
"Nissa, arah jam 3!" bisik Amira, Nissa menoleh ke arah yang dikatakan Amira.
Nissa diam tak bergerak, sosok yang dilihatnya membuat tubuh Nissa membeku. Amira merasakan perubahan Nissa, sahabat periangnya telah hilang. Sejak menikah, Nissa lebih banyak diam. Tak ada lagi tawa lepasnya, semua terasa sunyi dan berbeda. Amira merasa kehilangan, tapi dia menyadari kondisi Nissa saat ini. Amira akan mendukung apapun keadaan Nissa. Tanpa banyak bicara atau bertanya.
"Nissa, kenapa kamu diam?" ujar Amira, Nissa tersentak kaget. Amira membuyarkan lamunan Nissa. Dengan langkah gontai, Nissa berjalan menghampiri Rdait.
"Ada apa? Kenapa datang kemari? Zain baik-baik saja!" cecar Nissa tanpa jeda, Radit menoleh ke arah mobilnya. Nampak Zain tertidur di pangkuan Ifa.
"Dia menangis terus, Zain menanyakanmu!"
"Kenapa tidak menghubungiku?" sahut Nissa santai, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Radit. Kejadian pagi tadi, membuat jarak yang semakin lebar diantara mereka. Nissa mulai menjaga jarak, bahkan Nissa terlihat enggan berada di samping Radit. Kesalahan fatal yang dilakukan Radit, telah membekas dalam hati dan benak Nissa. Noda di atas kain putih yang takkan mudah terhapus. Kesabaran dan waktu yang kelak mampu menghilangkan noda itu.
"Maaf, aku lupa kalau statusku hanya di atas kertas. Sebab itu, aku tak pantas berada dalam hidupmu atau bahkan ponselmu!" ujar Nissa dingin, sindiran telak yang membuat Radit terdiam membisu.
"Nissa, maafkan aku!" ujar Radit, sembari menahan tangan Nissa. Perlahan Nissa menepis tangan Radit. Nissa melepaskan genggaman yang sangat diinginkan seorang istri. Namun percaya atau tidak, Nissa tidak pernah menginginkannya atau membayangkan hangat Radit.
"Aku harus menemui Zain!" ujar Nissa, Radit menggelengkan kepalanya. Berharap Nissa bersedia memaafkannya.
"Kata terlanjur terucap, sikap terlanjur terlihat dan luka terlanjur membekas. Jika hanya dengan kata maaf semua selesai. Lantas, apa arti dari sakit dan tangisku? Apa yang terjadi harus terjadi? Apa yang terucap pantas didengar? Namun rasa sakit dan terhina yang kamu tinggalkan. Tak seharusnya aku terima, meski aku hanya wanita penebus hutang!" ujar Nissa berbisik, Radit melepaskan genggamannya. Kata demi kata yang keluar dari Nissa. Semakin membuatnya kecewa, marah akan kebodohan yang dilakukannya.
Radit termenung, menatap punggung Nissa yang berjalan menuju mobil. Perlahan Nissa membuka pintu mobil, Ifa tersenyum melihat Nissa yang membuka pintu. Dengan isyarat mata, Ifa meminta Nissa memeriksa suhu tubuh Zain yang tinggi. Nissa tersentak, melihat panas tubuh Zain. Lalu menoleh ke arah Ifa, tapi hanya kepala yang menunduk yang terlihat oleh Nissa.
"Sudah minum obat!" ujar Nissa lirih, Ifa menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa? Zain menolak!" ujar Nissa, Ifa menggeleng untuk kedua kalinya.
"Tuan Zain tidak bisa minum obat sembarangan!"
"Alergi!" sahut Nissa, Ifa mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pulang!" ujar Nissa final, lalu menutup pintu kembali. Namun belum sempat Nissa melangkah, Zain terbangun dan menangis. Nissa dan Radit langsung menoleh bersamaan. Suara tangis bocah lima tahun yang pecah dan terdengar nyaring diantara suara alam yang sepi.
"Mama!" teriak Zain di sela isak tangisnya. Zain meronta turun dari mobil. Nissa langsung berlari, dia memeluk tubuh Zain dan langsung menggendongnya. Bocah lima tahun yang tak mengerti apa-apa? Hanya tangis menyadari, ibu yang dirindukannya pergi.
"Zain, mama lelah!" ujar Radit, sembari mengulurkan tangan ke arah Zain.
"Mama!" ujar Zain merengek, tangan Zain mengalung sempurna di leher Nissa. Zain menepis tangan Radit, menolak hangat yang ditawarkan Radit padanya.
"Zain, mama harus mengambil tas. Zain tunggu mama di sini!" ujar Nissa lembut, Zain menggeleng lemah. Nissa mulai kewalahan menggendong Zain. Dengan tubuh yang tinggi dan bobot hampir lima belas kilogram. Membuat Nissa lelah dan tak sanggup menahan tubuh Zain dengan kedua tangannya.
" Bu Nissa, gunakan ini!" ujar Farhat, seraya menyodorkan jarik panjang ke arah Nisss.
"Terima kasih!" sahut Nissa, lalu menerima jarik dari Farhat. Radit menatap penuh rasa kesal, menyadari ada laki-laki lain yang begitu akrab dengan Nissa.
