Senja Pengganti

Senja Pengganti
Taman Rumah Sakit


__ADS_3

"Beri aku satu kesempatan, akan aku ubah semuanya. Aku akan membuatmu percaya, jika hanya kamu yang berarti di hidupku!"


"Haruskah aku bertahan!" batin Nissa, sesaat setelah Nissa mengingat perkataan Radit tadi malam.


Nissa termenung dalam hiruk pikuk rumah sakit. Sang fajar pergi membawa hangatnya, kini tinggallah matahari pagi dengan panas sinarnya. Alasan Nissa berada di taman rumah sakit. Amira sengaja membawa Nissa jalan-jalan pagi. Sekadar merasakan hangat sinar matahari pagi dan hembusan angin pagi yang sejuk. Hampir seminggu, Nissa berada di rumah sakit. Hari ini, Nissa akan pulang. Keputusan yang harus diambil Nissa. Memutuskan dimana dia akan tinggal? Bersama Radit atau hidup sendiri bersama calon buah hatinya.


Sejak semalam Nissa mencari keputusan terbaik, tapi tak ada keputusan tanpa meninggalkan rasa sakit. Nissa bimbang harus pergi dengan meninggalkan rasa sakit di hati Radit. Bertahan dengan rasa sakit yang tak mampu terucap dan tak ada kata yang mampu mengungkapkannya. Nissa benar-benar bimbang, lelah memikirkan pilihan mana yang harus diambilnya.


"Nissa, kamu sendirian!"


"Dokter Alan!" Sahut Nissa, Alan mengangguk pelan. Dokter tampan yang kini menjadi idola di rumah sakit. Ketampanan dan kepintarannya terpancar nyata dari dua mata yang tersembunyi di balik kacamata. Laki-laki yang pernah mengetuk, bahkan mengisi kekosongan hati Nissa.


"Cukup Alan!" Sahut Alan, Nissa diam tak menyahuti. Gelengan kepala Nissa, isyarat Nissa tak pernah setuju dengan perkataan Alan.


"Kamu sudah berbeda, bukan Alan yang dulu aku kenal. Kamu kini menjadi dokter spesialis yang hebat. Tak sepantasnya aku memanggilmu dengan nama saja. Setelah sekian tahun, semua telah berubah!" Ujar Nissa, Alan menghela napas.

__ADS_1


Fakta yang jelas ingin dikatakan Nissa. Jarak yang seolah ingin Nissa pertegas. Hubungan sebatas dokter dan pasien yang ingin Nissa perlihatkan. Semua telah menjadi masa lalu, meski sebenarnya kisah itu masih membekas dihati Nissa dan Alan. Kebahagian yang pernah mengisi hari kosong Nissa. Tawa bahagia yang pernah menghapus air mata Nissa. Kini tak lebih dari luka yang pernah tertoreh dihatinya. Kehadiran Alan, tak lantas membuat hati Nissa luluh.


"Aku masih Alan yang dulu, jas putih ini tak lantas membuatku berubah. Nissa, aku tidak akan membela diri. Aku memang menyakitimu, meninggalkan luka yang teramat pedih dihatimu. Namun percaya atau tidak, aku bukan laki-laki pendusta. Cinta untukmu masih utuh, tak tercuil sedikitpun. Meski kini rasaku tak lagi pantas untukmu. Sebab hatimu telah berpaling dan aku tidak ingin menghancurkan kebahagianmu. Dengan menagih janji yang pernah terucap diantara kita!" tutur Alan, Nissa langsung menoleh. Perkataan Alan benar, janji yang pernah terucap. Tanpa sadar telah dilanggar oleh Nissa


Deg Deg Deg


"Janji!" Gumam Nissa, Alan tersenyum simpul. Senyum manis yang menampakkan lesung pipinya. Kharisma yang tak mudah ditolak oleh kaum hawa. Termasuk Nissa yang pernah luluh dalam cinta Alan. Jauh sebelum Nissa mengerti arti cinta dan pernikahan sesungguhnya.


