
Malam panjang berlalu, sang fajar datang menyapa. Sinarnya menyusup diantara celah kecil tirai. Memberikan hangat pada tubuh dingin Nissa. Menyejukkan hati Nissa yang gersang penuh amarah dan rasa sakit. Nissa tubuh penuh luka, tapi tetap berdiri dengan senyum tulusnya. Nissa pribadi hangat penuh cinta yang terus memberikan bahagia bagi orang di sekelilingnya. Tanpa peduli akan kebahagiaannya sendiri.
Nissa terbangun di sebuah kamar besar yang tak pernah ditempatinya. Bajunya telah berganti, tak lagi ada hijab yang menutupi mahkota indahnya. Nissa tersadar, setelah semalam pingsan dalam pelukan Radit. Nissa memegang kepalanya yang terasa berat. Tubuh Nissa demam, angin laut membuat Nisss tumbang dalam pelukan Radit. Nissa menoleh ke arah jam dinding, dua bola matanya membulat sempurna. Waktu subuh telah lewat, tepat pukul 05.15 WIB. Sontak Nissa bangun, dengan sisa tenaganya. Nissa mencoba berjalan ke arah kamar mandi. Nissa berjalan gontai, tubuhnya benar-benar lemas dan kepalanya terasa begitu berat.
"Aaaa!" teriak Nissa, ketika dia merasa tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh.
"Kamu!" ujar Nissa lirih, saat Radit sudah menangkap tubuhnya. Radit menopang tubuh Nissa yang lemah. Sejenak Radit heran dengan sikap Nissa. Meski tubuhnya lemah, Nissa tetap berdiri tanpa meminta bantuannya. Tatapan Radit dingin, seolah ada rasa marah melihat sikap keras dan dingin Nissa.
"Terkadang seseorang tidak bisa berdiri sendiri!" ujar Radit dingin, Nissa menepis tangan Radit dengan perlahan.
"Terima kasih, aku sudah kehabisan waktu. Sebentar lagi syuruq, waktu subuh akan habis!"
"Sekali saja kamu tidak sholat, tidak masalah. Apalagi kamu sedang sakit!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah. Dengan tertatih, Nissa berjalan menuju pintu kamar mandi. Nissa menoleh tepat di depan pintu kamar mandi. Nampak seutas senyum di wajah Nissa. Radit termenung, senyum Nissa seolah ditujukan padanya.
"Aku memang sakit, tapi aku masih bisa jalan dan bernapas. Mungkin aku tidak sempurna, tapi selama aku bisa menjaga imanku. Aku akan berusaha pada imanku dan takkan kugadai baktiku padamu dengan iman pada-NYA. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, percayalah aku baik-baik saja!" tutur Nissa lirih dan lembut, Radit terdiam. Entah apa yang dirasakan Radit? Nissa telah mengubah keras hati Radit menjadi lemah dan perasa.
"Aku kalah, dia telah mengalahkan ego dalam hatiku. Apa ini yang dinamakan cinta? Nissa, kesederhanaanmu menyadarkanku. Kebahagian dan ketenangan, bukan hanya harta dan kekuasaan. Ketulusan hatimu, ketenangan jiwamu dan ketegaran hidupmu membuatku malu. Nissa, siapa dirimu sebenarnya? Kenapa kita bertemu dengan cara yang salah?" batin Radit sendu, tatapannya lurus ke arah pintu kamar mandi. Radit menanti Nissa, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Nissa.
Kreeeekkk
"Aku akan membantumu!" ujar Radit, Nissa menggelengkan kepalanya. Radit mengeryitkan dahinya, bingung sekaligus kecewa. Tatkala Nissa menolak uluran tangannya.
"Maaf, aku ada wudhu!" ujar Nissa lirih, Radit mengangguk mengerti. Radit berjalan lebih dulu dari Nissa. Radit menyiapkan peralatan sholat Nissa. Sekilas nampak senyum di wajah Nissa. Senyum penuh ketulusan yang terutas dari dalam hati.
"Terima kasih, tapi aku akan lebih senang. Jika kamu menjadi imam sholatku!" ujar Nissa dengan lembut dan hangat.
Deg
__ADS_1
"Dia ingin aku menjadi imam sholatnya. Mungkinkah dia mulai membuka hatinya untukku!" batin Radit, bersamaan dengan jantungnya yang berdetak hebat.
"Maaf, aku tidak bisa menjadi imam sholatmu!" ujar Radit lesu, Nissa menggelengkan kepalanya.
"Bukan tidak bisa, tapi belum bisa!" ujar Nissa lalu memulai sholatnya. Radit berjalan keluar dari kamar. Dengan perasaan yang bercampur, Radit meninggalkan Nissa dalam sujud. Sekilas Radit menoleh, dia melihat kekhusyukan Nissa dalam doa dan sujudnya. Rasa bersalah menyergap jauh dalam hatinya.
"Istriku yang sholeha, tapi dia tak beruntung menikah denganku!" batin Radit kecewa, lalu menutup pintu kamar. Meninggalkan Nissa yang khusyuk dalam sujud dan doa.
