
Nissa pulang dari rumah sakit bersama Radit. Keputusan final yang akhirnya dibuat Nissa. Bertahan bersama Radit, memperbaiki hubungan yang mulai retak. Berharap ada jalan menyatukan kembali asa yang mulai hilang. Perkataan Radit, nyata membuat Nissa kalah dan luluh. Nissa memutuskan kembali bersama Radit. Pulang ke rumah yang tak pernah menghargainya sebagai seorang wanita.
Namun Nissa tetaplah seorang istri yang harus berbakti pada suaminya. Alasan yang membuat Nissa bertahan dengan luka dan hinaan. Namun kembalinya Nissa saat ini, ada dengan satu syarat. Nissa akan pergi, jika sekali lagi dirinya terhina. Sebuah janji yang disepakati Radit dan Nissa. Radit akan berusaha mengembalikan harga diri Nissa.
"Nissa, kamu yakin!" Bisik Amira, seraya menepuk pelan tangan Nissa. Dengan hangat Nissa menggenggam erat tangan Amira. Meyakinkan Amira, dirinya baik-baik saja. Namun ketakutan Amira tidak salah, tumbangnya Nissa menjadi tolak ukur. Betapa kejamnya keluarga Radit pada Nissa? Dinding tinggi yang seharusnya melindungi Nissa. Justru terasa dingin, bak tembok penjara yang kokoh.
"Aku akan mengantarmu masuk ke dalam kamarmu. Setelah memastikan kamu baik-baik saja. Aku akan pulang!" Bisik Amira, Nissa mengangguk pelan. Radit berjalan tepat di belakang Nissa dan Amira. Suara kursi roda Nissa, terdengar melengking di telinga Radit. Mengisyaratkan betapa dalam luka yang dia torehkan. Radit menyesal dengan tidakannya. Dia masih beruntung, Nissa bersedia pulang bersamanya.
Kreeekkk
Salah satu ART Radit membuka pintu, Amira mendorong kursi roda Nissa masuk semakin dalam. Amira tak sanggup meninggalkan Nissa sendirian di rumah Radit. Amira takut terjadi sesuatu pada Nissa, mengingat kondisi Nissa masih sangat lemah. Amira terus mendorong kursi roda Nissa, sampai akhirnya berhenti di ruang tengah rumah megah Radit. Nampak keluarga besar Radit tengah berkumpul. Tidak terkecuali Alvira yang sudah menginap di rumah Radit selama beberapa hari. Zain menjadi alasan Alvira tinggal di rumah Radit.
"Nissa!" Bisik Amira khawatir, sesaat setelah dia melihat Alvira berada di rumah Radit. Lagi dan lagi, Nissa menyakinkan Amira. Jika semua baik-baik saja, tanpa ada yang perlu ditakutkan.
Plok Plok Plok
"Akhirnya tuan putri pulang, setelah menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatannya. Dasar manja, sakit seperti itu saja harus dirawat di rumah sakit!" Ujar Saskia sinis dan dingin, Sanjaya langsung menarik tangan Saskia. Tatapan tidak suka Sanjaya, jelas menampakkan amarah Sanjaya. Peringatan yang dikatakan Radit, seakan tak berguna dan tak perlu dipikirkan.
"Saskia, tutup mulutmu. Ingat peringatan kakak semalam. Jangan pernah menguji kesabaran kakak!" Ujar Radit lantang, Saskia menatap.tajam Nissa. Seolah menyalahkan Nissa atas amarah Radit padanya. Saskia berjalan menghampiri Nissa. Amira sudah bersiap, tangannya mengepal sempurna. Amira menahan amarahnya, menanti waktu yang tepat untuk meluapkannya pada Saskia.
"Berapa banyak lagi uang yang akan kamu habiskan? Kakakku bekerja siang malam, bukan hanya untuk mengobati sakitmu. Terutama mencukupi kebutuhan keluargamu. Kamu hanya wanita pelunas hutang. Jadi jangan bersikap polos dan tak bersalah!" Ujar Saskia lagi, Radit dan Sanjaya menatap Saskia dengan amarah. Perkataan Saskia melewati batas dan akan menjadi bom bagi hubungan Radit dan Nissa.
__ADS_1
Saskia berdiri tepat di depan Nissa. Kedua tangannya menopang tepat di sandaran kursi roda Nissa. Amira menatap lekat Saskia, bersiap menangkis serangan pada Nissa. Wajah Saskia terlihat menang, dia merasa puas setelah menghina Nissa. Tanpa sadar akibat yang akan dilakukan Nisa.
"Saskia, kembali ke kamarmu. Jika tidak kakak akan mencabut semua fasilitas yang ada. Sontak Saskia terdiam, mencabut semua fasilitas mewah sama halnya membunuhnya pelan-pelan!" Teriak Radit dengan amarah yang membuncah. Saskia hendak berjalan menuju kamarnya. Namun terhenti, ketika dia merasakan ada tangan yang menahannya.
