
"Nissa memiliki riwayat trauma yang cukup parah. Depresi yang hampir membuat Nissa tiada. Sebab itu, Nissa harus stabil dan tidak mengalami tekanan yang hebat. Sekali saja hatinya terluka, Nissa akan larut dalam tangisnya. Aku meminta Nissa selalu tenang, menghindari stres berlebihan. Entah apa yang terjadi? Sampai Nissa tumbang, tentu ini bukan hal biasa. Hanya anda yang mengetahuinya tuan Radit!"
"Kami berdebat dan bodohnya aku menamparnya!" ujar Radit lirih, Amira langsung menoleh.
"Kamu menamparnya!" sahut Amira lantang. Rayhan menatap Radit tak percaya. Zahra menutup mulutnya, tak percaya Radit mampu melakukannya. Amira menunduk, menyeka air matanya. Kejujuran Radit, bak bara api yang mendidihkan darahnya. Tangan Amira mengepal, menahan amarah yang siap meledak.
Plaaakkk
"Amira!" teriak Rayhan, bersamaan dengan satu tamparan yang mendarat di wajah Radit. Amira menampar Radit sekuat tenaga. Kemarahannya tak lagi bisa dibendung. Nalurinya benar, ketika menyadari ada yang salah.
"Diam kamu, jangan ikut campur!" ujar Amira, meronta melepaskan tangan Rayhan yang tengah menahannya.
"Amira, kendalikan dirimu. Percayalah, Radit tidak sengaja melakukannya. Dia khilaf, pasti ada alasan dibalik sikapnya!"
"Amira, tenanglah!" bujuk Zahra, Amira terus meronta. Amira belum puas menampar Radit. Amarahnya belum terlampiaskan, mungkin itu alasan Amira terus meronta.
__ADS_1
"Lepaskan!" teriak Amira, Rayhan terus menahan Amira. Tenaga Amira sangat kuat, Rayhan kewalahan menahan amarah Amira. Zahra membantu Rayhan, mencoba menenangkan Amira. Namun semua sia-sia, Amira tak bisa dikendalikan.
"Rayhan, lepaskan Amira. Dia berhak memarahiku, menamparku atau apapun yang diinginkannya? Aku memang bersalah, aku telah menyakiti Nissa. Sengaja atau tidak, aku penyebab Nissa terbaring tak berdaya disana!" tutur Radit lirih, Rayhan melepaskan Amira. Zahra berdiri tepat di samping Amira. Berjaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Kamu memang penyebabnya, kamu alasan Nissa tersakiti. Jujur Radit, tak pernah aku mendoakan sesuatu yang buruk terjadi pada Nissa. Namun aku lebih bahagia, seandainya Nissa keguguran. Agar kamu hidup dengan rasa bersalah seumur hidupmu. Aku ingin melihatmu hancur tak bersisa. Agar kamu merasakan sakit teracuhkan, seperti yang dirasakan Nissa beberapa hari yang lalu. Rasa sakit, ketika dengan tenangnya. Kamu mengacuhkan Nissa, demi rindumu pada Alvira dan Zain!" tutur Amira lantang, Radit menatap tak percaya. Doa yang terucap dari bibir Amira terdengar mengerikan. Radit tak percaya, Amira mampu mengatakan semua itu padanya.
"Kenapa diam? Kamu terkejut, aku mampu mengatakan semua ini. Sayangnya, apa yang aku katakan ini fakta? Kamu meragukan Nissa, saat melihat Nissa pergi tanpa pamit. Sebaliknya, dengan santainya kamu menangis sembari memeluk foto Alvira yang menggendong Zain. Sekarang katakan padaku, dimana kamu saat air mata Nissa menetes? Ingatkah kamu Radit, saat kamu mengacuhkan Nissa. Menyalahkan Nissa atas kepergian Zain, menganggap Nissa tak pernah peduli akan lukamu. Dimana kamu saat Nissa dan putranya berjuang melawan trauma itu? Kamu mencintainya, tapi tak pernah mempercayainya. Kamu selalu menganggap Nisss sombong, tapi tak pernah sekalipun kamu berusaha mengenalnya. Setahun, selama setahun Nissa makan dengan piring bekasmu. Nissa duduk di pojok rumahmu, tanpa kamu disisinya. Namun dengan gampangnya, kamu menuduh Nissa angkuh. Padahal, kamu alasan Nissa merasakan sepi. Sikap tak pantas adikmu, membuat Nissa terhina di rumah suaminya. Rumah yang seharusnya menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Katakan padaku, haruskah Nissa percaya pada cintamu. Kala masa lalumu kembali hadir dan berada di sekitarmu. Kamu melupakan senyum Nissa, demi senyum putra dan mantan istrimu. Bahkan, sampai kamu tak pernah menyadari. Dua bayi kembar yang tumbuh di rahim Nissa. Bukan Nissa yang sombong, tapi kamu yang buta dan tuli. Tak pernah mendengar keluh kesah Nissa. Tak pernah melihat air mata yang menetes diwajah Nissa. Kamu Radit, kamu alasan Nissa sahabatku tumbang. Kebahagian yang tawarkan, bak kebahagian semua tak terasa!"
