Senja Pengganti

Senja Pengganti
Pulang


__ADS_3

Daniel keluar dari kamar Irfan. Daniel menoleh ke segala penjuru rumah. Sebuah rumah megah yang ditinggalkannya puluhan tahun yang lalu. Menanggalkan nama besar Kusuma, keluar dari kemewahan yang penuh keangkuhan. Daniel berjalan ke setiap sudut rumah. Istana yang dulu penuh tawa. Kini terasa dingin dan hampa, tak ada tawa terdengar. Daniel menyentuh salah satu dinding, tembok tangguh yang pernah menjadi penjara baginya. Lama Daniel berjalan, dia berdiri tepat di bawah tangga. Daniel mendongak ke atas, tepatnya lantai dua rumahnya. Ada beberapa kamar, salah satunya kamarnya dan Elmaira. Kamar yang pernah dia tempati.


Daniel melangkah, menaiki satu demi satu anak tangga. Tangannya memegang kayu pembatas tangga. Terbersit kenangan indahnya bersama Elmaira sang kakak. Tawa riang yang terdengar begitu nyaring ditelinganya. Daniel sangat merindukan kakaknya, sosok yang pernah menjadi ibu baginya. Mengingat perbedaan usia mereka yang hampir tujuh tahun. Membuat Elmaira menjadi ibu pengganti, ketika ibu kandung mereka meninggal.


Sebuah kisah klasik yang terjalin antara adik dan kakaknya. Hubungan yang begitu erat, sampai Daniel memutuskan pergi dari rumah. Ketika dia mendengar Elmaira meninggal dan menyalahkan Irfan atas kepergian Elmaira. Daniel tak mampu melupakan kepedihannya. Sebab itu, Daniel memilih pergi dari rumah dan negara tempatnya dilahirkan. Daniel menjelma menjadi laki-laki dewasa di usia remaja. Kebencian dan rasa marahnya pada Irfan. Membuat Daniel tangguh menapaki terjal hidup.


Daniel terus melangkah, sampai akhinya langkahnya terhenti di depan sebuah kamar. Daniel menyentuh daun pintu yang entah kapan terakhir dibuka? Daniel memegang ganggan pintu, tapi pintu kamar terkunci. Daniel menempelkan keningnya, seolah Daniel tengah mengingat sebuah kenangan. Daniel menggedor perlahan pintu, berharap pintu terbuka tanpa sebuah kunci. Kerinduang yang kini bercampur rasa bersalah, menyatu dalam hati Daniel.


"Tuan muda, ini kuncinya!" sapa Irma lirih, Daniel langsung menoleh. Sebuah kunci terlihat di tangan Irma, salah satu ART di rumah Kusuma. Sebuah kunci yang akan membayar kerinduannya.


"Kenapa kamu yang memegangnya?" ujar Daniel lirih, Irma tersenyum simpul. Lalu membuka pintu kamar yang ada di depan Daniel.


"Sejak nona pergi meninggalkan rumah ini. Tuan besar mengunci kamar ini dan tak membiarkan satupun orang memasukinya. Namun aku berhasil meminta kunci kamar ini. Hampir setiap hari, aku membersihkannya. Berharap kelak nona muda pulang dan menempati kamar ini!" tutur Irma, Daniel terdiam membisu.


Irma bukan orang asing bagi Daniel. Irma bekerja lebih lama dari usia Daniel. Kini tubuhnya lemah, tapi kasih sayangnya pada Elmaira tak pernah surut. Irma muda yang dulu mengasuh Elmaira kecil. Kasih sayang tulus tanpa berharap imbalan. Irma kini tak lagi muda, tapi cintanya pada Elmaira tak pernah pudar. Setiap hari Irma menghapus rasa rindunya dengan datang ke kamar Elmaira. Setiap saat Irma merasakan kehadiran Elmaira di dekatnya.


"Kakak, aku pulang!" batin Daniel pilu, sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar Elmaira. Kamar yang seharusnya menjadi kamar Nissa.


"Tuan, saya kembali ke dapur!" pamit Irma, Daniel mengangguk. Daniel menoleh ke seluruh ruangan. Tak ada yang berbeda, semua tetap sama seperti dulu. Daniel melangkah ke salah satu sisi, tepat di sebuah meja. Terlihat foto Elmaira yang tengah tersenyum dengan cantiknya. Daniel mengambil foto tersebut, mengusap perlahan wajah Elmaira.


"Kenapa papa sejahat itu? Kamu putrinya, Nissa cucunya. Kenapa dia bisa sejahat itu?" gumam Daniel tak percaya.