Radit meninggalkan Nissa dan memilih duduk di halaman depan. Suasana rumah begitu asri, nampak beberapa pohon besar yang tengah berbuah. Sebuah halaman yang cukup luas dengan rumah yang tak terlalu besar. Rumah yang berada di kawasan puncak. Sejauh mata memandang, pemandangan begitu indah. Terlihat gunung tinggi menjulang, menambah keindahan dan keasrian. Rumah yang sengaja di bangun Radit sebagai tempat peristirahatan. Rumah yang baru kedua kali di kunjungi Radit.
"Tuan, sarapan sudah siap!" ujar bikMinah, Radit menoleh dengan helaan napas. Seakan Radit tak ingin sarapan. Bik Minah tersenyum, Radit menunduk lesu.
"Ibu cantik, dia akan mencintai tuan!"
"Maksud bik Minah!" ujar Radit tak mengerti, Bik Minah tersenyum. Radit menggeleng lemah, seolah tidak setuju dengan perkataan Bik Minah. Radit menyadari, sikap dingin Nissa jawaban dari hubungan mereka selama ini.
"Ibu wanita yang baik, kelak ibu bisa melihat cinta tuan!"
"Entahlah, aku tidak berharap lebih!" sahut Radit datar, Bik Minah menatap lurus ke arah jendela kamar Radit. Bik Minah tersenyum bahagia, Radit merasa heran melihat senyum bik Minah.
"Tatapan ibu mengatakan iya, sejak awal tuan duduk disini. Ibu menatap tuan tanpa menoleh. Bik Minah berharap, cinta tuan bersambut. Ibu akan menjadi istri dan ibu sambung yang baik. Tuan muda dan Zain akan bahagia bersama Ibu!" ujar Bik Minah, Radit memutar tubuhnya. Dia menoleh ke arah jendela kamarnya. Nampak Nissa menatap lurus ke arahnya.
"Bik Minah!"
"Iya tuan!" sahut Bik Minah, Radit berdiri tepat di depan Bik Minah.
"Tolong siapakan sarapan dan antar ke kamar. Ibu masih lemah, aku akan menyuapinya di kamar!"
__ADS_1
"Tuan sangat mencintai ibu!" ujar bika Minah lirih menggoda Radit.
"Semoga ini memang cinta, bukan sebatas rasa kasihan!" gumam Radit, sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Radit melangkah begitu pelan, bertemu Nissa setelah pembicaraan tadi. Sungguh Radit merasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri. Radit merasa kurang, saat menyadari dirinya tak mampu menjadi imam yang baik. Radit terus bermain dengan pikirannya. Sampai dia tak menyadari, langkahnya telah terhenti di kamar. Radit bingung hendak masuk atau tidak, sampai akhirnya bik Minah datang dengan sebuah nampan berisi makanan. Radit mengambil nampan dan langsung membawanya masuk. Radit membuka pintu perlahan, nampak Nissa tengah berbaring di tempat tidur. Nissa memilih tidur, saat melihat Radit masuk ke dalam rumah.
"Sarapan!" ujar Radit, sembari mengangkat nampan. Nissa mendongak, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Nissa meringkuk di balik selimut, tubuhnya demam dan kepalanya berat.
"Kamu harus makan, lalu minum obat!"
"Aku tidak lapar, aku juga tidak bisa minum obat. Aku hanya ingin tidur, kepalaku pusing!"
"Aku akan menyuapimu!"
"Tidak perlu, aku tidak lapar!" ujar Nissa, lalu memutar tubuhnya. Nissa membelakangi Radit, tubuhnya menggigil kedinginan. Bibirnya bergetar, beberapa helai rambutnya menutup wajah Nissa.
"Makanlah, satu suap saja!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah. Radit menghela napas, keras kepala Nissa membuat Radit frustasi.
"Aku panggilkan dokter!" ujar Radit, Nissa menggeleng untuk kesekian kali. Radit menyerah, keras kepala Nissa tidak terkalahkan.
"Baiklah, aku akan menemanimu!" ujar Radit, lalu tidur tepat di samping Nissa.
Radit memeluk Nissa dari belakang, mendekap erat tubuh Nissa yang menggigil. Radit menyusupkan kepalanya tepat di belakang tengkuk Nissa. Mencium harum rambut Nissa, sesaat Radit luluh dalam hasrat. Radit menyibak rambut Nissa, mencium hangat tengkuk Nissa. Tak ada perlawanan atau penolakan, Radit merasa Nissa mengizinkannya. Suara helaan Nissa disela dingin tubuhnya, membuat Radit semakin bergairah. Radit semakin liar, menjelajahi tubuh Nissa. Radit lupa, jika Nissa masih sakit dan lemah.
"Aku masih sakit, harus sekarang memangnya!" ujar Nissa lirih dan lemah, Radit menggeleng tepat di punggung Nissa.
"Maaf!" ujar Radit kikuk, Nissa diam membisu. Tak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari bibir Nissa. Dalam pelukan Radit, Nissa merasa nyaman dan tertidur.
__ADS_1
"Sekarang aku bisa menahan hasrat ini, tapi pesona telah mengalahkanku. Sampai kapan aku bisa menahannya? Aku ingin memilikimu dengan cinta, bukan paksaan!" batin Radit, sembari mendekap Nissa dengan erat.