Senja Pengganti

Senja Pengganti
Zahra Afiqa Putri


__ADS_3

"Maaf, menunggu lama!" ujar Daniel, Nissa dan Amira tersenyum simpul.


Hubungan Daniel dengan kedua keponakannya sangat dekat. Beberapa kali mereka janji bertemu. Sekadar makan siang atau belanja bersama. Daniel pengusaha sukses yang selalu menyisihkan waktunya. Demi bertemu dengan Nissa dan Amira. Tak ada kata sibuk, selama Nissa dan Amira yang meminta waktu. Bahkan saat Nissa merasa keberatan dengan pengawal yang selalu mengikutinya. Daniel langsung melarang mereka ikut, saat Daniel pergi bersama Nissa dan Amira.


"Kami yang harusnya meminta maaf. Kami mengganggu waktu CEO seperti om Daniel!" ujar Amira menggoda Daniel, seketika Daniel tersipu malu. Godaan Amira berhasil membuat Daniel merasa malu. Nissa menggelengkan kepalanya, sifat Amira tak pernah berubah. Spontan tanpa memikirkan situasi di sekitarnya.


"Demi kalian, kapanpun aku akan datang?" sahut Daniel, Amira diam dengan tatapan tak percaya.


"Sudahlah, lebih baik kita pesan makanan!" ujar Daniel menghentikan sikap usil keponakannya.


Akhirnya mereka memesan makanan, melupakan gurauan yang membuat Daniel tersipu malu. Namun tidak dengan Amira, rasa penasaran dihatinya terlalu banyak. Apalagi saat dia mengenal Daniel pertama kalinya. Kakak dari ayah kandungnya yang tak pernah dikenalnya. Bahkan tak pernah Amira mendengar nama Daniel disebut. Sosok Daniel begitu mengagetkan bagi Amira. Sekaligus membahagiakan, sebab Amira tidak sendiri lagi menghadapi keangkuhan keluarga Kusuma.


"Om Daniel!"


"Hmmm!" sahut Daniel, tanpa menoleh ke arah Amira.


"Om Daniel, serius kakak papaku!" ujar Amira tak percaya, Daniel dan Nissa langsung menoleh ke arah Amira. Rasa tak percaya Amira, mengagetkan Daniel dan Nissa. Entah kenapa Amira bisa menanyakan hal itu? Daniel langsung menghentikan makannya. Dia menatap lekat Amira, tatapan yang ingin menyakinkan sesuatu.


"Aku memang kakaknya, kenapa? Kamu tidak percaya!" ujar Daniel, Amira mengangguk tanpa ragu.


"Karena aku terlihat lebih tampan dan muda. Sedangkan papamu terlihat tua dengan rambut putihnya!" ujar Daniel, Amira langsung tertawa. Mendengar penjelasan Daniel yang penuh rasa percaya diri. Nissa hanya tersenyum simpul, dia tak terlalu terkejut. Sebab perkataan Daniel benar adanya. Ketampanan Daniel tidak memudar diusia yang memasuki kepala empat.


"Om Daniel benar, papa terlihat tua dengan keriput yang ada di keningnya. Apalagi wajahnya yang tak pernah tersenyum. Semakin membuatnya tua dan kaku!"


"Amira, jangan bicara seperti itu. Dia ayahmu, jangan bersikap tidak sopan!" ujar Nissa mengingatkan, Amira langsung menutup mulutnya. Amira merasa bersalah telah bicara kasar. Daniel terkekeh, melihat sikap Amira yang berbeda jauh dari sang ayah. Amira periang dan spontan, sedangkan Aryan kaku tanpa emosi.


"Om Daniel, kenapa belum menikah?" ujar Nissa singkat dan dalam. Amira langsung mengangkat ibu jarinya ke udara. Amira setuju dengan pertanyaan Nissa. Sedangkan Daniel terlihat begitu tenang, seolah pertanyaan itu sudah biasa di dengarnya

__ADS_1


"Aku tidak ingin menikah!"


"Kenapa?" sahut Nissa dan Amira hampir bersamaan. Mereka merasa tak percaya, Daniel menolak menikah. Sejatinya seseorang butuh orang lain, sebab tidak ada yang bisa hidup sendiri.


"Sebab Nissa sudah menikah!"


"Maksudnya!" sahut Nissa tak mengerti.


"Aku tidak tertarik dengan wanita zaman sekarang. Mereka tak memiliki hati, hanya peduli pada harta. Seperti Alvira putri kesayangan Irfan Kusuma!"


"Om Daniel ingin menikah dengan gadis seperti Nissa!"


"Hmmm!" sahut Daniel tanpa ragu.