__ADS_1


Daniel merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Daniel meringkuk di atas tempat tidur sang kakak. Merasakan hangat dekapan kakak yang paling dicintainya. Daniel memejamkan kedua matanya, berharap dia bisa merasakan kehadiran Elmaira. Daniel sangat merindukan sosok Elmaira. Setetes air mata jatuh tepat di pelupuk matanya. Meruntuhkan citra garang yang melekat dalam diri Daniel. Sang boz besar, menangis karena rindu.


"Papa mungkin marah pada kak Elmaira. Namun percayalah, papa selalu merindukan kalian berdua!"


"Pergi!" teriak Daniel, Aryan diam tak bergeming.


"Kak, aku merindukanmu. Aku tetap bertahan di samping papa. Demi hari ini, hari dimana aku bisa bertemu denganmu?"


"Jika kamu merindukanku, dimana kamu saat Nissa menangis? Dimana kamu saat wanita itu menghina Nissa? Dimana kamu saat Ardi menjual Nissa pada Radit? Dimana kamu saat Nissa terabaikan? Kamu terus bersembunyi di balik keangkuhan papa. Kamu pengecut, tetap diam melihat Nissa menangis!" ujar Daniel lantang, Aryan membisu. Semua yang dikatakan Daniel sebuah kebenaran.


"Kak!"


"Di depan kedua matamu, Nissa terhina. Apa yang kamu lakukan? Kamu hanya diam, tanpa melakukan apapun pada wanita itu. Seandainya tidak ada Nissa saat itu. Percayalah Aryan, aku bisa merobek mulutnya. Dia menghin kakakku dengan mulut kotornya!" ujar Daniel emosi, Aryan hendak menyahuti. Namun Daniel menghentikannya, Daniel meminta Aryan keluar dari kamar. Namun Aryan tetap diam tak bergeming. Aryan ingin menjelaskan semuanya.


"Kamu yang pergi atau aku yang pergi!" ujar Daniel, Aryan membisu.


"Baiklah, aku yang pergi!" ujar Daniel tegas, lalu berjalan melewati Aryan.


"Kak, aku merindukanmu. Aku sepi tanpa kalian, jujur aku lelah bertahan dengan sepi ini!"


"Kalau begitu pergilah, tidak ada yang menahanmu. Papa tidak pernah kesepian, dia masih memiliki wanita itu. Kehilangan satu lagi putranya, tidak akan ada bedanya bagi tuan besar Kusuma!" ujar Daniel acuh dan dingin, Aryan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu berubah? Lihatlah aku kak, aku adik yang merindukanmu. Aku sepi tanpamu, aku lelah dan ingin bersandar padamu!" batin Aryan, sembari menatap punggung Daniel.


"Om Daniel, kapan datang? Maaf aku tidak menyambutmu!"


"Aku tidak perlu sambutanmu, ini rumahku sebelum menjadi rumahmu. Aku bukan tamu, tapi pemilik rumah ini!" sahut Daniel sinis, tanpa menoleh ke arah Alvira.


"Maafkan aku, tapi bukan itu maksudku!"


"Tidak perlu bersikap baik padaku, aku tidak akan terpengaruh. Akan datang hanya untuk menyapa papa. Tidak inginku bertemu denganmu. Jadilah menjauh dari pandanganku, sebelum tenangku menjadi marahku!"


"Kakek telah mengadopsiku secara hukum. Artinya aku cucu keluarga ini, statusku sama dengan Amira. Kebencian om Daniel tak beralasan, sebab aku tak pernah menyakiti om!" sahut Alvira lantang, Daniel menoleh ke arah Alvira. Daniel melangkah menghampiri Alvira. Tanpa banyak bicara, Daniel mendorong tubuh Alvira sampai menabrak dinding.


"Aku tak pernah meragukan statusmu sebagai cucu angkat papa. Namun kamu lupa, status itu hanya di atas kertas. Kelak, ketika kertas itu robek. Maka statusmu akan lepas begitu saja. Jadi jangan pernah membanggakan status yang dipinjamkam padamu oleh putriku Nissa!"


"Daniel, lepaskan dia!" teriak Irfan, saat melihat Daniel mendorong tubuh Alvira. Daniel langsung melepaskan Alvira.


"Tenanglah pa, aku tidak akan menyakiti cucu pungut kesayangamu!"


"Cucu pungut!" ujar Alvira menirukan perkatan Daniel.


"Papa memilih dia daripada aku!" batin Daniel.

__ADS_1


__ADS_2