
"Pergilah!" ujar Radit singkat, Nissa mengangguk tanpa ragu. Nissa melewari Radit begitu saja. Radit membeku.
"Nissa!" panggil Radit lirih penuh duka. Nissa menoleh, terlihat Radit menunduk dan membelakanginya.
Nissa merasakan detak jantungnya berdegub kencang. Nissa merasakan firasat yang aneh. Suara Radit terdengar berbeda, sejenak Nissa takut mendengar perkataan Radit. Namun, apapun yang terjadi? Nissa harus siap mendengar keputusan Radit. Setiap pilihan memiliki pengorbanan sendiri. Termasuk keputusan Nissa bersikap dingin pada Radit.
"Aku akan melepasmu, jika memang kamu ingin pergi. Aku tidak akan mengekangmu. Kamu berhak bahagia dan aku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu. Jika memang kamu bahagia tanpaku, katakan padaku. Aku akan melepasmu, demi menebus bahagia yang aku renggut darimu. Laki-laki sepertiku, tidak pantas menjadi imammu. Maaf, telah membuatmu kecewa selama ini. Akan aku pastikan hidupmu baik-baik saja. Aku akan memberikan hak yang sama pada putra yang ada dikandunganmu. Aku akan mewariskan hartaku padanya dan Zain. Aku tidak akan mengekangmu lagi. Maaf, jika aku harus mengaku kalah. Zain putraku, aku tidak bisa jauh darinya. Seandainya kamu bahagia tanpaku, aku akan melepasmu. Secepatnya aku akan membagi hartaku. Putra dalam rahimmu tidak akan kekurangan apapun!" tutur Radit lirih, Nissa membisu.
"firasatku benar, aku harus belajar melupakanmu!" batin Nissa, sembari mengingat alasan dari sikap dinginnya pada Radit.
FLASH BACK
Nissa POV
Setelah aku kembali dari masjid, aku memutuskan langsung pergi ke dapur. Aku selalu menyiapkan sarapan, untuk Radit dan keluargannya. Meski tak sekalipun aku ikut sarapan bersama mereka. Namun demi sebuah kewajiban, aku melakukan semua itu dengan ikhlas tanpa mengeluh. Semalam aku memang terluka, tapi pagi ini aku harus baik-baik saja. Aku masuk melalui pintu samping yang terhubung langsung dengan dapur. Aku menduga, Radit ada di kamar Zain. Sebab semalam, terlihat Zain sedang sakit.
Aku masuk ke dapur, sembari membawa beberapa sayuran. Pagi ini, aku akan membuatkan makanan kesukaan Radit dan Zain. Sebagai rasa syukur, akhirnya melihat Zain pulang. Meski Zain datang tidak sendiri, tapi bersama Alvira. Wanita pertama dalam hidup Radit dan alasan rasa cemburuku. Aku berjalan menuju dapur, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Alvira yang ingin mengambil minum. Nampak Alvira nyaman dengan suasana rumah Radit, mungkin karena Alvira pernah tinggal dan menjadi bagian dari rumah ini.
Aku membiarkan Alvira, sedangkan aku menyiapkan semua bahan yang ingin aku masak. Aku tak mengenal Alvira dengan baik, sebab itu aku diam. Tanpa mengusik atau menegur Alvira. Sesekali aku melirik, Alvira terlihat mengenal setiap sudut dapur rumah Radit. Ifa hanya diam. Merasa canggung berada di antara aku dan Alvira. Sampai Ifa memutuskan keluar, memeriksa kondisi Zain.
__ADS_1
"Nissa, apa yang kamu lakukan? Kamu butuh bantuan?" ujar Alvira dari arah belakang. Alvira melihat aku kesulitan memotong sayuran. Aku melamun, sebab itu tanpa sengaja tanganku teriris pisau. Rintihanku terdengar Alvira, akhirnya dia menawarkan bantuan.
"Tidak, terima kasih. Aku bisa sendiri!" ujarku sopan menolak bantuan Alvira. Sontak Alvira mengangguk pelan. Alvira kembali pada posisinya, terlihat Alvira sedang membuat sesuatu.
"Nissa, Aku datang dini hari. Zain merindukan Radit, sebab itu aku membawanya kemari!"
"Apa dia sedang sakit?" ujarku pada Alvira dengan ramah. Alvira mengangkat kedua bahunya, Alvira belum memastikan. Zain sakit atau tidak? Namun sejak bertemu Radit, Zain lebij tenang.
