Senja Pengganti

Senja Pengganti
Melepas Rindu


__ADS_3

Tiga hari sudah, Radit pergi ke luar kota. Tiga hari pula, Nissa tinggal sendiri di rumah megah Radit. Tanpa sandaran atau sapaan hangat Radit suaminya. Selama tiga hari, hidup Nissa terasa sunyi tanpa suara Radit. Tak ada telpon atau chat, semua terasa sunyi dan sepi. Nissa hidup sendiri di rumah megah milik suaminya. Hanya tawa dan rengekan Zain yang membuat Nissa tetap bertahan. Seiring hinaan dan sindiran pedas Saskia padanya.


Hampir tujuh puluh dua jam, Nissa tinggal di sendirian dalam kamar Radit. Nissa merasa asing dengan kamar yang sudah ditempatinya selama hampir lima bulan. Nissa merasakan fajar tak lagi hangat, tanpa sapaan mesra Radit. Senja tak lagi indah, tanpa gurauan Radit. Hati dan benak Nissa berputar pada satu nama, Ahmad Dzaky Raditya. Waktu seakan lambat berputar, malam terasa lebih panjang. Hampir tiap malam, Nissa tak mudah memejamkan kedua matanya. Nissa tidur hanya beberapa jam sebelum fajar. Nissa benar-benar bingung dengan keadaannya. Nissa tak menemukan jawaban dari gelisah hatinya. Hanya dengan sujud pada-NYA, cara Nissa menemukan ketenangan.


Layaknya malam ini, Nissa belum masih terjaga. Tepat pukul 23.30 WIB, mukena putih masih menempel ditubuhnya. Rasa kantuk seolah tak ingin menyapanya, Nissa tetap terjaga meski malam telah larut dan sunyi. Nissa memilih khusyuk dalam sujud dan doanya. Tanpa dia sadari, malam telah pergi dan pagi mulai menyapa. Nissa menghela napas, tatkala dia menoleh ke arah jam dinding. Satu jam berlalu begitu cepat, Rasa kantuk tak juga menyapa kedua mata Nissa.


Kreeeekkk


"Baru pulang!" sapa Nissa, Radit mengangguk dengan raut wajah lelahnya. Nissa melepas mukena, Nissa menghampiri Radit. Nissa menarik tangan Radit, mencium hangat punggung tangan Radit.


"Kamu belum tidur, ini sudah sangat larut!" ujar Radit, sesaat setelah Nissa melepaskan tangannya. Nissa mengambilkan segelas air putih, lalu menyodorkannya pada Radit. Tanpa bernapas, Radit menghabiskan air putih yang diberikan Nissa.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, ada yang mengganggumu!" ujar Radit, sembari menahan tangan Nissa. Radit merasa aneh, melihat Nissa masih terjaga. Radit cemas menyadari raut wajah Nissa yang sayu.


"Aku belum mengantuk!"


"Kamu selalu tidur tepat waktu, tidak pernah kamu tidur selarut ini. Kamu terbiasa bangun sepertiga malam, tapi kamu tidur lebih sore!" ujar Radit, Nissa menggelengkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja, sebentar lagi aku tidur!" sahut Nissa, Radit menghela napas. Radit berusaha percaya dengan alasan Nissa. Radit menghentikan perdebatan malam ini. Hubungan mereka mulai lebih hangat dan dekat. Radit tidak ingin semuanya kembali memburuk.


Selama tiga hari, Radit tidak melihat wajah Nissa. Dunia Radit seolah tak berwarna tanpa suara Nissa. Radit berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Radit hanya ingin pulang, melihat wajah yang sangat dirindukannya. Bahkan saat pulang, Radit mengemudi dengan kecepatan tinggi. Radit hanya ingin pulang, berharap melihat wajah Nissa kala tertidur. Dua mata Nissa yang terpejam, menenangkan hati Radit yang bergemuruh. Suara dengkuran halus Nissa, bak simfoni nada indah yang terdengar di telinga Radit. Namun semua bayangannya pupus, Nissa masih terjaga.

__ADS_1


"Air panasnya sudah siap. Baju gantimu juga sudah aku siapkan. Jika lapar, aku akan membuatkan makanan!"


"Tidak perlu, istirahatlah!" sahut Radit, Nissa mengangguk. Radit masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Nissa naik ke tempat tidur. Nissa berusaha memejamkan kedua matanya. Entah kenapa rasa kantuk tak juga menyergapnya? Nissa merasa bingung dengan debaran hatinya. Rasa lega saat melihat wajah Radit, rasa bahagia kala mencium punggung tangan Radit.


