Senja Pengganti

Senja Pengganti
Maaf....


__ADS_3

"Bukankah kamu yang pertama kali menganggap pernikahan ini sebagai penebusan hutang. Setelah satu tahun pernikahan kita, pernahkah kamu mendengar adikmu menganggapku sebagai manusia. Aku hanya wanita murah di depannya. Jangankan duduk satu meja dengan keluargamu, menatap mereka aku merasa malu. Sebab mereka menganggapku hanya wanita yang kamu beli, tidak lebih. Sekarang kamu marah padaku, berpikir aku alasan harga dirimu terluka. Tanyakan pada hatimu, siapa yang terluka antara kita? Keluarga mana yang sombong dan angkuh? Tak pernah menganggap orang lain pantas dihargai!"


"Nissa cukup, atau!"


"Atau apa Radit? Ini fakta yang sebenarnya. Akulah wanita yang kamu beli. Wanita pemuas napsumu. Wanita tempatmu menitipkan benih. Wanita tak berharga yang pantas dihina oleh adikmu. Wanita murah dan murahan!"


Plaaakkkk


"Nissa cukup!" ujar Radit, sesaat setelah menampar Nissa.


"Maaf!" ujar Radit, saat melihat Nissa memegang pipinya.


"Maaf!" ujar Radit lirih, Nissa menjauh dari Radit.


"Sekarang kita seimbang, aku telah membayar rasa terhinamu dengan menerima satu tamparan darimu!"


"Sayang, maafkan aku. Amarah membuatku tak terkendali. Aku terbawa emosi, maafkan aku!" ujar Radit, Nissa menepis tangan Radit. Nissa menjauh dari Radit, duduk di salah satu sudut kamar. Nissa diam tak bersuara, isak tangisnya terdengar menyayat hati Radit.


"Nissa!"


"Radit, aku tidak mengetahui seberapa besar om Daniel melukai harga dirimu. Aku tidak menyadari, betapa sakitnya hatimu? Demi menebus rasa sakitmu. Aku meminta maaf dari lubuk hatiku. Om Daniel mungkin marah padamu, tapi dia tak pernah membencimu. Dia seorang ayah yang marah melihat putrinya dijual. Sama seperti amarahmu, saat melihat Saskia terhina dan terluka. Amarah spontan seseorang yang menyayangiku, layaknya putri kecilnya. Radit, aku bukan wanita sempurna, aku wanita biasa tanpa daya. Aku tak ingin bergantung pada siapapun? Bukan karena aku sombong, tapi hidup telah mengajariku arti kerja keras. Rasa tersisih membuatku sadar diri dan mandiri tanpa siapapun? Hidup bersama keluarga, tapi tak pernah merasakan kasih sayang seutuhnya. Membuatku takut kecewa dan terluka. Tamparanmu terasa sakit, tapi bukan di pipiku. Namun hatiku yang tersakiti, menyadari cintaku tak cukup menyakinkanmu. Betapa aku menghargaimu dan menghormatimu? Kini aku menyadari, dunia kita tak pernah sama dan takkan pernah sama. Maaf, sebagai seorang istri tanpa sadar aku telah melukai harga dirimu!" tutur Nissa lirih, Radit mengusap wajahnya kasar..


Bugh Bugh Bugh


Radit menghantam dinding kamarnya sekeras mungkin. Radit seolah ingin mematahkan tangan yang telah menampar Nissa. Radit terus menghantam dinding sekeras mungkin. Tak lagi sakit terasa, meski darah muli menetes dari tangannya. Bayangan keras tamparannya, membuat Radit semakin marah pada dirinya sendiri. Radit tak pernah menyangka, dia sanggup menampar Nissa. Melampiaskan amarah pada Nissa yang tak mengetahui apapun.

__ADS_1


"Awwwsss!" rintih Nissa, tubuhnya mulai bergetar. Tangannya memegang perutnya yang terasa kaku. Nissa jatuh terduduk, rasa sakit yang teramat. Membuat Nissa merintih, Nissa menggigit bibir bawahnya. Berharap rasa sakitnya berkurang, tapi semua sia-sia. Perut Nissa semakin sakit, apalagi Nissa belum makan sesuatu sejak siang.


Bruuuukkkk


"Nissa!" teriak Radit, bersamaan dengan suara tubuh Nissa yang terjatuh.


