
Amira pergi dari rumahnya, tanpa peduli lagi pada teriakkan Aryan. Amira tak lagi menggubris tangis sang mama. Amira terus berlari, menjauh dari kekejaman keluarganya. Seandainya Amira tak pernah berjanji pada Nissa. Sudah lama Amira pergi dari rumahnya. Amira merasa sesak berada di dalam rumah megahnya. Tak ada kasih sayang, hanya ada rasa benci dan dendam. Keegoisan tuan besar Kusuma yang membuat semuanya hancur. Sejenak Amira pernah berharap, dia bukan keturunan keluarga Kusuma yang bengis. Amira bahkan tak ingin mengenal mereka. Tidak seperti Nissa yang terus menyayangi keljarga Kusuma. Meski tak satupun diantara keluarga Kusuma yang menghargai, setidaknya mengingat Nissa.
Ketika semua anak berharap lahir di dalam keluarga besar Kusuma. Mungkin hanya Amira dan Nissa yang berpikir lain. Menjadi bagian keluarga Kusuma bukan sesuatu yang membanggakan bagi keduanya. Bahkan mungkin beban yang menyakitkan dan menyesakkan. Satu cucu berharap kasih sayang, tapi justru terluka dengan harapannya. Cucu yang lain mendapatkan seluruh kasih sayang. Malah justru kecewa dengan ketidakadilan. Nissa dan Amira dua jiwa, tapi hati mereka satu dan akan selalu menyatu. Alasan keberanian Amira menentang kekuasaan Irfan Putra Kusuma. Tatkala sisi hati lainnya terluka dan tercampakkan. Amira bukan pemberani, tapi demi menjaga Nissa. Dia sanggup bertarung melawan dan kehilangan segalanya, jika memang diperlukan.
Amira pergi tanpa arah, hatinya benar-benar hancur mendengar tawa dan canda di rumahnya. Namun tak satupun yang menyadari luka Nissa. Alvira tidak salah menjadi bagian keluarga Kusuma. Namun alasan dia berada di dalam keluarga Kusuma. Membuat Amira membenci Alvira dan tak ingin mengenal atau bahkan duduk satu meja dengan Alvira. Kekecewaan Amira semakin bertambah, saat melihat keluarga besar Radit datang dengan formasi lengkap tanpa Nissa. Kekecewaan berlipat yang membuat Amira marah dan tak peduli lagi rasa sakit tamparan Aryan. Amira hanya ingin menjauh dan pergi, sejauh mungkin dari rumah bahkan bayangan keluarga Kusuma.
Amira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa Amira merasa kekejaman keluarganya? Menakutkan dan seakan tengah mengejarnya. Amira mengemudikan tanpa arah, meski dia sempat menghubungi Nissa. Amira melampiaskan kekecewaannya pada Nissa. Sikap diam Nissa, salah satu alasan semua keluarga membencinya dan selalu bersikap seenaknya sendiri. Amira merasakan sakit yang teramat, ketika Nissa terus dan terus tersisih. Amira menghentikan mobilnya tepat di tengah kota. Sebuah taman yang dikelilingi bangunan penting. Masjid raya, gedung pemerintahan, museum kota, polres, koramil dan banyak lagi. Sebuah taman yang selalu ramai setiap harinya. Namun pagi ini terlihat lengang dan sepi. Taman yang begitu tenang, kini menjadi tujuannya.
Duuuuuuaaaarrrr
Amira menengadah, menatap langit yang gelap. Langit terlihat mendung, bersiap meneteskan air mata. Alasan yang membuat semua orang pergi dari taman. Hanya Amira yang merasa nyaman dengan gelap langit dan sepinya taman. Amira merasakan ketenangan yang luarbiasa. Amira berjalan masuk ke dalam taman. Suara sepatunya terdengar berirama di atas jalan setapak taman. Amira sangat terpukul, sampai-sampai Amira berjalan dengan gontai. Suara gemuruh petir, tak sedikitpun mengusik langkahnya. Amira tetap memilih berada di dalam taman. Mencari tenang dan menyimpan air matanya di bawah hujan. Entah kenapa Amira begitu terluka? Setiap kali ada acara keluarga dan Nissa tidak menjadi bagian dari kebahagian itu.