"Belum tidur!" ujar Radit, mengejutkan Nissa. Sontak Nissa menoleh, nampak Radit keluar dengan piyama yang disiapkan Nissa. Wajah Radit terlihat lebih segar, tercium harum shampo dari rambut basahnya.


"Nissa!"


"Hmmm!" sahut Nissa lirih, Radit memutar tubuhnya menghadap ke arah Nissa. Tubuh Nissa bergetar, ada rasa aneh yang menyusup ke dalam hatinya.


"Bisa pinjamkan kakimu, aku lelah dan ingin tidur di pangkuanmu!" ujar Radit, Nissa langsung menoleh.


Nissa bangun dari tidurnya, lalu meluruskan kakinya di tempat tidur. Nissa menepuk pelan kakinya, isyarat agar Radit meletakkan kepalanya di pangkuannya. Radit merasa heran, melihat sikap hangat yang tak pernah dibayangkannya. Radit tidur di pangkuan Nissa, kedua matanya terpejam. Radit merasakan hangat jari tangan Nissa ketilka memijat kepalanya. Radit merasa begitu bahagia, akhirnya Nissa bersedia membuka hati untuknya.


"Aku merindukanmu!" ujar Radit lirih dengan mata yang terpejam. Nissa diam membisu, tak ada sahutan akan pernyataan cinta Radit. Tak ada penolakan atau mengiyakan, suara diam Nissa membuat Radit bimbang.


"Nissa, aku ingin kita berlibur. Menghabiskan waktu berdua, sekadar menghilangkan penat!"


"Zain!"


"Ayolah Nissa, ada Ifa yang menjaganya. Kita menikah selama lima bulan, tak sedetikpun kita habiskan waktu berdua. Kamu sibuk di sekolah dan mengurus Zain. Sedangkan aku sibuk dengan bisnisku. Aku lelah Nissa, aku merindukanmu, aku membutuhkanmu. Tiga hari jauh darimu, napasku seakan terhenti. Terkadang ingin kuhancurkan jam dinding. Agar tak lagi berdentang dan membuatku ingat akan dirimu!" ujar Radit, lalu menarik tangan Nissa. Radit mencium lembut tangan hangat Nissa. Radit mendekap erat tangan yang begitu dekat, tapi sangat jauh darinya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa cuti, sebentar lagi ujian kenaikan kelas!"


Huuufff


"Aku sudah menduganya!" sahut Radit kecewa. Radit memutar wajahnya, menghadap ke arah perut Nissa. Menyusup di balik selimut yang digunakan Nissa menutup kakinya.


"Hhhmmm!" suara helaan Nissa begitu menggoda hasrat Radit. Hasrat yang juga menyergap ke dalam hati Nissa. Tatkala Radit mulai bersikap nakal dengan mencium lembut perut Nissa.


"Kak!" ujar Nissa, saat merasakan tangan Radit yang semakin liar. Tangan Radit bermain dengan pusar Nissa, menyelinap di antara selimut dan piyama Nissa.


"Aku mengantuk, bisa kita tidur!" ujar Nissa, Radit menghela napas sembari mengangguk. Rasa hangat dan nyaman yang baru dirasakannya harus berakhir. Nissa memutus kehangatan yang mulai menyusup diantara dingin sikapnya.


"Tidurlah, aku mencintaimu!" ujar Radit, lalu mencium puncak kepal Nissa. Terasa panas membakar seluruh tubuh Nissa.


Radit memeluk tubuh Nissa, tangan kekarnya melingkar sempurna di perut ramping Nissa. Keduanya sama-sama lelah menahan rindu. Namun ego menghalangi sebuah penyatuan. Nissa yang terus diam dan Radit yang tak memaksa. Keduanya saling menjaga, agar kesucian cinta tak ternoda. Nissa terlihat begitu nyaman dalam pelukan Radit. Jelas ada rasa aman yang diberikan Radit. Sebuah cinta yang mulai terbalas, tapi terlalu sulit untuk terucap.


"Aku merindukanmu, suamiku!" batin Nissa, seraya memejamkan kedua matanya. Nissa mulai terlelap dalam hangat pelukan Radit. Kantuk menyergap Nissa, seolah semua baik-baik saja.


Cup


"Aku menyadari rindumu, aku melihat cintamu dan aku merasakan hangat sentuhan kasihmu. Namun kerasmu menghalangi rasa itu dan aku takkan memaksamu. Akan aku buktikan, cintaku tulus. Aku mencintaimu, aku merindukanmu.Tiga hari jauh darimu, membuatku sadar duniaku sepi tanpa suaramu!" batin Radit lirih, sesaat setelah mencium puncak kepala Nissa.

__ADS_1


__ADS_2