
Nissa memutuskan keluar dari rumah Radit. Dia pergi menuju masjid tidak jauh dari rumahnya. Nissa menjauh dari cemburu yang bisa membuatnya hancur. Mungkin sikap Nissa salah, pergi tanpa pamit pada Radit. Namun semua terasa benar, ketika seorang istri menjauh dari rasa sakit. Nissa memaksa penjaga membukakan pintu gerbang dan melarang mereka mengatakannya pada Radit. Nissa berjanji akan kembali, sebelum semua orang terbangun. Bahkan Nissa menyakinkan penjaga, jika dia hanya pergi ke masjid. Akhirnya penjaga mengiyakan, tapi salah satu dari mereka mengikuti Nissa. Mereka tidak ingin disalahkan, jika terjadi sesuatu pada Nissa. Alhasil, Nissa pergi dengan pengawalan salah satu penjaga.
Rasa sakit yang menggerogoti hatinya, membuat Nissa sesak napas. Nissa merasakan ngilu yang teramat, sampai Nissa tak mampu bernapas. Setelah mencoba menenangkan diri dan hasilnya sia-sia. Nissa memutuskan pergi menuju masjid tak jauh dari kompleks. Nissa berjalan kaki, merasakan hembusan angin pagi yang menyapanya. Setelah sepuluh menit berjalan kaki, Nissa sampai di masjid. Nissa bersimpuh dihadapan-NYA, mencari ketenangan dalam doa. Nissa sholat istikhara, berharap ada jawaban terbaik baginya. Nissa menangis dipangkuan-NYA, mencurahkan seluruh gelisah hatinya. Kejujuran yang tak mampu dikatakan Nissa pada orang lain. Kini dengan lantang, Nissa curahkan pada-NYA. Setidaknya demi ketenangan hatinya yang mulai rapuh oleh cinta.
Lama Nissa bersimpuh, berdoa demi kekuatan yang menghilang dalam dirinya. Nissa menghiba ketegaran melawan rasa cemburunya. Nissa terus bersimpuh, tanpa terasa waktu subuh menyapa. Nissa memutuskan kembali ke rumah setelah sholat subuh. Rasa ngilu dihatinya telah berkurang, air matanya terseka bersamaan dengan lantunan doa. Nissa kembali menjadi Nissa yang dulu. Tegar menghadapi badai dalam hidupnya. Melangkah dengan tegak, tanpa takut kerikil menghalanginya. Nissa kembali lahir, tak ada rasa sakit yang mampu membuatnya terjatuh.
"Ibu, kita pulang sekarang!"
"Maaf, bapak harus menunggu diluar!" ujar Nissa, nampak penjaga rumah Radit menggelengkan kepala. Nissa kembali ke rumah Radit, bersamaan dengan fajar yang menyapa.
Nissa menatap lekat fajar, hangat sinarnya belum terasa. Kabut masih menyapa, embun terasa dingin menyergap. Nissa tersenyum, bahagia menatap fajarnya kembali bersinar. Nissa terus melangkah, kakinya tak terasa lelah. Nissa merasa sehat, jasmani dan rohaninya. Nissa mendapatkan ketenangannya kembali. Tak ada lagi rasa cemburu menguasai hatinya. Cintanya pada Radit terlalu tulus. Sampai Nissa tak memiliki ketakutan lagi dalam hatinya. Nissa telah mengikhlaskan semuanya.
"Kemana saja kamu semalam? Kenapa tidak tidur di kamar?" ujar Radit dingin, sesaat setelah Nissa masuk ke dalam kamar. Nissa terkejut, melihat Radit duduk bersandar di sofa.
Nissa melirik ke arah tempat tidur. Nampak tempat tidur masih rapi. Jelas Radit tidak tidur semalaman. Nissa menghela napas, kini sepi mulai menyapa tempat tidurnya. Dingin menyergap hubungan Nissa dan Radit. Rasa curiga menjadi dasar dingin sikap Radit. Nissa diam membisu, Radit semakin kesal dengan sikap Nissa.
"Jawab pertanyaanku!" ujar Radit, sembari menahan tangan Nissa. Keras genggaman tangan Radit, menyakiti Nissa. Namun tak terdengar rintihan dari bibir Nissa.
"Semalam aku sesak napas, aku keluar mencari udara segar. Akhirnya aku memilih berdiam diri di masjid!"
"Aku suamimu, bukan patung. Kenapa kamu pergi tanpa pamit padaku? Kamu sudah tidak menganggapku!" teriak Radit, sembari menghempaskan tangan Nissa kasar. Nissa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit di pergelangan tangannya. Nissa tidak mengeluh, berusaha tegar menerima sikap kasar Radit.
"Maaf, semalam aku melihatmu tertidur di ruang kerja. Aku takut mengganggu tidurmu, jadi aku memutuskan pergi sendiri!"
