
"Permisi tuan besar, anda sudah sadar!" goda Rayhan, Radit mengangkat wajahnya. Suara Rayhan membuyarkan lamunan Radit. Rayhan sahabat sekaligus asisten pribadi Radit.
Radit menghela napas, bersamaan dengan tubuhnya yang bersandar pada kursi kebesarannya. Rayhan tersenyum melihat sikap Radit. Nampak cinta dalam dua bola mata Radit. Cinta yang awalnya ditolak olehnya dan kini malah membuat Radit terperangkap. Radit terlihat gundah sejak pagi. Bahkan saat rapat, Radit kehilangan fokusnya. Rayhan melihat sikap tak biasa sahabatnya. Tak ada Radit yang dingin, kini hanya tinggal Radit yang luluh dihadapan cinta. Sebuah rasa yang pernah menghancurkannya, rasa yang membuat Radit terluka tanpa nanah.
"Nissa!" ujar Rayhan, Radit diam membisu. Rayhan tersenyum, Radit menampakkan jelas sikap orang yang galau akan cinta.
"Kamu mencintainya!"
"Entahlah!" sahut Radit datar, Rayhan mengangguk pelan. Mengiyakan perkataan Radit, demi sebuah kejujuran di dalam hati Radit.
"Nissa wanita yang baik, dia ibu yang menyayangi Zain keponakanku. Pantas saja kamu mencintainya!"
"Tapi!"
"Jujurlah Radit, dia wanita yang baik. Tidak sepantasnya kamu menilai Nissa sama dengannya!" ujar Rayhan, Radit menunduk.
"Radit!"
"Ada apa?" sahut Radit datar, saat Rayhan memanggilnya dengan penuh tanya.
"Tanyakan pada hatimu, diakah wanita yang kini ada dalam hati dan benakmu. Atau dia wanita yang sama, wanita yang ingin kamu hancurkan demi membalas keangkuhan keluarganya!" ujar Rayhan tegas, Radit menggelengkan kepalanya pelan. Radit tak mampu menjawab pertanyaan Rayhan.
"Lima bulan aku hidup bersamanya, aku mulai nyaman dengan rasa sayangnya pada Zain. Aku tak sanggup menyakitinya, malah sekarang dia yang ada dalam hatiku!" ujar Radit lirih, Rayhan diam menatap lekat sahabatnya.
Rayhan mengingat jelas alasan pernikahan Radit dengan Nissa. Hutang hanya alasan, ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Rasa sakit yang tertoreh di hati seorang ayah. Radit merasakan luka yang teramat sakit, ketika mendengar penghinaan Ardi akan lemah putranya. Sebuah kata yang terucap tanpa sengaja dan menjadi awal dendam di hati Radit. Menghancurkan hidup putri Ardi, menjadi tujuan hidup Radit. Menghancurkan bisnis Ardi hanya alasan, tapi rasa sakit Ardi melihat putrinya terluka dan terhina. Menjadi alasan paling besar dalam hatinya.
"Lantas!"
"Entahlah Rayhan, aku mulai mencintainya. Aku benar-benar mencintainya. Namun aku merasa takut, jika kelak dia mengetahui alasanku. Dia akan membenciku dan pergi dariku!"
"Dia tidak mengetahuinya, selama tidak ada yang mengatakannya. Perusahaan dan bisnis keluarganya sudah ada dalam kendalimu. Setidaknya rasa sakitmu sudah terbayar. Lupakan dendammu, hidup bahagia bersamanya!" ujar Rayhan, Radit membisu. Perkataan Rayhan tidak salah, tapi menganggap semua baik-baik saja. Sungguh tidaklah mudah, menatap wajah Nissa akan membuat Radit merasa bersalah.
__ADS_1
"Radit, lupakan ketakutanmu. Nissa tidak akan pernah mengetahui alasan kamu menikahinya. Sekarang tenangkan pikiranmu, bahagialah bersama Nissa dan Zain!" ujar Rayhan, Radit mengangguk pelan. Rayhan berdiri, meninggalkan Radit yang tengah gundah dengan rasa takutnya.
"Radit, sepuluh menit lagi kita ada rapat. Investor dari luar negeri itu ingin bertemu denganmu secara langsung!" ujar Rayhan, tepat di depan pintu. Tangan Rayhan memegang ganggang pintu. Rayhan bersiap membuka pintu, tapi terhenti ketika dia mengingat alasannya datang ke ruangan Radit.
Kreeeekkk
"Nissa!" ujar Rayhan lirih, Nissa berdiri tepat di depan pintu. Radit langsung menoleh, dia melihat Nissa datang membawa sebuah kotak makan. Rayhan mengusap wajahnya, menyadari akan sesuatu yang didengar Nissa. Radit berlari menghampiri Nissa, ketakutan Radit terjadi. Kini Nissa berdiri tepat di depannya. Rayhan bingung, sejenak semua terdiam. Sunyi tanpa suara, debaran jantung Radit terdengar begitu hebat.
"Nissa!"
