
Dua puluh tahun kemudian
Waktu berlalu begitu cepat, kerinduan akan Nissa telah sampai pada tepinya. Radit tak lagi berharap bisa bertemu Nissa. Janji yang terucap dari bibir Nissa, telah dilanggar dan tak pernah ditepati. Bukan satu atau dua tahun, hampir dua puluh tahun Nissa pergi tanpa kabar. Tak lagi ada asa dalam hati Radit. Bisa bertemu dengan Nissa, separuh hidup Radit telah pergi dan tak pernah kembali. Bahkan tak pernah lagi Radit mendengar kabar tentang putri kembarnya. Zain putra Nissa, mulai lelah bertanya sang ibu berada.
"Papa, Zain harus pergi!" Ujar Zain tegas, Radit diam tak bersuara. Hatinya tak lagi sanggup kehilangan. Dua puluh tahun yang lalu, Nissa pergi membawa dua putri kembarnya. Hari ini putranya, pamit pergi mencari ibu yang sangat disayanginya.
"Zain, kemana kamu akan mencari mereka? jika kamu pergi, artinya kamu meninggalkan papa dan mama!" Sahut Alvira, Radit tak bersuara. Semua terasa dingin, hatinya tak lagi hangat.
Tepat lima tahun, setelah kepergian Nissa. Radit dan Alvira menikah. Pernikahan terpaksa, mengingat hak asuh Zain yang jatuh ke tangan Radit. Pernikahan secara agama, agar Zain tetap berada disamping Radit. Pernikahan yang tak memiliki cinta lagi. Alvira memilih menjadi istri di bawah tangan. Daripada dia terus menghiba cinta Radit. Setidaknya Alvira bisa bersama dengan Radit dan Zain. Selama ini, Alvira mengurus Radit dan Zain dengan sangat baik. Alvira melepas kesuksesannya, demi bisa bersama dengan Radit dan Zain. Putra yang dulu lemah, kini tumbuh menjadi pemuda tampan dan pintar.
"Radit, katakan sesuatu. Jangan biarkan Zain pergi mencari mereka. Lagipula, kemana Zain akan mencari mereka? Seseorang yang tak pernah ingin ditemukan. Ibarat jarum di atas tumpukan jerami. Usaha Zain akan sia-sia, takkan pernah dia menemukan mereka!" Ujar Alvira kesal, Radit tetap diam. Kedua tangannya berpangku di atas meja. Entah apa yang ada dipikirannya? Diam Radit membuat semuanya sulit. Alvira kesal, melihat Radit yang masih menyimpan rasanya pada Nissa.
"Zain!"
"Iya!" Sahut Zain, Radit menatap lekat wajah Zain.
"Katakan pada papa, apa yang akan kamu lakukan? Seandainya, kamu bertemu dengan mereka!" Ujar Radit lirih, Zain menggelengkan kepalanya pelan. Seakan tak mengetahui, apa yang diinginkannya?
__ADS_1
"Sebab itu, tidak perlu mencari mereka!" Sahut Alvira sinis.
"Aku merindukan mama Nissa!" Ujar Zain lirih, Alvira semakin kesal. Dia mendengar kerinduan Zain, tapi bukan padanya. Nissa ibu yang yang selalu dirindukannya.
"Dia bukan ibu kandungmu, tapi mama yang melahirkanmu!" Ujar Alvira lantang dengan emosi yang meledak-ledak.
Zain menunduk, tangannya mengepal sempurna. Ada amarah yang mengusik hatinya. Perkataan Alvira selalu membuatnya sakit hati. Penghinaan Alvira pada Nissa, membuat Zain marah dan membenci Alvira. Namun status Alvira, membuat Zain tak mampu bersikap kasar. Sekadar meluapkan amarah yang ada dihatinya. Radit menyadari kemarahan Zain, tak pernah ada satu kata antara Alvira dan Zain. Kasih sayang Zain pada Nissa takkan bisa tergantikan. Alasan Zain tak pernah bisa melupakan Nissa.
"Temukan adik-adikmu, tapi setelah kamu mengetahui keberadaan mereka. Papa tidak ingin kamu pergi tanpa tujuan yang jelas. Tanyakan pada tante Amira, dia satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan mama Nissa dan adik-adikmu!"
"Papa serius!" Sahut Zain bahagia, Radit mengangguk pelan. Bukan hanya Zain yang ingin bertemu Nissa. Jauh di lubuk hatinya, Radit ingin sekali bertemu dengan Nissa.
"Kalian tidak perlu mencari mereka. Jika bukan hari ini, mungkin besok mereka akan datang!" Sahut Rayhan, Radit dan Zain langsung menoleh bersamaan. Radit orang yang paling terkejut, dia mendengar berita yang ditunggunya selama dua puluh tahun terakhir.
Radit langsung berdiri, meninggalkan meja makan berjalan menghampiri Rayhan. Sahabat yang sampai saat ini terus mendukungnya. Rayhan yang selalu ada, menjadi penyemangat Radit. Kala Radit lemah dan tak lagi mampu berdiri. Zain mengikuti Radit, seorang kakak yang ingin bertemu adik-adiknya. Kerinduan yang mulai menampakkan akhirnya. Hari yang sangat dinanti, selama bertahun-tahun.