"Iya, janji yang pernah terucap. Kala kita mengingkat hati satu sama lain. Namun tenanglah Nissa, aku tidak akan meminta kamu menepati janjimu. Aku tidak akan memaksamu berada disisiku. Seandainya aku ingin kamu disisiku, itu bukan karena janji diantara kita. Namun hatimu yang masih menyimpan namaku!" Tutur Alan, Nissa diam tak bersuara. Seketika rumah sakit terasa sepi. Nissa merasa tak bersalah, dia melupakan janji yang pernah terucap. Sebuah janji yang kini menjadi hutang. Nissa diam dalam kebimbangan, Alan menatap lekat Nissa. Kecantikan yang pernah membuatnya terpesona. Kini tak lagi pantas untuk dilihatnya.


"Maaf!"


"Jelas kamu tak pantas bersama Nissa. Bukan Nissa yang mengikari janji diantara kalian. Sebaliknya, dirimu yang telah melanggar janji itu. Sekarang, setelah beberapa tahun kamu pergi. Kamu datang tanpa rasa bersalah, bahkan mengatakan Nissa yang bersalah telah mengkhianati cinta kalian!" Ujar Amira lantang, Alan dan Nissa langsung menoleh. Alan menatap heran, mendengar perkataan Amira. Tak memahami arah perkataan Amira. Sedangkan Nissa hanya diam membisu, tak ingin mengungkit luka yang telah mengering.


Amira datang dengan dua botol air mineral. Sejak awal Alan menghampiri Nissa, Amira sudah melihatnya. Namun Amira memilih menjauh, memberikan waktu pada Nissa dan Alan. Mengatakan kata yang tersimpan di hati mereka masing-masing. Amira mengenal Alan dan Nissa, satu-satunya orang yang mengetahui bahagia dan luka Nissa setelah kepergian Alan.

__ADS_1


"Aku, kenapa aku? Selama ini aku masih setia dengan rasaku. Tak seorangpun yang menggantikan Nissa, tak satupun wanita yang sepadan dengan Nissa. Lantas, apa alasanmu menyalahkanku?" Sahut Alan membenarkan diri, Amira tersenyum sinis.


"Ini, alasanku menyalahkanmu. Kamu mungkin tak menyadarinya, tapi keluargamu telah mengatakan dengan lantang. Jika Nissa tak pantas menjadi calon menantunya. Bukan hanya itu, mereka membawa undangan pertunanganmu. Tepat dihari paling bahagia dalam hidup Nissa. Hadiah wisuda yang paling menyakitkan, menatap dirimu berdiri dengan memegang tangan wanita yang kini menjadi istrimu!" Teriak Amira penuh amarah, Alan mundur beberapa langkah. Tatapannya kabur, hatinya terasa ngilu. Dia merasakan kehancuran Nissa saat itu. Ketika Nissa melihat acara pertunangannya, tapi pertunangan yang hanya bertahan satu tahun. Sebab Alan tak mampu membuka hati, untuk wanita yang dijodohkan dengannya.


"Siapa yang mengirim ini padamu?" ujar Alan terbata, Amira menatap Alan dingin.


"Kamu munafik Alan, merasa tersakiti padahal kamu yang menyakiti!"


"Nissa, sumpah aku dan dia tidak ada hubungan lagi!"


"Terlambat Alan, mungkin saat Nissa tersadar. Nissa memanggil namamu, bukan nama suaminya. Namun sadarilah Alan, itu bukan cinta. Melainkan luka yang terbuka, ketika Nissa mendengar suaramu!"


"Nissa, maafkan aku!"


"Tak ada lagi yang mengganjal dihatiku untukmu. Aku kini fokus pada buah hatiku, tidak padamu atau suamiku!" Sahut Nissa final dan langsung pergi.

__ADS_1


"Dia laki-laki yang pernah ada dalam hati dan hidupmu. Kamu sangat mencintainya!" gumam Radit, sembari menatap lekat Nissa.


"Apa terasa sakit? Seperti itulah perasaan Nissa, ketika kamu menganggap biasa hubunganmu dengan Alvira!" Ujar Zahra tepat di samping Radit.


__ADS_2