Senja Pengganti

Senja Pengganti
Bersama di waktu Isya


__ADS_3

Persidangan terus berlangsung, sidang mediasi tidak membuahkan hasil. Radit dan Alvira bersikeras mendapatkan hak asuh Zain. Keduanya menunjukkan bukti, agar mereka menang dan mendapatkan hak asuh Zain. Tak ada jalan tengah, Radit dan Alvira merasa berhak memiliki Zain. Tanpa mereka sadari, Zain yang paling terluka. Nissa sudah berusaha membujuk Radit. Agar tidak ada perselisihan, meminta saling bicara dari hati ke hati. Namun rasa cemburu Alvira, telah menutup mata hati Alvira. Sehingga tak ada kebenaran, selain dia mendapatkan hak asuh Zain. Menjauhkan Zain dari Radit, satu-satunya tujuan hidup Alvira saat ini. Keyakinan Alvira begitu besar, sebab keluarga Kusuma mendukungnya.


Radit sudah berusaha sekuat tenaga, dia bahkan tidak bisa tidur selama ini. Radit gelisah memikirkan hasil akhir dari persidangan. Radit takut jiwa Zain terusik. Ketika dia mendengar, perselisihan kedua orang tuanya. Hal yang sama terjadi pada Nissa, dia yang paling sedih. Melihat putranya menjadi piala yang diperebutkan. Kepedihan seorang ibu yang takut melihat air mata putranya. Kegelisahan yang terus mengusiknya, sampai dia menyalahkan dirinya sendiri. Nissa merasa bertanggungjawab, karena menjadi orang ketiga diantara Radit dan Alvira. Namun disisi lain, Nissa merasa benar telah menjadi bagian hidup Radit. Sebab Nissa hadir, saat Alvira tidak ada bersamanya. Pergulatan batin yang membuat Nissa gelisah dan rapuh.


Nissa terus mencari ketenangan dalam gelisahnya. Hampir setiap malam, di sepertiga malam Nissa bersujud di hadapan-NYA. Nissa bersimpuh memohon ampun, berdoa agar semua menjadi yang terbaik. Nissa mengadu di sepertiga malam, semua demi ketenangan Radit. Seorang ayah yang takut kehilangan putra tercintanya. Tak mampu memilih antara cinta dan kasih sayang. Dua pilihan yang tak mudah, bagi Radit saat ini. Zain dan Nissa segalanya dalam hidup Radit, tidak ada pilihan terbaik diantara keduanya. Sama halnya Nissa yang tak mampu memilih, bertahan atau pergi dari hidup Radit. Nissa merasa hari-harinya semakin sulit. Menanti keputusan akhir, dalam gelisah hati.


Akhirnya, setelah lama menyimpan kegelisahannya sendiri. Nissa memutuskan untuk mengatakannya pada Amira. Sahabat yang selama ini ada dalam setiap langkahnya. Semenjak Amira berhenti mengajar, keduanya jarang bertemu. Nissa fokus pada rumahtangganya, sedangkan Amira fokus pada pekerjaan barunya. Menjadi CEO di salah satu anak cabang perusahaan Kusuma. Telah menyita banyak waktunya. Amira harus belajar menjadi pemimpin yang baik. Banyak hal yang berbeda dari pekerjaan mengajar. Terkadang Amira menghubungi Nissa, tapi itupun hanya satu atau dua kali dalam seminggu. Beberapa terakhir, Amira berada di luarkota. Sebab itu, Nissa dan Amira tidak bisa bertemu. Bahkan Amira belum bertemu dengan Daniel. Paman yang dikenal Amira sebatas nama dan belum pernah bertemu.


"Amira!" teriak Nissa, Amira mengangguk perlahan. Amira berjalan menghampiri Nissa, terlihat Nissa duduk bersandar di salah satu tiang penyangga masjid.


Disinilah Nissa dan Amira memutuskan bertemu, sebuah masjid yang ada di tengah kota. Tepat sebelum sholat isya, Amira datang menggunakan mobil mewahnya. Nissa sudah meminta izin pada Radit. Pertama kalinya Nissa keluar malam tanpa Radit. Nissa ingin menenangkan diri, bukan menjauhkan diri dari Radit. Amira menjadi sandaran terbaiknya. Hanya pada Amira, Nissa berharap menemukan sandaran.


