
"Radit, wanita menyebalkan!" ujar Rayhan, Radit menoleh ke arah yang dikatan Rayhan.
Terlihat Amira berjalan perlahan dengan membawa beberapa buku. Radit dan Rayhan bersandar pada mobil, menanti Nissa dan Amira selesai mengajar. Kejadian pagi tadi, masih menyimpan rasa penasaran. Sebab itu Radit menyusul Nissa ke sekolah. Tanpa Radit mengatakan pada Nissa akan datang ke sekolah. Radit dan Rayhan berangkat, setelah selesai meninjau lokasi pabrik yang baru.
"Amira!" sahut Radit, Rayhan mengangguk. Radit seolah mengingatkan Rayhan sebuah nama. Radit tidak suka mendengar Rayhan mengolok-olok Amira.
"Cepat panggil dia, suruh dia mengatakan pada Nissa. Jika kita ada disini!"
"Kenapa bukan kamu?" sahut Radit, Rayhan menoleh dengan tatapan kesal.
Rayhan langsung masuk ke dalam mobil. Jelas Rayhan tidak akan pernah bersedia memanggil Amira. Entah kenapa sejak bertemu? Keduanya sering berdebat, tidak ada sedikitpun kecocokan diantara keduanya. Radit tersenyum melihat kekesalan Rayhan. Sahabat yang selama ini menjadi saksi perjalanan hidup Radit.
"Rayhan, malah masuk ke dalam mobil!" ujar Radit menggoda, Rayhan acuh dia memilih duduk santai sembari mendengarkan musik di dalam mobil. Rayhan tidak peduli, Radit memanggil Amira atau tidak?
Radit tidak memanggil Amira, tapi dia langsung berlari menghampiri Amira. Radit ingin menanyakan keberadaan Nissa. Sejak datang, Radit tidak melihat Nissa. Jangankan Nissa, sepeda motor Nissa juga tidak ada. Terbersit rasa khawatir di benak Radit. Mengingat semalam Nissa pulang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sedangkan tadi pagi, Nissa pergi dengan rasa kecewa yang teramat besar. Radit memanggil Amira, sesaat sebelum Amira masuk ke dalam ruang kelas. Radit mempercepat larinya, agar Amira tidak terlalu lama menunggunya.
"Anda, sedang apa disini?" ujar Amira heran, Radit mengangguk mengiyakan sapaan Amira.
"Aku mencari Nissa, dimana ruang kelasnya?" ujar Radit sembari menoleh ke arah kanan dan kiri.
Sekolah tempat Nissa mengajar tidaklah besar. Sebuah sekolah kecil dengan fasilitas minim Hanya ada beberapa ruang kelas. Sekolah hanya dikelilingi tembok dari bambu. Lahan yang luas, menjadi halaman sekolah tempat para siswa istirahat dan bermain. Lokasi sekolah berada di jalan kecil, kondisi jalan yang sepi. Membuat suasana sekolah nyaman untuk belajar.
__ADS_1
"Nissa sudah pulang, dia kurang sehat!" ujar Amira, Radit langsung mendongak. Dia menatap penuh rasa cemas. Amira heran melihat sikap cemas Radit. Sebab Nissa sudah pulang sejak pagi. Bahkan Nissa datang hanya untuk memberikan tugas pada anak-anak. Setelah itu Nissa langsung pulang.
"Kemana dia pergi?" ujar Radit cemas, Amira mengangkat kedua bahunya. Isyarat Amira tidak mengetahui kepergian Nissa.
Radit mengusap wajahnya kasar, dia bingung mencari keberadaan Nissa. Radit benar-benar tak percaya, Nissa pergi tanpa pamit padanya. Entah kenapa sikap Nissa semakin menjadi? Nissa tak mampu menjaga amanah. Sikapnya selalu seenaknya sendiri, merasa benar padahal jelas telah salah. Radit menoleh ke kanan dan ke kiri jalan. Sepi tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang. Radit semakin gelisah, Rayhan berlari menghampiri Radit. Ketika melihat Radit bingung.
"Ada apa Radit? Dimana Nissa?"
"Entahlah, dia libur hari ini. Namun aku tidak mengetahui keberadaannya!" ujar Radit, sesaat setelah dia menggelengkan kepalanya pelan. Rayhan terbelalak, ketika mengetahui kebenaran yang terjadi.
Amira terlihat begitu tenang, Rayhan menoleh ke arahnya. Tatapan Rayhan dingin dan tajam, seolah rayhan menyadari Amira sebenarnya mengetahui keberadaan Nissa. Namun karena satu hal, Amira memilih diam dan pura-pura tidak mengetahui keberadaan Nissa. Tidak mungkin menurut Rayhan, seorang sahabat seperti Amira tidak mengetahui keberadaan Nissa. Sedangkan hanya Amira satu-satunya sahabat terdekat Nissa.
