
"Masuklah Amira, Nissa ada di dalam!" ujar Radit, Amira menggelengkan kepalanya pelan. Amira merasa ragu masuk ke dalam rumah Radit. Rumah megah yang tak pernah ada dalam bayangan Amira.
"Sebentar lagi Nissa turun, aku sudah menghubunginya!" ujar Amira, Radit mengangguk mengerti.
Radit baru tiba dari kantor, waktu masih sangat sore. Jarang sekali Radit pulang sore hari. Namun kondisi Nissa yang masih lemah, membuat Radit tidak betah di kantor. Secepat mungkin Radit ingin pulang. Meski Radit sudah menyewa perawat untuk menjaga Nissa. Namun rasa cemas masih saja mengisi benak dan hatinya. Radit datang bersama Rayhan, keduanya berniat melanjutkan rapat di rumah. Sedangkan Amira datang ke rumah Radit. Setelah tiga hari lebih dia tidak bertemu Nissa. Seminggu sudah Nissa istirahat di rumah. Tubuhnya terlalu lemas, sampai dia tidak bisa mengajar. Alasan semangatnya selama ini.
"Baiklah, aku akan meminta Ifa membawakan makanan dan minuman!" ujar Radit, Saskia keluar dari dalam rumah dengan langkah angkuhnya. Saskia tersenyum ke arah Rayhan, tapi menatap penuh benci ke arah Amira.
"Tidak perlu, kita bukan panti asuhan yang memberikan makanan pada semua orang yang datang!"
"Saskia jaga bicaramu!" ujar Rayhan lantang, Saskia mendengus kesal mendengar Rayhan memarahinya. Radit menarik tangan Saskia masuk ke dalam rumah. Radit tidak ingin Nissa mendengar dan akhirnya salah paham terjadi kembali.
"Pantas saja Nissa memilih tinggal di gubuk reyot daripada di rumah megah ini. Kemewahan yang hanya membuatnya terhina. Takkan pernah membuat sahabatku bahagia!" sahut Amira tak kalah sinis, Saskia berjalan menghampiri Amira. Dengan kasar Saskia melepaskan tangan Radit. Saskia ingin membalas sikap sinis Amira.
"Sahabatmu tak lebih dari pembantu. Dia bahagia atau tidak, bukan urusanku. Aku memberinya makan saja, masih untung!"
"Saskia, jaga bicaramu!" ujar Radit dengan amarah, tangannya terangkat. Saskia menutup wajahnya, amarah Radit siap menerkamnya. Rayhan menahan tangan Radit, menghentikan Radit yang ingin menampar Saskia.
"Kakak ingin menamparku!"
"Jika perlu aku akan mengusirmu. Ingat Saskia, Nissa istriku bukan pembantu!" ujar Radit penuh amarah, Amira tersenyum. Saskia meradang, dia menendang pot bunga di sampingnya. Saskia melampiaskan amarahnya pada benda tak bersalah. Radit menatap tajam Saskia, seakan tak suka dengan sikap Saskia.
"Masuk!"
"Awas kamu!" ujar Saskia kesal pada Amira. Sikap Amira terlihat santai, tak sedikitpun Amira peduli dengan ancaman Saskia.
"Kakak bilang masuk sekarang!" bentak Radit kedua kalinya. Saskia langsung pergi, Rayhan menggelengkan kepalanya. Sikap manja Saskia terkadang berlebihan. Radit tak pernah membentak atau menampar Saskia. Namun sikap Saskia benar-benar keterlaluan. Sikap kasar yang tak mencerminkan seorang putri terhormat.
"Kamu sudah pulang!" sapa Nissa, Radit menoleh dengan raut wajah terkejut. Radit takut seandainya Nissa mendengar semua perkataan Saskia. Jarak yang renggang akan semakin menjauh.
"Kamu ingin pergi!" ujar Radit, sesaat setelah Nissa mencium punggung tangannya. Nissa mengangguk tanpa ragu, Radit menatap tak percaya. Mengingat kondisi Nissa yang masih lemah dan pucat.
"Kamu masih lemah, jangan pergi!"
"Aku baik-baik saja, Amira pergi bersamaku!" sahut Nissa, Radit menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Jangan pergi, aku mohon!"
"Aku ingin pergi, diam di rumah semakin membuatku sakit. Aku tidak akan lama, setelah sholat isya aku pulang!" ujar Nissa memaksa.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu!"
"Tapi!"
"Aku ikut atau kamu tidak boleh pergi!" ujar Radit tegas, Nissa menoleh ke arah Amira. Nampak Amira mengangkat kedua bahunya, Amira tidak tahu-menahu akan syarat yang diajukan Radit.
"Radit, biarkan aku pergi!" ujar Nissa lirih, Radit menarik tangan Nissa. Menggenggam erat tangan mungil Nissa. Tangan yang terasa dingin, sedingin hati Nissa yang keras membeku.
