Senja Pengganti

Senja Pengganti
Pulang dari Rumah Sakit


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, seminggu berlalu tanpa arti. Hubungan Radit dan Nissa semakin dingin. Hambar tak berwarna, diam mewarnai hari-hari pernikahan Radit dan Nissa. Sepi menyelimuti hubungan keduanya. Tak ada pelukan, tak ada hangat, bahkan tak lagi terdengar suara penuh cinta. Semua telah berbeda, meski hati saling memiliki. Radit dan Nissa saling diam, menghargai keputusan masing-masing. Berpikir waktu akan memberikan keputusan terbaiknya.


Selama seminggu, Zain dirawat di rumah sakit. Hampir setiap hari, Radit berada di rumah sakit. Radit pulang hanya untuk berganti pakaian. Setiap kali Radit pulang, Nissa tak pernah ada di rumah. Entah kebetulan atau memang disengaja? Tak pernah bertemu, mengguratkan penilaian yang berbeda. Baik Radit dan Nissa, tak ingin menjelaskan. Keduanya memilih diam, sebagai cara terbaik. Pertemuan terakhir mereka, meninggalkan luka dan salah paham. Sebab itu, menjauh seolah benar. Setidaknya mereka berdua memiliki waktu menenangkan diri satu sama lain. Mencari arti kebersamaan mereka selama ini.


Rumah Sakit


Setelah seminggu dirawat, hari ini Zain akan pulang. Alvira memilih mengalah, dia tidak ingin Zain terluka lagi. Alvira membiarkan Zain tinggal bersama Radit. Namun dalam seminggu, Alvira meminta waktu bersama Zain. Alvira ingin menjadi ibu yang baik bagi putra yang tak pernah mengenalnya. Alvira tidak ingin kehilangan waktu lagi, dia ingin merasakan kebahagian sebagai seorang ibu. Meski tanpa sadar, kehadirannya membuat ibu lain tersakiti.


"Alvira, aku akan menyelesaikan administrasi kepulangan Zain!"


"Iya!" sahut Alvira datar, Radit keluar sembari membawa berkas Zain. Ada perasaan bahagia mendengar Zain pulang. Namun ada sisi di hatinya yang kosong. Radit bingung harus bersikap pada Nissa.


Seminggu bukan waktu yang sebentar. Puluhan jam berlalu, tanpa Nissa di sampingnya. Ratusan menit dilewatinya, tanpa melihat wajah Nissa. Ribuan detik hilang, tanpa mendengar suara Nissa. Radit kosong tanpa Nissa, fakta yang jelas terlihat dari gestur tubuh Radit. Hampa tanpa ada gairah dalam hidupnya. Radit mulai menyadari, betapa dia merindukan Nissa.


Setelah menunggu hampir satu jam, Zain sudah siap pulang ke rumah. Radit mendorong kursi roda Zain, sedangkan Alvira mengikuti di samping Radit. Ifa berjalan tak jauh di belakang Radit dan Alvira. Ifa membawa beberapa perlengkapan Zain. Nampak raut wajah Zain bahagia, akhirnya dia bisa pulang ke rumah. Zain merindukan satu sosok yang tak pernah datang menjenguknya. Kerinduan bocah lim tahun yang tak pernah dipahami orang dewasa.


"Mama!" teriak Zain, Alvira menoleh ke arah Zain. Alvira merasa Zain tengah memanggilnya. Namun dugaan Alvira salah, bukan dirinya yang sedang dipanggil Zain.

__ADS_1


Radit menatap ke arah telunjuk Zain. Nampak sosok yang sangat dirindukannya. Jantung Radit berdetak kencang, tubuhnya lemah tak bertenaga. Ingin rasanya Radit berlari menghampiri Nissa. Demi menghapus rasa rindu yang menggerogotinya. Radit tak mampu menahan hatinya, tapi langkahnya terlalu lemah. Seakan Nissa begitu jauh, sampai Radit tak mampu menjangkaunya.


"Mama!" teriak Zain, lalu turun dari kursi roda. Zain berlari ke arah Nissa, dia tak lagi mampu menahan rindu dihatinya. Zain bahagia melihat Nissa ada di rumah sakit. Berpikir Nissa datang menjemputnya. Zain begitu menyayangi Nissa, baginya hanya Nissa ibunya.


"Zain!" ujar Nissa terkejut, saat ada tangan yang memeluk kakinya. Nissa langsung duduk berjongkok di depan Zain. Nissa mengusap wajah Zain, lalu mencium kening Zain penuh cinta.