Hampir lima belas menit, Nissa mengatakan semua ketakutan dan kegelisahannya. Lima belas menit pula, Amira menjadi pendengar yang baik. Tak sekalipun Amira menyanggah atau menyela perkataan Nissa. Amira menyadari beban berat yang kini ditanggung Nissa. Sebab Nissa takkan pernah mengeluh. Jika nyatanya dia bisa menyelesaikan masalahnya. Amira sangat memahami karakter Nissa. Hubungan darah dan hati yang membuat mereka selalu dalam satu kata. Seperti malam ini, Amira sengaja meluangkan waktu untuk Nissa.

__ADS_1


"Sekarang, apa keputusanmu? Bertahan atau pergi? Bertahan dan melihat perselisihan Radit dengan Alvira. Pergi menjauh dari Radit dan melupakannya. Hidup dengan ketenangan yang telah hilang darimu!" ujar Amira, diakhir cerita Nissa. Nampak wajah Nissa menunduk, ada beban yang tak pernah bisa ditanggung. Antara memilih salah satu diantara Radit atau ketenangannya.


"Aku mencintai Radit, putraku berhak mengenal ayahnya!" ujar Nissa lirih, Amira mengangguk sembari menepuk pelan punggung tangan Nissa. Sontak Nissa mendongak, menatap Amira dengan kegalauan tanpa batas. Nissa mencari jawaban diantara dua pilihan tersulitnya. Sama halnya Radit yang tak pernah bisa memilih, antara dirinya dan Zain.


"Tinggalah Nissa, jangan pernah pergi. Berikan kekuatan pada Radit. Berikan hak putramu mengenal ayahnya. Gapai cintamu dengan senyum bahagia. Jadilah ibu terbaik bagi Zain. Semua itu tidak akan mudah, tapi aku percaya kamu mampu melakukannya. Kamu bukan pengecut yang lari dari tantangan. Ingat saat kita mendaki, tak ada rintangan yang tak mampu kita lewati. Tak ada rasa takut yang mematahkan langkah kita. Sekali terjatuh saat melangkah, meski terasa sakit dan berdarah. Kita tak pernah menangis atau mengeluh. Semua demi impian yang ingin kita gapai. Sebab itu bertahanlah, meski hatimu sakit dan jiwamu menjerit. Buktikan pada Alvira, kamu bukan pengecut yang takut bertanding!"


"Kenapa kamu membela Radit? Tidak biasanya kamu membela Radit, bukankah kamu menjadi orang pertama yang akan menyalahkan Radit. Jika aku tersakiti dan menangis!" ujar Nissa tak percaya, Amira menatap Nissa sendu. Ada rasa lemah, ketika dia tak mampu membela Nissa. Namun terus menyalahkan Radit, bukan sesuatu yang benar. Mengingat Radit sudah berusaha memperbaiki keadaan.


"Nissa!" panggil Amira lirih, nada bicara Amira terdengar berbeda. Entah apa yang ada dalam benak Amira? Nissa merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Amira.


Nissa menghentikan langkahnya, bersamaan dengan panggilan Amira. Nissa merasa cara bicara Amira berbeda. Tatapan Amira terlihat kosong, jelas menunjukkan ada beban yang tersimpan. Nissa melihat pribadi Amira yang berbeda. Nissa menghampiri Amira, merangkul lengan saudara sepupunya. Mencari arti diam Amira.


"Amira, katakan atau kita akhiri persahabatan ini?" ancam Nissa, memaksa Amira mengatakan semuanya.

__ADS_1


"Papa, ingin aku pindah ke luar negeri. Papa melarangku lebih dekat denganmu!"


"Lalu!"


"Entahlah Nissa, aku tidak bisa pergi meninggalkanmu. Jika memang harus, aku akan pergi meninggalkan keluarga Kusuma!"


"Jangan!" teriak Nissa, Amira menoleh dengan raut wajah terkejut.


"Kamu ingin aku pergi!" ujar Amira lirih dengan raut wajah sedih. Nissa menggelengkan kepalanya, wajahnya tertunduk. Jelas Nissa tidak ingin Amira pergi atau meninggalkan keluarga Kusuma.


"Tetaplah disisi mereka, setidaknya demi impianku yang takkan pernah terwujud. Impian merawat ayah dan adik dari ibu kandungku!"


"Mereka yang bodoh telah mengacuhkan kasih sayangmu!" ujar Amira, lalu memeluk Nissa dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2