
"Nissa, jemputanmu sudah datang!"
"Siapa?" ujar Nissa heran, lalu menoleh ke arah yang ditunjuk Amira.
"Dia ada di sini!" batin Nissa heran.
"Kenapa melamun? Dia sedang menunggumu!" ujar Amira membuyarkan lamunan Nissa. Suara helaan napas Nissa, terasa begitu berat. Amira merasa heran dengan sikap Nissa pada Radit. Terkadang baik, terkadang acuh lagi dingin.
"Amira, ikut denganku. Apapun yang dikatakannya, jangan biarkan aku pergi dengannya!"
"Kamu kehilangan akal, dia suamimu bukan musuhmu. Dia mengajakmu pergi, bukannya menculikmu. Atas dasar apa? Aku melarangnya pergi denganmu. Aku masih waras, aku melarangnya sama saja bunuh diri!" ujar Amira, sembari menggelengkan kepalanya. Amira bergidik ngeri membayangkan permintaan Nissa. Berurusan dengan Radit, tidak akan pernah dilakukannya.
"Amira, aku mohon!"
"Tidak akan, aku akan mengantarmu menemuinya. Tidak lebih atau kurang!" ujar Amira, Nissa menghela napas kedua kalinya. Radit terlihat menanti Nissa, dia menyandarkan tubuhnya pada mobil.
Nissa berjalan bersama Amira menghampiri Radit. Tepat di depan Radit, Nissa mencium punggung tangan Radit. Nissa menunduk, hatinya gelisah memikirkan alasan kedatangan Radit. Seutas senyum terlihat di wajah tampan Radit. Menampakkan pesona yang mampu meluluhkan hati kaum hawa. Tidak terkecuali Amira yang diam-diam mengagumi paras tampan Radit. Namun kekaguman Amira hanya sebatas pertemanan, tanpa ada rasa lebih.
"Kamu sudah siap!"
"Aku lelah, bisa kita pulang saja!" sahut Nissa lirih, Radit menarik tubuh Nissa. Memeluk tubuh Nissa dari belakang. Amira terperangah, melihat sikap Radit yang hangat dan agresif. Amira tidak menyangka, Radit akan memeluk Nissa di depannya.
"Kita tidak akan pulang, aku sudah memesan kamar di hotel. Kamu bisa istirahat sampai lelahmu hilang!" ujar Radit, Nissa menunduk terdiam. Jelas Radit sudah menyiapkan segalanya. Dia mengetahui, kalau Nissa akan menolak ajakannya dengan banyak alasan. Namun Radit juga tidak bodoh, dia sudah menyiapkan semua kemungkinan.
"Kamu sudah bersiap!" sindir Nissa, Radit mengangguk tanpa ragu.
"Aku tidak ingin kamu membatalkan acara malam ini. Aku tidak akan pergi tanpamu. Tidak ada pesta, tanpa kamu disisiku!" ujar Radit lirih, tepat di telinga Nissa. Seketika tubuh Nissa bergetar, darahnya mendidih. Pelukan hangat dan sentuhan lembut Radit, membuatnya luluh dalam cinta yang ditawarkan Radit padanya.
"Baiklah, aku ikut. Dengan satu syarat!"
"Katakan!" sahut Radit tegas, Nissa mendongak.
"Amira ikut dengan kita!" ujar Nissa, Radit mengangguk setuju. Amira menggelengkan kepalanya, Nissa mengajukan syarat tanpa bertanya pada Amira.
"Amira, ikutlah dengan kami. Nissa keras kepala, dia tidak akan pergi tanpamu. Aku mohon, ikutlah dengan kami!"
"Aku tidak punya gamis, kalian saja yang pergi!" ujar Amira menolak, Radit menangkupkan kedua tangannya. Amira menatap tak percaya, melihat Radit menghiba padanya. Nissa terlihat begitu santai. Dia memang harus pergi, tapi harus bersama Amira sahabatnya.
"Baiklah, aku ikut dengan kalian!"
"Sayang, Amira sudah setuju. Kita berangkat sekarang!" ujar Radit Nissa mengangguk pelan.
"Kamu menjebakku Nissa!" batin Amira kesal.
__ADS_1
Radit terlihat senang, akhirnya Nissa bersedia pergi bersamanya. Radit mengemudikan mobilnya menuju hotel tempat acara berlangsung. Rayhan sudah menyiapkan segalanya sesuai dengan permintaan Radit. Bahkan Amira juga mendapatkan fasilitas kamar, untuk istirahat sampai acara dimulai. Radit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Radit seolah ingin berlama-lama dengan Nissa. Waktu yang terlalu berharga bila dilewati begitu saja.
"Kamu tidak ke kantor!" ujar Nissa, Radit menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa? Ini masih jam kantor. Aku yakin, pekerjaanmu masih banyak. Seorang CEO hebat sepertimu, tidak akan melewatkan waktu sedetikpun!"
