Senja Pengganti

Senja Pengganti
Bayanganmu...


__ADS_3

Pagi nan indah telah pergi dari hidup Radit. Kini tersisa hanya sepi tanpa hadirnya Nissa. Separuh hidup Radit pergi, bersama Nissa untuk selamanya. Radit telah mengizinkan Nissa pergi, setelah sebuah janji terucap. Tanpa sadar, Radit telah memutuskan memilih siapa? Nissa kini pergi membawa semua bahagia dalam hidup Radit. Tawa dan ketenangan dalam keluarga Radit berakhir dalam sekejap. Bak tembok benteng yang runtuh dalam satu pukulan saja.


Harj berjalan begitu lambat, sampai-sampai malam seolah pagi enggan menyapa. Radit termenung sendiri di dalam kamarnya. Menatap wajah sang putra yang terlelap tidur dalam pangkuannya. Radit mengusap kepala Zain, terdengar isak tangis dari bibir Zain. Tangis yang pecah, setelah mencari Nissa. Radit merasakan pilu yang teramat, saat melihat tangis Zain pecah. Radit teringat akan bayangan kepergian Nissa. Bayangan yang terus terlintas di benak Radit. Bayangan Nissa yang pergi, tanpa menoleh lagi ke arahnya. Sekadar menatap Radit, untuk terakhir kalinya.


FLASH BACK


"Akhiri semua, kita jalan masing- masing. Melupakan semua cinta dan bahagia yang pernah ada dalam hidup kita. Terima kasih telah menjagaku selama ini. Maaf, aku menyerah kalah. Selamanya adikmu tidak akan menghargaiku dan aku tidak berharap. Kelak putraku terhina di rumah ayah kandungnya. Sepertiku yang tak pernah dimanusiakan di rumah ayahku sendiri. Sekali lagi maaf, aku harus pergi!" Tutur Nissa, lalu berjalan keluar dari rumah Radit. Amira membawa semua barang milik Nissa.


Bruuuggghh


"Radit!" Teriak Sanjaya, ketika melihat tubuh Radit ambruk tanpa tenaga.


"Saskia, kamu tidak ingin memeriksa tasku. Mungkin kamu takut aku mencuri harta kakakmu!" Sindir Nissa, Saskia terlihat bingung. Nissa pergi, tapi nyatanya hati Saskia terluka melihat kakaknya hancur.


"Tunggu Nissa, biarkan aku ikut denganmu!" Teriak Radit, tapi Nissa pergi tanpa menoleh lagi.


Praaaayyyrrr


Amarah Radit meledak, saat melihat Nissa melangkah keluar dari rumahnya. Nissa tak lagi peduli padanya. Radit melempar barang yang ada didepannya. Melampiaskan amarah yang membuatnya tak sanggup bernapas. Sanjaya mencoba menenangkan Radit. Namun semua sia-sia, Radit terus melampiaskan amarahnya. Saskia menangis histeris, melihat kemarahan Radit yang menakutkan dan pedih. Nissa menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ke arah Radit.


"Radit, emosimu percuma. Kesempatanmu telah habis, Nissa tetap terhina di depan kedua matamu. Sekarang putuskan Radit, siapa yang akan kamu pilih? Nissa atau keluargamu!" Ujar Amira sinis, Nissa menggeleng lemah. Seakan tak lagi mengharap keputusan Radit. Nissa tak lagi berharap pada pohon yang tak mampu melindunginya. Dahannya terlalu rapuh, sampai tak mampu melindungi Nissa dari semilir angin sekalipun.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Agar Nissa percaya padaku!" Ujar Radit, Amira tersenyum sinis. Amira menertawakan sikap Radit yang plin-plan dan tidak tegas.


"Nissa, papa mohon pertimbangkan kembali keputusanmu. Setidaknya demi Zain dan calon buah hati kalian!" Ujar Sanjaya, Nissa menoleh. Tatapannya nanar, mendengar pertama kalianya Sanjaya menganggapnya putri. Namun semua itu terlambat, ketika Nissa tak lagi berharap kasih sayang itu.


"Seandainya sepuluh menit yang lalu anda mengatakannya. Mungkin saya akan mempertimbangkannya. Namun semua terlambat, tak lagi ada inginku berada di rumah ini!"


"Nissa!"


"Ada apa Radit?" Sahut Nissa dingin, Radit berjalan perlahan menghampiri Nissa. Tatapannya sendu, dia melihat Nissa dengan penuh cinta. Namun semua terlanjur berakhir, Nissa seolah telah menutup hatinya.


