Senja Pengganti

Senja Pengganti
Kamu Istriku


__ADS_3

"Selamat malam, terima kasih sudah datang!" ujar Ardi, seraya mengulurkan tangan pada Radit dan Sanjaya. Mereka saling bersalaman, Radit terlihat lebih sopan. Tak tampak keangkuhan Radit di depan Ardi. Rekan bisnis yang kini menjadi mertuanya. Radit mulai menghargai Ardi, sebab dia ayah kandung Nissa.


"Maaf kami terlambat, Zain memaksa iku. Namun aku melarangnya, takut mengganggu Nissa!"


"Kenapa dilarang? Nissa pasti bisa menjaganya. Oh iya, dimana Nissa? Kenapa aku tidak melihatnya datang bersama kalian?" ujar Ardi lirih, Radit dan Sanjaya saling menatap. Jelas terlihat raut wajah heran dan bingung. Ardi merasa ada sesuatu yang aneh.


"Pasti dia menolak datang, dia masih marah padaku!" ujar Ardi lirih, membuyarkan diam Radit dan sunyi malam. Ardi nampak lesu, menyadari ketidakhadiran Nissa. Raut wajah bersalah seorang ayah yang menikahkan putrinya demi hutang.


"Papa, bukankah Nissa sudah datang lebih dulu. Tadi sore, Nissa pergi sendiri kemari!" ujar Radit bingung, Ardi diam tak bersuara. Radit mulai cemas memikirkan Nissa. Firasatnya terbukti benar adanya.


Sejak awal Radit merasa aneh dengan sikap Nissa. Kejadian malam itu, membungkam mulut Nissa begitu rapat. Tak lagi ada suara yang terdengar oleh telinga Radit. Dingin, hanya itu yang tergambar dari sikap diam Nissa. Dua hari berlalu tanpa tegur sapa. Mereka tinggal di bawah satu atap, tapi seolah berada di dunia yang berbeda. Mereka tidur di satu kamar, bahkan satu ranjang. Namun seakan mereka tidur terpisah oleh jurang. Diam, hanya sunyi yang tercipta. Jangankan sekadar satu kata, bahkan Nissa seolah menahan suara napasnya. Kamar Radit bak ruangan kosong tak berpenghuni. Tubuh Nissa bak jiwa kosong yang berjalan.


Namun di hari ketiga, Nissa bersikap berbeda. Hangat, tawa dan riang Nissa tersuguh begitu saja. Nissa menyapa Radit dengan hangat, mencium punggung tangan Radit penuh kelembutan. Suara Nissa terdengar bak angin pagi yang dingin menyejukkan. Sejenak Radit merasa takut, kehangatan dan sikap riang Nissa sebuah pertanda akan perpisahan. Namun firasat itu lenyap, tatkala Nissa menyakinkan Radit dengan kasih sayangnya. Nissa menghapus ketakutan yang menguasai hati dan benak Radit. Entah kini demi Zain atau dirinya sendiri? Radit mulai takut kehilangan Nissa dan mungkin takkan mampu jauh dari bayangan Nissa.


Lagi dan lagi ketakutan itu hadir, saat Radit menyadari ketidakhadiran Nissa di pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Fakta mengejutkan yang membuat Radit khawatir akan keberadaan Nissa. Bayangan Nissa yang terlihat menjauh, membuat Radit takut akan tangis sang putra. Radit terdiam, pikirannya kalut, tulangnya lemah memikirkan keberadaan Nissa. Keramaian pesta terasa begitu sunyi. Gelap malam, semakin menambah ketakutan Radit akan kepergian Nissa.


"Dimana dia sekarang?" ujar Radit lirih, Sanjaya menepuk pelan pundak Radit. Sanjaya menyadari arti Nissa dalam hidup Radit. Kecemasan Radit jelas adanya. Ketakutan Radit dan cinta pada Nissa itu nyata.


"Nissa tidak datang kemari, jika Nissa memang ada di sini. Papa tidak akan bertanya padamu!" ujar Ardi cemas, Radit mengusap wajahnya kasar. Dia bingung mencari keberadaan Nissa. Tak satupun yang diketahui Radit tentang Nissa. Tiga bulan tinggal di bawah atap yang sama. Tak lantas membuat Radit mengenal, siapa Nissa sesungguhnya?


"Dia tidak mungkin datang kemari. Anak itu tak lebih dari anak haram. Dia bukan bagian dari keluarga ini. Jadi tidak pantas berada diantara kita!" sahut Syakira sinis dan lantang, Radit dan Ardi langsung menoleh. Senyum sinia Syakira, membakar amarah Radit. Sebuah amarah yang mampu membakar rumah megah keluarga Nissa.

__ADS_1


"Diam kamu Syakira, dia adikmu!" ujar Ardi lantang, Syakira tersenyum sinis. Radit menatap tajam Syakira, tatapan elang yang siap memburu mangsanya.


