
"Kamu sudah pulang!" sapa Nissa, Radit diam membisu. Radit melempar jas yang dipakainya. Radit merebahkan tubuhnya di sofa. Nissa bangkit dari sujudnya, melepaskan mukena yang dipakainya.
Nissa berjalan menuju meja nakas, mengambil segelas air untuk Radit. Terlihat Radit sangat lelah, entah sepadat apa pekerjaannya? Nampak jelas tenaga dan pikiran Radit terkuras. Radit mengambil minuman dari tangan Nissa. Radit meletakkan gelas kosong tepat di depannya. Radit melonggarkan dasi yang tengah dipakainya. Seakan lehernya tercekik dan tak mampu bernapas. Nissa melirik kondisi Radit yang tidak baik-baik saja.
"Aku akan mengambilkan makanan untukmu!"
"Tunggu Nissa, aku sudah makan malam!" sahut Radit dingin, Nissa mengangguk pelan. Nissa kembali masuk ke dalam kamar. Menutup kembali pintu yang sempat dibuka.
"Lebih baik kamu mandi, aku akan menyiapkan air panas dan baju ganti!" ujar Nissa, sembari berjalan melewati Radit menuju kamar mandi. Nissa merasa sikap Radit tidak biasa, tapi Nissa tetap berpikir positive. Meski hati seorang istri mulai terusik.
Kreeekkk
"Tidak perlu Nissa, aku belum ingin mandi. Aku akan menyiapkan airnya sendiri!" tolak Radit, Nissa diam memantung. Seketika detak jantung Nissa berhenti. Dua kali penolakan Radit, bak jarum yang menancap tepat di jantungnya. Menghentikan detak dan aliran darah ke seluruh tubuhnya.
Nissa merasa dingin yang membekukan tubuhnya. Tak ada hangat, tak ada cemas atau tak ada perhatian dari Radit untuknya. Hanya ada tatapan dingin, penolakan yang kejam dan marah yang terisyarat. Nissa merasakan seluruh kamarnya dingin. Nissa memilih keluar dari kamarnya, Nissa berdiri di balkon kamarnya. Berada di dalam kamar yang sama. Hanya akan membuatnya tersiksa dan membeku. Nissa keluar, sekadar mencari udara tenang yang mampu menghilangkan sesak napasnya. Nissa berdiri di bawah langit malam yang gelap. Tubuh Nissa berselimut dingin angin, tapi tak sedingin tatapan dan sikap Radit. Tak ada hangat yang terasa olehnya, tapi Nissa menemukan ketenangan dalam gelap malam.
Tik Tok Tik Tok Tik Tok
Jarum jam terus berdetak, menunjukkan malam semakin larut. Namun Nissa dan Radit tak beranjak dari tempatnya. Nissa berdiri di bawah langit malam dan Radit duduk di bawah cahaya lampu kamar yang terang. Nissa dan Radit larut dalam pemikiran yang tak menemukan arah. Detik berputar begitu cepat, menit terlewati begitu saja. Sampai tak ada yang menyadari, hampir dua jam Nissa dan Radit menjauh dalam diam.
Braaakkkk
"Asthaghfirullahhaladzim!" batin Nissa, sembari menekan dadanya pelan. Suara bantingan pintu kamar mandi mengagetkan Nissa.
__ADS_1
Terlihat Radit masuk ke dalam kamar mandi. Nissa menghela napas lega, akhirnya Radit membaik dan lebih tenang. Nissa memutuskan turun, setelah mendengar cacing di perutnya meronta. Nissa belum makan malam, dia selalu menanti Radit. Namun saat dia mendengar Radit sudah makan malam. Nissa memilih untuk segera tidur. Namun angannya berubah, ketika mendengar perutnya yang keroncongan. Nissa turun ke dapur, bukan untuk makan. Nissa hendak membuat teh hangat.
Praaaayyyrrr
Nissa ketakutan, saat dia membuka pintu terdengar suara kaca yang pecah.Hampir saja Nissa melepaskan gelas yang tengah dipegangnya. Nissa semakin yakin, Radit sedang ada masalah. Entah apa itu? Jelas masalah itu ada hubungan dengannya. Nissa masuk perlahan dengan rasa takut. Nissa terkejut dan langsung berlari, ketika dia melihat Radit melempar bingkai fotonya. Nissa duduk bersimpuh, mengambil pecahan kaca yang berserakan. Tanpa alas tangan, Nissa mengambil retakan kaca yang berpencar.
"Aawwwwwsss!" rintih Nissa, saat pecahan kaca. Nissa langsung menghisap darah yang keluar dari jarinya. Nissa merasakan perih yang teramat, tapi tak seperih hatinya saat ini. Sikap Radit membuat Nissa kecewa, sangat kecewa. Sampai Nissa tak ingin melihat wajah Radit lagi.
