Senja Pengganti

Senja Pengganti
Ancaman


__ADS_3

Kamu!" ujar Radit dingin, saat melihat Alvira berdiri di depan kamarnya. Alvira menelan ludahnya kasar, ketika dua bola matanya melihat tanda merah di leher Radit.


Alvira langsung menunduk, antara malu dan rasa kecewa. Menyadari jika Radit bukan lagi miliknya. Alvira merasakan sakit yang teramat, ketika dia membayangkan Radit dan Nissa bersama. Kepalan tangan Alvira, menunjukkan betapa hatinya terluka melihat hangat dan cinta mantan suaminya. Padahal Alvira berharap, Radit menghiba padanya untuk kembali. Setidaknya demi Zain buah hati mereka. Namun kehadiran Nissa, telah menggantikan dirinya dalam hati Radit dan Zain.


Plokkk


"Kenapa malah diam? Apa alasanmu berani mengetuk pintu kamarku?" ujar Radit, sesaat setelah dia bertepuk tangan di depan Alvira. Sontak Alvira terkejut, dia langsung mendongak menatap Radit. Menghapus rasa sakit dalam hatinya.


"Kita berangkat bersama, investor telah menunggu kita di lokasi proyek!"


"Pergilah sendiri, aku tidak pergi!"


"Kenapa?" sahut Alvira cemas dan langsung menyentuh kening Radit.


Namun Radit langsung menepis tangan Alvira. Radit tidak membiarkan Alvira memeriksa tubuhnya. Alvira cemas, mendengar Radit tidak pergi ke kantor. Alvira mengenal Radit, selama mereka menikah. Radit tidak akan meninggalkan pekerjaannya, kecuali Radit sakit. Sebab itu Alvira takut Radit tengah sakit.


"Aku baik-baik saja, Nissa yang sedang sakit. Aku sudah meminta Rayhan menggantikanku. Jika Nissa membaik, aku akan ikut rapat!" ujar Radit, lalu menutup pintu kamarnya. Bahkan sebelum Alvira pamit pulang.


Braakkk


"Dia itu Alvira, ibu kandung Zain. Jangan bersikap terlalu keras!" ujar Nissa, Radit menoleh. Nampak Nissa keluar dengan tubuh sudah bersih. Rambut Nissa terlihat basah, dia langsung masuk ke kamar mandi. Ketika menyadari Alvira yang mengetuk pintu kamarnya. Tubuh lemahnya sedikit lebih segar, setelah mandi air hangat.


"Sayang, kamu mandi!" teriak Radit, lalu berhambur ke arah Nissa. Radit menggendong Nissa dengan tubuh yang hanya ditutupi piyama handuk. Nissa menjerit, memohon agar Radit menurunkannya. Namun teriakkan Nissa tak membuat Radit bergeming. Radit menggendong Nissa, lalu mendudukkan Nissa di atas tempat tidur.


"Kamu masih lemah, aku takut kamu terjatuh. Diamlah, aku yang akan membantumu!" ujar Radit tegas, lalu mengambil handuk dari tangan Nissa. Radit mengeringkan rambut Nissa dengan handuk. Terlihat Radit begitu telaten membantu Nissa bersiap. Sedangkan Nissa memilih diam, setidaknya kini dia menjadi ratu dalam sehari.


"Sayang, maaf membuatmu lelah. Padahal kamu sedang sakit!" ujar Radit, sembari mengeringkan rambut Nissa. Terlihat Nissa menggelengkan kepalanya, lalu perlahan Nissa menarik tangan Radit. Nissa menempelkan tangan Radit tepat di dadanya. Merasakan debaran jantung Nissa yang berdegub begitu keras.


"Jantung ini mulai berdetak karenamu, hati ini menangis demi dirimu dan jiwa ini kosong tanpamu. Entah sejak kapan aku mulai lemah tanpamu? Jadi jangan pernah meminta maaf!" ujar Nissa lirih, Radit terpaku merasakan hangat sentuhan Nissa.

__ADS_1


"Sayang, kamu memancingku!" ujar Radit, Nissa tersenyum simpul. Nissa mendorong tubuh Radit.


"Pergilah mandi, sudah waktunya rapat!"


"Aku tidak akan meninggalkanmu!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah.


"Kamu harus pergi, karena aku akan ikut denganmu!" ujar Nissa, Radit tersenyum bahagia.


Cup


"Cepatlah atau aku urungkan niatku!" ujar Nissa, Radit menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku pergi sekarang!" teriak Radit, sembari berlari ke arah kamar mandi. Nissa tersenyum sembari berias. Ada rasa bahagia yang tak dapat diutarakan olehnya. Radit menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi.


"Terus tersenyumlah sayang, aku sanggup mengorbankan segalanya demi senyumu itu!" batin Radit bahagia.


"Sayang, jangan lepaskan tanganku!"


"Bukannya kamu harus rapat. Lebih baik aku menunggumu di mobil!" ujar Nissa, Radit menggelengkan kepalanya pelan. Radit menggenggam erat tangan Nissa. Tak sekalipun Radit melonggarkan genggamannya.


