Senja Pengganti

Senja Pengganti
Sebatas harta


__ADS_3

"Dimana nyonya?" ujar Radit pada Ifa.


"Dimana dia?" ujar Radit lantang, Ifa menunduk ketakutan.


Sejak semalam, Radit belum bertemu dengan Nissa. Semalam Radit menginap di rumah sakit. Zain mengalami demam tinggi dan tubuhnya mulai kejang. Akhirnya Radit membawa Zain ke rumah sakit. Radit menjaga Zain bersama dengan Alvira. Radit sudah mencoba menghubungi Nissa, tapi ponsel pintar Nissa tidak aktif. Ingin Rasanya Radit berlari pulang. Mencari bayang Nissa yang meninggalkannya dengan rasa bersalah. Namun Zain tak sedetikpun melepaskan tangannya. Zain menggenggam erat tangan Radit. Alhasil, pagi ini Radit baru bisa pulang. Radit harus menjelaskan semua masalahnya dengan Nissa.


"Dimana?" ujar Radit ketiga kalinya.


"Ibu!" ujar Ifa tertahan, Radit merasa curiga. Radit berlari ke arah kamarnya. Radit merasakan sesuatu telah terjadi. Ketakutan Radit semakin besar, ketika dia melihat pintu kamarnya terbuka. Nampak tempat tidurnya masih rapi, jelas Nissa tidak tidur di kamar.


"Nissa!" teriak Radit dari lantai dua. Suara Radit menggema, membangunkan semua orang dari tidurnya.


Hari masih sangat pagi, jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIB. Keyakinan Radit seketika hilang, ketika dia tidak menemukan Nissa di dalam kamarnya. Radit galau, menyadari Nissa tidak ada disisinya. Radit turun ke lantai dua, dia menatap tajam Ifa. Mencari tahu keberadaan Nissa, tapi diam Ifa seolah jawaban pertanyaan Radit.


"Radit, Nissa ada di kamarnya. Kenapa kamu berteriak?"


"Dia tidak ada di kamar, aku sudah mencarinya kesana. Dimana Nissa? Tidak mungkin dia pergi, tapi kalian tidak mengetahuinya!" ujar Radit kesal, Sanjaya diam membisu.


Nissa pergi tanpa mengatakan pada siapapun? Lebih tepatnya, sejak kemarin pagi Nissa tidak pulang. Entah kemana Nissa? Namun satu hal yang pasti, Nissa pergi menjauh dari Radit. Nissa menghilang lagi, pertengkaran Radit dan Nissa membuat luka yang menganga di hati Nissa. Namun mengingat pribadi Nissa, tidak mungkin Nissa pergi tanpa bicara pada Radit. Nissa mungkin keras kepala, tapi dia bukan istri durhaka. Nissa sangat menghargai Radit sebagai suaminya. Tidak akan Nissa melukai harga diri Radit, demi amarah sesaatnya.

__ADS_1


"Dimana kamu Nissa? Semarah itukah kamu, sampai kamu pergi tanpa pamit padaku. Saat ini, aku butuh dukunganmu. Kenapa kamu malah marah dan pergi dariku? Dimana kamu sekarang? Aku memang merindukan Zain, dia alasanku bernapas. Namun percayalah Nissa, kamu satu-satunya tenangku. Aku kehilangan akal, bila jauh darimu!" batin Radit pilu, kepalanya tertunduk dan menyisakkan penyesalan yang begitu besar.


"Assalammualaikum!" ujar Nissa pelan, Radit langsung mendongak. Tatapan Radit sendu, sosok yang dirindukan berdiri tak jauh darinya. Nissa berjalan tanpa rasa bersalah. Nissa datang tanpa beban, wajahnya terlihat teduh dan cantik.


"Darimana kamu? Kenapa pergi tanpa pamit? Hampir saja, aku kehilangan akal memikirkanmu!" ujar Radit, sembari menangkup kedua tangan Nissa. Genggaman tangan Radit terlalu keras. Sampai Nissa merintih kesakitan.


"Aku pulang ke rumah!"


"Rumah, ini rumahmu!" ujar Radit, Nissa menggelengkan kepalanya pelan. Nissa melepaskan tangan Radit, sikap dingin Nissa membekukan tubuh Nissa.


"Rumah ini bukan rumahku, aku berhak disini saat ada kamu. Maaf, jika aku keras kepala dan egois. Aku hanya takut salah memposisikan diri!"


Nissa terus melangkah, dia masuk ke dalam kamarnya. Seolah tidak terjadi sesuatu padanya. Setelah mengganti pakaian, Nissa menyiapkan bahan mengajarnya. Radit terpaku, tak bergerak dari tempatnya. Sikap acuh Nissa, terasa begitu dingin dan membekukan tubuhnya. Sanjaya tertegun, menatap sang putra lemah. Radit nampak hancur, menerima sikap Nissa.