"Kenapa Nissa tak pernah mengatakan lukanya padaku? Sebesar itukah salahku padanya, sampai Nissa tersiksa hidup bersamaku!"
"Amira, hentikan semua ini. Kita semua cemas memikirkan kondisi Nissa. Berdebat tidak akan menyelesaikan masalah!" sahut Rayhan, Amira tersenyum sinis. Seolah perkataan Rayhan tak penting baginya.
"Aku tidak berdebat dengannya. Radit harus mendengar cinta tulusnya, tak lebih dari kepalsuan semata. Jangankan mencintai, Radit tak pernah menghargai Nissa. Cinta penuh napsu, bukanlah cinta. Namun rasa ego ingin memiliki!"
"Amira, lebih baik kita berdoa demi kesehatan Nissa!" ujar Zahra, Amira mengangguk pelan.
__ADS_1
"Berdoalah Radit, Nissa baik-baik saja. Jika tidak, akan aku pastikan Nissa tidak akan pernah bertemu denganmu. Satu anggukan kepala Nissa, akan menjadi akhir kisah kalian. Aku tidak akan membiarkan Nissa berada di sampingmu!" ujar Amira dingin, lalu meninggalkan Radit dalam penyesalan seumur hidupnya. Terlihat Amira berjalan ke arah pintu masuk IGD.
"Jangan dipikirkan perkataan Amira, dia terlalu emosi. Rasa khawatir membuat Amira tidak bisa mengendalikan amarahnya. Amira tidak sedewasa Nissa, tapi percayalah hatinya sangat baik. Mungkin ini pertama kalinya anda takut kehilangan Nissa, tapi bagi Amira. Ketakutan yang kedua dan tak pernah dibayangkan oleh Amira. Seandainya anda marah dengan sikap Amira, mewakilinya saya meminta maaf!" tutur Zahra, Radit diam tak bersuara.
Perkataan Amira memang menyakitinya, harga dirinya diinjak-injak Amira. Namun perkataan Amira tidak salah, semua itu fakta pahit yang tersimpan rapat dalam pernikahannya. Radit tak hanya merasakan tamparan di pipinya. Namun hatinya merasa tertampar, oleh kejujuran Amira. Radit membisu, bukan dia marah. Radit terdiam, merasa menyesal dan malu. Menyadari dirinya penyebab semua luka Nissa. Radit mencintai, tapi tak pernah percaya akan cintanya. Sikap egois yang ingin memiliki, tanpa menyadari dirinya telah melukai.
"Dia tidak salah, dia benar dengan sikapnya. Seandainya Amira ingin menamparku lagi. Aku tidak akan keberatan. Setidaknya, aku merasakan sakit tamparan. Seperti rasa sakit tamparanku pada Nissa!"
"Baiklah, aku akan memeriksa Nissa lagi. Aku berharap semua akan baik-baik saja. Sekarang hanya doa yang bisa membantu Nissa. Percayalah, Nissa akan baik-baik saja. Selama ini dia kuat, berjuang melawan trauma dan sakitnya. Malam ini juga sama, dia akan melawan sakit ini!" tutur Zahra, Radit mengangguk setuju.
"Dokter Zahra, tolong selamatkan Nissa!" ujar Radit menghiba, Zahra menggelengkan kepalanya.
"Bukan padaku seharusnya anda menghiba. Pada-NYA seharusnya anda memohon. Hanya sujud dan doamu, yang akan menjadi obat penyembuh Nissa. Jika Nissa ditakdirkan oleh-NYA bersama anda, maka dua tangan anda yang menengadah. Kelak yang akan membawa Nissa kembali!" tutur Zahra hangat, Radit menunduk.
"Ya Rabb, hamba bukan orang yang beriman. Namun Nissa juga bukan orang yang lalai. Hamba mohon, sehatkanlah Nissa!" batin Radit berdoa, menyesal dengan keangkuhannya yang selama ini menjauh dari-NYA.
__ADS_1