kamu malu mengakuinya!" ujar Rayhan, sembari menepuk pelan pundak Radit. Alvira mendengar percakapan Radit dan Rayhan. Hangat yang terdengar oleh Alvira. Semakin menambah rasa sakit teracuhkan.
"Aku bukan mencemaskannya, tapi mencemaskan diriku sendiri!" sahut Radit, lalu berjalan ke arah kamarnya. Rayhan tersenyum, lalu memilih turun ke meja makan. Rayhan melihat Alvira ada di anak tangga terakhir. Gelengan kepala Rayhan, seolah rasa tak percaya akan hubungan cinta Radit yang rumit.
"Rayhan, dimana Radit?" ujar Sanjaya, Rayhan hanya tersenyum.
"Dimana lagi? Pasti menemui wanita pelunas hutang itu!" sahut Saskia sinis, Sanjaya langsung menatap tajam Saskia. Perkataan Saskia akan sangat fatal bila terdengar oleh Radit. Zain tidak ikut makan malam. Setelah seharian bermain, Zain tertidur di pangkuan Nissa. Kala Zain mendengarkan Nissa mengaji.
"Mulutmu harimaumu Saskia. Semakin kamu membenci Nissa. Semakin kamu jauh dari Radit dan mungkin aku juga akan menjauh darimu!" ujar Rayhan santai, Saskia mendengus kesal. Mendengar perkataan Saskia yang membela Nissa.
"Kenapa semua membela Nissa?" gerutu Saskia, Alvira langsung menepuk pelan punggung tangan Saskia. Alvira mencoba menenangkan Saskia. Berharap semua berakhir dan bisa makan malam dengan tenang.
"Tapi kak!"
__ADS_1
"Saskia, demi kakak tenanglah. Kakakmu Radit segera turun, tidak baik seandainya dia mendengar keributan ini!" sahut Alvira pada Saskia. Rayhan mengangguk perlahan, lalu mengambil makanan tanpa peduli kemarahan Saskia.
Saskia semakin kesal, melihat sikap Rayhan yang tak peduli padanya. Saskia menyimpan rasa pada Rayhan sejak lama. Sikap manja Saskia, tak lebih dari cara Saskia menarik perhatian Rayhan. Namun usahanya sia-sia, Rayhan tak pernah menoleh atau pedulinakan rasanya. Rayhan malah semakin acuh dan bahkan membenci Saskia. Rayhan tak pernah suka cara Saskia memperlakukan Nissa. Alasan kebencian Rayhan padanya.
"Nissa!" teriak Radit, sembari turun dari anak tangga. Sontak semua orang menoleh, teriakkan Radit menggema di seluruh rumah.
"Ada apa dengan Nissa?" sahut Rayhan, Radit berlari keluar. Dia gusar mencari Nissa yang tak ada di dalam kamarnya.
"Sayang, dimana kamu? Apa ini arti dari diammu? Ketakutanku akhirnya terjadi, kamu pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Kenapa selalu seperti ini? Selalu ada badai, setelah tenang dan diammu. Sampai kapan aku harus merasa takut? Cemas, jika sewaktu-waktu kamu pergi tanpa pamit padaku. Dengan cara apa? Aku menjelaskan padamu, Alvira hanya masa lalu. Dia hanya tamu di rumahku, karena kamulah sang tuan rumah. Sayang, aku mohon. Mengertilah dan pahami masa laluku!" batin Radit dengan perasaan campur aduk. Radit terus melangkah, mencari Nissa di seluruh bagian rumahnya. Rayhan mengejar langkah Radit, kekhawatiran Radit sangat dimengerti olehnya.
"Radit, arah jam satu!" ujar Rayhan, sembari menepuk pelan pundak Radit.