"Pekerjaan pentingku hanya bersamamu. Selama ini, aku sudah menghabiskan waktuku di kantor. Sekarang, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu!" sahut Radit tegas, Nissa diam dan memilih menoleh ke arah luar. Amira duduk manis di jok belakang. Nampak kedua telinganya tertutup headset. Amira memilih mendengarkan musik dan tidak mengganggu Nissa.
Nissa memilih diam, berdebat dengan Radit tidak akan ada habisnya. Radit seorang bos, berhak mengambil keputusan apapun. Termasuk tidak masuk ke kantor. Namun satu hal yang tak disukai Nissa, melepaskan tanggungjawab demi masalah pribadi. Nissa memilih diam, dia kecewa dengan keputusan Radit. Nissa merasa kesal, sebab dia alasan sikap arogant Radit.
"Kenapa diam? Aku melakukan kesalahan!" ujar Radit, Nissa diam menatap ke arah luar mobil.
"Nissa, kenapa kamu diam?" ujar Radit, lalu menarik tangan Nissa.
Nissa menoleh ke arah Radit, genggaman tangan Radit terasa begitu hangat. Perlahan tapi pasti, hati Nissa mulai luluh. Hangat sikap Radit, membuat Nissa lupa akan alasan penyatuan mereka. Nissa tak lagi menganggap dirinya sebagai wanita pelunas hutang. Dalam benak Nissa, kini hanya ada nama Radit. Cinta yang perlahan mengusik harinya. Nissa mulai lemah tanpa sandaran, Radit penopang yang diharapkan Nissa. Pengganti sang ayah yang kini tak lagi wajib melindunginya.
Cup
"Kamu marah, aku melakukan kesalahan!" ujar Radit cemas, sesaat setelah mencium tangan Nissa.
"Aku ingin melihat kantormu, kita pergi kesana!" ujar Nissa dingin dan tegas. Radit terbelalak, dia terkejut mendengar permintaan Nissa.
Radit merasa tak percaya, Nissa ingin datang ke kantornya. Sesuatu yang tak mungkin, selama Nissa masih menganggap hubungan mereka jauh. Sebenarnya Radit bahagia, Nissa ingin melihat kantor pusatnya. Namun disaat seperti ini, sungguh Radit tak menduganya. Sejenak Radit terdiam, mencoba mencerna perkataan Nissa. Radit masih tidak percaya, Nissa ingin pergi ke kantornya.
"Sayang, kamu sudah pernah kesana. Kenapa sekarang ingin kesana lagi?"
Radit langsung memutar mobilnya, keinginan Nissa ibarat perintah bagi Radit. Selama itu membuat Nissa bahagia, apapun akan dilakukan Radit. Jangankan pergi ke kantor, tinggal di kantor Radit bersedia. Selama Nissa ada menemaninya. Tidak ada hal yang mustahil baginya. Radit akan melakukan segala hal, demi menghapus ingatan akan rasa sakit dalam benak Nissa. Radit akan berjuang, demi kata maaf dari Nissa. Wanita yang kini merubah dunianya.
"Sayang, kita sudah sampai!" ujar Radit, Nissa mengangguk pelan. Nissa hendak membuka pintu, tapi Radit sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya. Amira tersadar beberapa menit setelah Nissa turun. Amira merasa mobil tak lagi bergerak. Ketika Amira menoleh, dia melihat Radit dan Nissa sudah berada di luar mobil.
"Nissa, kenapa malah ke kantor?" ujar Amira dari dalam mobil, Rayhan membuka pintu untuk Amira. Sikap hangat yang sempat membuat Amira luluh. Beberapa menit, kedua mata Amira tak berkedip. Pesona Rayhan tidak kalah dari Radit, ketampanan sebelas dua belas.
"Aku akan mengantarmu, jadi turunlah!" ujar Rayhan, Amira mengangguk tanpa menyahuti.
"Nissa!" ujar Amira lirih, saat menyadari Nissa tidak ikut bersamanya.
"Dia akan berada di kantor!"
"Kenapa?"
"Menemani Radit tentunya!" sahut Rayhan dingin, Amira mendengus kesal. Rayhan melirik ke arah Amira, tampak raut wajah Amira yang cemberut. Rayhan tersenyum, wajah Amira terlihat begitu manis.
"Kenapa tersenyum? Dasar laki-laki dingin tak berhati. Senyum melihat orang lain kesal!" sahut Amira kesal, Rayhan tak menggubris.
__ADS_1
Rayhan mengemudikan mobilnya menuju hotel tempat acara berlangsung. Keluarga besar Radit sudah berada disana. Acara besar yang dipersiapkan Radit, hadiah kejutan yang tak pernah Nissa bayangkan. Pesta yang khusus dipersiapkan Radit untuk Nissa. Wanita tercantik dalam hidupnya saat ini. Sebuah kejutan hanya untuk Nissa, istri dan ibu dari Zain putranya.