"Nissa!" teriak Radit histeris, Radit menghampiri Nissa. Jelas raut wajah Radit cemas melihat darah yang keluar dari jari Nissa.
"Pergilah!" teriak Nissa histeris, sembari mendorong tubuh Radit. Nissa menolak hangat Radit. Nissa terlajur kecewa, sampai Nissa tak mampu lagi menahan amarahnya.
"Nissa, tanganmu!" ujar Radit, Nissa mendorong tubuh Radit menjauh. Nissa mengambil kembali pecahan kaca yang berserakan.Tanpa peduli lagi akan darah yang mengalir dari jarinya. Darah Nissa merubah kaca bening, menjadi merah pekat.
"Maafkan aku!"
"Seandainya kata maafmu mampu mengembalikan foto ini. Mungkin aku akan memaafkanmu. Mungkin bagimu ini hanya foto tak berarti, tapi bagiku ini harta paling berhargaku. Foto terakhir yang aku miliki, satu-satunya kenangan mama. Senyum yang takkan pernah aku lihat lagi. Kini rusak oleh amarahmu!" ujar Nissa emosi, Radit menunduk. Nampak jelas raut wajah bersalah Radit, tapi sakir hati Nissa nyata dan takkan mudah dihapuskan.
"Maaf!"
"Pergilah Radit, jangan dekati aku!"
"Nissa, aku memang bersalah. Aku melampiaskan rasa kecewaku padamu. Meski aku sadar, kamu tidak bersalah!"
__ADS_1
"Pergi!" teriak Nissa histeris, suaranya menggema. Tangis Nissa pecah, tangannya bergetar dan bibirnya membiru. Dua mata Nissa memerah, air mata Nissa pecah. Nissa menangis histeris, menampakkan jelas rasa sakitnya.
"Nissa, dengarkan penjelasanku!" ujar Radit, Nissa menepis tangan Radit. Ketika Radit menahan tangannya. Nissa benar-benar kecewa, tanpa alasan Radit marah dan seolah menyalahkan Nissa.
"Apa yang ingin kamu jelaskan? Kamu ingin mengatakan, kamu tidak sadar melakukannya. Kamu ingin mengatakan, kamu tidak marah. Kamu ingin mengatakan, semua ini hanya kekhilafanmu. Apa yang ingin kamu katakan? Kenapa diam saja?" sahut Nissa marah, air mata Nissa pecah. Hatinya terasa ngilu, Nissa menekan dadanya pelan. Nissa mulai merasakan sesak napas dan perutnya mulai kram.
"Iya aku marah, aku kecewa dan harga diriku terluka. Kamu dan keluargamu tak pernah menghargaiku. Kamu angkuh Nissa, sama seperti keluarga Kusuma lainnya. Kamu sombong, berpikir kamu mampu hidup tanpa bantuanku. Kamu menganggapku suami, tapi tak pernah menghargaiku. Kamu egois, kamu alasan semua penghinaan yang aku rasakan sekarang. Kamu menolak menggunakan jerih payahku. Malah kamu membayar setiap sen hutang keluargamu padaku. Sekarang, karenamu aku terhina. Paman terbaikmu membayar semua hutang keluargamu. Pamanmu membuatku terlihat bodoh!" ujar Radit penuh amarah, Nissa tersenyum sinis. Lalu memutar tubuhnya, menatap Radit yang ada tepat di depannya.
"Bukankah kamu yang pertama kali menganggap pernikahan ini sebagai penebusan hutang. Setelah satu tahun pernikahan kita, pernahkah kamu mendengar adikmu menganggapku sebagai manusia. Aku hanya wanita murah di depannya. Jangankan duduk satu meja dengan keluargamu, menatap mereka aku merasa malu. Sebab mereka menganggapku hanya wanita yang kamu beli, tidak lebih. Sekarang kamu marah padaku, berpikir aku alasan harga dirimu terluka. Tanyakan pada hatimu, siapa yang terluka antara kita? Keluarga mana yang sombong dan angkuh? Tak pernah menganggap orang lain pantas dihargai!"
"Nissa cukup, atau!"
"Atau apa Radit? Ini fakta yang sebenarnya. Akulah wanita yang kamu beli. Wanita pemuas napsumu. Wanita tempatmu menitipkan benih. Wanita tak berharga yang pantas dihina oleh adikmu. Wanita murah dan murahan!"
Plaaakkkk
"Nissa cukup!" ujar Radit, sesaat setelah menampar Nissa.
"Maaf!" ujar Radit, saat melihat Nissa memegang pipinya.
"Maaf!" ujar Radit lirih, Nissa menjauh dari Radit.
"Sekarang kita seimbang, aku telah membayar rasa terhinamu dengan menerima satu tamparan darimu!"
__ADS_1