Radit langsung menoleh ke arah yang dikatakan Rayhan. Radit terpaku, menatap bayangan yang tengah dicarinya. Bayangan yang hampir membuat Radit kehilangan akal. Dengan langkah lebar, Radit berjalan menghampiri Nissa. Nampak Nissa duduk di halaman depan rumah Radit. Nissa duduk beralaskan rumput. Radit langsung memeluk Nissa, menghapus kecemasan dan ketakutan yang memenuhi benaknya. Rayhan bahagia melihat Radit yang akhirnya menemukan Nissa.
"Sayang, kamu membuatku takut!" bisik Radit, sembari memeluk erat Nissa. Dengan rasa heran, Nissa diam menerima pelukan Radit. Nissa bingung, saat melihat Radit datang dengan raut wajah cemas. Bahkan Radit memeluknya dengan sangat erat. Seakan takut kehilangan Nissa.
"Ada apa? Kenapa aku membuatmu takut?"
"Kemana aku pergi? Ini masih di dalam rumah. Lagipula, sekarang waktunya makan malam. Jadi aku pikir, kamu tidak akan mencariku!" ujar Nissa santai, Radit menarik tubuh Nissa.
Radit menangkup wajah Nissa, mengusap lembut pipi Nissa yang mulai terlihat gembul. Radit mencium lembut kening Nissa. Radit benar-benar takut kehilangan Nissa. Cinta yang begitu besar dan tulus. Radit tak ingin melihat air mata atau duka di wajah Nissa. Radit lalu memeluk erat Nissa, lagi dan lagi sampai Nissa merasa sesak.
"Lepaskan, kenapa terus memelukku?"
"Jelas dia memelukmu, dia takut kamu pergi tanpa pamit!" sahut Rayhan menggoda Radit dan Nissa.
"Memang Nissa pergi kemana? Sejauh Nissa pergi, Radit akan terus mengikutinya. Lagipula ada aku, tidak akan Nissa pergi jauh!" sahut Amira sembari membawa dua mangkok bakso dan dua bungkus nasi goreng.
"Kamu!"
__ADS_1
"Iya aku, memangnya kenapa? Kamu bisa makan dengan Alvira dan Radit. Kenapa aku tidak bisa makan bersama sahabatku!" sahut Amira dingin, Rayhan terdiam.
"Aku tidak percaya, kamu memang sahabat sejati. Kamu sangat menyayangi Nissa, bahkan sebelum Nissa meminta bantuan!"
"Jika bukan aku siapa? Radit masih sibuk dengan mantannya. Lihat itu, sang mantan masih mengejar!" sindir Amira, lalu memberikan semangkok bakso pada Nissa.
"Amira, sudah jangan dibahas!" sahut Nissa, Amira mengangguk dan memilih duduk tepat di samping Nissa.
"Kenapa mencariku? Ada yang kamu butuhkan?" ujar Nissa, Radit menggeleng lemah. Lalu mencium kening Nissa.
"Makanlah sayang, nanti baksomu dingin!" ujar Radit, Nissa mengangguk pelan.
"Buka mulutmu!" ujar Nissa, lalu menyodorkan sesendok bakso ke arah Radit.
"Kamu saja!" ujar Radit menolak, Nisss menunduk.
"Baiklah!" ujar Radit, lalu membuka mulutnya.
"Amira, kamu tidak ingin menyuapiku!" ujar Rayhan, Amira menggeleng tanpa ragu.
"Kenapa?" goda Rayhan, Amira langsung menatap tajam Rayhan.
"Malas!" sahut Amira, sontak Rayhan tersenyum.
"Kenapa hanya aku yang jomblo?" ujar Rayhan lantang, sembari melihat Nissa dan Radit makan bakso bersama.
"Saskia, masih menantimu!" sahut Radit, Rayhan langsung menginjak kaki Radit.
"Diam kamu!" sahut Rayhan kesal.
__ADS_1
"Amira, Radit hanya bercanda. Jangan marah, aku tidak ada hubungan dengan Saskia!"
"Bukan urusanku!" sahut Amira sinis dan dingin.