Senja Pengganti

Senja Pengganti
Bukti cinta


__ADS_3

Kejadian dua hari yang lalu, tepatnya saat Radit berada di rooftop kantornya. Menyisakan sebuah sikap tega Radit pada Alvira. Kedatangan Alvira yang tiba-tiba dalam hidupnya dan Zain. Membuat Radit cemas akan kelangsungan hubungannya dengan Nissa. Cinta yang mulai bersemi, kebahagian akan hadirnya buah cintanya dengan Nissa. Menjadi alasan terbesar Radit tegas pada Alvira. Ancaman Alvira akan perebutan hak asuh Zain. Tidak semenakutkan peringatan Amira membawa Nissa pergi.


Semua orang mengenal Amira yang tak takut pada siapapun. Amira saudara yang siap melawan semua orang demi kebahagian Nissa. Radit masih mengingat kejadian malam itu. Peringatan Amira yang membuat Radit harus membuktikan cintanya pada Nissa. Sebuah bukti nyata, hanya ada Nissa dalam hidup Ahmad Dzaky Raditya.


Flash bac**k**


"Dua hari lagi, kita akan bertemu di persidangan. Aku akan merebut hak asuh atas Zain darimu!"


"Kamu kehilangan akal!"


"Aku akan mengambil Zain darimu, kecuali kamu bersedia meninggalkan Nissa selamanya!" ujar Alvira sinis.


"Tidak akan pernah!" sahut Radit dingin dan datar.


"Terserah padamu!" ujar Alvira, lalu berjalan melewati Radit begiitu saja.


"Radit tidak akan kehilangan Zain. Sebab Nissa yang akan pergi darinya!"


"Jangan ambil Nissa dariku, jangan jauhkan Nissa dariku. Aku mohon!" ujar Radit, Amira tak bergeming. Dia menatap tajam ke arah Radit dan Alvira. Dua orang yang akan menjadi musuhnya. Jika Nissa terluka atau menangis, karena mereka.


"Radit, kamu kehilangan akal. Nissa wanita murah tak berpendidikan. Kamu bukan hanya seorang CEO, tapi kamu laki-laki berpendidikan dan sukses. Jangan demi cinta wanita rendah itu kamu menghiba. Biarkan dia pergi, dia tak lebih dari wanita pengganggu!"


Plaakkk


"Amira, kamu menamparku!"

__ADS_1


"Iya aku menamparmu, kamu marah atau kamu ingin melaporkanku pada kakek. Silahkan lalukan, aku tidak pernah takut terusir dari keluarganya. Satu hal lagi Alvira, Nissa bukan wanita rendah. Dia keturunan sah keluarga Kusuma. Sebaliknya kamu yang tak lebih dari wanita rendah. Demi nama besar dan kesuksesan keluarga Kusuma. Kamu meninggalkan Zain yang tak bersslah. Jadi berpikirlah sebelum bertindak!" ujar Amira lantang dan tegas.


"Kamu keterlaluan Amira, aku menghargaimu sebagai sepupu. Sebaliknya, kamu terus menghinaku!"


"Sadarlah Alvira, kamu bukan sepupuku. Nissa kakak sepupuku, dia sedarah denganku bukan kamu. Seharusnya kamu sadar diri. Jika memang ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan pernah menyentuh Nissa atau aku akan menghancurkanmu!"


"Kakek tidak akan tinggal diam!" ujar Alvira, Amira tertawa dengan sangat keras. Rayhan melongo, tawa Amira terdengar begitu keras dan aneh. Sifat yang terlalu kasar, bagi wanita pendiam dan anggun seperti Amira.


Alvira terperangah, mendengarkan tawa Amira. Tawa yang seolah menertawakan kebodohannya. Ancaman Alvira terdengar seperti lelucon bagi Amira. Tak terlihat sedikitpun rasa takut di wajah Amira. Bahkan Amira sudah sangat siap meninggalkan keluarga Kusuma. Jika memang diperlukan. Amira tidak akan setengah-setengah membela Nissa. Sejak kecil, Nissa kakak bagi Amira dan akan selamanya menjadi kakak. Tidak akan tergantikan, apalagi digantikan Alvira. Amira tidak akan pernah mengakui hubungan persaudaraan dengan Alvira. Sampai sang kakek mengakui Nissa sebagai cucunya.


"Silahkan bicara, katakan pada kakek semua yang terjadi. Kamu akan mengetahui, siapa yang akan tetap menjadi cucunya?" ujar Amira, sembari memberikan ponselnya pada Alvira.


Alvira terdiam, ketika dia melihat layar ponsel Amira. Tanpa banyak bicara, Amira menghubungi kakeknya. Amira memenuhi keinginan Alvira, menepati janjinya dengan menunjukkan kenyataan yang sangat pahit. Alvira langsung mematikan panggilan di ponsel Amira. Alvira mungkin tangguh dan mandiri, tapi di depan Irfan dia tak lebih dari anak kecil. Sejak menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Tak sekalipun Alvira menentang perkataan Irfan. Alvira tidak ingin terjadi perselisihan dengan Amira.