Di Kantor, pukul 15.00 WIB.
"Sayang, aku lelah!" ujar Radit, setelah beberapa jam bergulat dengan pekerjaannya.
"Kamu ingin minum, akan aku buatkan!" ujar Nissa lirih, Radit menggeleng.
"Baiklah kalau begitu!" sahut Nissa datar, Radit menepuk jidatnya pelan.
"Kenapa dia begitu tidak peka? Aku hanya ingin bersamanya, bukan malah bekerja bersamanya. Aku ingin memeluknya, tapi dia malah memintaku bekerja. Nissa sayang, aku merindukanmu bukan pekerjaan ini!" batin Radit kesal bercampur rasa sayang. Melihat kepolosan Nissa yang seakan tak mengerti isyarat darinya.
Beberapa jam berlalu, Nissa setia menemani Radit di kantornya. Nissa memilih duduk di sofa panjang yang ada di ruangan Radit. Nissa menghabiskan waktu dengan membaca. Sekilas nampak Radit melirik ke arah Nissa. Wajah Nissa bak obat penghilang lelah baginya. Lalu tanpa basa-basi, Radit berjalan menghampiri Nissa. Radit tidur di pangkuan Nissa, berbantalkan kaki Nissa. Radit merasa lelah, dia hanya ingin bersama dengan Nissa. Namun pekerjaannya terlalu banyak, sampai Radit tak memiliki waktu istirahat.
Radit memutar kepalanya, menghadap ke arah perut Nissa. Radit mencium lembut pusar Nissa, merangkul hangat tubuh Nissa. Sontak Nissa membeku, aliran darahnya terasa begitu cepat. Radit merasakan perubahan sikap Nissa. Gairah Nissa nyata terasa olehnya. Hasrat menggebu yang selama ini terus ditahan oleh Radit. Semua demi ketulusan dari Nissa.
"Nissa!"
"Hmmm!" sahut Nissa, sembari menunduk menghadap ke arah Radit.
Sontak Radit menarik tengkuk Nissa, membuat Nissa membungkuk ke arah wajahnya. Radit mencium hangat bibir Nissa, hangat penuh cinta dan napsu. Radit terus larut dalam gairah cintanya, Nissa terpaku tak mampu menolak kehangatan yang diberikan Radit. Ciuman penuh cinta nan panjang, membawa Radit dalam pikiran liarnya. Bukan hanya bibir, Radit mulai mencium area sensitif Nissa. Suara helaan napas Nissa, membangkitkan gairah Radit. Satu per satu Radit membuka kancing baju Nissa. Menyusup di balik hijab panjang Nissa. Radit mencium setiap inci tubuh Nissa, terdengar suara Nissa yang larut dalam hangat Radit.
Tok Tok Tok
"Asthgfirrullah, kita ada di kantor!" ujar Nissa lirih dan malu, raut wajah Nissa memerah. Nissa langsung berlari ke arah kamar mandi yang ada di ruangan Radit. Nissa tidak ingin orang lain melihatnya seperti ini.
Nissa merasa malu dengan semua yang terjadi. Radit mengusap kasar wajahnya. Ada rasa kecewa yang begitu besar dihatinya. Selangkah lagi, Nissa menjadi miliknya. Seutuhnya Nissa hanya miliknya, tapi semua gagal bersamaan dengan suara ketukan pintu. Radit merutuki kebodohan orang yang tanpa sengaja mengganggunya.
Tok Tok Tok
"Masuk!" teriak Radit dengan nada kesal, ketika suara ketukan terdengar kedua kalinya.
"Radit, sudah saatnya kita rapat!" ujar Rayhan lirih, sembari melirik ke kanan dan ke kiri. Rayhan seolah mencari keberadaan Nissa.
Buuugghhhh
"Dasar pengganggu!" teriak Radit, sembari melemparkan bantal sofa ke arah Rayhan.
"Kalian sedang?" ujar Rayhan menggantung, Radit menghela napas. Rayhan tersenyum, melihat ekspresi kecewa Rayhan.
"Maaf, bukan bermaksud mengganggu!" ujar Rayhan seraya tersenyum menggoda Radit.
"Diamlah, semua sudah berakhir!" ujar Radit, Rayhan menahan tawanya. Raut wajah Radit begitu menggemaskan. Sang playboy tak mampu mendapatkan keinginannya.
__ADS_1
"Nissa benar-benar hebat, bisa membuatmu tak berkutik!" bisik Rayhan, lalu berlalu pergi.
"Nissa tidak hanya hebat, dia segalanya dalam hidupku!" batin Radit.