"Mungkin dia sedikit tidak enak badan. Sejak sore tadi rewel, dia tidak bersedia turun dari gendonganku. Nama Radit yang selalu diucapkannya!" ujar Alvira ramah padaku.
"Kenapa tidak dibawa ke dokter? Takutnya Zain sedang demam!" ujarku cemas, Alvira menggeleng seraya tersenyum. Seakan semua baik-baik saja.
"Tidak perlu berterima kasih, Zain juga putraku!" sahutku, Alvira tersenyum sinis.
"Putra sambungmu, aku yang melahirkannya. Zain putra kami, aku dan Radit orangtuanya. Jadi tidak perlu mencemaskan Zain!" sahut Alvira dingin.
Deg
Jantungku berdegup kencang, sesaat setelah mendengar perkataan Alvira. Statusku yang sebenarnya bagi Zain. Hubungan yang tak memiliki dasar dan sebatas pengganti bagi Zain. Aku terluka, mendengar kenyataan aku bukan siapa-siapa bagi Zain?
__ADS_1
"Maaf, jika aku salah bicara!" sahutku, menutupi rasa sakit dihatiku. Alvira tersenyum sinis, nampak kebahagian terpancar dari wajahnya. Alvira bahagia melihatku terpojok dan tersisih. Aku tak mampu menggambarkan, betapa sakitnya hatiku? Semalam aku melihat kerinduan Radit. Pagi ini, aku menyadari statusku dalam keluarga kecil Radit.
"Nissa, aku butuh gula dan kopi yang ada di depanmu!" ujar Alvira, aku langsung memberikan gula dan kopi pada Alvira. Dalam hati kecilku, aku ingin secepat mungkin menyelesaikan masakanku. Agar hatiku tidak terlalu sakit, melihat Alvira berada di dapur yang sama denganku.
"Terima kasih!" sahut Alvira, aku menyahutinya dengan anggukan kepala.
"Radit, memintaku membuatkan kopi kesukaannya. Sejak kuliah, Radit hanya menyukai kopi buatanku. Pagi ini, kebetulan aku disini. Radit memintaku membuatkan kopi. Ini kopi ke lima, sejak semalam!" ujar Alvira santai, sembari mengaduk kopi. Harum aroma kopi, menggetarkan hatiku. Menyadari aku bukan siapa-siapa Radit?
Jelllbb
"Aku istrimu tidak pernah tahu, bagaimana cara membuat kopi kesukaanmu? Sekarang nyata di depanku, kamu meminta mantan istrimu membuatkan kopi kesukaanmu. Kamu memintanya memasuki dapur rumah kita, tidak menutup kemungkinan nanti kamu memintanya masuk ke kamar kita. Apa semua ini salah paham? Sama halnya yang aku lihat semalam. Sebaliknya, inilah kenyataan yang harus aku terima. Jika Alvira satu-satunya wanita yang mengetahui cara membuat kopi kesukaanmu Sebenarnya aku yang kurang perhatian padamu, atau memang Alvira yang lebih mengenal dirimu. Jika memang pernikahan ini harus berakhir, ajari aku cara melupakanmu. Agar perpisahan tak terlalu sakit kurasakan kelak." batinku.
Aku pergi meninggalkan Alvira di dapur. Aku meminta Ifa menyelesaikan masakanku. Hatiku terlalu lemah mendengar kedekatan Alvira dan Radit. Aku memutuskan pergi ke kamar Zain, aku belum menemuinya sejak semalam. Aku membuka pintu perlahan, aku melihat Zain meringkuk di balik selimut. Aku menghampiri Zain, lalu mencium lembut kening putra kecilku. Dia alasanku bertahan di rumah ini. Dia pelita kecil dalam hidupku. Laki-laki pertama yang membuatku jatuh hati.
"Haruskah mama mengalah? Demi sehatmu. Haruskah mama pergi? Demi bahagiamu. Haruskah mama diam? Demi tawamu. Zain putraku, terima kasih menganggapku sebagi ibu kandungmu!" batinku pilu, lalu pergi menjauh dari kamar Zain.
FLASH BACK OFF
"Cemburuku tak berharga bagimu!" gumam Nissa lirih. Nissa berjalan meninggalkan Radit, Nissa mengacuhkan teriakkan Radit yang memanggil namanya.
__ADS_1