
"Nissa, bisa kita bicara!" sapa Alvira, Nissa menghentikan langkahnya.
Nissa baru pulang dari sekolah. Jam masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Nissa terkejut melihat Alvira ada di rumah Radit. Nissa dan Radit tinggal di rumah lama. Rumah baru yang dibeli Radit, ditempati saat Radit dan Nissa ingin berdua. Sebab itu Alvira dengan mudah datang dan pergi. Zain yang menjadi alasan Alvira bisa ada di rumah Radit. Seperti hari ini, Alvira tengah duduk menunggu Nissa datang.
"Ada apa?" sahut Nissa sopan, Alvira tersenyum sinis. Dia merasa sikap manis dan sopan Nissa hanyalah kamuflase. Alvira menampakkan jelas rasa tidak sukanya terhadap Nissa. Rasa cemburu dan iri yang tersimpan jauh dalam hati gelapnya.
"Tidak perlu berpura-pura baik di depanku. Kita hanya berdua, kamu bisa menunjukkan keburukanmu. Membuka topeng yang menutupi wajahmu. Aku sudah sangat mengenal pribadi sepertimu. Memanfaatkan kebaikan Radit, demi hidup bahagiamu!" tutur Alvira sinis dan dingin, Nissa diam membisu. Perkataan Alvira tak sedikitpun mengusik ketenangan Nissa.
"Lebih baik kita bicara di dalam!"
"Kamu yakin, memintaku masuk. Kamu lupa Nissa, sebelum kamu menjadi bagian rumah ini. Aku yang terlebih dulu menjadi nyonya di rumah ini. Caramu memintaku masuk, seolah kamu pemilik rumah ini. Kamu bak nyonya besar rumah yang nyatanya dulu menjadi milikku. Kamu tidak malu merebut semua yang aku miliki!" ujar Alvira sinis, Nissa membalas kesinisan Alvira dengan senyuman. Tatapan yang lembut, tanpa ada amarah atau benci.
"Jika anda keberatan, kita bicara disini. Sebentar, saya akan meminta mbak Ifa membuatkan minuman!" ujar Nissa sopan, Alvira semakin kesal. Dia merasa Nissa tidak peduli akan kekesalannya. Alvira menatap penuh rasa marah, ketika dia melihat Nissa masuk ke dalam rumah.
Nissa masuk ke dalam rumah, lalu mencari Ifa dan meminta Ifa membuatkan minuman. Sedangkan Nissa masuk ke dalam kamarnya. Dia meletakkan perlengkapan mengajarnya, lalu berganti baju. Hanya sepuluh menit Nissa meninggalkan Alvira. Nissa pribadi yang menghargai orang dan selalu tepat waktu. Nissa tidak akan membiarkan Alvira menunggu lama. Nissa keluar menemui Alvira, setelah dia merasa bersih dan pantas bertemu Alvira.
"Maaf menunggu, saya meletakkan tas di kamar!"
__ADS_1
"Kamu bukan orang penting yang pantas membuatku menunggu!"
"Aku sudah mengatakan kata maaf, apalagi yang anda inginkan dari saya!" sahut Nissa sopan, Alvira mengepalkan tangannya. Entah kenapa Alvira semakin kesal melihat betapa tenang dan santainya Nissa. Sekuat apapun Alvira memancing amarah Nissa, tak sekalipun Nissa terpancing dan marah padanya. Alvira merasa Nissa pribadi yang tak mudah dihadapi.
Nissa duduk tepat di samping Alvira. Mereka dipisah oleh meja kecil ditengah-tengah mereka. Nissa terlihat begitu tenang, tak ada amarah yang nampak di wajah Nissa. Sebaliknya, ketenangan nissa membuat Alvira semakin kesal. Lama Nissa menunggu, tak ada kata yang terucap dari bibir Alvira. Justru Nissa melihat kekesalan Alvira yang begitu nyata. Namun Nissa memilih diam, menanti Alvira memulai pembicaraannya.
"Sudah sepuluh menit, sampai kapan saya menunggu? Jika memang tidak ada yang ingin anda katakan. Lebih baik saya masuk!" ujar Nissa, Alvira menoleh dengan tatapan sinis.
"Nissa, tinggalkan Radit dan Zain!" ujar Alvira tegas dan dingin, Nissa langsung menoleh dengan tatapan tak percaya. Perkataan Alvira bak petir di siang bolong. Sesuatu yang tak pernah ada dalam bayangan Nissa. Kini nyata terdengar jelas dari bibir Alvira. Permintaan yang tidak mungkin dan sulit dilakukan oleh Nissa.
"Karena mereka milikku!" sahut Alvira lantang, Nissa menggelengkan kepalanya pelan. Nissa tidak percaya, Alvira mampu mengatakan semua itu dengan lantang. Sesuatu yang pernah ditinggalkannya dan kini dengan lantang Alvira mengakuinya. Nissa merasa lucu, melihat sikap Alvira yang tidak pada tempatnya.