"Alvira Putri Oktaviani Kusuma, statusmu hanya di atas kertas. Sebaliknya, darahku dan Nissa menjadi bukti status kami sebagai keluarga Kusuma. Aku tidak pernah bermain-main dengan perkataanku. Jadi jangan pernah menguji kesabaranku!" ujar Amira, tepat di depan Alvira. Tubuh Alvira terhuyung, dia mundur beberapa langkah. Ketika Amira berjalan menghampirinya.


"Aku datang, karena hatiku yang tak percaya padanya!" ujar Amira, sembari menunjuk ke arah Radit. Terdengar helaan napas Radit, kecemasan yang kini menguasai benaknya.


"Amira, ini bukan salah Radit. Kamu melihat sendiri, ada aku disini. Jadi tidak mungkin Radit bersalah, Alvira yang datang tanpa diundang!" sahut Rayhan, Alvira terlihat kesal mendengar pembelaan Rayhan.


"Aku harap itu benar, jika tidak foto-foto ini akan aku tunjukkan pada Nissa. Satu foto bisa menjadi alasan kepergian Nissa!" ancam Amira, Radit menggelengkan kepalanya pelan. Rayhan menggenggam tangan Amira, genggaman yang terjadi begitu saja.


"Percayalah sekali ini saja. Jika bukan karena Radit, setidaknya demi aku!" ujar Rayhan hangat, dua bola mata Amira membulat sempurna. Dia tak menyangka, Rayhan akan melakukan sesuatu yang diluar batas.


"Baiklah, buktikan padaku!" sahut Amira santai, lalu melepaskan tangan Rayhan.

__ADS_1


Flash back off


"Radit, Andrew sudah datang!" ujar Rayhan, sesaat setelah mengetuk pintu. Radit mendongak, lalu mengedipkan kedua matanya. Radit mempersilahkan Rayhan dan Andrew masuk ke dalam ruangannya.


"Apa kabar Andrew? Sahabatku, sang pengacara hebat!" sapa Radit, sembari mengulurkan tangan ke arah Andrew. Rayhan tersenyum, melihat pertemuan dua sahabat dalam bidang yang berbeda.


"Aku baik tuan Raditya!" sahut Andrew dengan tawa, Radit memeluk Andrew. Ketiganya duduk di sofa panjang di ruangan Radit. Sudah lama mereka tidak bertemu, akhirnya mereka bertemu di waktu tidak tepat. Andrew datang dengan alasan yang tidak biasa.


"Haruskah semua ini!" ujar Andrew, setelah membaca berkas yang diberikan Rayhan. Radit mengangguk mengiyakan, anggukan kepala yang terlihat tegas.


"Kalian pasangan paling serasi, cinta diantara kalian begitu dalam. Kenapa sekarang kalian berselisih hanya demi hak asuh? Kalian bisa bicarakan baik-baik!"


"Seandainya bisa, aku tidak akan meminta bantuanmu. Alvira kembali, setelah aku menemukan tujuan hidupku. Zain putraku, dia hidupku. Namun Nissa napas dan kebahagianku. Aku tidak sanggup kehilangan dirinya!" ujar Radit lirih, Andrew mengangguk mengerti.


"Radit, perselisihan ini akan berat. Namun aku akan berusaha sebaik mungkin!" sahut Andrew, menyakinkan Radit. Rayhan menepuk pelan pundak Andrew, tepukan rasa terima kasih.


"Aku percaya padamu!" ujar Radit, Andrew mengangguk pelan.


"Tapi aku keberatan!"


"Sayang!" sahut Radit terkejut, Andrew terpaku menatap Nissa.


"Perselisihanmu dengan Alvira hanya akan menjadi beban bagi Zain. Dia masih terlalu kecil, tak sepantasnya dia melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Jangan jadikan putraku piala yang kalian perebutkan. Jika memang aku harus pergi, aku akan pergi. Namun jangan pernah sakiti putraku, dia berhak bahagia!" tutur Nissa lantang penuh emosi, suara Nissa terdengar parau. Dua matanya memerah, menahan air mata yang siap menetes.


"Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku!" bisik Radit, sembari memeluk Nissa dengan sangat erat. Radit mencoba menenangkan Nissa, Andrew terdiam menatap sosok bernama Nissa.

__ADS_1


"Andrew, inilah alasanku takut kehilangan Nissa. Dia menganggap Zain putranya dan siap mengorbankan segalanya. Demi kebahagian Zain putra yang ditinggalkan Alvira begitu saja!"


"Kamu benar Radit, cintanya memang tulus!" gumam Andrew.


__ADS_2