Senja Pengganti

Senja Pengganti
Gadis Bercadar


__ADS_3

Matahari bersinar terik, panasnya membakar tubuh. Keringat bercucuran, angin tak mampu menghalau panas matahari. Tepat pukul 13.00 WIB, sinar matahari terasa panas. Berdiri gadis bercadar tepat di sebuah perusahaan besar. Hijab panjangnya tak lantas membuatnya gerah. Tak nampak keringat di pelipisnya. Hanya dua bola mata tajam nan indah, terpancar di balik cadarnya. Kecantikan yang tersimpan sempurna, tanpa ada yang bisa menatapnya.


Langkah lebarnya memasuki sebuah perusahaan besar. Nampak map berwarna coklat ada di tangannya. Dengan rasa percaya diri, dia melangkah masuk ke dalam perusahaan itu. Tepat di pintu masuk, langkahnya terhenti menatap lurus ke arah dinding yang bertuliskan namanya. Perusahaan besar yang bergerak di bidang property. Kepalanya tertunduk, sesaat setelah membaca nama perusahaan.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Sapa resepsionits sopan dan ramah. Kedipan mata sang gadis, isyarat dia membutuhkan bantuan.


Setelah memeriksa berkas yang dibawa sang gadis. Resepsionits mengarahkan langkah sang gadis, menuju lantai tertinggi di perusahaan ini. Membuatkan janji bertemu dengan pemilik perusahaan ternama di kota. Salah satu pembisnis handal yang kini mengepakkan sayapnya. Kesuksesaan yang didapatkan, setelah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Perusahaan besar yang nyata dimiliki oleh Achmad Dzaky Raditya.


"Assalammualaikum!" Sapa Aira ramah, Via mendongak. Anggukan kepala Via, pertanda Via mengerti maksud kedatangan Aira.


Via langsung berdiri, mengantar Aira masuk ke dalam ruangan Radit. Setelah mengetuk beberapa kali, Via langsung membuka pintu untuk Aira. Nampak ruangan sepi, tidak ada siapapun di dalam ruangan. Aira menoleh ke arah Via, ada rasa heran melihat ruangan yang kosong. Via tersenyum, lalu mempersilahkan Aira masuk ke dalam. Setelah mengatakan alasan Radit tidak ada di ruangan. Via kembali ke meja sekretaris, sedangkan Via meminta Aira menunggu di dalam ruangan Radit. Via membiarkan pintu terbuka, agar Aira merasa nyaman. Kedatangan Aira sudah diketahui oleh Radit, tapi tanpa Radit ketahui kebenaran sosok Aira. Siapa sebenarnya gadis berhijab bernama Aira?


Hampir tiga puluh menit, Aira menunggu tanpa kepastian. Bayangan Radit tak terlihat, tak ada suara langkah atau hembusan napasnya. Aira mulai merasa jenuh dan lelah. Maklum saja, dia baru saja tiba dari luar negeri. Bahkan dia belum sempat berganti pakaian. Aira langsung datang, hanya ingin melihat sosok yang tak pernah dikenalnya selama dua puluh tahun terakhir.


"Lima menit lagi, dia tidak datang. Aku akan pergi, banyak yang harus aku lakukan. Artinya bukan hari ini waktuku bertemu dengannya!" Batin Aira, sembari melirik ke arah jam tangannya.


Aira menghela napas, lima menit hampir habis. Artinya penantiannya harus berakhir. Aira harus pulang dan kembali lain hari atau tidak sama sekali. Setelah lima menit berlalu, penantian sudah ada di ujungnya. Aira berdiri, dia memutuskan pulang. Aira tak lagi berharap, untuk pertemuan. Aira datang sebagai calon arsitek magang yang ditunjuk oleh kampusnya. Aira menjadi satu-satunya mahasiswi yang dkrekomendasikan di perusahaan Radit. Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang property.


"Permisi, saya izin pulang!" Ujar Aira, Via mendongak terkejut. Namun keputusan Aira tidak salah. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit lebih. Memang seharusnya Aira pulang, mengingat kedatangan Radit belum tentu.


"Sebaiknya mbak menunggu sepuluh menit lagi. Takutnya tuan Radit datang dan mbak kehilangan kesempatan!"

__ADS_1


"Saya sudah kehilangan kesempatan selama puluhan tahun. Sekali lagi kehilangan kesempatan bertemu dengannya. Tidak akan membuat saya kecewa!"


"Maksud mbak Aira!" Ujar Via bingung, Aira menggeleng lemah. Aira sudah tidak berharap bertemu dengan Radit lagi. Dia sudah mencoba, tapi jalan itu masih belum ada. Aira tidak kecewa, setidaknya dia sudah mencoba. Pertemuan yang belum ditakdirkan, tidak akan bisa terlaksana. Meski kita berusaha mencari jalan untuk mewujudkannya.