"Mama!" ujar Zain lirih, dengan tangis yang tertahan. Nissa menarik tubuh Zain dalam dekapannya. Nissa sangat merindukan Zain. Meski kedatangannya ke rumah sakit, bukan untuk bertemu dengan Zain.


Nissa mendongak, dia melihat Radit berdiri tepat di samping Alvira. Pasangan bahagia, sebelum dirinya ada dalam kehidupan Radit. Nissa menunduk, menutupi rasa sakitnya. Kehangatan yang tersirat antara Radit dan Alvira. Semakin menambah luka di hati Nissa. Namun kecewanya tidaklah penting, daripada sembuh dan bahagia Zain.


"Maaf, mama tidak bisa menjenguk Zain. Selama beberapa hari, mama ada urusan di luarkota!" ujar Nissa memberi penjelasan. Zain menangis dalam pelukan Nissa. Nampak rasa rindu yang terlampau besar, sampai mambuat Zain tersakiti. Pelukan erat Zain, menampakkan rindu yang tak dapat dikatakan. Tangis Zain terdengar memilukan, keegoisan orang dewasa membuat Zain tersakiti.


"Nissa, hasil laboratoriummu dan obat!" teriak Zahra, aku menoleh ke arah Zahra. Dokter cantik spesialis kandungan. Sahabat lama saat SMU, kini menjadi dokter pribadi Nissa.


"Terima kasih!" sahut Nissa, sembari memasukkan berkas dan obat yang diberikan Zahra.


"Hasil lab dan obat, ada apa dengan Nissa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia terburu-buru memasukkannya? Seakan dia takut aku melihatnya!" batin Radit cemas, sembari menatap lurus ke arah Nissa.

__ADS_1


"Tampannya, dia siapa Nissa?" ujar Zahra, sembari mengusap kepala Zain pelan. Zahra mengedipkan matanya, isyarat Nissa harus segera menurunkan Zain. Tubuh Nissa tak sekuat dulu, ada lemah yang harus dijaganya.


"Dia putraku!" sahut Alvira, lalu mengambil Zain dari gendongan Nissa. Alvira memaksa Zain turun, Alvira tidak peduli akan tangis Zain. Zahra mengangguk seraya tersenyum. Memahami sikap Alvira yang tidak suka akan keramahannya.


"Bukan salahnya datang kembali mengisi hatimu, tapi salahku yang tak bisa menjaga keyakinan kita. Bukan salahmu merasa nyaman bersamanya, tapi salahku yang tak pernah memahami isi hatimu. Aku bukan wanita hebat, yang rela membagi cinta. Aku hanya wanita biasa, yang selalu mengharapkan kebahagiaan dan cinta!" batin Nissa, saat melihat Radit dan Alvira mencoba menenangkan Zain bersama-sama.


"Zahra, aku harus kembali ke sekolah!" pamit Nissa pada Zahra, keduanya saling berpelukan. Zahra mengedipkan kedua matanya, isyarat dia mengingatkan sesuatu pada Nissa.


"Zain, mama pergi bekerja. Zain, pulang dengan papa dan mama Alvira!"


"Mama!" ujar Zain, sembari menahan tangan Nissa. Sontak Nissa menoleh, Nissa mencium hangat punggung tangan Zain.


"Mama akan bermain dengan Zain di rumah!" ujar Nissa, sesaat setelah mencium punggung tangan Zain.


"Aku harus kembali ke sekolah!" pamit Nissa, lalu menarik tangan Radit dan mencium punggung tangan Radit. Zahra tersentak, ketika dia melihat sikap Nissa pada Radit. Tak berapa lama Zahra mengangguk. Mengerti hubungan antara Radit dan Nissa.


"Aku akan mengantarmu!" ujar Radit, sembari menahan tangan Nissa.

__ADS_1


"Tidak perlu, mereka membutuhkanmu!" sahut Nissa sopan, sembari menepis tangan Radit. Nissa berjalan terhuyung, sampai Zahra menopang tubuhnya. Radit hendak menghampiri Nissa, tapi terhenti saat Nissa merentangkan tangannya.


"Aku sakit melihat diammu. Aku ingin melihat amarahmu, agar aku yakin kamu mengingatku. Tubuhmu yang hampir jatuh, seolah menamparku. Membuktikan dalamnya aku melukai hatimu. Nissa, maafkan aku yang mengabaikan lukamu. Namun percayalah, hanya ada namamu dihatiku!" batin Radit, seraya menatap punggung Nissa yang menjauh pergi.


__ADS_2