Senja Pengganti

Senja Pengganti
Cemburu yang menyakitkan


__ADS_3

Ketuk palu menggema di ruang sidang. Keputusan besar telah diambil, sebuah keputusan yang dianggap benar oleh hakim. Kebenaran yang berdasarkan bukti semata, bukan suara hati. Kebenaran yang mengatasnamakan keadilan, meski terkadang keadilan sebatas kata. Keputusan yang harus diterima, suka atau tidak suka. Tak ada yang bisa menolak hasil persidangan.


Seminggu berlalu, setelah kemenangan Alvira atas Zain. Pengadilan memberikan hak asuh Zain pada Alvira. Pertimbangan usia Zain yang masih sangat kecil. Meski hak asuh ada di tangan Alvira. Ada satu syarat yang harus dipenuhi Alvira. Setidaknya selama tiga bulan ke depan. Alvira harus membuktikan pada pengadilan. Jika Zain bahagia dan baik-baik saja bersamanya. Selama tiga bulan, dinas sosial akan mengawasi perkembangan Zain. Seandainya ada kelalaian Alvira, maka hak asuh Zain akan pindah ke tangan Radit.


Keputusan final yang membuat Nissa semakin merasa bersalah. Tanpa disengaja, Nissa alasan gugatan Alvira. Seandainya waktu bisa kembali, Nissa akan dengan senang hati melepaskan Radit. Namun kini di rahimnya tumbuh buah cintanya dengan Radit. Putra yang memiliki hak sama dengan Zain. Rasa bersalah Nissa, seolah benar saat melihat sikap Radit yang berubah menjadi pendiam. Radit lebih sering menyendiri di ruang kerjanya. Radit tak lagi sehangat dulu pada Nissa.


Seminggu berlalu dengan sepi yang mulai menyesakkan. Radit memilih sendiri dalam gelap ruang kerjanya. Mengacuhkan kasih sayang Nissa, larut dalam rindu pada putranya. Zain alasan senyum Radit yang menghilang. Radit terus larut dalam dukanya. Seperti malam ini, Radit memilih tinggal di ruang kerjanya. Saat makan malam, Radit tidak turun. Bahkan Radit tak peduli lagi, Nissa makan malam atau tidak. Dunia Radit seakan terhenti tanpa Zain putranya.


Malam semakin larut, tak ada tanda Radit kembali ke kamarnya. Tepat pukul 00.00 WIB, tak terasa suara pertama ayam terdengar menyambut pagi. Nissa memberanikan diri keluar dari kamarnya. Ruang kerja Radit, berada tepat di sebelah kamarnya. Nissa berjalan perlahan menuju ruang kerja Radit. Lampu ruang kerja masih menyala, terlihat dari sinar lampu yang keluar dari celah pintu. Nissa memegang ganggang pintu, perlahan Nissa membuka pintu.


Ruangan terlihat terang menyala, menandakan Radit masih terjaga. Nissa membuka perlahan pintu, langkahnya benar-benar pelan. Tak ingin Nissa mengganggu Radit. Nissa menoleh ke kanan dan kiri, mencari bayangan Radit. Nissa masuk semakin dalam, ketika dia menyadari Radit tak terlihat pandangannya. Nissa masuk dengan langkah pelan. Nissa tertegun, ketika dua bola matanya melihat tubuh yang tertidur di sudut ruangan.

__ADS_1


Dua bola mata Nissa melihat Radit tertidur dalam posisi duduk. Nissa berjalan perlahan menghampiri Radit. Berhari-hari Radit tidak bisa tidur, gelisah menahan kerinduannya pada Zain. Nissa menatap nanar tubuh Radit yang berantakan. Dengkuran halus Radit, bak ucapan rindu akan sosok Zain. Hidup Radit seolah berakhir bersama kepergian Zain. Nissa merasakan dadanya sesak. Nissa tak sanggup melihat Radit yang tersiksa. Perlahan Nissa menyeka air matanya. Nissa merasa tak berdaya, melihat kepiluan Radit.


Braaakkk


Sebuah bingkai foto terlepas dari tangan Radit. Sebuah foto yang mungkin tak pernah dibayangkan Nissa. Dengan hati gundah, Nissa melihat foto itu. Air mata Nissa menetes, hatinya terasa ngilu. Nissa menepuk pelan dadanya, berharap hatinya tak terluka. Dadanya terasa semakin sesak, melihat kegalauan hati Radit suaminya. Tulang Nissa terasa remuk, menatap Radit yang hancur menahan kerinduan.


