Senja Pengganti

Senja Pengganti
Surat Terakhir


__ADS_3

Di ruang tunggu keberangkatan dalam negeri. Nissa duduk sendiri, sembari melirik ke arah jam tangannya yang kini menujukkan pukul 22.00 tepat. Artinya 30 menit lagi, Nissa akan pergi meninggalkan kota ini. Jujur ingin Nissa kembali, mencoba berjuang demi hubungan rumitnya dengan Radit. Namun Nissa tak memiliki kekuatan menahan rasa sakit untuk kesekian kali. Nissa tak mampu lagi bertahan.


Nissa memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Nissa merasakan sakit yang teramat sakit, bak ribuan jarum menusuk hatinya bersama-sama. Nissa merasakan dunianya runtuh, tak lagi mampu melindunginya. Nissa tak mampu bernapas di kota yang sama dengan Radit. Bohong, seandainya Nissa tidak tersakiti. Jika ada yang terluka, Nissa orangnya. Lagi dan lagi Nissa tersakiti, rasa sakit yang ditinggalkan oleh orang-orang yang begitu disayanginya.


Nissa duduk termenung, tatapannya kosong. Tangan lemahnya menguasap perutnya yang rata tak terlihat. Mencoba tegar dengan keputusan besarnya. Nissa memilih pergi jauh, bukan dari hidup Radit saja. Nissa memilih hidup di negara yang tak pernah ditinggalinya. Nissa memilih tinggal bersama Daniel, menjauh dari orang-orang yang membencinya. Setidaknya sampai Nissa menemukan kekuatan untuk kembali menatap Radit. Nissa terdiam mengingat kepingan kisahnya bersama Radit. Kisah singkat yang memberikan warna baru dalam hidupnya.


NISA POV


Pertama kalinya aku mendengar namamu, tubuhku bergetar hebat. Sebuah nama yang terdengar asing di telingaku. Namun nama yang sama, harus aku tulis dalam takdir hidupku. Ahmad Dzaky Raditya, nama indah yang akan tertulis di lubuk hatiku. Nama asing yang tak pernah aku bayangkan, menjadi nama yang paling dekat di nadiku. Nama yang sulit terucap dari bibirku, tapi nyata diteriakkan oleh hatiku


Tepat seminggu setelah pertemuan kita, aku menjadi milikmu sepenuhnya. Tanganmu yang menjabat tangan ayah kandungku. Ijab qobul suci terucap, menjadi awal status baru dalam hidupku. Status yang tak pernah aku harapkan datang secepat ini. Sebuah hubungan yang didasari tanpa cinta. Sejenak membuatmu takut, tapi demi baktiku pada ayah yang membesarkanku. Aku menikah denganmu, hatiku tulus menerimamu, tulang rusukku siap menopang tubuhmu, diriku siap menjaga kehormatanmu. Namun tulusku, janjiku, setiaku dan kesucianku menjadi hinaan bagi keluargamu.


Pertama kalinya aku melangkah masuk di rumahmu. Bukan segelas air putih yang kamu tawarkan. Namun hinaan pedih yang terdengar menyambut kedatanganku. Lapar dan hausku tak lantas mengusik ketenanganmu. Tak ada hangat yang menyapaku. Sebaliknya, hinaan yang selalu aku dengar. Bak santapan lezat yang mengiringi langkahku. Aku merasa sendiri dalam penjaramu. Namun aku tetap bertahan, demi bakti terakhir pada ayah.


Satu bulan, dua bulan, bahkan tiga bulan berlalu. Aku tak mendapatkan kehormatanku. Aku hanya mendengar cacian dari adik tersayangmu. Aku makan dengan piring bekasmu. Bermimpi kamu sedang menemaniku, menyuapiku makanan demi menghapus laparku dan sepi hatiku. Aku terus bermimpi, mendapatkan kasih sayang dari keluargamu. Bahkan saat mereka mendengar kehamilanku. Mereka terus mengacuhkanku, menganggap buah hatiku tak berati. Papa mertua yang aku harapkan memberikan sedikit kasih sayangnya. Malah memilih diam, mengacuhkan kerinduanku akan sosok ayah. Sikap diam yang membuatku tersudut dan tersisih.


Sampai akhirnya dia datang, Alvira Putri Oktaviani Kusuma. Sepupu angkat yang tak pernah menganggapku ada. Mantan istri yang terus mengharap kasih sayangmu. Ibu kandung dari putra kecilku. Alvira yang dengan mudah mendapatkan kata maaf darimu. Alvira yang mendapatkan kasih sayang keluargamu dengan tulus. Melupakan kesalahan yang pernah dia lalukan padamu. Duka menganga dalam hidupmu tertutup, berganti menjadi luka dalam hidupku.