"Aku datang membawakan makan siang. Tadi pagi, kamu tidak sarapan!" ujar Nissa memberikan rantang pada Radit.
Radit menggenggam tangan Nissa, tapi perlahan Nissa menepisnya. Nissa memberikan rantang berisi makanan pada Radit. Rayhan terdiam, tak ada yang bisa dilakukannya. Pergi bukan hal yang benar, diam diantara Nissa dan Radit. Sungguh Rayhan tidak sanggup. Nissa meletakkan rantang di atas meja ruang tunggu. Radit terpaku, kejujurannya terdengar begitu menyakitkan bagi Nissa.
"Nissa!" ujar Radit, sembari menahan tangan Nissa. Seketika Nissa menoleh, raut wajah Radit lesu. Tatapan Nissa, bak garam di atas lukanya.
"Makanlah, hari sudah siang. Aku akan kembali ke sekolah!" sahut Nissa datar tanpa ekspresi.
"Nissa, jangan seperti ini. Marah dan tampar aku, tapi jangan bersikap dingin!"
"Aku harus ke sekolah, jam istirahatku sudah selesai. Pegawai honorer sepertiku, tidak bisa libur begitu saja. Hutangku pada anda belum terlunasi, tidak ada hakku untuk istirahat. Aku sudah melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Sekarang izinkan aku pergi, setidaknya demi rasa tenangku!" ujar Nissa lirih dengan suara yang tertahan. Sontak hati Radit terasa ngilu. Perkataan Nissa terdengar biasa, tapi menyakitkan. Rayhan menggeleng lemah, Rayhan memilih berdiri di samping.
"Aku mohon, maafkan aku!"
"Anda tidak bersalah, untuk apa kata maaf itu? Seorang istri harus berbakti pada suaminya. Kewajiban yang membuat seorang suami bersikap arogant dan egois. Terima kasih, selama ini anda menghargai saya. Apapun alasan anda, aku akan ada di samping anda. Menerima semua rasa sakit yang pernah ditorehkan oleh ayahku!"
"Nissa, maafkan aku!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah.
"Anda pantas melakukan semua itu. Seorang ayah akan merasakan sakit putranya. Seorang ayah akan hancur, ketika putranya terhina. Seorang ayah akan rapuh, saat melihat air mata putranya. Seorang ayah mampu bersikap kejam, demi membalas sakit putranya. Dan seorang ayah akan melakukan segalanya, asalkan putranya bahagia. Aku akan melakukan hal yang sama, menghancurkan hidup orang yang menghina putraku. Jadi jangan pernah anda menyalahkan diri anda. Jika nyatanya menghancurkanku, cara anda membalas sakit Zain putraku!"
"Nissa, maafkan aku!"ujar Radit, Nissa menggelekan kepalanya. Seutas senyum, terasa bak belati tajam. Nissa membuat hati Radit terasa ngilu.
__ADS_1
"Aku tidak menyalahkan anda, tapi berikan saya waktu!"
"Untuk!"
"Memahami isi hatiku, menyadari arti diri ini dalam hidup anda!" ujar Nissa, Radit diam membisu. Semua tak lagi mudah, Nissa telah mengatakan isi hatinya. Hubungan yang baru saja terjalin, kini serasa hambar.
plok plok plok plok plok
"Akhirnya, keinginanku terwujud. Hidup bahagiamu telah usai, hanya kesengsaraan yang pantas kamu rasakan!" ujar Syakira, Radit dan Nissa menoleh. Syakira datang bersama Ardi, dia salah satu direktur di perusahaan Ardi. Sebab itu dia datang menemui Radit. Nampak Ardi tertunduk lesu, mendengar semua luka yang harus ditanggung Nissa.
"Tuan, anda mendengarnya sendiri. Kakak perempuanku, berdoa untuk kesengsaraanku. Ayahku tertunduk dan terdiam, mendengar doa kehancuran putrinya. Jadi sebesar apapun luka yang anda torehkan padaku. Takkan membuatku tersakiti atau keluargaku hancur. Sejatinya rasa sakitku, kala keluargaku mengacuhkanku!"
"Nissa, aku peduli padamu!"
Drrrttt Drrrrtt Drrrrtt
"Maaf, saya harus pergi!" ujar Nissa, berpamitan pada Radit. Sesaat setelah dia menerima chat dari seseorang.
"Nissa!" panggil Radit, Nissa menoleh dan mengangguk pelan.
"Maafkan aku, jika akhirnya cintaku hancur!" batin Nissa pilu.
"Aku baik-baik saja!" sahut Nissa dengan seutas senyum.
"Nissa, kenapa aku merasa senyummu begitu menyakitkan?" batin Radit pilu.
"Tuan Radit, kita harus rapat!"
"Rayhan, hentikan suntikan dana pada perusahaan tuan Ardi!" ujar Radit dingin, lalu mengejar Nissa.
"Akan kubuktikan cintaku tulus, aku akan membuatmu bahagia!" batin Radit, sembari berlari mengejar Nissa.
__ADS_1