
Sang fajar menyapa, suara cicit burung saling bersahutan. Kabut pergi tergantikan embun yang menyejukkan. Pagi yang indah dengan harmoni alam. Awal dari hari yang panjang, sampai senja menyapa menandakan malam tiba. Namun keindahan pagi tak seindah hari Radit dan Amira. Tatkala dua pasang mata mereka menatap tubuh Nissa yang terbaring lemas. Tubuh yang semakin lemah, mengingat lelah tubuh dan hati yang menggerogoti ketenangannya.
Tubuh Nissa jatuh terkulai lemas di depan Radit. Nissa kehilangan kesadaran, ketika hatinya menjerit merasakan sakit yang teramat. Beban pikiran yang tak lagi mampu ditanggungnya. Doa dan sujud Nissa, sejenak membuatnya tenang. Namun kembali sakit, saat rindu menyiksanya. Rindu yang terus tertahan, ketika mengingat perkataan Radit. Cinta yang ada, tak mampu membuat Nissa bahagia. Kala kebencian Radit terngiang di telinganya. Nissa rapuh dan hancur dalam sekejap. Tak lagi mampu berdiri tegak dengan hati penuh luka.
Di sinilah Nissa terbaring lemas, puskemas desa yang jauh dari keramaian kota. Radit dan Amira membawa Nissa ke puskesmas tak jauh dari rumah Nissa. Sebuah puskemas kecil yang minim fasilitas. Radit bisa saja membawa Nissa ke rumah sakit besar. Namun kondisi Nissa yang semakin lemah, sangat beresiko dan bahaya. Amira menyarankan, agar membawa Nissa ke puskesmas desa. Setidaknya sampai Nissa tersadar. Puskesmas yang begitu asri, jauh dari polusi dan kebisingan kota.
"Tuan, pulanglah. Aku akan menjaga Nissa. Sejak tadi ponselmu berdering, mungkin keluargamu cemas!"
"Aku tidak akan meninggalkan Nissa. Setelah Nissa sadar, aku akan membawa Nissa ke rumah sakit kota. Rayhan akan datang dengan tim medis!" ujar Radit tanpa menoleh, terlihat tangan Radit terus menggenggam tangan Nissa.
Amira bahagia melihat besar cinta Radit pada Nissa. Namun di sisi lain, Amira marah mengingat seberapa buruk niat jahat Radit pada sahabatnya. Amira terharu, menyadari cinta Radit pada sahabatnya. Setidaknya kini ada seseorang yang benar-benar mencintai Nissa. Amira merasa semua akan baik-baik saja. Meski semua butuh waktu yang tak sedikit. Namun kesabaran dan ketulusan akan membuat semuanya membaik.
"Baiklah, aku akan keluar mencarikan sarapan untukmu!"
"Tidak perlu, aku tidak lapar!" sahut Radit datar, Amira tersenyum tipis mendengar jawaban Radit. Sebuah jawaban yang beberapa hari ini terucap dari bibir Nissa. Amira merasa bahagia, menyadari ikatan bathin yang mulai terjalin antara Radit dan Nissa.
"Selama seminggu, aku mendengar kata yang sama dari bibir Nissa. Kini aku mendengarnya darimu. Kalian saling mencintai, tapi saling menyakiti. Aku tidak akan memaksa anda sarapan, tapi ingatlah satu hal. Nissa terbaring lemah tepat di depan anda. Jika anda tumbang, siapa yang akan menjaganya. Jangan salahkan aku, jika Farhat yang menggantikan posisi anda!" tutur Amira tegas, Radit menoleh dengan raut wajah terkejut.
"Aku bercanda, Nissa tidak pernah ingin bergantung pada orang lain. Tidak terkecuali padaku, jadi tetaplah kuat. Agar tubuh lemahnya tidak perlu bersandar pada yang lain!" ujar Amira, lalu pergi meninggalkan Radit sendirian. Amira menyadari tatapan tidak suka Radit. Kala nama Farhat disebut olehnya. Namun Amira takkan pernah peduli akan hal itu. Sikap riang dan acuhnya, membuat Amira tidak peduli akan tatapan orang lain padanya.
"Nissa sahabatku, sadarlah dan lihat kepedihannya. Dia memang kejam, tapi cintanya tulus padamu. Selama matamu terpejam, dia tetap terjaga di sampingmu. Ketakutanmu menjadi kecemasannya, rintihanmu alasan sakitnya. Mungkin dia bukan imam terbaik, tapi dia laki-laki baik. Seandainya tangis tak melukai harga dirinya. Mungkin air matanya yang kini kamu lihat. Hampir dua belas jam kamu tertidur, tapi selama itu dia terjaga di sampingmu. Mengusap wajahmu yang dingin, berharap dinginmu berpindah padanya. Sadarlah sahabatku, lihatlah cintanya bukan kesalahannya. Nissa, dia mungkin salah pada ayahmu. Namun sadarkah kamu, dia berhak mendapatkan kesempatan. Jangan siksa dirimu dengan cintanya. Karna cinta yang sama telah menyiksanya. Sadarlah sahabatku, dia mencintaimu. Lawan sakitmu, raih cintanya dan gapai bahagia bersamanya. Hanya doa yang bisa aku titipkan diantara dua sujudku, demi kebahagian kalian berdua!" batin Amira, sembari menatap punggung Radit. Amira berdiri mematung tepat di depan pintu. Amira menatap haru, cinta Radit yang begitu besar pada Nissa.