"Dia bukan adikku, dia hanya benalu!" teriak Syakira, Ardi menggelengkan kepalanya pelan. Dia malu dengan sikap Syakira, Radit menoleh ke arah Ardi. Sanjaya mencoba menenangkan amarah Radit. Sikap kasar Syakira, bak bensin di atas api kecemasan Radit. Sanjaya takut Radit melakukan hal di luar nalar. Radit penyayang, tapi marahnya takkan mampu disangka.


"Papa, jelaskan padaku!" ujar Radit lirih, Syakira mendekat ke arah Radit. Dengan angkuhnya, Syakira berdiri tepat di samping Radit. Syakira bergelayut manja di pundak Radit. Syakira merasa berhak atas diri Radit.


"Seharusnya aku yang menikah denganmu, sebab aku putri kandung papa. Nissa hanya anak haram tanpa status!" ujar Syakira mesra dan hangat, Radit menepis tangan Syakira dan langsung mendorong tubuh Syakira menjauh. Amarah Radit semakin besar, mendengar hinaan yang terus diberikan pada Nissa.


"Papa!"


"Radit, Nissa putri keduaku dengan istri keduaku!"


"Radit, maafkan papa yang sengaja menutupi semua ini. Bagi papa, Nissa bukan anak tanpa status jelas. Selamanya dia putriku, darah dagingku. Buah cintaku dengan wanita yang paling aku cintai!" ujar Ardi, Syakira mendengus kesal. Pengakuan Ardi pada Nissa, membuatnya tersisih dan teracuhkan.


"Aku tidak peduli tentang itu, sekarang katakan dimana Nissa? Jika dia tidak ada di rumah dan juga tidak di sini. Dimana Nissa sekarang?" teriak Radit dengan penuh emosi, Sanjaya menahan tubuh Radit yang mulai hilang kendali. Radit gusar memikirkan keberadaan Nissa.


"Dimana Nissa?" ujar Radit kesal, sembari menangkup kedua lengan Ardi. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Ardi.


"Dimana kamu? Katakan padaku, dimana aku harus mencarimu?" batin Radit kalut, dengan kedua tangannya Radit menutupi wajahnya. Radit berada di titik paling lemah dan bingungnya. Radit merasa tak mampu menjawab teka-teki keberadaan Nissa.


"Om Ardi, selamat!" ujar Amira hangat, lalu mencium punggung tangan Ardi. Sontak Radit menoleh, Radit mengunci sosok Amira. Sahabat yang mungkin mengetahui keberadaan Nissa.

__ADS_1


"Amira sayang, dimana Nissa? Dia bersamamu!" ujar Ardi, Amira menggeleng lemah. Menghapus secercah harapan akan keberadaan Nissa.


"Dia tidak bersamaku, tapi tadi sore dia menitipkan ini padaku. Nissa mengirimkan ucapan selamat dan doa terbaik untuk om dan tante!" ujar Amira tenang, seraya menyerahkan bingkisan dari Nissa.


"Dia marah pada om!"


"Nissa tidak pernah menyalahkan om Ardi. Nissa hanya butuh waktu, itu saja yang dikatakan Nissa padaku!" ujar Amira, sesaat setelah menggelengkan kepalanya. Radit kacau memikirkan Nissa yang menghilang bak ditelan bumi.


"Papa, aku akan mencari Nissa!" ujar Radit, lalu berlari menuju pintu keluar rumah besar Ardi.


"Tuan Radit yang terhormat, carilah Nissa di tempat senja terbenam. Nissa ada di sana, menanti sang fajar menyapanya. Menatap langit yang membawa senja pergi dalam kegelapan!" teriak Amira, Radit terpaku mendengar perkataan Amira.


"Nissa sayang, dimana kamu? Apapun kebenaranmu, aku akan menerima semua itu. Kamu istriku dan selamanya istriku. Jangan pernah berpikir atau menjauh dari istriku. Aku mohon Nissa, kembalilah. Jangan pernah bicara padaku, jika itu bisa membuatmu nyaman. Jangan pernah menatapku, seandainya itu bisa membuatmu bahagia. Keputusanmu akan aku terima, asalkan kamu kembali dalam hidupku dan Zain!" batin Radit galau.


"Amira, dimana Nissa?" ujar Ardi, berharap Amira bisa mengatakan keberadaan Nissa.


"Dia akan menemukan Nissa dengan pelita cahaya cintanya!" ujar Amira penuh keyakinan.


"Tapi!" sahut Ardi bingung, Amira tersenyum simpul.


"Selama ini Nissa menutup hatinya yang gelap. Hanya pelita cinta Radit yang bisa membawa senyum di wajah sahabatku!" ujar Amira penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2