"Aku mengizinkanmu pergi, tapi aku ikut denganku. Kondisimu masih sangat lemah, aku takut terjadi sesuatu padamu. Sekali ini saja Nissa, kamu turuti perkataanku!"
"Radit bukan pribadi pengalah, lebih baik ikuti perkataannya. Laki-laki kalau sudah bucin, tidak mudah dihadapi!" sahut Rayhan, Radit menoleh dengan tatapan tajam.
Nissa menunduk lesu, angannya pupus sudah. Senja yang ingin dilihatnya bersama Amira, hanya bersama Amira telah menghilang. Radit bersikeras ikut dengannya. Entah kenapa Nissa hanya ingin pergi dengan Amira? Radit mengangkat dagu Nissa pelan, menatap lekat dua mata indah Nissa. Seolah Radit tengah bicara dengan isyarat matanya. Amira dan Rayhan terharu, melihat sikap hangat yang ditunjukkan pada Nissa.
"Amira!" ujar Nissa menoleh ke arah Amira.
"Aku tidak keberatan, tapi entah dengan dia?" ujar Amira, sembari melirik ke arah Rayhan.
"Aku tidak keberatan, tapi pinjamkan aku baju. Lihat penampilanku, aku tidak ingin dianggap om-om sedang menemani keponakannya bermain!" ujar Rayhan dingin, Radit mengacungkan tangannya.
"Sadar diri kalau sudah tua!" sahut Amira lantang, Rayhan langsung menoleh. Nampak jelas rasa tidak suka Rayhan.
"Maaf om!" ujar Amira menggoda Rayhan.
"Kamu!" sahut Rayhan kesal, Amira terkekeh melihat Rayhan yang kesal padanya. Radit dan Nissa tak terusik dengan perdebatan antara Amira dan Rayhan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Nissa masih enggan pergi dengan Radit, sedangkan Radit bersikeras pergi dengan Nissa. Dua keinginan yang saling bersebrangan.
"Sayang, aku ikut!" ujar Radit, Nissa menganggukkan kepalanya pelan.
"Bersihkan dirimu, tapi hanya lima belas menit. Lebih dari itu, aku pergi dengan Amira tanpa kalian!"
"Sepuluh menit sayang, aku akan siap!" sahut Radit, lalu mencium tangan Nissa. Radit mengajak Rayhan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, Nissa dan Amira menunggu dengan sabar. Namun tepat di detik terakhir, saat Nissa ingin memutuskan pergi. Radit dan Rayhan keluar dengan penampilan yang berbeda. Keduanya terlihat jauh lebih mempesona, lebih muda dari usianya. Ketampanan Radit dan Rayhan tak bisa dipungkiri. Amira menatap Radit tanpa berkedip, hanya Nissa yang terlihat biasa. Sebab Nissa sudah melihat ketampanan Radit hampir setiap hari.
"Suamimu tampan!" ujar Amira lirih, Nissa diam membisu.
"Amira, kamu dengan Rayhan. Aku akan membonceng Nissa!"
"Tidak!" sahut Amira dan Rayhan hampir bersamaan.
"Belum menikah sudah kompak, apalagi kalian menikah!" ujar Radit, Nissa menepuk pelan bahu Radit. Seakan melarang Radit menggoda Amira.
"Sayang, kalau kamu tidak setuju. Kita pergi dengan mobil!"
"Itu lebih baik, aku tidak ingin berboncengan dengannya!" ujar Rayhan, Amira mengangguk setuju.
"Aku juga malas!"
"Kalian benar-benar serasi!" ujar Radit menggoda Amira dan Rayhan.
"Radit, kita pergi sekarang. Butuh waktu sampai di dermaga, takutnya senja pergi tanpa aku bisa melihatnya!"
"Baiklah sayang!" sahut Radit, lalu menggandeng tangan Nissa masuk ke dalam mobil. Amira duduk di belakang bersama Rayhan.
"Sayang, kenapa kamu sangat menyukai senja?" ujar Radit di dalam mobil, Nissa menoleh ke arah luar.
"Sayang!" ujar Radit penuh cinta.
"Sebab senja takkan pernah menyakitiku. Meski dia sebentar hadir dalam hariku. Senja pergi setelah menghapus dukaku dan besok senja datang kembali membawa senyumku. Tidak seperti fajar, terasa hangat kala tubuh kita dingin. Namun akan berubah panas, kala matahari meninggi. Seperti dirimu, terkadang menghangatku dan terkadang membekukanku!"
"Kenapa aku?" sahut Radit tak mengerti, Nissa menoleh ke arah Radit.
"Arti namamu, Ahmad Dzaky Raditya ( laki-laki dengan cahaya matahari )!"
"Sayang, aku akan tetap menjadi fajar demi dirimu!" ujar Radit lirih, lalu mencium tangan Nissa.
"Jomblo dilarang iri!" sindir Amira, Rayhan langsung menoleh.
__ADS_1
"Bukankah kamu tidak memiliki pacar!"
"Dasar gunung es, dingin tak berhati!" gerutu Amira, Rayhan tersenyum melihat kepolosan Amira.