"Apa yang kamu katakan? Siapa yang kamu maksud?"
__ADS_1
"Mereka akan kembali, keluargamu yang hilang akan kembali. Nissa dan putri-putrinya akan pulang!" Ujar Rayhan menggebu, Radit langsung menangkup tangan Rayhan. Berpikir dia salah mendengar, mata Radit berkaca-kaca. Seakan tak percaya, Nissa akan datang menemuinya lagi.
"Om Rayhan tidak berbohong, mama Nissa kembali. Mama Nissa akan menemuiku!" Ujar Zain tak percaya, Rayhan mengangguk pelan. Memastikan perkataan Zain, rasa tak percaya setelah penantian panjang.
"Putrimu pulang Radit, mereka akan datang menemuimu. Putri cantik yang selama ini kamu rindukan. Mereka akan datang, memelukmu untuk pertama kalinya!" Tutur Rayhan dengan haru, Radit menunduk. Menyeka air matanya yang jatuh. Rasa bahagia yang hanya ada dalam angannya. Kini menemukan secercah harapan.
Radit berdiri menatap dua foto bayi merah mungil. Foto yang diperbesar dan dibingkai indah. Foto yang memenuhi dinding ruang tengah rumah besarnya. Dua pelita Radit yang tak pernah dipeluknya. Hanya foto itu, tempat Radit mencurahkan kerinduannya. Foto yang sama memenuhi kamar pribadinya. Dua putri kecilnya, berpipi merah nan cantik. Cahaya dalam gelap hati Radit selama dua puluh tahun terakhir.
"Humaira Shakila Najma dan Hana Zahra Alwani, putriku!" Ujar Radit lirih, sembari menatap foto putri kecilnya yang masih merah.
"Iya Radit, putrimu akan kembali!" Sahut Rayhan, sesaat sebelum menepuk pelan pundak Radit. Zain berdiri tepat di samping Radit, dengan kerinduan yang sama. Zain menatap wajah merah adik-adiknya. Hanya foto yang membuat Zain mengenali mereka.
"Papa, aku akan bertemu mereka!" Ujar Zain, lalu memeluk Radit. Pelukan hangat penuh kerinduan akan pelita yang pergi selama bertahun-tahun.
"Kenapa kalian begitu ingin bertemu mereka? Belum tentu mereka ingin bertemu kalian. Selama dua puluh tahun, kalian berdua menatap foto yang sama. Namun belum tentu mereka melakukan hal yang sama. Jangankan melihat foto kalian, mengenal nama kalian saja tidak!" Tutur Alvira sinis, Radit langsung menoleh. Tatapan Radit tajam, Alvira langsung menunduk ketakutan.
"Selama ini aku diam, bukan karena aku mencintaimu atau menganggap keberadaanmu. Aku hanya takut menyakiti putraku. Sekuat apapun kamu menghasutku? Sekuat itu pula aku akan menentangnya. Nissa memang pergi, tapi semua karena salahku. Nissa memang melupakanku, itu hukuman untukku. Namun aku mengenal Nissa, dia tidak akan pernah membiarkan putriku melupakanku. Dia ibu yang tak pernah meninggalkan putranya. Dia ibu yang menerima putranya dengan sepenuh hati. Dia ibu yang selalu memikirkan kebahagian putrinya. Seorang ibu yang takkan pernah menjadikan kebahagian putranya, sebagai jaminan kebahagiannya sendiri. Tak sepertimu, ibu egois yang selalu memaksa bahagia. Meski demi semua itu, kamu mengorbankan kebahagian putraku. Lihatlah Alvira, putramu mengingat Nissa. Meski dua puluh tahun yang lalu Nissa pergi tanpa pamit padanya. Berubahlah Alvira, jangan sampai kamu kehilangan cinta putramu. Bahkan setelah lima belas tahun, kamu hidup bersama kami di bawah atap yang sama!" Tutur Radit lantang, amarah Radit nyata. Alvira diam membisu, Zain memilih menjauh. Pertengkaran, perdebatan dan perselisihan menjadi hal biasa di rumahnya. Namun tak pernah, Zain ikut campur atau memihak salah satu diantara Radit dan Alvira.
__ADS_1
"Satu lagi Alvira, kamu memamg nyonya rumah ini. Namun kedua putriku pelita dalam hidupku. Sekali saja kamu mencoba mematikan pelita itu. Aku akan membuat hidupmu menyesal. Dulu aku bimbang, sekarang aku tegas. Zain dan mereka alasanku hidup, demi mereka pula aku akan hidup!" Ujar Radit lantang dan tegas.
"Kamu kejam Radit, lima belas tahun aku menemanimu. Namun tak sedetikpun kamu menghargaiku. Tak ada kata bahagia yang aku rasakan selama bersamamu!" Batin Alvira pilu.