__ADS_1


Luka yang kamu torehkan, saat kamu mengacuhkan rasa rinduku. Demi melampiaskan rasa marahmu akan kepergian Zain. Tangismu saat memeluk foto Alvira bersama Zain. Terasa menyayat hatiku, menyadarkan diriku. Jika hatimu tak pernah tertulis namaku. Hatiku terasa hancur, tulangku rapuh, kuatku musna, mimpiku sirna dan tawaku menghilang. Aku merasa dunia telah berakhir untukku. Aku tumbang, tak mampu lagi berdiri. Menatap langit, kedua mataku tak mampu. Hidup tanpa cinta tidaklah mudah, tapi jauh lebih sulit hidup tanpa harapan. Aku kalah dengan cemburu ini. Aku tak mampu bertahan, impianku telah musnah bersamaan tawamu di samping Alvira. Bahkan kamu mengabaikan sakitku dan buah hati kita. Seorang wanita mampu bertahan dengan harapan cinta palsu. Namun seorang putra takkan mampu hidup. Kala dia menyadari, tak ada cinta untuknya. Seorang ibu akan lemah, melihat putranya terlupa.


Kini aku memilih pergi, meninggalkan kepedihan yang pernah ada dalam hidupku. Aku menyerah dengan cinta ini? Aku tak lagi sanggup menemanimu. Hanya doa dalam sujudku yang kelak melindungimu. Perpisahan menjadi jalan terakhir, kala tak ada kata yang mamlu menyatukan.


NISSA POV EN**D**


"Nissa, kamu baik-baik saja!" Ujar Amira, sembari menepuk pelan pundak Nissa. Amira membuyarkan lamunan Nissa, kenangan akan sosok Radit dalam hidupnya.


"Aku baik-baik saja. Percayalah, tidak akan terjadi sesuatu padaku!" Sahut Nissa, Amira langsung memeluk tubuh Nissa. Mendekap erat Nissa, saudara yang terluka oleh cinta sucinya. Nissa memang kuat, tapi kedua matanya tidak bisa berbohong. Tak ada binar yang terlihat, sayu bak tanaman tanpa air. Amira memeluk erat Nissa, menyadari cinta Nissa pada Radit yang begitu besar.


Daniel membawa koper Nissa, Daniel membawa Nissa pergi menjauh dari Radit dan keluarga besar Kusuma. Nissa mengikuti langkah Daniel, kini semua telah terjadi. Nissa harus pergi dan tak mungkin kembali. Nissa tak lagi menoleh, dia semakin jauh dari pandangan Amira.


Tap Tap Tap


"Nissaaa!" Teriak Radit, Amira langsung menoleh saat mendengar teriakkan Radit. Suara langkah Radit terdengar nyaring. Radit berlari mengejar Nissa, tapi tertahan saat Amira menghalangi Radit.


"Minggir!"

__ADS_1


"Percuma Radit, Nissa sudah masuk ke dalam pesawat!" Ujar Amira dingin, Radit menggeleng tak percaya.


"Tidak mungkin!"


"Terlambat penyesalanmu!" Sahut Amira dingin. Amira memberikan sebuah amplop pada Radit. Tak ada kata yang terucap dari bibir Amira. Tatapannya sudah cukup menjawab pertanyaan Radit.


"Nissa meninggalkannya untukmu!" Ujar Amira, Radit membukanya dengan tangan bergetar. Sepucuk surat yang ditulis Nissa dengan tinta hitam dan air mata.


Dear: Radit, ayah putraku.


Radit, maafkan aku yang kalah oleh hinaan dunia. Ketika kamu membaca suratku, mungkin aku sudah berada dalam pesawat. Sebuah penerbangan yang membawaku meninggalkan negara ini. Aku pergi meninggalkan semua kenangan indah saat kita bersama, meninggalkan kenangan pahit yang terjadi. Maafkan aku yang tidak sabar menunggumu mengenalku, maafkan aku yang tidak bisa setia mendampingimu, maafkan aku yang kini ikhlas menerima akhir pernikahan kita. Kuputuskan untuk pergi demi rasa yang tersisa. Pondasi pernikahan kita terlalu rapuh, hingga mudah goyah hanya dengan kerikil kecil yang menghalangi jalan kita.


Dari: Nissa, wanita yang pernah singgah di hatimu.


"Nissa pergi dari negara ini, dia membawa kedua putraku. Sedalam itukah lukanya, hingga dia pergi sejauh itu. Tidak adakah kata maaf untukku!" Ujar Radit lirih, seraya menatap foto USG buah hatinya bersama Nissa.


"Sayangnya penyesalanmu sangat terlambat!" Sahut Amira dingin.

__ADS_1


__ADS_2