"Assalammualaikum!" Pamit Aira, sembari mengangguk pelan.


"Waalaikummusalam!" Sahut Via, sembari menatap kagum ke arah Aira. Pribadi yang hangat, tersimpan di balik cadar yang dulunya menakutkan bagi segelitir orang.


Tap Tap Tap


Terdengar suara langkah kaki, tegap dan tegas. Langkah kaki yang menggema di lorong kantor. Aira menoleh, menegaskan langkah kaki yang didengarnya. Seketika detak jantung Aira berdegub kencang. Tatapannya nanar, kala dua bola matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Seseorang yang membuat Aira berusaha mendapatkan kata sukses.


"Tuan Radit, beliau mbak Aira. Mahasiswi pilihan yang dikirim dari kampus anda dulu!"


"Iya aku sudah mengetahuinya, pak Ridwan sudah menghubungiku!" Sahut Radit dingin, Via mengangguk lalu berjalan beberapa langkah ke belakang.


"Pendapat anda benar, tapi tepat waktu tanda seseorang bisa dipercaya. Tuan seorang CEO hebat, tentu dalam bisnis waktu sangatlah penting. Seseorang yang tidak bisa menepati janji. Selamanya tidak akan pernah bisa dipercaya. Saya permisi!" Ujar Aira tegas, Radit terpaku. Suara Aira dan dua bola mata indahnya, mengingatkan Radit akan sosok yang begitu dicintainya. Aira memutar tubuhnya, penilaian Radit telah membuat kesan pertama di hati Aira. Kewibaan Radit tak lebih keangkuhan di mata Aira.


"Kamu yakin akan melepaskan kesempatan ini!" Ujar Radit angkuh, Aira menoleh.


"Saya tidak terlalu ingin bekerja di perusahaan anda. Sebagai mahasiswi yang belum lulus. Keberadaan saya hanya akan menjadi beban bagi perusahaan anda. Lebih baik saya magang di perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan ini!"

__ADS_1


"Tunggu, kamu bisa melamar di perusahaanku!" Sahut Zain, Aira menoleh ke arah Zain.


"Zain, apa maksudmu?"


"Dia bisa magang di perusahaanku. Pak Ridwan merekomendasikannya, tentu dia bukan mahasiswi biasa. Kebetulan ada kursi kosong di tim arsitekku. Dia bisa mengisi kekosongan itu sementara waktu!" Ujar Zain, Radit menatap nanar. Radit tidak pernah bisa memahami Zain. Keputusan Zain selalu membuat Radit heran. Keputusan yang dibuat dengan hati, tanpa memikirkan untung dan ruginya. Sebab Zain percaya, semua yang dari hati akan menerima balasan yang baik pula.


"Terima kasih, saya bisa mencari perusahaan yang lain!"


"Tunggu, kamu yakin akan pergi. Mencari perusahaan yang sebanding dengan perusahaan ini tidaklah mudah. Melihat bakat yang kamu miliki, sangat sayang bila bekerja di perusahaan kecil!"


"Kenapa kamu memaksanya? Seseorang yang ingin pergi? Tidak perlu ditahan, sebab hatinya sudah tak lagi bersama kita!" Sahut Radit, Aira tersenyum di balik cadarnya.


"Sekali lagi, anda membuatku yakin dengan pendapatku. Anda tidak akan pernah menganggap orang lain berharga. Keangkuhan yang membuatku kehilangan bahagia, selama dua puluh tahun terakhir!"


"Siapa kamu?" Ujar Radit, Zain terpaku menatap Aira. Terlihat tegas dan bijak, tiap kata yang keluar begitu tertata dan bermakna.


"Humaira Shakila Najma, nama yang dulu pernah anda berikan pada saya. Namun hari ini, tanpa bertanya siapa namaku? Anda menilai rendah diriku, anda membiarkaku pergi begitu saja. Berpikir saya tidak bisa menjadi sukses seperti anda. Keangkuhan anda, tidak sepadan dengan kelebihan anda. Seorang ayah yang telah kehilangan putrinya dua puluh tahun yang lalu. Detiik ini, untuk kedua kalinya anda kehilangan putri anda!" Tutur Aira, Radit dan Zain termenung. Menatap langkah Aira yang menjauh dari mereka.


"Humaira putriku, maafkan papa!" Teriak Radit, tepat bersamaan dengan langkah Aira masuk ke dalam lift.


"Dia papa yang aku rindukan selama dua puluh tahun!" Batin Aira.

__ADS_1


__ADS_2