"Sehancur inikah hatimu, sampai kamu bersembunyi disudut ruangan ini. Serindu itukah hatimu, sampai kamu menangis sembari memeluk foto mereka. Aku mengerti akan kerinduanmu, sebaliknya aku tak pernah mengerti akan ketegasanmu. Kini nyata di depan mataku, aku melihat besar cintamu padanya. Nama yang sejak awal ada di dalam hati. Sosok yang mengajarkanmu cinta. Pribadi yang memberimu kebahagian. Radit, fajarku yang hangat. Aku tak pernah sanggup melihat dinginmu. Dulu, ketika hangatmu menyentuh tubuhku. Aku selalu mengabaikannya, bahkan aku menolaknya. Kini, ketika hangatmu menjauh sesaat dari hidupku. Tubuhku terasa dingin dan membeku. Radit, haruskah aku mengalah. Agar Raditya kembali hangat bersinar. Sang fajar yang mengawali hari. Sedangkan diriku senja di ujung hari. Kini, aku menyadari arti cinta sesungguhnya. Kamu mengajarkanku arti pengorbanan cinta. Terima kasih, mengizinkanku hadir dalam hidupmu!" batin Nissa, sembari mengusap bingkai foto yang ada di tangannya.


Nissa keluar dari ruang kerja Radit, tapi bukan kembali ke kamar tidurnya. Nissa turun dari lantai dua, keluar dari rumah besar Radit. Nissa merasa asing di rumah yang sudah ditempatinya selama berbulan-bulan. Entah kenapa dadanya terasa sesak? Cemburu, mungkin itu yang kini dirasakan Nissa. Melihat orang yang paling dicintainya, merindukan cinta pertamanya. Nissa merasakan beratnya mencintai, keikhlasan hati seorang istri yang kini diuji. Kala sang pemilik hati, masih mengingat masa lalunya.


Nissa memilih berjalan di halaman, dia mencari ketenangan dalam gelap dan dingin malam. Nissa mendongak ke arah langit, bintang bertabur menambah indah malam. Angin terasa dingin menusuk tulang. Nissa mendekap erat tubuhnya yang kedinginan. Nissa mulai merasa tenang, melupakan sejenak rasa sakitnya. Suara hewan malam memecah keheningan malam. Menambah syahdu malam penuh luka.

__ADS_1


"Aku kalah Radit, aku kalah oleh cintamu. Aku menyerah Radit, aku menyerah dalam hangatmu. Aku sakit Radit, aku sakit melihat rindumu padanya. Cemburu, mungkin ini yang dinamakan cemburu. Aku hancur oleh cintamu, aku cemburu menyadari aku cinta keduamu. Radit, haruskah aku pergi? Agar kamu bahagia bersamanya. Mungkinkah aku sanggup bertahan? Ketika aku menyadari, aku yang kedua dan dia yang pertama. Senja pengganti, selamanya aku hanyalah pengganti!" batin Nissa pilu, sembari menatap langit malam. Dingin menusuk tulang, berharap dekapan hangat menyelimutinya.


Tin Tin Tin


Terdengar suara klakson mobil, gerbang tinggi rumah Radit terbuka. Nissa tersadar, dia merasa heran ada tamu di pagi buta. Belum sempat Nissa mendekat, pintu rumah Radit terbuka. Nissa langsung bersembunyi, saat melihat Radit berlari keluar. Seakan Radit mengetahui tamu yang datang. Nissa terus bersembunyi dalam gelap, melihat siapa yang datang bertamu?


"Maaf Radit, aku sudah berusaha menenangkannya. Namun dia tetap marah, dia terus mencarimu!" ujar Alvira, sembari menggendong Zain. Nampak Zain menangis dan meronta. Nissa hendak berlari, tapi langkahnya terhenti. Nissa takut mengganggu Radit dan Alvira.


"Berikan padaku!" ujar Radit, Alvira mengangguk pelan. Radit menggendong Zain, sedangkan Alvira mengusap pelan punggung Zain. Radit dan Alvira terlihat kompak menenangkan Zain.


"Menginaplah, kamu bisa tidur di kamar tamu!" ujar Radit, Alvira mengangguk pelan. Radit dan Alvira masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Aku hanya akan mengganggu mereka. Lebih baik aku diluar, besok pagi aku akan masuk. Aku tidak akan sanggup menahan cemburu ini. Rasanya sakit, sangat sakit!" batin Nissa, sembari menekan dadanya yang terasa sakit.


__ADS_2