"Masih banyak wanita yang baik, tidak semua sama seperti Alvira. Sebenarnya Alvira tidak jahat, dia berhati baik. Namun kebaikan seorang wanita akan berubah menjadi kejahatan. Ketika hati mereka terluka dan cinta mereka ternoda. Alvira hanya wanita yang takut kehilangan cintanya. Meski sebenarnya cinta itu sudah lama pergi. Keegoisan wanita yang terlanjur mencintai dengan sepenuh hati!" tutur Nissa, Daniel menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku pernah mencintai, tapi tidak pernah patah hati!" ujar Daniel santai, Nissa dan Amira melongo. Mereka tidak mengerti makna yang tersirat dari kata yang terucap dari bibir Daniel.


"Aku pernah mencintai seseorang, tapi dia tidak pernah mengetahuinya. Dia jauh lebih muda dariku, usianya tiga atau empat tahun di atas kalian!"


"Tidak mungkin!" sahut Amira, Nissa langsung menyikut keras lengan Amira.


"Itulah kenyataannya!" ujar Daniel datar, Amira langsung pindah tempat duduk. Dia duduk tepat di samping Daniel. Paman yang kini sangat disayanginya.


Amira merasa penasaran dengan kisah cinta Daniel. Pria tampan yang hampir saja memikat hatinya, tapi semua itu angan. Ketika Amira mengetahui, Daniel tak lain pamannya. Kisah cinta yang penuh misteri. Cinta yang tak pernah dirasakannya. Amira sangat antusias, dia ingin mendengar kisah cinta sejati. Cinta yang tersimpan tanpa berharap terucap.


"Om!" panggil Amira manja, Daniel menoleh dengan tatapan aneh. Daniel mengerti arti tatapan Amira. Namun Daniel pura-pura tidak mengerti arti tatapan Amira.

__ADS_1


"Ayolah om, ceritakan padaku!" rengek Amira, Nissa hanya diam saja. Sikap Amira yang teguh, membuat Amira akan terus memaksa. Amira tidak akan berhenti, sampai dia mendapatkan yang diinginkannya.


"Ceritakan saja om, jika tidak Amira akan terus seperti itu. Diammu tidak akan mengalahkan keteguhannya. Sebelum satu restoran mendengar teriakkannya!" ujar Nissa lirih dan santai, Daniel tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Daniel tidak percaya, watak Amira berbeda jauh dari Nissa. Keduanya memiliki darah yang sama, tapi sifat dan wataknya bertolak-belakang. Bukan untuk berselisih, tapi saling melengkapi.


"Om!" ujar Amira, sembari menggoyang-goyangkan tangan Daniel.


"Dia wanita yang aku temui di negara tempatku menetap. Dia mahasiswa kedokteran yang tengah mengejar spesialis. Wanita berhijab yang anggun dan teduh. Dia tidak cantik, tapi hatinya terlalu cantik dan lembut. Wanita sederhana yang datang ke negara itu, untuk mengejar impiannya. Dia kuliah dengan beasiswa penuh. Kesederhanaannya yang membuatku jatuh cinta!"


"Kenapa tidak mengungkapkannya?"


"Tidak akan pernah!" sahut Daniel spontan.


"Karena dia miskin dan lebih muda!" ujar Amira tanpa basa-basi, nampak kekecewaan Amira. Daniel menggeleng, menolak pemikiran Amira.


"Lalu, kenapa tetap diam?"


"Amira, hentikan semua ini. Om Daniel pasti memiliki alasan. Jangan terus memaksanya, kamu sudah keterlaluan!" ujar Nissa, Amira mengerecutkan bibirnya. Dia masih kesal, seandainya pemikirannya benar.


"Dia terlalu baik, sedangkan aku terlalu buruk. Dia datang ingin menggapai impan, sebaliknya rasaku akan menghancurkan impiannya. Dia wanita biasa dan sederhan, tapi keluarga Kusuma angkuh dan arogant. Dunianya penuh dengan kasih sayang, duniaku penuh dengan dendam. Semenjak aku mencintainya, sejak saat itu aku memutuskan menyimpannya. Aku tidak akan pernah menghancurkan hidup penuh mimpinya. Cukup melihatnya sukses dan bahagia, tidak ada lagi harapanku. Mungkin sekarang dia sudah menikah, bahagia bersama imam pilihannya!"


"Om Daniel sangat mencintainya!" sahut Nissa, Daniel mengangkat kedua bahunya.


"Mencintai itu sangat indah dan membahagiakan, tapi menyimpan cinta dalam diam. Sakitnya tidak tertahan, sampai membuat dada kita terasa ngilu dan sesak!" ujar Nissa lirih, Daniel mengangguk pelan. Amira tersenyum, melihat Nissa dan Daniel ada dengan satu kata. Sama-sama sakit karena cinta.


"Kak Zahra!" teriak Amira, sembari melambaikan tangan ke arah pintu masuk restoran.


"Dokter Zahra!" ujar Nissa lirih, Amira berlari menghampiri Zahra. Daniel menoleh, ke arah pintu.

__ADS_1


"Dia, ada di depan mataku sekarang. Zahra Afiqa Putri, wanita berhati cermelang dan cerdas!" batin Daniel tak percaya.


__ADS_2