
"Nissa!"
"Amira, bukannya kamu sudah tidak mengajar. Kenapa kamu malah datang ke sekolah?" sahut Nissa heran, Amira mengacuhkan perkataan Nissa.
Amira menarik tangan Nissa, dia membawa Nissa ke tempat yang lebih tenang. Tepat di bawah pohon mangga, mereka duduk menjauh dari lingkungan sekolah. Nissa merasa heran, sikap Amira tak seperti biasanya. Terlihat menyimpan amarah dan kekesalan yang luar biasa. Nissa semakin heran, melihat Amira yang tak bisa menunggu. Setidaknya sampai sekolah berakhir. Jelas Amira ingin mengatakannya sekarang dan tidak bisa ditunda.
"Kenapa kamu diam menerima hinaan kakek? Kenapa kamu tidak melawannya? Apalagi membiarkan Alvira itu menang!" ujar Amira lantang penuh kekesalan.
Nissa hanya tersenyum melihat kekesalan Amira. Sejak dulu, Amira orang pertama yang membela dirinya di depan keluarga Kusuma. Meski Nissa tak lebih dari cucu yang tak dianggap. Amira menjadi benteng pertama yang menghadang keluarga Kusuma menyakitinya. Entah takdir atau bukan? Pernikahan Nissa dengan Radit, menjadi satu-satunya kegagalannya dalam membela Nissa. Amira merasa bodoh, saat dia harus diam melihat pernikahan itu terjadi. Apalagi semua itu terjadi hanya karena hutang piutang.
"Siapa yang mengatakannya padamu?" ujar Nissa, Amira mendengus kesal. Menyadari Nissa yang acuh pada kekesalannya.
"Kakek tua itu!" sahut Amira lantang, Nissa langsung menutup mulut Amira dengan tangannya. Nissa menggelengkan kepalanya pelan. Seakan tidak suka dengan sikap Amira yang blak-blakan.
"Kenapa?" ujar Amira, sembari melepaskan tangan Nissa.
"Dia kekekmu, tidak sepantasnya kamu bicara sekasar itu. Ingat Amira, kebenciannya padaku jangan sampai membuatmu berbalik membencinya!"
"Kenapa tidak boleh?" sahut Amira polos, Nissa merangkul Amira. Bersandar pada tubuh Amira, Nissa mendongak ke arah langit yang cerah.
"Amira, setidaknya bantu aku menjaga kakek. Kebenciannya membuatku tak memiliki hak merawatnya. Alvira bukan cucu kandungnya. Kelak mungkin dia meninggalkan kakek. Hanya kamu cucu kebanggaannya. Jangan pernah tinggalkan dia!"
"Kenapa harus?"
"Amira, sudah bercandanya!" ujar Nissa mengakhiri perdebatan tidak penting. Nissa berdiri, dia meninggalkan Amira yang duduk terdiam.
"Nissa, aku akan menunggumu sampai pulang sekolah. Kita pergi makan bersama-sama!" teriak Amira, Nissa mengangguk tanpa menoleh.
__ADS_1
Satu jam lebih Amira menunggu Nissa. Tepat pukul 13.00 WIB, jam mengajar Nissa berakhir. Tanpa banyak bicara, Amira langsung mengajak Nissa pergi dengan mobil barunya. Sebuah mobil mewah yang awalnya menjadi hadiah pernikahan dari Aryan untuk Nissa. Amira sengaja menggunakannya, sebenarnya hanya ingin ditunjukkan pada Nissa. Amira ingin Nissa melihat hadiah yang dipersiapkan oleh papanya.
"Mobil baru!" ujar Nissa, Amira menggelengkan kepala.
"Jelas baru, aku baru melihat mobil ini pertama kalinya!" sahut Nissa tak percaya, Amira tersenyum simpul. Nissa menghela napas, sikap penuh tanda tanya Amira. Membuat Nissa merasa lelah dan tak ingin lagi peduli.
"Ini memang mobil baru, tapi bukan milikku. Ini milikmu, aku meminjamnya darimu!"
"Bercanda, aku tidak akan bisa membeli mobil semewah ini!" sahut Nissa santai, Amira menoleh dengan seutas senyum.
"Ini mobil hadiah dari papa untukmu. Papa memintaku, memberikannya padamu!"
"Aku tidak membutuhkan mobil, sebab aku tidak bisa menyetir!" sahut Nissa datar.
"Ayolah Nissa, kamu jangan berbohong. Jelas-jelas kamu bisa menyetir!" ujar Amira, Nissa menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak menginginkannya!" sahut Nissa tegas, Amira menghela napas. Dia sudah bisa menduga keras kepala Nissa. Sejak dulu, Nissa pribadi yang sederhana. Mobil mewah keluaran terbaru tidak akan pernah ingin dimilikinya.
Akhirnya setelah berputar-putar di jalan raya. Mobil Amira berhenti di sebuah rumah makan. Nissa dan Amira memilih rumah makan lalapan. Entah kenapa Nissa sangat ingin memakan lalapan? Amira hanya menuruti keinginan ibu hamil. Tanpa menolak atau mengajukan pilihannya. Sebab Amira pribadi yang menyukai semua jenis makanan. Kecuali makanan yang berbahan dasar seefood.
"Nissa, kita duduk disana!" ujar Amira sembari menunjuk ke sebuah tempat yang kosong.
Rumah makan ini sederhana dan tidak terlalu luas. Hanya ada sekat, untuk tiap tempat. Tidak ada kursi, hanya ada meja yang beralaskan tikar. Jadi Nissa dan Amira duduk beralaskan tikar. Bahkan untuk makannya, tidak menggunakan sendok atau garpu. Setiap pengunjung diberikan satu mangkok tempat cuci tangan.
"Kita pesan sekarang!" ujar Amira, Nissa menahan tangan Amira. Dengan rasa heran, Amira mengurungkan niatnya memesan makanan.
"Arah jam 3!"
__ADS_1
"Siapa?" ujar Amira sembari menoleh, sontak mulut Amira terbuka lebar. Dia tak percaya dengan penglihatannya.
"Radit!" ujar Amira lirih, Nissa mengangguk pelan.
"Kita pulang atau tetap makan disini?" ujar Amira, Nissa berdiri. Sebuah jawaban final, untuk pertanyaan Amira.
"Kini aku menyadari, cemburu itu sakit. Namun mencintaimu jauh lebih sakit. Entah kapan aku bisa bersikap dewasa? Bijak menyikapi, jika dia hanya masa lalumu tidak lebih!" batin Nissa, tanpa menoleh ke arah Radit dan Alvira.
Bruuugggg
"Awwwsss!"
"Maaf!" sahut Rayhan, Amira memayunkan bibirnya. Sedangkan tangannya mengusap tubuhnya yang tertabrak oleh Rayhan.
"Wanita menyebalkan!" ujar Rayhan spontan, lalu menoleh ke arah Nissa.
"Nissa, Radit ada di dalam. Kenapa tidak bergabung?" ujar Rayhan, Nissa menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu cemburu melihat Radit bersama Alvira. Namun percayalah, mereka hanya rekan kerja!"
"Sebab itu aku memilih pulang, aku takut semakin lama melihat mereka. Membuatku berpikir yang tidak-tidak!" sahut Nissa, lalu pamit pada Rayhan.
"Bye!" ujar Amira, sembari menginjak kaki Rayhan.
"Awwwss!" teriak Rayhan kesakitan.
"Wanita yang unik dan menyenangkan!" batin Rayhan, sembari menatap Amira dari belakang.
__ADS_1