
Suara gemuruh ombak memecah sunyi. Gelap malam terasa mencekam. Langit terang penuh dengan bintang. Bulan purnama menyapa seluruh alam. Harmoni malam yang indah nan sunyi. Terdengar langkah kaki di atas hamparan pasir putih. Riak ombak kecil membasahi ujung kaki. Halus pasir menggelitik seluruh nadi. Sayub terdengar suara hembusan napas yang penuh dengan beban. Menguap menyatu dalam indah malam.
Setelah menyelesaikan pelatihannya, malam ini hari terakhir Nissa di kota ini. Besok pagi, Nissa kembali ke kota yang penuh dengan dilema. Menjalani hidup yang penuh dengan halangan. Sengaja Nissa berjalan di tepi pantai. Resort tempat pelatihan tak jauh dari laut. Butuh beberapa menit untuk sampai di tepi laut. Nissa memilih pergi sendiri, menenangkan hatinya yang galau. Nissa merasakan dingin angin malam, halus pasir pantai dan pekat malam yang menakutkan.
Lama Nissa berjalan di tepi pantai, sesekali kakinya merasakan terpaan riak ombak laut. Nissa mendekap erat tubuhnya, dingin angin laut mulai melemahkan tulangnya. Sedingin perpisahannya dengan Radit tempo hari. Seminggu yang lalu, tepat enam hari dua belas jam yang lalu. Nissa terakhir kali bertemu dengan Radit. Semenjak itu, tak lagi terdengar suara Radit menyapanya. Tak ada telpon atau chat yang menanyakan kabarnya. Sekelumit rasa rindu menyapa jauh dalam hatinya. Namun Nissa harus kuat, dia tidak boleh lemah tanpa Radit.
"Sampai kapan kamu berdiri di bawah pekatnya malam? Percayalah Nissa, gelap malam takkan mampu menutupi gelisah hatimu. Angin malam takkan sanggup menyampaikan rasamu. Air laut takkan bisa mendinginkan cintamu yang membara. Berdiri di sini, hanya membuatmu sakit dan lemah!"
"Amira!" ujar Nissa, Amira mengangguk pelan. Amira memberikan sebuah jaket pada Nissa. Amira sahabat yang memahami duka Nissa. Tanpa perlu telinganya mendengar luka dari bibir Nissa.
"Sejak kapan kamu ada di sini?"
"Bukan sejak kapan Nissa? Namun untuk apa aku disini!" sahut Amira, Nissa menghela napas. Terkadang Nissa sulit memahami perkataan Amira. Dia tak mampu mengikuti alur pemikiran sahabatnya. Pola pikir yang kadang sederhana, tapi lebih banyak rumit.
"Ada apa? Kenapa menyusulku?"
"Aku lapar, kita makan malam!" rengek Amira, sontak du bola mata Nissa membulat sempurna. Nissa tidak percaya dengan alasan Amira yang terdengar aneh.
"Nissa, kita makan!" ujar Amira menghiba, Nissa menghela napas. Terlihat anggukan kepaa Nissa, sontak Amira berteriak kegirangan.
Nissa dan Amira berjalan menuju lesehan dekat pantai. Malam semakin larut, suasana semakin sepi. Namun berbeda dengan suasana di lesehan pinggir pantai. Tak ada sepi, terlihat begitu ramai dan penuh sesak. Sampai akhirnya, Nissa dan Amira memilih makan nasi goreng. Sekadar mengisi perut, agar malam ini mereka tidak tidur dalam keadaan lapar.
"Nissa!"
"Hmmm!" sahut Nissa dengan mulut penuh nasi goreng.
__ADS_1
"Kenapa kamu meminum obat itu? Apa yang membuatmu takut memiliki keturunan? Nissa yang aku kenal, tidak berhati dingin. Sangat mustahil, dia tidak ingin memiliki seorang putra!" ujar Amira lirih dan tegas, Nissa menghela napas. Entah darimana Amira mengetahui masalah ini. Namun lambat laun, masalah ini memang harus terungkap.
"Nissa, aku sahabatmu bukan musuhmu. Sejak kapan kamu mulai menjaga jarak denganku? Kamu merahasiakan hal besar dariku. Kamu membuat keputusan besar yang bodoh. Tanpa mengatakannya padaku, setidaknya kamu bisa mendengar pendapatku!"
"Maafkan aku Amira. Inilah alasan diamku, aku tidak ingin membuatmu cemas!"
"Sekarang aku sudah mengetahuinya, bukankah artinya sama!" ujar Amira lantang, Nissa menunduk sesaat setelah meletakkan piring kosongnya. Nissa mencari pembenaran akan keputusan bodohnya.
"Kenapa diam? Bicaralah Nissa!"
