Senja Pengganti

Senja Pengganti
Cucu yang tak diharapkan


__ADS_3

Cahaya bulan terlihat begitu sempurna. Langit terlihat begitu cerah. Cahaya bulan menembus gelap di balik awan malam. Cahaya terang yang menerangi malam gelap. Nissa berdiri mendongak, menatap langit yang cerah. Tepat pertengahan bulan, hari paling spesial dimana bulan bersinar begitu sempurna? Sebelum esok hari kembali meredup. Nampak Nisss berdiri terpaku, tangannya tertopang di atas pagar besi balkon. Diam tanpa kata, mencari arti luka dan suka yang tak pernah bertepi.


Radit berdiri termenung tepat di pinggir pintu. Menatap sendu Nissa, wanita yang terus terluka dan tersisih. Namun selalu kuat, tanpa sekalipun mengeluh. Radit merasa bersalah, ketika dia mengingat kejadian siang tadi. Radit hanya bisa diam, tanpa sedikitpun membela Nissa. Kejadian demi kejadian, masih teringang jelas di telinga Radit. Fakta yang terungkap tak lagi bisa terelak.


FLASH BACK


"Lepas dari Alvira, kamu menemukan wanita murahan!" sindir Irfan, Sanjaya langsung menoleh. Radit mengepalkan tangannya, ada amarah mendengar hinaan Irfan. Namun amarahnya tertahan, ketika Nissa menggenggam erat tangan Radit. Gelengan kepala Nissa, isyarat Nissa tidak berharap melihat amarah Radit.


"Irfan, Nissa wanita yang baik. Zain sangat menyayanginya!"


"Wanita perayu, lahir dari wanita perayu. Aku tidak heran, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah yang pantas menggambarkan dia dan ibunya!" ujar Irfan dingin, Nissa menggeleng lemah. Hatinya terasa ngilu, tetes bening air mata jatuh di pelupuk matanya. Air mata yang jatuh tepat di atas tangan Radit. Air yang terasa begitu dingin, sampai menusuk ke tulang belulang Radit.


"Sayang!" ujar Radit lirih, Nissa menggeleng lemah. Isyarat dia tidak baik-baik saja. Radit langsung menatap tajam Irfan.


"Kenapa anda bicara sekasar itu? Dia tidak bersalah atas perpisahanku dengan Alvira!" ujar Radit geram dan emosi, Irfan tersenyum sinis.


"Kakek, Radit benar. Pernikahan mereka terlaksana, setelah aku resmi berpisah dari Radit!" sahut Alvira, Radit dan Nissa langsung menoleh. Nampak Alvira keluar dari kamar tamu rumah Radit. Nissa menoleh ke arah Radit, gelengan kepala Radit jawaban dari tatapan sendu Nissa.


"Sayang!" ujar Radit, menghentikan Nissa yang berdiri.


"Kenapa pergi? Duduklah bersama kami, agar kamu menyadari statusmu!" ujar Irfan, Sanjaya langsung menggelengkan kepalanya pelan. Berharap Irfan menghentikan semua perkataannya.


"Kakek, jangan menghina Nissa atau aku lupa sopan santun!" ujar Radit, Nissa menahan Radit. Tanpa banyak bicara, Nissa pergi meninggalkan semua orang.


"Alvira!" sapa Alvira, sembari mengulurkan tangan ke arah Nissa. Radit menatap bingung, dia merasa tak berdaya menahan pertemuan antara Nissa dan Alvira.


"Alvira, tidak perlu baik kepadanya. Dia bukan wanita baik-baik. Dia lahir dari hubungan yang hina!" teriak Irfan, Alvira menatap tajam Irfan. Seakan tidak setuju dengan pemikiran Alvira.

__ADS_1


Detak jantung Nissa berdegub hebat, perkataan Irfan tak hanya menyakiti Nissa. Namun membunuh Nissa perlahan, keraguan akan kesucian ibu yang melahirkannya. Membuat Nissa kalap, dia marah dengan perkataan Irfan. Kesabaran yang terus diuji, kini menghilang bersamaa hinaan akan sang ibu. Nissa mengepalkan tangannya. Dia berjalan ke arah Irfan. Berdiri beberapa meter dari laki-laki paruh baya yang begitu dihormati. Namun kini tatapan Nissa penuh amarah dan kebencian.


"Tuan besar silahkan menghina saya, tapi jangan pernah menghina ibu yang melahirkan saya. Tumpahkan amarah dan kebencian anda pada saya, tapi jangan pernah meragukan kesucian mama!"


