Senja Pengganti

Senja Pengganti
Malam Dingin


__ADS_3

"Nissa, dia ada disini!"


"Katakan aku sudah tidur, minta dia pulang!" ujar Nissa, Amira diam berdiri terpaku. Tak ada jawaban atau anggukan kepala. Amira tak memiliki jawaban atas permintaan Nissa.


Nissa menghela napas, Amira menatap sendu sahabatnya. Dengan langkah gontai, Nissa keluar dari kamarnya. Nissa melangkah perlahan menuju ruang tamu. Amira memilih diam di kamar, dia tidak ingin mengganggu Nissa. Amira menyadari sahabatnya tidak baik-baik saja. Nissa selalu diam saat ada masalah. Bahkan di depan Amira, Nissa akan bersikap baik-baik saja.


Nissa berdiri beberapa langkah di belakang Radit. Nampak Radit berdiri dengan gelisah. Gestur tubuh Radit, menampakkan kegelisahan yang teramat besar. Nissa terus melangkah mendekat, Nissa berdiri tepat di pintu. Suara langkah kaki Nissa, membuat Radit memutar tubuhnya. Radit menatap lekat Nissa, wajah yang hampir seminggu tak dilihatnya. Radit terpaku, menatap Nissa yang terlihat tenang. Tak ada gelisah atau cemas, sebaliknya Radit terlihat berantakan tak terurus.


"Nissa!" sapa Radit, Nissa mengedipkan kedua matanya. Wajah cantik Nissa menampakkan senyum yang begitu menenangkan.


Nissa berjalan beberapa langkah ke depan. Nissa berdiri tepat di samping Radit, berpegangan pada pembatas teras. Radit merasakan harum tubuh Nissa. Harum yang pernah mengisi hari-harinya. Namun kini harum itu semakin jauh dan menghilang. Nissa menatap lurus ke depan, menembus gelap malam yang sunyi dan sepi. Radit terdiam, tak ada suara yang mampu keluar dari bibirnya.


"Ada apa? Kenapa datang kemari? Malam sudah sangat larut!"


"Aku merindukanmu!" ujar Radit lirih, Nissa menoleh. Nissa menatap lekat Radit, tatapan yang penuh dengan rasa tanpa kata.


"Maaf, aku belum bisa pulang!"


"Kenapa? Berapa lama lagi aku menahan rasa rindu ini? Katakan, apa yang harus aku lakukan? Agar kamu memaafkanku!" ujar Radit, Nissa menunduk terdiam. Beberapa menit, semua terasa sunyi dan senyap. Pekat malam membuat suasana semakin mencekam.


Nissa menatap lurus jalan setapak di depannya. Sebuah jalan kecil di sebuah desa di pinggiran kota. Nissa memilih tinggal di desa, menjauh dari hiruk pikuk kota. Meninggalkan kenyamanan dan kemewahan yang diberikan Radit. Rumah kecil beratapkan genteng kuno dengan halaman kecil dan pagar bambu sebagai pembatas. Rumah kecil yang memberikan ketenangan dalam hati dan jiwa Nissa.

__ADS_1


Seminggu sudah, Nissa tinggal jauh dari Radit. Sejenak Nissa durhaka pada Radit. Suami yang menjadi jalan surganya. Nissa memilih amarah, melupakan baktinya pada Radit. Menganggap benar rasa sakitnya dengan meninggalkan rasa sakit di hati imam dunia akhiratnya. Nissa merasa tak berdaya dengan semua yang terjadi. Bertahan dengan tubuh penuh luka, tidak akan mudah. Meski pergi menjauh hanya akan membuat dirinya durhaka dan berdosa. Namun egois seorang wanita yang memilih pemikirannya benar dan menganggap lukanya takkan mudah sembuh. Sebuah pemikiran bodoh yang akhirnya membawa Nissa tinggal disini. Tinggal sendiri tanpa suami dan putra sambungnya.


"Aku tidak tahu, hatiku tersakiti dan jiwaku menjerit. Aku marah dengan semuanya, aku menangis mengingat luka yang tertoreh!"


"Aku merindukanmu, Zain membutuhkanmu!"


"Dan aku butuh kewarasanku!" sahut Nissa dingin, Radit mengusap wajahnya kasar.


Radit menyadari seberapa besar luka yang ditorehkan oleh sikap arogantnya. Meski semua itu hanya masa lalu. Ibarat sebuah sejarah yang takkan mudah terlupa. Seperti itulah, luka yang kini dirasakan Nissa. Menyakinkan hati yang terluka, tak semudah menutup kulit yang terkelupas.


"Nissa!"


"Lima bulan Nissa, kita sudah bersama selama hampir lima bulan lebih. Tidak mungkin hatimu tak merasakan rasa cintaku. Bukan setiap hari aku mengatakan cintaku, hampir setiap menit aku tunjukkan rasa sayangku. Masihkah kamu tidak merasakannya?" ujar Radit, Nissa menoleh dengan seutas senyum.