"Kenapa kamu selalu memutuskannya sendiri? Ingat Nissa, aku ayah dari bayi yang kamu kandung. Aku berhak atasnya, jadi kamu tidak berhak memutuskannya sendiri!" ujar Radit kasar, Nissa menunduk. Nissa mengusap perutnya yang tiba-tiba kram. Lagi dan lagi, Nissa menggigit bibir bawahnya. Rasa sakit dihatinya belum sepenuhnya sembuh dan kini fisiknya terpukul dengan sikap kasar Radit.
__ADS_1
"Maaf!" ujar Nissa singkat, lalu berlalu melewati Radit. Nissa menjauh dari rasa sakit yang semakin sakit.
"Nissa, berhenti dan jawab pertanyaanku!" teriak Radit kesal, Nissa menghentikan langkahnya. Dia menatap nanar Radit, Nissa merasakan amarah Radit yang semakin membuatnya sakit. Nissa memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat.
"Apa yang ingin kamu ketahui? Aku sudah bicara jujur. Aku sudah meminta maaf, karena pergi tanpa pamit. Sekarang, katakan apa yang kamu inginkan? Aku akan menjawab semuanya. Aku bukan pengecut!" ujar Nissa tegas, Radit tersenyum sinis sembari menggelengkan kepalanya.
"Akhirnya, kamu menunjukkan wajah aslimu!"
"Selama ini aku seperti ini, aku Nissa yang sama. Mungkin aku mencintaimu, tapi aku tak pernah takut kehilanganmu. Aku sudah bicara jujur, seandainya kamu tak percaya. Itu bukan urusanku, itu semua keputusanmu. Aku sudah meminta maaf, kamu maafkan atau tidak. Itu terserah padamu, setidaknya aku bukan pengecut yang takut mengakui kesalahan!"
Praaaaayyyyrrr
"Diam!" teriak Radit, sesaat setelah melempar ponsel pintarnya. Suara ponsel jatuh menggema di kamar Radit. Pecahan ponsel berserakan, Nissa membersihkan pecahan ponsel milik Radit.
"Lebih baik kita akhiri perdebatan ini. Aku harus bekerja, aku butuh banyak uang untuk melunasi hutangku. Maaf, karena kekesalanmu padaku. Kamu menghancurkan ponsel pintarmu. Namun aku harap, hanya ponsel ini yang hancur. Bukan cinta diantara kita!" ujar Nissa dengan hati yang terasa ngilu. Sekuat tenaga Nissa menahan air matanya. Nissa meletakkan pecahan ponsel Radit di atas meja, tepat di depan Radit.
"Aku harus bekerja, hutangku terlalu besar padamu!"
"Nissa, kenapa kamu selalu mengungkit masalah itu?" ujar Radit dengan nada rendah. Radit mulai merasa dingin sikap Nissa. Amarahnya bisa menjadi alasan kepergian Nissa dari hidupnya.
"Aku sudah menyiapkan sarapan, silahkan turun untuk sarapan!"
"Kamu!" ujar Radit, isyarat Radit mengajak Nissa. Perlahan Nissa menepis tangan Radit.
"Terima kasih, aku sarapan di sekolah!" ujar Nissa, lalu berlalu dari hadapan Radit.
__ADS_1
"Nissa, kita harus bicara!"
"Semua sudah kamu katakan, aku sudah mengerti posisiku!" sahut Nissa, Radit mengusap wajahnya kasar.
TOK TOK TOk
"Radit, Zain demam!" teriak Alvira dari luar kamar Radit. Nissa dan Radit menoleh bersamaan.
"Nissa!"
"Pergilah, Alvira dan Zain butuh dukunganmu. Aku dan putraku baik-baik saja tanpamu!" sahut Nissa datar, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa yang terjadi semalam? Kenapa dia berubah? Dia bukan Nissa yang aku kenal, dia berubah!" batin Radit heran.
"Radit, cepatlah!" teriak Alvira lantang, saat Radit tak juga membuka pintu kamarnya. Radit termenung, menatap punggung Nissa yang menjauh.
Kreeeeekkk
"Dimana Radit?"
"Dia ada di dalam, silahkan masuk!" ujar Nissa, sesaat setelah membuka pintu kamarnya. Alvira masuk ke dalam kamar.
"Nissa, Zain membutuhkanmu!" ujar Radit, berlari mengejar Nissa. Radit menabrak tubuh Alvira sampai terhuyung. Radit menahan tangan Nissa, berharap Nissa berubah hangat.
"Zain membutuhkan kedua orang tuanya, bukan aku!" sahut Nissa datar, lalu mencium punggung tangan Radit.
__ADS_1
"Belajarlah melepas tanganku, agar kita tidak saling menyakiti!" ujar Nissa, sesaat setelah mengucapkan salam.