Senja Pengganti

Senja Pengganti
Di bawah hujan


__ADS_3

Dua hari sudah, Nissa berada di kota yang sama dengan Radit. Dua hari pula, Zain mencoba bertemu dengan Nissa. Namun tak ada pertemua, Nissa terus menolak dan mengacuhkan kerinduan putra kecilnya dulu. Nissa tak lagi hangat, tatapan dingin yang terlihat dari dua bola mata indah Nissa. Amira menatap sendu, melihat Nissa yang terus menghindar dari Zain putranya. Tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Dingin Nissa perlahan membunuh Zain dalam kerinduan tak bertepi.


"Nissa, biarkan dia bertemu denganmu. Sejak dua puluh tahun yang lalu, bahkan setelah dia tumbuh dewasa. Tak seharipun dia melupakanmu. Setiap dia bertemu denganku, dia selalu menanyakanmu. Dia tidak pantas menerima kebencianmu. Ketahuilah Nissa, tepat sehari sebelum kamu kembali. Dia berniat pergi mencari kalian. Walau dia tak pernah mengetahui keberadaanmu. Meski dia tak pernah mengenal kedua adiknya. Dia tetap ingin mencari kalian di luasnya dunia. Tak ada lelah dalam penantian dan kerinduannya. Tak sepantasnya dia menerima kebencianmu. Dia putra yang lahir dari tulusmu, bukan dingin dan bencimu!" Tutur Rayhan dingin, Nissa terpaku menatap Zain yang berdiri menunggunya di luar rumah Amira.


Amira langsung menoleh, berjalan menghampiri Rayhan. Membawa Rayhan masuk ke dalam, membiarkan Nissa menyelesaikan urusannya dengan Nissa. Sepenuhnya Amira percaya, Nissa mampu menyelesaikan semuanya. Penolakan Nissa pasti memiliki alasan. Tidak mungkin Nissa membenci Zain, sikap dingin Nissa bukan kebencian. Rayhan menolak pergi, tapi Amira memaksa Rayhan menjauh. Meminta Rayhan percaya, Nissa bisa menyelesaikan semuanya.


"Nissa!" Teriak Rayhan, Nissa langsung menoleh. Amira tak lagi mampu memaksa Rayhan pergi. Rayhan memaksa bicara dengan Nissa. Entah apa yang ingin dikatakan Rayhan? Namun tatapan tajam Rayhan, menyiratkan pesan yang mendalam.


"Dia seorang putra yang merindukan ibunya. Dia seorang kakak yang ingin mengenal adiknya. Dinginmu tak seharusnya dia terima. Bencilah Radit dengan sepenuh hatimu. Namun jangan tunjukkan bencimu padanya. Dia putra yang dulu kamu tinggalkan di usia enam tahunnya. Kini di usia enam puluh tahunnya. Dia masih merindukan dan mengingatmu. Semua karena cintanya hanya untukmu!" Tutur Rayhan lantang dan tegas, Nissa menunduk. Helaan napas Nissa terdengar begitu berat. Menampakkan beban yang tak mudah. Amira menyadari sikap dingin Nissa ada dengan alasan yang tak mudah.


"Cukup, Nissa tidak sedingin itu. Biarkan Nissa memutuskan, mengenal atau melupakan mereka yang dulu menyakitinya. Mungkin Zain tak pernah menyakiti Nissa. Namun tak bisa dipungkiri, Nissa bukan siapa-siapa Zain? Tidak ada hubungan darah diantara mereka. Kamu tidak berhak menyudutkan Nissa. Jika kamu bisa melihat kepedihan Zain. Seharusnya kamu bisa melihat dalam luka Nissa. Diam Nissa, jelas menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Hanya Nissa yang memahami luka itu, tidak pantas kita menilai. Jika kita tak pernah berada di posisinya!" Sahut Amira lebih tegas dan lantang. Amira tak lagi bisa menahan amarahnya. Rayhan telah meragukan ketulusan Nissa. Diam yang memiliki alasan tersendiri.


"Amira, jangan bicara sekasar itu pada Rayhan. Dia suamimu, bukan temanmu!" Ujar Nissa menyela, Amira menoleh ke arah Rayhan. Sekilas terlihat Rayhan menundukkan kepalanya. Jelas .Rayhan memahami arti tatapan Amira.


"Dia memintaku menghargaimu, orang yang jelas meragukan dan menyudutkannya. Mungkinkah, sikap dingin Nissa pada Zain hanya kebencian tanpa alasan!" Ujar Amira dingin, lalu pergi meninggalkan Rayhan dengan kemarahan.