"Alasanmu tidak masuk akal, sesuatu yang pernah kamu tinggalkan. Sekarang kamu mengakuinya dan memintanya kembali. Kamu kehilangan akal, sampai kamu sanggup mengatakan semua ini!"
"Aku tidak pernah meninggalkan mereka. Kamu yang membuat Radit meninggalkanku!" teriak Alvira emosi, Nissa menggeleng tak percaya. Alvira yang berpendidikan dan anggun, terlihat begitu rendah dan murah. Semua demi cinta Radit yang tak lagi pantas untuknya.
"Sudahlah, percuma pembicaraan ini. Tidak akan ada titik tengah. Kita akan berdebat, untuk sesuatu yang sudah pasti. Seandainya, ada yang ingin kamu katakan atau kamu minta. Tanyakan dulu pada hati nurani, pantaskah kamu meminta semua itu? Sedangkan jelas, kamu bukan korban. Sejak awal yang menjadi korban itu Radit dan Zain. Mereka yang kamu tinggalkan begitu saja, demi kemewahan keluarga Kusuma. Status yang mereka tawarkan, jauh lebih berharga dari status sebagai istri Radit dan ibu Zain. Kesuksesan yang kamu gapai sekarang. Bukti pengorbanan Radit dan Zain. Jadi, jangan pernah meminta apapun. Jika kamu sudah tak menginginkannya dari dulu. Belajarlah satu hal Alvira, apa yang kita inginkan? Terkadang harus mengorbankan dan nyatanya kamu mengorbankan keluarga kecilmu. Keluarga yang kini menjadi bagian dari hidupku!" tutur Nissa tenang penuh emosi. Alvira meradang, perkataan Nissa telah mengusik harga dirinya. Meski perkataan Nissa tidak salah, tapi Alvira terlalu takut mengakui semua itu.
__ADS_1
"Jaga bicaramu!" ujar Alvira, sembari mengangkat tangan. Alvira merasa dipermalukan oleh Nissa. Kekesalan yang sejak awal ada, kini semakin besar dan membara. Bak bola api yang semakin membesar. Sorot mata Alvira terlihat tajam dan merah. Nissa diam tak bergeming, teguh dengan pendiriannya. Perkataannya tidak salah, semua itu fakta bukan hanya omong kosong semata.
"Jangan pernah mengangkat tanganmu padaku. Aku tidak bersalah, semua yang terjadi sekarang. Tak lain hasil dari jalan yang kamu pilih. Jika kamu menginginkan mereka kembali. Jangan memintaku mundur, luluhkan cinta mereka dengan kesungguhanmu. Sebagai wanita aku dan kamu sama, kita sama-sama mencintai Radit. Namun sebagai seorang ibu, aku dan kamu berbeda. Kamu ibu kandung Zain, sedangkan aku ibu sambungnya. Aku tidak akan menghalangimu menyayangi Zain. Namun demi Radit, aku siap bersaing!" tutur Nissa tegas, lalu menghempkan tangan Alvira. Nissa merasa kasihan, Alvira harus menanggung hukuman atas luka yang dia tinggalkan pada Radit dan Zain.
"Kamu ingin bersaing denganku, kamu yakin!" ujar Alvira, Nissa menggelengkan kepalanya. Seutas senyum terlihat di wajah cantiknya. Ketulusan cinta seorang wanita yang dulunya tak lebih dari cinta pengganti.
"Aku tidak akan bersaing, tapi aku mempertahankan hak dan milikku. Namun seandainya, Radit lebih bahagia bersamamu. Maka aku siap mundur. Cintaku bukan penjara yang akan mengekang kebahagian Radit. Selama dia bahagia, insya allah aku juga bahagia!"
"Munafik, katakan saja kamu takut bersaing. Kamu wanita lemah yang selalu kalah, bahkan sebelum berperang!" sahut Alvira sinis.
"Bukan Nissa yang munafik, tapi kamu. Dulu kamu yang meninggalkan kami. Sekarang kamu ingin kembali, tanpa merasa bersalah. Nissa mungkin lemah, sebab itu aku ada untuk menopangnya. Selama ada aku, kamu tidak akan bisa menyentuhnya!" ujar Radit lantang, lalu memeluk Nissa dengan sangat erat. Pelukan hangat dan mesra yang terjadi tepat di depan kedua mata Alvira.
"Artinya, kamu siap bertemu denganku di pengadilan. Akan aku pastikan kamu kehilangan Zain!" ujar Alvira, Radit mengangguk tanpa ragu.
"Akan aku tunggu!" sahut Radit tegas, Nissa langsung menoleh ke arah Radit. Kedipan mata Radit, isyarat semua baik-baik saja.
"Kita akan berjuang bersama!" ujar Radit, lalu mencium lembut kening Nissa.
__ADS_1