Bruuuuggghh
"Awwsss, sakit!" rintih Amira lirih, Rayhan diam membeku. Radit langsung menoleh, saat mendengar teriakkan Amira. Rayhan berjalan masuk tanpa meminta maaf pada Amira. Sekadar basa-basi sudah menabrak tubuh Amira.
"Kamu baik-baik saja!" ujar Radit, Amira mengangguk pelan. Rayhan tak menoleh ke arah Amira, Radit meminta Rayhan meminta maaf.
__ADS_1
"Tidak, dia yang salah berdiri di depan pintu. Seharusnya dia yang meminta maaf, melamun di depan pintu menghalangi orang masuk!" sahut Rayhan ketus dan dingin, Amira melotot. Amira kesal mendengar perkataan Rayhan, Radit menggelengkan kepalanya. Radit meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibirnya. Sontak Amira terdiam, dia menoleh ke arah Nissa.
"Kamu beruntung!" ujar Amira kesal, lalu keluar dari kamar Nissa. Rayhan mengacuhkan Amira, tak sedikitpun terpengaruh oleh sikap Amira.
"Dia Amira, sahabat Nissa. Anaknya periang, tapi tegas!"
"Aku tidak bertanya!" sahut Rayhan dingin, Radit tersenyum.
"Tatapanmu yang bertanya padaku!" ujar Radit, Rayhan diam membisu. Raut wajahnya terlihat kesal, Radit semakin ingin menggoda Rayhan.
"Amira itu!
"Diamlah Radit, aku datang hanya ingin melihat kondisimu Nissa!" sahut Rayhan kesal, Radit menutup mulutnya. Raut wajah Rayhan benar-benar kesal. Radit memilih diam, sebelum kekesalan Rayhan berubah menjadi amarah.
"Baiklah, dimana tim medisnya?"
Radit menghela napas, menatap pilu wajah pucat Nissa. Selang infus tertancap sempurna di punggung tangan Nissa. Radit membisu, entah kenapa Radit terasa lemah? Pikirannya kacau, tak mampu memutuskan apapun. Semua terasa membingungkan, Radit seakan takut memutuskan. Satu keputusan yang salah, akan berakibat fatal pada Nissa.
"Radit, kamu harus memutuskan!"
"Mama!" ujar Nissa mengigau, Radit dan Rayhan langsung menoleh. Radit langsung duduk di samping tempat tidur Nissa. Menggenggam erat tangan Nissa, sembari mengusap wajah pucat Nissa.
"Rayhan, panggilkan Amira!"
"Kenapa harus memanggilnya? Kenapa bukan dokter?" sahut Rayhan kesal, Radit menatap tajam Rayhan. Tatapan yang penuh ketegasan, tatapan yang siap berubah menjadi amarah.
"Mama!" ujar Nissa lagi dalam tidurnya. Radit semakin cemas, suhu tubuh Nissa masih sangat tinggi. Alasan kesadaran Nissa semakin menurun dan terus mengigau.
__ADS_1
"Mama!" ujar Nissa ketiga kali, panggilan pilu yang disertai air mata. Radit merasa ngilu, saat melihat tangis Nissa dalam tidurnya. Radit menyadari, betapa dalam luka yang ditorehkan pada hati Nissa? Radit menyeka air mata Nissa, air mata penuh kepedihan yang tak pernah disadari olehnya.
"Rayhan, cari Amira!" ujar Radit lantang, Rayhan tersentak dan langsung pergi. Namun langkahnya terhenti, ketika melihat pintu terbuka.
"Ada apa?"
"Amira, Nissa mengigau!" sahut Radit, Amira berhambur ke arah Nissa. Radit berdiri menjauh, Amira berdiri tepat di samping Nissa.
"Nissa sadarlah!" ujar Amira, sembari mengusap kening Nissa. Sedangkan tangan satunya, menggenggam erat tangan Nisss.
"Sahabatku bangunlah, aku mohon!"
"Nurul Choirunnissa Ghinayah, senja tidak pernah menyerah. Ingatlah sahabatku, masih banyak senja yang belum kita kejar. Jadi bangunlah dan kita kejar senja impian kita!" ujar Amira lirih, lalu menempelkan keningnya pada kening Nissa. Air mata Amira menetes membasahi pipi Nissa.
"Bangunlah, aku mohon!" ujar Amira lirih dan pilu, Radit memutar tubuhnya. Radit tak mampu melihat kepiluan yang ada di depannya.
"Radit, dia akan sembuh. Aku akan mengurus semuanya!" ujar Rayhan, sesaat setelah menepuk pelan pundak Radit.
"Terima kasih!" sahut Radit, Rayhan mengedipkan kedua matanya.
"Arsyila Amira Putri, sahabatku!" sahut Nissa lirih dan lemah.
"Nissa!" sahut Amira bahagia, melihat Nissa sadar.
"Sayang!" panggil Radit hangat, lalu berlari menghampiri Nissa.
"Kita akan mengejar senja Amira, aku janji!" ujar Nissa lirih, tanpa menoleh ke arah Radit.
__ADS_1