__ADS_1


Nissa menatap lurus ke arah Zain dari balik tirai jendela rumah Amira. Pemuda tampan yang menanti uluran hangat Nissa. Kerinduan seorang putra yang ingin memeluk wanita yang pernah dipanggilnya ibu. Nissa menatap Zain dengan tatapan pilu. Nampak jelas kerinduan yang sama dihati Nisss untuk Zain. Namun ada alasan rindu itu tertahan dan tak terucap. Nissa diam tak bersuara, melihat Zain yang berdiri di tengah dingin malam. Bersandar pada mobil sport miliknya, berharap Nissa datang menemuinya.


Zain tak lagi sama seperti dulu, dia begitu mempesona dengan ketampanannya. Kacamata melekat di kedua matanya, menampakkan kepintaran dan wibawanya sebagai seorang pemimpin. Sejak dua tahun yang lalu, Zain telah bekerja di salah satu cabang perusahaan Radit. Dengan kerja kerasnya, Zain menjelma menjadi pembisnis hebat seperti Radit. Dia juga memiliki yayasan anak yatim. Sikap dermawan dan hangat yang ditirunya dari Nissa. Zain banyak berubah, tapi sayangnya pada Nissa tak pernah berubah. Dia sangat menyayangi Nissa, melebihi kasih sayang Zain pada Alvira ibu kandungnya.


Duuuuaaaarrrr


Nissa terhenyak kaget, mendengar suara petir membelah langit. Langit yang semula cerah, tiba-tiba berwarna merah. Awan menutup langit yang semula terang penuh cahaya bintang. Langit yang seolah ikut bersedih, melihat kepedihan seorang putra yang merindukan ibunya. Suara gemuruh petir saling bersahutan, bertakbir mengagungkan kebesaran-NYA. Zain mendongak, menatap langit yang memerah. Zain merasakan dingin angin yang menusuk tulang. Sedingin sikap Nissa akan kerinduannya.


"Mama, lihatlah langit malam ini. Suara gemuruh petir, bak suara hatiku yang menjerit merindukanmu. Merah langit malam ini, semerah kedua mataku yang tak mampu menatapmu. Rintik gerimis yang membasahi tubuhku. Layaknya diriku yang menangis, mengharap pelukan hangatmu. Mama, aku memamg tak selucu dulu, aku tak seimut dulu, aku tak selemah dulu. Namun sampai kapanpun? Zain Al Ghifari, rapuh dan hancur melihat tatapan dinginmu. Hangat sikapmu, tulus kasih sayangmu dan lembut belaian cinta bu darimu. Kekuatan terbesar dalam hidupku, alasan aku ingin menaklukkan dunia. Semua demi dirimu, mama Nissa bidadari tak bersayapku!" Batin Zain pilu, sembari menatap langit malam yang mulai menangis.


Zain langsung mendongak, menatap ke arah Nissa yang sudah berdiri di depannya. Zain mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan. Zain tersenyum, melihat Nissa ada dihadapannya. Rasa bahagia melihat ibu yang dirindukannya, peduli akan dingin dan tangisnya.


"Mama!"


"Zain, masuklah ke dalam rumah. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu. Ganti bajumu sekarang, sebelum kamu masuk angin!" Ujar Nissa, Zain tersenyum simpul.

__ADS_1


"Terima kasih mama!" Sahut Zain, Nissa mengedipkan kedua matanya. Nissa memutar tubuhnya, berjalan di depan Zain. Nissa mengajak Zain masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya tertahan, ketika tangan Zain menarik tangannya. Nissa langsung menoleh, dia melihat Zain tengah menatapnya sendu.


"Ada apa? Tubuhmu sudah kedinginan, kamu harus segera berganti pakaian!" Ujar Nissa, Zain menggeleng lemah. Nissa menatap heran, gelengan kepala Zain. Isyarat Zain tidak setuju dengan perkataan Nissa.


"Ada apa Zain? Apa yang kamu inginkan?" Ujar Nissa lagi, Zain mendekat ke arah Nissa.


"Mama, peluk aku!" Ujar Zain lantang, lalu merentangkan kedua tangannya selebar mungkin.


"Masuklah, tubuhmu terlihat kedinginan!" Ujar Nissa, sesaat setelah menggelengkan kepala.


"Kenapa mama menolak pelukanku?"


"Zain, kamu bukan anak kecil lagi. Kamu sudah dewasa, ada batasan yang harus mama jaga. Selamanya mama akan menjadi ibu sambungmu. Namun kasih sayang mama, sebatas perhatian tanpa sentuhan!"


"Aku mengerti sekarang, maafkan Zain yang tak pernah menyadari. Meski Zain tidak bisa memeluk mama. Setidaknya Zain bisa dekat dengan mama. Itu sudah cukup!" Sahut Zain, lalu masuk ke dalam rumah mengikuti Nissa.

__ADS_1


"Mama, aku sangat menyayangimu!" Batin Zain dengan rasa bahagia yang tak bisa dikatakan.


__ADS_2