"Wanita menyebalkan, dimana Nissa?"
Amira mendorong tubuh Rayhan, ketika menyadari tubuh Rayhan berdiri begitu dekat. Rayhan terhuyung ke arah belakang, menabrak tubuh Radit yang berdiri mematung. Radit terkejut, saat tubuhnya hampir jatuh. Sikap kekanak-kanakan Rayhan di situasi seperti ini sangatlah tidak tepat. Tatapan tajam Radit menjadi isyarat amarah Radit yang siap meledak.
"Radit, wanita ini mengetahui keberadaan Nissa. Dia satu-satunya sahabat Nissa sejak SMU. Jelas dia orang pertama yang mengetahui kondisi Nissa!" ujar Rayhan lantang dengan percaya dirinya, Radit langsung menoleh. Terlihat Amira menggelengkan kepalanya pelan. Tiba-tiba sikap Amira berubah canggung, ketika Radit menatapnya tajam.
"Katakan, dimana dia?" ujar Radit lirih, Rayhan tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa menang, ketika menyadari pemikirannya benar adanya. Amira mundur beberapa langkah, intimidasi yang dilakukan Radit. Membuat Amira merasa takut, bahkan tubuhnya bergetar hebat.
"Katakan, dimana dia?" ujar Radit lagi, Amira menggeleng lemah. Radit mendorong tubuh Amira ke tembok. Ada rasa percaya, jika Amira mengetahui keberadaan Nissa. Ketakutan Amira; menampakkan rahasia yang tengah disembunyikan Amira.
__ADS_1
"Dimana dia?" bentak Radit, sembari menghantam dinding. Amira langsung menutup mata, dia ketakutan dengan tubuh bergetar. Rayhan menahan tubuh Radit, jelas Radit marah pada Amira. Rayhan tidak ingin Radit melakukan hal yang diluar batas.
Amira mengambil ponselnya, dia menekan beberapa nomor lalu menghubungi seseorang. Radit dan Rayhan diam menanti jawaban Amira. Nampak Amira bicara dengan serius, seolah tengah terjadi sesuatu yang fatal. Radit semakin gusar, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Nissa. Tak berapa lama, terdengar helaan napas Amira. Sesaat setelah dia menghubungi beberapa nomor diponselnya.
"Nissa, dia ada di rumah mbok Parmi!"
"Mbok Parmi!" ujar Radit menirukan perkataan Amira. Anggukan kepala Amira, sebagai jawaban final dan menyakinkan bagi Radit.
"Dia nenek tua yang hidup sendirian tak jauh dari sekolah. Rumahnya ada di tengah-tengah dan di sekelilingnya ada pohon kopi dan singkong. Mbok Parmi sudah seperti nenek kandung bagi Nissa. Sejak dia mengajar di sekolah ini, Nissa selalu mengunjungi mbok Parmi. Bahkan dulu, Nissa sering menginap di rumah mbok Parmi. Sekarang dia nyonya besar, banyak yang berubah darinya!" tutur Amira lirih dan sendu, Radit menghela napas. Dia menyadari kebenaran dalam perkataan Amira. Kemewahan dan status yang diberikan Radit pada Amira. Tanpa sengaja membuat Nissa terpenjara dalam sangkar emas. Nissa mulai kehilangan jati dirinya.
"Kita kesana!" ujar Radit, Amira menahan tangan Radit. Amira menggelengkan kepalanya, seakan dia melarang Radit pergi menemui istri tercintanya.
"Kenapa?" sahut Radit lirih, Amira mengedipkan kedua matanya.
"Aku baru saja menghubungi putri tetangga mbok Parmi. Nissa memang ada disana, tapi dia sedang tidur. Jika ingin bertemu dengannya, nanti saja!"
"Kapan?"
"Ketika senja menyapanya, saat itu Nissa menjadi tenang!"
"Kenapa kamu menjauhiku? apa yang sedang kamu pikirkan? Tidak sadarkah kamu, betapa cemasnya aku mencarimu. Nissa, aku sangat mencintaimu!" batin Radit gusar, menyadari Amira belum menzinkannya pergi.
__ADS_1
"Setengah jam lagi, aku akan mengantarmu. Aku ingin melihat besarnya cintamu pada Nissa sahabatku. Namun satu hal yang aku pinta, jangan bangukan Nissa!" ujar Amira tenang dan tegas, Radit mengangguk tanpa ragu.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap!"