"Tidak akan kulepaskan, aku akan menggenggam erat tanganmu!" ujar Radit, lalu menarik tangan Nissa. Keduanya berjalan bersamaan masuk ke dalam area proyek.


Langkah anggun Nissa dipadukan langkah gagah Radit, bak sang raja dan ratu yang tengah melangkah menuju singgasana. Pertama kalianya, Radit dan Nissa melangkah bersama sembari berpegangan tangan. Gamis panjang Nissa, terlihat nyaman melangkah diantara tumpukan bahan material. Tak ada kesulitan Nissa melangkah di samping Radit. Bahkan Radit tak percaya, melihat Nissa dengan mudahnya melangkah dan masih merasa nyaman dengan gamis panjangnya. Sinat panas matahari, tak lantas membuat Nissa kepanasan.


"Maaf terlambat!" ujar Radit, Alvira dan Rayhan menoleh. Keduanya terperangah, ketika melihat Nissa tengah berjalan di samping Radit.


"Nissa!" teriak Rayhan tak percaya, Radit langsung menutup mulut Rayhan dengan tangannya. Sedangkan Alvura menatap tak percaya, Nissa kini berada diantara dirinya dan Radit.


"Sayang, jangan pedulikan Rayhan!"

__ADS_1


"Sudahlah Radit, kita mulai rapatnya!" ujar Alvira, lalu menarik tangan Radit.


Alvira menarik tangan Radit begitu kuat, tetapi Radit terus menggenggam tangan Nissa dengan erat. Alhasil, tiga orang berjalan saling beriringan. Rayhan tersenyum geli, melihat Radit yang kini menjadi pusat perhatian. Alvira terlihat begitu memaksa, rasa cemburu dalam hatinya membutakan mata hati Alvira. Sampai-sampai dia tidak menyadari, jika dirinya kini terlihat bodoh. Sedangkan Radit meski berusaha melepaskan tangan Alvira. Usahanya sia-sia, cemburu membuat Alvira kuat. Sebaliknya Nissa terseok-seok mengikuti langkah Radit. Bahkan terlihat Nissa tersandung batu. Tangan Nissa terlepas dari Radit. Tubuh Nissa terpaku, melihat tangan Radit yang menjauh. Mungkin ini yang dinamakan patah hati. Sejenak Nissa takut kehilangan Radit


"Berhenti!" teriak Amira, Alvira langsung menghentikan langkahnya. Amira berdiri tepat di depan Alvira.


plaakkk


"Kenapa kamu menamparku?" ujar Alvira heran, Amira menghampiri Nissa, menuntun Nissa duduk di samping. Radit terkejut, melihat kaki Nissa yang berdarah. Radit langsung melepaskan tangan Alvira. Berhambur ke arah Nissa, mengabaikan rasa sakit Alvira.


"Beruntung aku hanya menamparmu. Aku bisa lebih kasar dari ini. Jika terjadi sesuatu pada Nissa!" sahut Amira kasar, Alvira terpaku mendengar pembelaan Amira pada Nissa.


"Sayang, maafkan aku!" ujar Radit, Nissa mengedipkan kedua matanya. Isyarat Nissa baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, lebih baik pisahkan Amira dan Alvira. Jika tidak segera dipisah, Amira bisa berbuat lebih jauh!" ujar Nissa, Radit mengangguk. Lalu berdiri, tapi langkahnya terhenti. Saat tangannya Amira menahannya.


"Jangan mendekat, jika tidak kamu akan kehilangan Nissa. Ingat Radit, kamu tidak bisa bersama dengan Alvira dan Nissa. Kamu harus memilih salah satu diantara mereka. Jika tanganmu memegang Nissa, jangan sampai tangan satunya memegang Alvira. Ingat Radit, jauh sebelum Nissa mengenalmu. Dia sahabat dan saudaraku, setetes darah mengalir darinya. Sama saja darahku yang menetes. Aku akan melindungi Nissa dengan cara apapun. Satu hal lagi, jangan sampai aku membawa Nissa pergi jauh darimu!" ujar Amira dingin, Nissa langsung berdiri. Radit berjalan mundur, ketakutan yang selalu memenuhi benaknya. Kini terucap dari bibir Amira. Rayhan menggeleng tak percaya, Amira begitu garang dan tegas.


"Kenapa wanita ini begitu istimewa bagi kalian?"


"Karena dia bukan dirimu. Nissa berbeda, dia permata yang indah. Namun dalam indahnya, ada kerapuhan yang akan selalu aku jaga. Terutama dari wanita sepertimu!"


"Kamu mengancamku!" sahut Alvira, Amira berdiri lebih dekat dengan Alvira.


"Aku akan menghancurkanmu, jika kamu berani mengganggu kebahagian Nissa!"


"Siapa kamu berani mengancamku?" ujar Alvira lantang, Amira tersenyum sinis.


"Aku keturunan keluarga Kusuma yang asli. Kamu mungkin cucu kebanggaan Irfan Kusuma. Namun tahukah kamu? Aku pewaris tunggal perusahaan Kusuma dan kini aku atasanmu!" ujar Amira lantang dan tegas.

__ADS_1


__ADS_2