"Aku akan membiarkanmu pergi, dengan satu syarat. Saat putraku lahir, aku akan membesarkannya. Kamu tidak berhak melarangku!" Ujar Radit, Amira meradang sedangkan Nissa hanya diam.


"Radit, mereka buah hati kita. Tidak ada yang bisa memisahkan kalian. Tanpa dirimu, aku tidak akan bisa memiliki mereka. Selamanya kamu ayah mereka, tidak ada yang bisa mengingkari itu!"


"Tidak, Radit memang ayah biologis mereka!" Sahut Nissa pada Amira. Radit menunduk lesu, Nissa tegas pergi dari hidupnya.


Suasana tiba-tiba terasa sunyi, Nissa begitu dingin. Radit terpuruk dalam lemah dan kebimbangannya. Tanpa Radit sadari, dia mengorbankan Nissa dan buah cinta mereka. Sanjaya tak lagi bisa bicara, dia merasa bersalah telah membuat Radit kehilangan cintanya.


"Maafkan aku!" Ujar Nissa, sesaat setelah mencium punggung tangan Radit. Suara roda koper Nissa terdengar semakin jauh. Sejauh langkah Nissa keluar dari rumah besar Radit.


Tap Tap Tap

__ADS_1


"Terima kasih Saskia, kamu telah menghancurkan pernikahan kakak. Kelak kakak berharap, suamimu tak sebodoh kakak. Lebih memilih adik sepertimu, daripada istri sebaik Nissa!" Ujar Radit lirih, penuh luka.


"Kak, maafkan Saskia!" Ujar Saskia lirih, seraya menangkupkan kedua tangannya. Saskia merasa bersalah, telah membuat luka di hati Radit


"Papa, aku tepati janjiku pada almarhumah mama. Menjaga Saskia dengan cara apapun, termasuk kehilangan separuh hidupku!" Ujar Radit pilu, Sanjaya dan Saskia tertegun. Hati mereka terasa ngilu, menatap kehancuran Radit. Tulang punggung yang kuat, kini lemah tanpa tulang rusuknya.


"Aaaaaaaaaa!" Teriak Radit dengan lantang penuh amarah.


"Maafkan papa!" Ujar Sanjaya lirih, penuh rasa bersalah.


"Papa!" Teriak Zain, seraya berlari dari kamarnya. Ifa tak bisa menahan Zain lebih lama lagi.


Seminggu lebih dia tidak bertemu Nissa. Kerinduan seorang putra, terlihat dari tatapan sendu Zain. Radit menoleh ke arah Zain, tatapannya sendu dengan mata yang berkaca-kaca. Lagi dan lagi, putranya kehilangan orang yang sangat menyayanginya. Semua karena keegoisan orang dewasa yang tak pernah peduli pada perasaan Zain.


"Mama!" Ujar Zain lirih, saat Radit memeluknya erat. Alvira menghampiri Zain, mengulurkan tangan ke arah Zain. Seketika Zain menepis tangan Alvira, tangis Zain pecah. Menggema di seluruh rumah besar Radit. Mengguratkan rasa sakit yang tak bisa dikatakan. Hanya dengan tangis Zain mengutarakan rasa sakitnya. Kerinduan yang teramat dalam pada sosok Nissa, ibu sambungnya.


"Alvira, kamu bisa melihat dengan kedua mata. Sebesar apa cinta putramu pada Nissa? Namun dengan angkuhmu, kamu memisahkannya dengan Nissa. Kini, dengarlah tangis dan kepedihannya. Tataplah kesepiannya, agar kamu puas telah menjauhkan Nissa dari Zain putramu!" Tutur Radit, sembari menggendong Zain. Mencoba menenangkan tangis kepedihan sang putra.


FLASH BACK OFF


"Maafkan papa Zain, papa alasan kamu jauh dari mama Nissa. Papa penyabab kamu kehilangan sosok mama terbaik. Tangismu yang membuat hati papa hancur. Mama Nissa sudah pergi, kini hanya ada kamu dan papa. Kamu penyemangat papa, kita harus kuat. Sampai mama datang kembali, bersama adik-adikmu. Selama itu, papa akan menjagamu dengan sepenuh hati. Kita akan kuat, dengan harapan kelak bertemu dengan mama Nissa!" Tutur Radit hangat penuh cinta. Tangannya terus membelai hangat kepala Zain putra kecil dan kini menjadi penyemangat hidupnya.

__ADS_1


"Mama!" Gumam Zain dalam tidur, di sela isak tangisnya. Radit langsung membungkuk, mencium kening putranya. Setetes bening air mata Radit jatuh membasahi wajah sang putra.


__ADS_2