"Apa yang aku katakan benar, ibumu tak lebih dari wanita murah!" ujar Irfan dengan lantang, Alvira berlari menahan tangan Irfan. Alvira tidak ingin amarah Irfan mengganggu kesehatannya.


"Dia memang wanita murah, sebab itu dia menikah dengan kakakku. Demi melunasi hutang orangtuanya. Dia tak lebih dari wanita pelunas hutang!" ujar Saskia menimpali, lalu berdiri tepat di samping Radit.


Plaaakkk


"Masuk ke kamarmu, sekarang!" ujar Radit emosi, sesaat setelah menampar Saskia.


"Ternyata prasangkaku tidak salah. Kamu tetap hina, layaknya ibumu!"


"Kakek!" teriak Radit, Nissa menggelengkan kepalanya lemah. Nissa memilih diam, bukan takut tapi dia masih menghargai Irfan sang tuan besar.


"Kamu mencintainya melebihi diriku. Delapan tahun kebersamaan kita, lenyap tergantikam beberapa bulan kebersamaan kalian. Siapa Nissa sebenarnya? Kenapa kamu begitu mencintainya? Bukan hanya mencintainya, kamu sangat menghargainya. Kamu pertaruhkan hubungan darah. Demi membela harga dirinya. Jujur Radit, aku iri dengan Nissa. Mantan suamiku mencintainya dengan tulus. Putraku menyayanginya dengan sepenuh hati. Kini, kakekku memperhatikannya dengan amarahnya. Siapa sebenarnya Nissa? Dia menggantikanku dalam sekejap!" batin Alvira tak percaya, sembari melihat Radit yang tengah marah.


"Papa cukup, dia tidak bersalah!"


"Om Aryan!" sahut Alvira, Nissa langsung memutar tubuhnya. Dia memilih pergi, cukup sudah rasa sakitnya hari ini. Hinaan yang terucap, sudah cukup membuat hatinya terluka.


"Nissa, kamu tidak ingin menyapa om!" ujar Aryan hangat, Alvira dan Radit menoleh tak percaya. Hangat yang terlihat, seakan isyarat akan hubungan yang begitu dekat.


"Assalammualaikum om!" sahut Nissa datar.


"Tunggu Nissa, ini hadiah dariku!" ujar Aryan, sembari memberikan sebuah kotak kecil ke arah Nissa. Namun dengan sopan, Nissa menolak hadiah dari Aryan.

__ADS_1


"Om mohon!"


"Terima kasih, tuan besar tidak mengharapkan saya. Jadi tidak sepantasnya saya menerima hadiah dari jerih payahnya!" ujar Nissa sopan, Aryan menggeleng lemah. Memaksa Nissa menerima hadiah yang diberikannya.


"Ambillah!" ujar Aryan, Nissa menolak.


"Sekali lagi terima kasih, berikan saja hadiah ini untuk Amira atau Alvira. Mereka yang berhak menerimanya!" ujar Nissa lirih, lalu pergi meninggalkan Aryan.


"Amira putri om, artinya Nissa!" ujar Radit gamang, Aryan mengangguk pelan.


FLASH BACK OFF


"Nissa, kamu baik-baik saja!" sapa Radit, Nissa mengangguk tanpa menoleh. Nissa terus menatap langit yang begitu indah. Seakan tak ada luka yang tertoreh dihatinya.


"Maaf!" ujar Radit lirih, Nissa menoleh dengan tatapan heran. Nissa melihat Radit yang tengah tertunduk. Menampakkan rasa bersalah yang begitu besar. Nissa semakin heran dengan sikap Radit. Rasa bersalah yang entah karena apa?


"Kamu kenapa? Seorang Ahmad Dzaky Raditya, meminta maaf begitu tulusnya. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu!"


"Sayang, aku sadar bersalah padamu. Aku tidak mampu membelamu. Mereka terus menghina dan menghina, sedangkan aku hanya terpaku. Aku tak mampu membelamu!"


"Kenapa kamu membelaku? Jika nyatanya aku tak merasa tersakiti. Mereka keluargaku, darah yang sama mengalir dalam nadiku. Jika kasih sayang mereka bukan untukku, setidaknya kebenciannya ada untuk mengingatku!"


"Tidak mungkin!"


"Mungkin aku naif, menganggap hinaan sebagai kasih sayang. Namun itulah aku, beliau ayah kandung mama. Dia kakek sahabatku Amira. Kelak beliau kakek buyut putraku. Atas dasar apa aku membencinya. Entah putraku diakuinya atau tidak? Dia sama seperti Zain, berhak memanggilnya kakek buyut!"


"Maafkan aku, maaf!" bisik Radit, sembari memeluk tubuh Nissa dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2