Radit menghampiri Nissa, Radit ingin membantu Nissa berdiri. Namun tak dihiraukan Nissa, lagi dan lagi Nissa menepis tangan Radit. Nissa mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Nissa berjalan menuju meja tak jauh darinya. Dengan tangan gemetar, Nissa mengambil teh hangat yang mulai mendingin. Sedingin hatinya saat ini pada Radit. Nissa berharap tubuhnya membaik, meski hatinya takkan pernah sembuh.


"Nissa, apa yang terjadi? Apa kamu sakit?" ujar Radit cemas, Nissa menggelengkan kepalanya pelan. Nissa duduk sembari menekan perutnya. Nissa merasakan sakit yang teramat.


"Nissa, bicaralah!" ujar Radit semakin cemas, saat melihat Nissa tetap diam. Tak ada jawaban dari bibir Nissa yang membiru. Tangan dan kaki Nisss mendingin, tubuh Nissa bergetar hebat.


"Istirahatlah Radit, aku tidak apa-apa? Besok pagi, aku akan meminta om Daniel meminta maaf padamu. Aku akan mengembalikan uangnya. Sebab bukan tanggungjawabnya membayar hutangku!" ujar Nissa lirih, hampir tak terdengar. Suara Nissa terdengar semakin lemah. Wajah Nissa pucat, tak lagi bercahaya.


"Nissa!" panggil Radit, Nissa menepis tangan Radit. Bayangan tangan Radit menamparnya, membuat Nissa takut merasakan sentuhan tangannya.


"Sayang, bertahanlah sebentar lagi. Mama akan pastikan kamu baik-baik saja!" batin Nissa, sembari mengusap perutnya yang terasa sakit.


"Nissa!" ujar Radit lirih, kecemasan Radit semakin besar. Ketika melihat tubuh Nissa yang semakin lemah.


"Awwwwsss!" teriak Nissa.


Bruuuukkkk


"Nissa!" teriak Radit, sembari berlari ke arah Nissa. Radit mencoba berusaha menggapai Nissa. Namun sia-sia, tubuh Nissa jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Nissa!" teriak Radit, lalu menggendong Nissa. Radit langsung membawa Nissa menuju rumah sakit.


"Radit!" ujar Nissa, dengan mata tertutup.


"Maafkan aku, maaf!" ujar Radit lirih penuh penyesalan.


"Aku mencintaimu!" ujar Nissa lirih, lalu pingsan kembali.


Radit membawa Nissa langsung menuju rumah sakit. Tubuh Nissa semakin dingin, membuat Radit semakin takut. Suasana malam yang sepi, membuat mobil Radit melaju kencang. Hanya lima belas menit, Radit sudah sampai di rumah sakit. Radit membawa Nissa masuk ke dalam ruang IGD. Radit takut terjadi sesuatu pada Nissa.


"Tuan Radit!" sapa dokter cantik.


"Anda!"


"Aku dokter Zahra, dokter spesialis kandungan yang merawat Nissa!"


"Dokter, tolong selamatkan Nissa!" ujar Radit, Zahra mengangguk pelan. Zahra masuk ke dalam ruang IGD.


Zahra sebenarnya tidak bertugas malam ini, tapi perasaannya cemas. Ketika mendengar panggilan dari Nissa. Zahra memutuskan pergi ke rumah sakit dan ternyata dugaannya benar. Terjadi sesuatu pada Nissa, adik angkatnya. Zahra memeriksa Nissa dengan hati-hati. Sedangkan Radit menunggu di luar dengan hati cemas.


"Tuan Radit!"


"Bagaimana kondisi Nissa?" sahut Radit, saat melihat Zahra keluar dari ruang IGD. Nampak raut wajah Zahra tegang. Seakan terjadi sesuatu pada Nissa.


"Nissa belum sadarkan diri, aku akan mengawasinya. Namun kondisi Nissa tidak baik-baik saja. Kita akan menunggu sampai besok pagi. Jika memang Nissa belum sadarkan diri. Terpaksa aku akan memberikan obat yang sedikit keras dan mungkin akan berpengaruh pada janinnya!"

__ADS_1


"Lakukan apapun, agar Nissa selamat!" ujar Radit, Zahra mengangguk mengiyakan.


"Sayang, maafkankan aku!" batin Radit pilu.


__ADS_2