"Lepaskan!" Teriak Saskia, Amira menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sinis ke arah Saskia.
Plaaakkk Plaaakkk
Dua tamparan mendarat sempurna di wajah Saskia. Kanan dan kiri dengan kerasa tamparan yang sama. Suara Tamparan Amira menggema di seluruh rumah Radit. Semua orang terdiam tak percaya, Radit bahkan langsung mengusap wajahnya kasar. Sanjaya menarik tangan Saskia, meminta Saskia menjauh dari Radit.
"Amira, cukup!" Ujar Sanjaya membel putriya, Amira diam tak bersuara.
"Saskia, sebelum kamu menghina Nissa. Ingatlah dua tamparan yang mendarat sempurna di wajah Saskia!"
"Mintalah bantuannya, agar kamu bisa menghindariku,. Namun aku yakin, dia tidak akan sanggup menolongmu!" Ujar Amira sinis, Saskia meradang, Radit menarik tangan Saskia. Namun dengan sekuat tenaga, Saskia menepis tangan Radit. Saskia mendekat ke arah Amira, mengangkat tangan. Hendak menampar Amira sebagai balasan atas tamparan Amira.
"Jangan pernah kamu mengangkat tanganmu pada Amira. Dia adikku, saudara perempuanku. Jika Radit melindungi dan membelamu. Aku akan melakukan hal yang sama demi Amira!" Ujar Nissa lantang, sembari menahan tangan Saskia di udara. Nissa melepar tangan Saskia kasar, tenaganya telah pulih. Amarah Nissa membara, tatkala tangan Saskia terangkat pada Amira.
"Saskia, masuk ke dalam kamarmu!"
"Aku akan tetap disini, dia telah menamparku dan aku belum membalasnya!" Teriak Saskia dengan amarah, Alvira berjalan menghampiri Saskia. Dia mencoba menenangkan Saskia. Berharap kata terima kasih dari Radit.
__ADS_1
"Saskia, kakak mohon!" Pinta Radit, Saskia diam tak bergeming.
"Kakak, kamu memarahiku demi wanita murahan ini. Dia yang telah memisahkan kita. Aku adik kandungmu, dia hanya wanita murah tak berharga!"
"Kamu!" Ujar Amira lantang, sembari mengangkat tangan ke arah Saskia. Nissa langsung menahan tangan Amira. Menggelengkan kepalanya, berharap Amira tidak melakukannya.
"Amira, tidak perlu mengotori tanganmu dengan menamparnya. Aku tidak apa-apa? Semua perlakuan yang aku terima, tak lebih bayaran untuk setiap kemewahan yang pernah aku terima dari keluarga ini. Aku diam bukan karena aku takut atau mengalah. Aku ingin urusan dengan keluarga ini segera berakhir!" tutur Nissa, lalu menurunkan tangan Amira.
"Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu bicara seperti itu?" Ujar Radit bingung, Nissa tersenyum simpul. Nissa berjalan menghampiri Radit dan Sanjaya. Berdiri tepat di depan Radit, dengan mata sendu menahan tangis.
"Saskia, jika masih ada hinaan untukku katakan sekarang. Aku sedikitpun tidak keberatan, aku sudah lelah dengan semua kepalsuan ini. Aku tak sanggup lagi berada dalam keluarga yang menganggapku hina!"
"Nissa cukup, katakan apa yang kamu inginkan" Ujar Radit dengan nada tinggi dan emosi. Nissa menarik tangan Radit, mencium dengan lembut punggung tangan Radit. Setetes air mata Nissa jatuh membasahi tangan Radit. Dinginnya menusuk ke jantung Radit.
"Akhiri semua, kita jalan masing- masing. Melupakan semua cinta dan bahagia yang pernah ada dalam hidup kita. Terima kasih telah menjagaku selama ini. Maaf, aku menyerah kalah. Selamanya adikmu tidak akan menghargaiku dan aku tidak berharap. Kelak putraku terhina di rumah ayah kandungnya. Sepertiku yang tak pernah dimanusiakan di rumah ayahku sendiri. Sekali lagi maaf, aku harus pergi!" Tutur Nissa, lalu berjalan keluar dari rumah Radit. Amira membawa semua barang milik Nissa.
Bruuuggghhh
"Radit!" Teriak Sanjaya, ketika melihat tubuh Radit ambruk tanpa tenaga.
"Saskia, kamu tidak ingin memeriksa tasku. Mungkin kamu takut aku mencuri harta kakakmu!" Sindir Nissa, Saskia terlihat bingung. Nissa pergi, tapi nyatanya hati Saskia terluka melihat kakaknya hancur.
__ADS_1
"Tunggu Nissa, biarkan aku ikut denganmu!" Teriak Radit, tapi Nissa pergi tanpa menoleh lagi.