Tap Tap Tap


"Nissa!" sapa Radit lirih, Nissa menghentikan langkahnya. Nissa menarik tangan Radit, mencium hangat punggung tangan Radit. Bakti Nissa bukti tulus cintanya pada Radit. Kekecewaannya jauh terkubur di ujung egonya. Nissa tak menunjukkan rasa cemburunya. Nissa mencoba tetap tenang, agar Radit tak terbebani dengan rasa cemburunya.


"Maaf, pagi ini aku tidak bisa membuatkanmu sarapan. Ada jadwal rapat di luarkota, mungkin aku tidak pulang ke rumahmu. Namun percayalah, aku baik-baik saja dan senantiasa menjaga kesucianku. Maaf, aku tidak bisa menjenguk Zain di rumah sakit. Aku terus berdoa, semoga di cepat sembuh!" ujar Nissa, sesaat setelah mencium punggung tangan Radit. Ketenangan Nissa, nyata mengguratkan ketakutan di hati Radit. Bimbang memilih, antara Zain atau Nissa. Pilihan yang takkan pernah bisa dipilih oleh Radit.

__ADS_1


"Jangan pergi!" bisik Radit, sembari memeluk erat tubuh Nissa. Radit menarik tubuh Nissa dalam dekap hangatnya. Nissa tertegun, merasakan hangat pelukan Radit lagi. Setelah dingin sikap Radit dan bentakan-bentakan Radit kemarin pagi.


Radit memeluk erat Nissa, tapi tidak sebaliknya. Nissa memilih diam, tidak membalas pelukan Radit. Nissa bak tubuh tanpa jiwa, hatinya terlalu sakit. Cintanya pada Radit begitu besar, sampai Nissa merasakan sakit yang teramat ngilu. Ketika mendengar satu bentakan Radit. Jiwa Nissa remuk, saat mendengar keraguan Radit akan dirinya. Sikap keras dan egois seorang wanita. Terluka, hanya dengan satu kata menyakitkan dari orang yang paling dicintainya. Hancur, saat lelah dan sakitnya teracuhkan.


"Kamu sudah berjanji padaku, tidak akan mengekangku dalam sangkar emasmu. Kamu setuju aku bekerja, demi melunasi hutangku padamu. Namun jika memang aku harus berhenti, aku akan berhenti mengajar. Namun izinkan aku bekerja padamu, menjadi ART di rumah inipun aku bersedia!" ujar Nissa lirih, sontak Radit melepaskan pelukannya. Jantung Radit berhenti berdetak, perkataan Nissa terdengar lembut. Namun menyakitkan didengar.


"Pergilah!" ujar Radit singkat, Nissa mengangguk tanpa ragu. Nissa melewari Radit begitu saja. Radit membeku.


"Nissa!" panggil Radit lirih penuh duka. Nissa menoleh, terlihat Radit menunduk dan membelakanginya.


Nissa merasakan detak jantungnya berdegub kencang. Nissa merasakan firasat yang aneh. Suara Radit terdengar berbeda, sejenak Nissa takut mendengar perkataan Radit. Namun, apapun yang terjadi? Nissa harus siap mendengar keputusan Radit. Setiap pilihan memiliki pengorbanan sendiri. Termasuk keputusan Nissa bersikap dingin pada Radit.


"Aku akan melepasmu, jika memang kamu ingin pergi. Aku tidak akan mengekangmu. Kamu berhak bahagia dan aku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu. Jika memang kamu bahagia tanpaku, katakan padaku. Aku akan melepasmu, demi menebus bahagia yang aku renggut darimu. Laki-laki sepertiku, tidak pantas menjadi imammu. Maaf, telah membuatmu kecewa selama ini. Akan aku pastikan hidupmu baik-baik saja. Aku akan memberikan hak yang sama pada putra yang ada dikandunganmu. Aku akan mewariskan hartaku padanya dan Zain. Aku tidak akan mengekangmu lagi. Maaf, jika aku harus mengaku kalah. Zain putraku, aku tidak bisa jauh darinya. Seandainya kamu bahagia tanpaku, aku akan melepasmu. Secepatnya aku akan membagi hartaku. Putra dalam rahimmu tidak akan kekurangan apapun!" tutur Radit lirih, Nissa membisu.


"Cintaku sebatas harta, itu yang ada dalam benakmu. Cemburuku tak berarti bagimu. Serapuh ini cinta kita, sampai kamu menggantinya dengan harta!" batin Nissa, sembari menekan dadanya pelan.


"Terima kasih!" sahut Nissa lirih, lalu keluar dari rumah Radit.


"Nissaaaaaa!" teriak Radit lantang dan menggema.

__ADS_1


__ADS_2