"Amira, aku tidak ingin membenarkan diri. Munafik, jika aku mengatakan tidak ingin memiliki keturunan dari Radit. Laki-laki yang sangat aku cintai. Laki-laki yang membuatku merasakan cinta. Laki-laki yang menjadikanku ratu dalam hidupnya. Namun di sisi yang sama, dia laki-laki hebat yang memiliki mantan istri yang sempurna. Tidak sepertiku, wanita pelunas hutang yang tumbuh tanpa seorang ibu. Seorang anak yang selalu dianggap sebagai benalu dalam keluarganya!" tutur Nissa, Amira menunduk membisu. Suara parau Nissa, menandakan betapa berat beban yang ditanggung sahabatnya. Alasan besar yang seolah dibuat-buat, meski nyata ada luka di dalamnya.
"Maksudmu?"
"Amira, sehari setelah aku menyerahkan hidup dan cintaku pada Radit. Aku menemukan fakta yang begitu besar. Sebuah kebenaran yang membuatku takut kehilangan Radit. Alasan terbesarku menolak kehadiran seorang putra dalam pernikahanku. Sebuah kebenaran yang menyadarkanku, jika Radit hanya menginginkan tubuh ini bukan cinta!" tutur Nissa, Amira mendekati Nissa. Menepuk pelan pundak sahabatnya. Mencari alasan luka sahabat yang begitu disayanginya. Amira mencoba menjadi penopang di kala lelah dan sakit Nissa.
"Tunggu Nissa, istri pertama Radit!"
"Iya Amira, istri pertama dan aku tak lebih dari istri kedua. Pernikahanku bukan hanya sebagai pelunas hutang, tapi sebagai pelampias napsu!"
"Tidak mungkin, kamu pasti salah paham!"
"Seandainya itu salah, aku tidak akan berbuat sebodoh ini. Jangankan menjadi ibu dari laki-laki yang aku cintai. Menjadi ibu pengganti bagi Zain aku sudah sangat bahagia. Lantas, mungkinkah aku menolak melahirkan darah dagingku!" ujar Nissa, Amira menyandarkan kepalanya di bahu Nissa. Menatap jauh ke langit malam, mencari kebenaran dari perkataan Nissa.
"Amira, aku hanya senja pengganti yang kepergiannya takkan pernah dirindukan!"
__ADS_1
"Tapi Radit mencintaimu!" sahut Amira, Nissa mengangguk pelan.
"Namun cinta Radit padanya jauh lebih besar. Dia, wanita pertama dalam hidup Radit. Dia, istri yang membuat Radit sempurna sebagai seorang laki-laki. Dia, wanita hebat yang mandiri dan sukses. Dia senja sesungguhnya dalam hidup Radit dan Zain. Senja yang dirindukan oleh suamiku!"
"Nissa, mungkin kamu salah paham!" ujar Amira, Nissa menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak penting aku salah paham atau tidak. Aku hanya ingin menjalani waktuku bersama Radit dan Zain dengan baik. Kelak bila senja mereka kembali, aku sudah siap pergi dengan kebahagian yang pernah tercipta!"
"Kamu sangat mencintainya!" ujar Amira, Nissa menatap langit. Setetes bulir air mata jatuh tepat di pelupuk mata Nissa. Amira menatap lemah sang sahabat, hati yang mulai terpaut pada satu cinta. Namun menyimpan ketakutan yang begitu besar.
"Mungkin!" sahut Nissa datar, Amira memeluk lemgan Nissa. Menyandarkan kepalanya di bahu Nissa. Amira berharap rasa sakit Nissa berpindah kepadanya.
"Menjadi senja pengganti, mungkin aku sanggup. Namun menjadi ibu yang melihat putranya tersisih. Sungguh, aku takkan sanggup. Cukup aku yang merasakan tersisih. Takkan aku biarkan, putraku merasakan sepi dan sakitnya tersisih dalam hangat keluarga. Biarlah Zain yang menjadi putra mahkota!" batin Nissa sendu.
"Kenapa kamu tidak bertanya padaku? Setidaknya kamu mengetahui kebenarannya dari bibirku sendiri!"
"Kamu!" ujar Nissa tak percaya, ketika melihat Radit berdiri di belakangnya.
"Maaf!" sahut Amira, Nissa hanya diam membisu. Amira pergi meninggalkan Radit dan Nissa. Berdua di bawah langit malam yang indah.
"Pembenaran hanya alasan dari sebuah kesalahan!"
"Nissa, tanyakan padaku sekali saja. Maka aku akan menjawabnya!" ujar Radit, Nissa menggelengkan kepalanya pelan.
"Cukup Zain yang ada diantara kita, aku tidak berharap lebih!"
__ADS_1
"Tapi aku menginginkan putra darimu, aku ingin keluarga yang utuh dan sempurna bersamamu!" ujar Radit, lalu memeluk tubuh Nissa dengan sangat erat.
"Aku mencintImu Radit, sampai akhirnya aku takut kehilangan dirimu!" batin Nissa.