"Sebab itu aku memilih pergi, hatiku mulai lemah di depanmu. Aku takut hatiku semakin hancur. Lukaku tidak akan membuatku rapuh, tapi cintamu membuat wanita di depanmu ini rapuh!" sahut Nissa datar, Radit menarik tangan Nissa. Dengan anggukan kepala, Nissa mengiyakan tatapan Radit. Sebuah kata yang tak terucap, tapi jelas terdengar dua telinga Radit. Bahasa cinta yang hanya bisa dimengerti oleh Radit dan Nissa.


"Nissa, jika itu benar. Kenapa kamu pergi dariku? Kita mulai semua dari awal!"


"Tidak semudah itu Radit, selama lima bulan aku menyakinkan diriku. Kamu menyayangiku dan takkan menyakitiku. Nyatanya, kamu orang yang paling menyakitiku. Tangan yang kamu tawarkan padaku, telah membuat tanganku kehilangan pegangan. Seandainya, kamu hanya ingin menyakitiku bukan ayahku. Mungkin memaafkanmu jauh lebih mudah bagiku. Sejak kecil, ayah satu-satunya orang yang menyayangiku. Dia yang memelukku, kala tangisku pecah. Dia orang pertama yang bahagia melihat keberhasilanku. Dia juga laki-laki pertama yang aku cintai. Dekapan hangatnya yang selama ini melindungiku dari rasa sakit. Sentuhannya yang menenangkanku, ketika hinaan terus terdengar di telingaku. Dia begitu berharga bagiku dan kamu ingin menyakitinya!" tutur Nissa lantang, suara Nissa terdengar sampai ke dalam kamar.


Amira terperanjat mendengar amarah Nissa. Rasa sakit Nissa terucap, tak lagi tenang Nissa membuatnya diam. Nissa mengatakan semua luka dan dukannya. Ketakutan dan kerinduan yang tak mampu diucapkannya. Kini semua terdengar, tak lagi bibir Nissa tertutup. Amira merasakan sakit yang dirasakan Nissa. Tangis yang tertahan, akan semakin menyakitkan dan menyesakkan. Amira terdiam di dalam kamar, menutup kedua telinganya. Mendengar luka sahabatnya, membuat Amira hancur.

__ADS_1


"Maafkan aku!" ujar Radit lirih, tangannya mencoba meraih tubuh Nissa. Namun Nissa menepis perlahan tangan kekar Radit. Nissa berjalan menjauh, bersandar pada tiang rumah yang terbuat dari kayu.


"Radit, dia ayahku dan kamu suamiku. Aku tidak bisa memilih diantara kalian. Aku menyayanginya dan aku mencintaimu!" ujar Nissa semakin pilu, Radit menatap tak percaya ke arah Nissa. Kata cinta itu terucap, kata itu terdengar jelas. Namun air mata dan rasa sakit Nissa itu nyata. Tangis yang terasa menyayat hati. Kepiluan seorang wanita yang tersakiti dengan cintanya.


"Nissa, kamu mencintaiku!"


"Iya, aku mencintaimu Ahmad Dzaky Raditya!" sahut Nissa lantang dengan tangis. Nissa menepuk pelan dadanya yang terasa sakit. Hatinya terasa ngilu, cinta itu ada dan benci itu nyata. Nissa berada diantara bahagia dan air mata. Nissa tak mampu melangkah, dia memilih diam.


"Sayang!" ujar Radit bahagia, Nissa menepis kedua kalinya tangan Radit.


"Aku tidak bisa memilih diantara kamu dan ayahku. Kamu jalan syurgaku kini, tapi beliau pelindungku. Kamu cintaku, tapi beliau ketenanganku. Kamu hidupku, tapi beliau penopangku. Aku tidak bisa memilih, aku tidak bisa!" ujar Nissa lirih, tubuh Nissa lemas. Kedua kakinya lemah tanpa tenaga.


Bruugggghhh


"Nissa!" teriak Radit, tubuh Nissa jatuh ke tanah. Radit menopang kepala Nissa, Radit melihat raut wajah Nissa yang memucat. Tangan Nissa dingin, bibir Nissa membiru. Seketika tubuh Radit bergetar, Radit cemas melihat Nissa.


"Nissa!" teriak Amira, sembari berlari dari dalam rumahnya. Amira menggenggam tangan Nissa yang mendingin. Amira mengosok perlahan tangan Nissa, tapi semua sia-sia. Tubuh Nissa semakin dingin, Nissa sahabatnya tumbang tepat di depannya.


Cup


"Maafkan aku, maaf!" ujar Radit pilu, sesaat sebelum mencium kening Nissa yang terasa panas.

__ADS_1


__ADS_2