Nissa menggendong Zain dengan jarik batik pemberian Farhat. Nissa terlihat begitu luwes saat menggendong Zain. Nissa nampak begitu tulus dalam menyayangi Zain. Putra sambung yang tak pernah lahir dari rahimnya. Kini merasa nyaman dalam dekap dan peluk hangatnya. Nissa mencium puncak kepala Zain yang terasa panas. Setetes air mata bening, jatuh membasahi kening Zain. Nissa merasa sakit, saat melihat tubuh Zain lemas dan menggigil.
"Pak Farhat!"
"Bu Amira benar, dia lebih membutuhkan ibu. Kami akan menyelesaikannya sendiri. Lebih baik ibu pulang merawatnya!" ujar Farhat, sesaat setelah mendengar panggilan Nissa.
Farhat Abiyaksa Putra, kepala sekolah termuda dan tampan di sekolah tempat Nissa dan Amira mengajar. Pendidikan yang mempertemukan Nissa dan Farhat dalam satu visi dan misi. Mereka teman di dunia pendidikan dan pendakian. Farhat dan Nissa menempuh pendidikan di universitas yang sama. Namun Farhat memutuskan melanjutkan S2 di luar negeri. Farhat kembali beberapa bulan yang lalu dan bertemu dengan Nissa. Status mereka bukan lagi teman, tapi kepala sekolah dan guru kelas. Keduanya mengajar di sekolah yang berada di pelosok.
"Pak Farhat, sekali lagi saya meminta maaf!"
"Tidak perlu, kami akan menyelesaikannya. Hubungi saya, jika ibu butuh bantuan!"
"Dia tidak butuh bantuanmu!" sahut Radit sinis, Nissa menoleh dengan tatapan marah. Farhat membisu, dia terdiam melihat sikap sinis Radit. Amira terkekeh, menyadari kekesalan yang berbau cemburu.
"Baiklah pak Farhat, saya akan menghubungi anda. Seandainya saya butuh bantuan!" ujar Nissa hangat, Radit langsung masuk ke dalam mobil. Ketika dia melihat sikap hangat Nissa pada Farhat. Nissa mengangguk berpamitan pada Amira dan Farhat. Lalu masuk ke dalam mobil, duduk tepat di samping Radit.
__ADS_1
"Siapa dia? Kenapa kamu bersikap hangat padanya?"
"Kepala sekolahku!"
"Bohong, jelas dia menyukaimu!" sahut Radit kesal, Nissa menoleh dengan tatapan tajamnya. Ifa menunduk, dia merasa canggung duduk di antara kedua majikannya.
"Aku tidak bohong, dia memang kepala sekolah di sekolah tempatku mengajar sekarang. Jika kamu bertanya, siapa dia bagiku beberapa tahun yang lalu? Maka akan aku jawab, dia laki-laki yang pernah mengisi hatiku!" ujar Nissa lantang dan tegas, Radit terbelalak. Perkataan Nissa bak petir yang menyambar tubuhnya. Radit tak percaya, kejujuran Nissa akan terdengar menyakitkan.
"Kenapa tidak menikah dengannya? Malah kamu menikah denganku!" sahut Radit dengan nada kesal.
"Karena aku harus membayar hutang orang tuaku!" ujar Nisss dingin, Radit memukul stang kemudi. Dia marah mendengar jawaban Nissa yang selalu sama dan sama. Radit seolah tak memiliki celah untuk membela diri.
"Senja!" ujar Nissa lirih, tatkala Nissa menoleh ke luar dari jendela mobil. Radit menghentikan langkahnya, Nissa membuka kaca mobil. Dia menatap senja dengan harapan lukanya sembuh dan menghilang.
"Sepahit itukah pernikahan ini baginya? Sampai dia tak pernah tersenyum dan selalu mengungkit alasan pernikahan denganku. Haruskah aku melepasnya? Membiarkan dia berlari mengejar senja, agar dia tersenyum manis seperti saat ini. Lalu, bagaimana dengan Zain? Mungkinkah dia sanggup jauh dari Nissa. Atau sebenarnya aku yang mulai tak bisa jauh darinya. Senja, jika dia ingin mengejarmu. Setidaknya, biarkanlah aku menjadi senja baginya!" batin Radit, sembari menatap Nissa yang larut dalam senjanya.
"Menyesal, kenapa tidak melamar Nissa sejak dulu?" ujar Amira, membuyarkan lamunan Farhat. Farhat termenung melihat mobil mewah Radit yang membawa Nissa pergi jauh dari tatapannya.
"Mungkin!" sahut Farhat, bersamaan dengan suara helaan napas Farhat.
"Tidak perlu menyesal, masih ada aku!" ujar Amira menggoda Farhat. Sontak Farhat menoleh dengan tatapan heran. Amira terkekeh, melihat Farhat yang heran dengan perkataannya.
"Tidak salah bukan, menawarkan diri. Barangkali saja bisa diterima!"
"Diamlah Amira!" sahut Farhat kesal, Amira tertawa sembari mengejar Farhat.
"Bodohnya aku, melepasmu tanpa berjuang!" batin Farhat kesal, langkahnya terlihat penuh amarah dan rasa cemburu.
"Cinta yang aneh!" ujar Amira lantang, Farhat menoleh ke arah Amira. Sontak Amira menutup mulutnya, takut akan amarah sang kepala sekolah.
__ADS_1