Duaaaaarrrr
Suara gemuruh semakin keras dan kilat menyambar bergantian. Amira duduk di atas rumput, bersandar pada pohon pinus. Amira tertunduk lesu, mengingat keras dan sakitnya tamparan Aryan. Kekecewaan yang semakin membuat Amira hancur. Amira mendongak, tatkala tangannya mulai merasakan sentuhan rintik air hujan. Amira menatap langit dengan tatapan sayunya. Tetes demi tetes air hujan jatuh tepat di wajahnya. Amira merasakan dingin air hujan, tapi tidak sedingin hati keluarga Kusuma. Rintik mulai berganti menjadi air hujan yang deras. Langit menumpahkan air matanya, meneriakkan rasa sakitnya. Seperti Amira yang ingin meneriakkan rasa sakit dan kecewanya.
__ADS_1
"Kenapa mereka begitu kejam? Tertawa tanpa peduli air mata Nissa. Mengapa hati mereka begitu dingin? Sampai rindu Nissa tak terasa olehnya. Tak lagi ada hangat dalam keluarga Kusuma, yang tersisa hanya rasa benci. Seandainya aku bisa memilih, lebih baik aku lahir dalam keluarga lain. Sungguh, mereka keluarga berarti batu!" batin Amira, sembari menatap langit dan merasakan tetes demi tetes air hujan.
"Kenapa?" teriak Amira dengan lantang, seolah ingin melawan kerasnya suara hujan. Amira meneriakkan rasa kecewanya.
"Langit tidak akan bisa menjawabmu, tapi aku bisa menjawab pertanyaanmu!" sahut Rayhan, Amira menoleh ke arah Rayhan. Amira menyeka air matanya, wajahnya terlihat pucat dan bibirnya biru. Amira menatap nanar Rayhan yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kamu!"
"Iya aku, siapa lagi yang akan mencemaskanmu?" sahut Rayhan santai, lalu duduk tepat di samping Amira.
"Mencemaskanku!" ujar Amira tak mengerti, Rayhan mengangguk tanpa ragu. Amira terkekeh, seolah tengah menertawakan perkataan Rayhan.
"Bukankah kamu ada bersama mereka, tertawa bahagia tanpa peduli akan perasaan Nissa. Jadi sangat tidak masuk akal. Kamu datang karena mencemaskanku!" sahut Amira, sesaat setelah dia tertawa. Rayhan menatap nanar Amira, tawa Amira terasa aneh. Layaknya tawa yang menyimpan duka dan kepahitan.
"Aku ada hanya sebagai tamu!" ujar Rayhan, Amira menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Radit dan kamu, sebelas dua belas. Kalian datang sebagai tamu, tapi kalian lupa membawa Nissa. Demi investasi keluarga Kusuma. Kalian menjual harga diri Nissa. Kalian melupakan air mata sahabatku. Kalian datang sarapan bersama dan tertawa bahagia. Apalagi Radit, dia bisa bertemu dengan Alvira. Menjadi satu keluarga utuh dengan putranya. Harapan terbesar kakek tua itu!"
"Amira, maafkan aku. Kekuasaan keluargamu tidaklah mudah dikalahkan. Investasi keluargamu paling besar di perusahaan Radit. Maaf, jika kami memilih melukai Nissa!"
"Aku sudah menduganya!" ujar Amira sembari tersenyum.
"Amira!" ujar Rayhan lirih, Amira menggeleng lemah. Amira berdiri, dia menjauh dari Rayhan. Deras hujan semakin tak terbendung. Amira berjalan tertatih, di bawah derasnya hujan.
"Nissa, kenapa kamu harus menikah dengan Radit? Dia tak lebih dari laki-laki haus kesuksesaan. Bahkan dia sanggup mengacuhkanmu, demi investasi!" gumam Amira dengan bibir yang mulai membiru dan bergetar.
"Karena dia jodoh yang dipilihkan oleh-NYA untukku!" ujar Nissa, sembari memeluk Amira. Nissa mendekap erat Amira, sembari mendongak ke arah langit.
"Kamu mencintainya Nissa, kamu lemah karenanya!" sahut Amira, Nissa mengangguk pelan.
"Tapi dia mengacuhkan air mata dan kepedihanmu!" sahut Amira lirih, Nissa mengangguk pelan. Nissa menangkup wajah Amira, menyeka sisa air mata Amira dengan lembut.
__ADS_1
"Percayalah Amira, tawa dan kebahagian mereka tidak akan membuatku terluka lagi. Aku sudah terbiasa tanpa mereka. Lagipula, ada kamu yang selalu menghapus air mataku. Jadi tidak akan ada kepahitan yang berani mendekat ke arahku!" ujar Nissa, Amira mengangguk.